Episode 54

1803 Kata
Airin menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Sejak kematian ibunya, dia lebih sering tertidur di sofa dibandingkan di dalam kamarnya. Dia mengambil ponsel yang berada di dalam tas. Melihat kembali layar bergambar beruang. Tak ada satupun pesan masuk, tak ada panggilan telepon. Yang dia maksudkan adalah dari Brian. Airin mengembuskan napas berat. "Kenapa aku selalu berharap? Padahal sudah pasti dia akan mengirim pesan tengah malam nanti," ucapnya datar. Dia meletakkan ponselnya di atas meja. Seperti biasa Airin tertidur pulas. ____ Alarm berbunyi mengguncang telinga perempuan itu. Airin membuka matanya malas. Meraba ponsel yang berada di atas meja. Tanpa melihat, dia bisa hapal dan mematikan alarm itu. Dia mengubah posisinya menjadi duduk. Ponsel yang dia pegang masih menyala. Menampilkan karakter beruang di sana. Pesan dari Brian. -Good Night, Selamat beristirahat sayang-. Nyatanya tulisan itu yang selalu Brian kirimkan untuknya di malam hari. Seperti sudah disetting dalam ponselnya. Airin mengembuskan napas kasar. Tanpa berpikir macam-macam dia lebih memilih ke kamar mandi. Pukul enam lewat dua puluh lima menit, Airin keluar dari rumahnya. "Ah, Ken!" Dia mengingat Ken. Mengingat perintah Arga. Airin memutuskan mengubungi Ken nanti saat sudah di kantor. Karena jika sekarang, dia akan terlambat datang. Airin mempercepat langkah kakinya. Sesampainya di halte, dia menunggu tak sampai lima menit, bus sudah datang. Alangkah bahagianya dia melenggang masuk ke dalam bus. Terlebih bus dalam keadaan tak penuh. Airin bebas memilih tempat duduk. "Ah, sekarang aja," ujarnya lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya. Airin menghubungi Ken. Tak lama, panggilannya segera dijawab. "Iya, tumben nelpon pagi-pagi?" tanya Ken tak ada basa-basinya. "Pasti ada maunya," kata Ken. Airin nyengir. Padahal Ken tak melihat dia tersenyum seperti kuda. "Traktir aku makan," ucap Airin. Ken di seberang mengerutkan kening. "Dalam rangka apa? Kamu aja nggak kerja sama aku, nggak melakukan hal baik untuk aku, kenapa harus traktir?" tanya Ken. "Bawel, pokonya aku mau makan di restoran depan perusahaan aku. Hari ini baru launching, dan pasti banyak diskon di sana," kata Airin. Ken tersenyum. Walaupun Ken bingung maksud dari Airin. Namun, dia harus menuruti kemauan perempuan itu. "Oke," jawab Ken akhirnya. "Makan siang, aku tunggu," kata Airin. "Iya," jawab Ken singkat. "Oke, gitu aja. Sampai ketemu nanti siang Ken," kata Airin bersemangat. "Iya," jawab Ken. Airin memutuskan panggilannya. Dia tersenyum. Tak mungkin Ken menolak permintaannya. Dia sudah berjanji akan selalu ada buat Airin, dia juga yang akan menjaga Airin selepas kepergian ibunya. Ken juga berjanji akan menuruti semua perintah Airin. Seturunnya dari bus. Airin berjalan cepat. Dia tak ingin terlambat datang ke kantor. Padahal bel masuk masih tinggal beberapa menit lagi. Namun, sudah dipastikan anggota timnya sudah pada sibuk dengan layar laptop di meja masing-masing. ______ Dalam hitungan detik, Brian sudah terlelap di dalam mobil. Aktivitas syutingnya terlalu padat. Membuat dia kelelahan. Jangankan bermain ponsel, mungkin berbicara dengan Desta juga seperlunya saja. Sebagai seorang artis yang sedang dibanjiri pekerjaan, membuat dia tak bisa menikmati dunianya. Hanya syuting dan syuting yang dia lakukan, dari pagi, hingga malam hari. Perjalanan dari rumah ke lokasi syuting tampak sangat sunyi bagi Desta. Si tuannya hanya tertidur. Dia tak bisa menyalakan musik karena takut mengganggu. Desta hanya membangunkan Brian jika sudah sampai lokasi syuting. "Udah sampai," kata Desta. Brian segera terbangun. Dia meminum air mineral yang dia bawa sendiri. "Gue siapin tempat dulu," kata Desta. Dia keluar dari mobil. Menyiapkan tempat untuk Brian duduk. Tempat untuk istirahat dan untuk menunggu waktu syuting. Di lokasi sudah banyak orang. Entah mereka menginap atau enggak. Yang jelas, semua alat untuk syuting sudah dipersiapkan. "Ayo!" ucap Desta. Setengah jam dia membutuhkan waktu untuk beberes. Desta juga sudah datang. Brian mengangguk dan keluar dari mobil. Pagi ini sangat cerah. Membuat Brian sedikit menyipitkan matanya karena silau. Dia segera mengambil kaca mata miliknya yang sudah diselipkan di kaos yang dia pakai. "Des, hubungi Airin. Aku ingin bertemu dengan dia," ucap Brian. "Kenapa tiba-tiba? Belum ada libur juga, kan?" tanya Desta. Brian mengangguk. "Gimana kalau nanti libur tahun baru saja?" tanya Desta. "Enggak kelamaan, pengen ketemunya sekarang," ujar Brian tak setuju. Desta tertawa. "Nanti gue atur," katanya. Brian mengangguk. Brian menunggu waktu syuting. Dia membaca naskah dan menikmati segelas kopi yang dibuat oleh Desta. Setelah Desta selesai dengan pekejaannya, dia lantas duduk di samping Brian. "Komunikasi sama Airin lancar?" tanya Desta. Brian menoleh. "Iya," jawabnya singkat. "Tapi, setiap harus selalu seperti itu. Gue kirim pesan larut malam, dan dia membalasnya pagi, udah nggak ada balasan lagi," ujar Brian. "Selama lo syuting?" tanya Desta. "Yan, yang bener aja," katanya. "Mau gimana? Gue capek. Waktu istirahat juga kadang gue tidur saking ngantuknya," kata Brian. Desta tak bisa mengatakan apapun. Dia tahu persis kondisi Brian jika sudah kelelahan. "Sekarang hubungi dia," kata Desta. Brian mengembuskan napas, dan mengangguk. Dia mengambil ponselnya yang berada di saku. Dia benar-benar menghubungi Airin. "Halo," kata Brian begitu Airin menjawabnya. "Iya." Suara Airin tampak lebih lembut. "Sedang apa?" tanya Brian. "Aku lagi kerja," kata Airin. "Ah iya," ucap Brian. "Nanti saja teleponnya. Aku lagi banyak kerjaan," ucap Airin. "Ah, oke, oke," katanya malu. "Maaf mengganggu," ujarnya lagi. Telepon kembali terputus. Desta langsung kepo. "Nanyanya gitu doang? Garing banget!" protesnya. Belum sempat menjawab protes dari Desta, sang sutradara sudah menginterupsikan untuk memulai syuting. Brian mengembuskan napas. Dia lantas bangun dan menuju ke arena. Jam setengah dua belas, Ken sudah berada di depan perusahaan TNT. Dia menelepon Airin. "Rin, aku udah di depan," kata Ken. "Iya, bentar lagi aku turun," kata Airin. Dia memutuskan panggilan dari Ken. Melanjutkan kembali membuat laporan yang hampir selesai. "Cieee, ada yang nunggu kayaknya," celetuk Jessi. Tentu saja dia mendengarnya karena tempat duduknya bersebelahan dengan Airin. Airin tersenyum. Dia lantas mengklik tombol print, sehingga satu persatu kertas keluar dari mesin printer kecil yang berada di mejanya. "Temen aku, mau ikutan grand opening di restoran depan," kata Airin sekenanya. "Teman apa teman?" Jessi mulai meledek. Airin tertawa. "Teman," jawabnya singkat. Setelah selesai, setelah semua kertas keluar dia menyusun rapi kertas itu dan memberikan paper klip di ujung atas. "Pak, aku istirahat," kata Airin pada Danil. Menyusul Gustav yang sudah lebih dulu ke kantin. Danil hanya mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi. Airin mengambil tas miliknya, dia melambaikan tangan pada Jessi yang masih sibuk memandanginya. "Kamu makan sendirian dulu ya," ujar Airin. Jessi tentu saja mengerucutkan bibirnya. Airin bergegas menuruni anak tangga. Saking buru-burunya dia mengabaikan panggilan Arga. "Kenapa dia buru-buru banget?" tanya Arga. Faisal yang berada di samping Arga mendekat. "Ini perusahaan, jaga image Bapak,"bisik Faisal. Arga mengangguk mengerti. Dia hanya menatap Airin hingga dia keluar dari lobi. Airin melihat mobil Ken sudah terparkir manis tak jauh dari pintu gerbang. Dia segera berlari. Mengetuk kaca mobil supaya Ken membuka kuncinya. "Sorry, lama." Airin duduk di kursi penumpang depan. "Tadi ada dokumen yang harus aku selesaikan," katanya lalu nyengir kuda. Ken mengangguk. Dia melajukan mobilnya. Padahal restoran itu terletak tepat di depan perusahaan, tetapi harus berputar arah terlebih dahulu jika akan ke sana. "Kenapa tiba-tiba ngajak makan?" tanya Ken menyelidiki. Airin tersenyum lagi. "Bukanya udah lama banget kita nggak makan bareng?" tanya Airin. "Kenapa nggak sama Brian?" tanya Ken lagi. "Ken!" protes Airin. Ken tersenyum. "Oke, oke," kata Ken mengalah. Ken menepikan mobilnya tepat di tempat parkir restoran yang sudah dibuat di bahu jalan. Restoran itu tampak ramai. Masih grand opening dan banyak diskon harga makanannya. "Harus banget makan di sini?" tanya Ken. Airin mengangguk cepat. "Di sini ada ice americanno, ada espresso minuman paling favorit kamu, ada juga steak yang katanya enak banget!" Airin mempromosikan. "Enak banget? Memangnya udah pernah makan?" tanya Ken lagi. Mereka berdua masuk. Memilih meja makan yang kosong. "Bukan aku, sih. Tapi, katanya pemilih restoran ini tuh chef yang pernah kerja di restoran di Eropa. Hebat, kan? Makanya dia buka restoran di sini," kata Airin menjelaskan. Ken mengangguk saja. Setelah mereka duduk, satu orang pelayan menghampiri. Mencatat semua pesanan mereka. "Oke, terima kasih. Ditunggu pesanannya datang ya, Kak." Pelayan itu tampak sangat ramah dengan senyum manisnya. Airin mengangguk begitu juga Ken. "Jadi intinya apa nih, ngajak makan di sini?" tanya Ken lagi. Dia masih penasaran dengan permintaan Airin yang tiba-tiba mengajaknya makan. "Hhmm, jadi gini," kata Airin mulai mengutarakan maksudnya. "Apa?" tanya Ken masih sabar dengan rasa penasarannya. "Kamu mau nggak kerja di perusahaan tempatku kerja sekarang?" tanya Airin. Ken mengerutkan kening. "Aku? Kerja di sana?" Tunjuk ya pada gedung berlantai lima itu. Airin mengangguk cepat. "Kenapa? Kenapa harus kerja di sana?" tanya Ken. "Biar ketemu aku terus," kata Airin lalu tersenyum. Ken tertawa kecil. "Biasanya protes terus kalo ketemu aku tiap hari," kata Ken. "Serius, kenapa minta aku kerja di sana?" tanya Ken. "Arga, dia yang minta kamu kerja sama dengan dia," ucap Airin. "Kenapa?" Ken terus bertanya. "Ya karena dia mau kerja sama, kamu diprediksi bakal buat perusahaan makin maju," kata Airin. Ken lagi-lagi tertawa. "Bisa banget," ucapnya. "Serius! Ken," kata Airin. "Oke, oke. Terus, kalau aku kerja sama dengan dia, aku dapat apa?" tanya Ken. "Aku nggak bisa tinggalin Secret gitu aja," kata Ken tegas. Airin menggelengkan kepala. "Secret tetap ada, raga kamu hanya ada di perusahaan, tapi pikiran kamu boleh ke Secret," kata Airin. "Ngaco kamu!" kata Ken tak setuju. "Enggak, enggak, aku lagi fokus buat bangun Secret biar lebih besar lagi," kata Ken percaya diri. Airin menggelengkan kepala. "Secret akan selamanya seperti itu," ucap Airin. Ken menggelengkan kepala. "Ken, please!" pinta Airin. "Kita butuh kamu,"kata Airin memohon. Ken tersenyum tipis. "Kenapa bukan Arga langsung yang ngomong?" tanya Ken. "Ah iya. Arga harus ngomong langsung sama kamu," kata Airin. Ken mengangguk. Makanan satu persatu sudah tersedia di meja. Mereka menikmatinya. "Apa kamu betah bekerja di sana?" tanya Ken. Airin mengangguk tanpa bersuara. Mulutnya penuh dengan makanan. "Bagaimana hubungan kamu dengan Braga?" tanya Ken lagi. Airin terbatuk. Dia hampir tersedak. "Kenapa tiba-tiba nanya dia?" tanya Airin tak kentara, karena masih ada makanan dalam mulutnya. "Pengen tau aja," kata Ken, lalu menyuapkan makanan ke mulutnya. Airin menelan habis makanan di mulutnya. Dia menatap Ken. "Kenapa?" tanya Ken bingung. "Kita baik-baik aja," ucap Airin. Namun, mata dia berkata lain. "Oke," jawab Ken singkat. "Tapi ..." Airin mulai lemas. "Sepertinya dia terlalu jauh buat aku gapai," katanya datar. "Kenapa? Kalian cuma terhalang kesibukan aja," kata Ken menenangkan. Airin menggelengkan kepala. "Aku semakin ragu dengan perasaanku," kata Airin lirih. "Ah, katakan pada Arga. Ngomong langsung sama aku, dan aku bakal kasih jawaban," ucap Ken mengalihkan pembicaraan. Dia tak ingin melihat Airin sedih. Airin mengangguk cepat. "Oh ya, sebentar lagi kamu ulang tahun, kamu mah minta apa?" tanya Ken. Airin langsung bersemangat lagi. "Mmm," ucapnya sambil berpikir. "Mau kamu kerja di TNT, biar aku ada yang antar jemput, biar aku ada yang jagain, biar aku ketemu tiap hari sama kamu," kata Airin. "Rin, jangan buat hari aku berdebar," kata Ken serius menanggapi ucapan Airin. Airin terkejut. "Heh," ujarnya. Ken mengangguk. "Kamu mengucapkan hal yang paling dilarang untuk orang yang pernah kamu tolak cintanya," kata Ken tegas. Airin benar-benar terkejut. "Aku, aku nggak ada maksud," ucap Airin ragu. "Ken, jangan terlalu serius," ucapnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN