Episode 55

1864 Kata
Ken tersenyum. "Ngapa kaget gitu?" tanyanya. Dia tertawa kecil. "Ken!" ujar Airin manja. "Kamu!" dia melayangkan tangannya di pundak Ken. Ken tertawa puas. "Serius amat," kata Ken. Airin mengerucutkan bibirnya. "Cepet abisin, waktu istirahat kamu bentar lagi abis," ujar Ken. Airin mengangguk cepat. Dia melahap lagi makanan yang ada di atas meja. "Enak," pujinya masih dengan mulut penuh makanan. Ken mengangguk. Setelah menghabiskan waktu istirahat makan siang bersama, Ken kembali mengantar Airin sampai depan gerbangnya. "Aku bakal bilang ke Arga. Jadi, kalau dia minta ketemuan, kamu harus mau," ucap Airin. Ken mengangguk. Perempuan itu tersenyum puas, dan keluar dari mobil Ken. Airin berjalan menuju pintu lobi. Dia sedikit melantunkan lagu yang dia hapal di luar kepala. "Kayaknya seneng banget," kata seseorang mengagetkan Airin. Dia datang dari arah yang berbeda. Airin menoleh. "Arga?" pekiknya. Airin celingukan. Takut ada yang melihat. "Ah, maksudku Pak Arga," katanya meralat. Arga tersenyum. Airin membalas senyum itu dan melangkah lagi. "Oh ya," kata Airin. Dia menghentikan langkahnya. "Kata Ken, Bapak bisa ngomong langsung sama dia. Biar nanti dia yang kasih jawaban," ucap Airin. "Ah," jawab Arga. Dia mengangguk mengerti. Airin kembali melangkahkan kakinya. Dia langsung menuju lantai dua. Waktu istirahat tinggal lima menit lagi. Jadi, dia harus bersiap. Dia masuk ke ruangan, ternyata hanya Henry yang tak ada di mejanya. "Rin, abis besok kita berangkat ke Bandung." Danil memberi tahu. "Bandung?" ujar Airin. Dia mengurungkan niatnya untuk duduk. Danil mengangguk. "Kita jadi perwakilan buat ikut seminar para jurnalis di sana." Danil menjelaskan. "Kenapa aku?" tanya Airin ragu. Danil tersenyum. Membuat Airin bingung. "Jessi masih pemula, Gustav dan Henry akan berjaga di sini, untuk tugas luar, dan Mila ditugaskan menjadi presenter di berita siang besok." Danil menjelaskan. Airin mengembuskan napas. Mau tak mau dia harus menerimanya. "Oke," jawabnya lemas. Airin duduk di kursinya. Jessi menyeret kursi yang diduduki. Mendekat ke arah Airin. "Cie, jalan-jalan ke Bandung," ledeknya. "Jalan-jalan? Kerja!" jawab Airin. Jessi tersenyum. Setelah bel masuk perusahaan. Semua sudah sibuk dengan layar laptop masing-masing. "Penyanyi Deby meninggal dunia?" Gustav berbicara lantang. Nyatanya hal itu menarik perhatian yang lain. "Deby yang nyanyi Tiga Hati?" Fokus Danil terusik. Gustav mengangguk tanpa menoleh. "Dia masih di rumah sakit, belum ada keterangan dari pihak keluarganya atau pihak rumah sakit." Gustav berbicara lagi. "Ayo!" ajaknya. Dia berdiri. "Kebetulan Kakakku dokter di sana. Baru saja dia mengirimiku pesan." Gustav menjelaskan. Danil segera mengangguk. "Jessi, Gustav, dan Henry kalian berangkat," perintah Danil. "Iya!" jawab mereka bertiga kompak. Gustav segera mengambil kamera besar yang ada di lemari. Henry dengan cepat mengambil peralatan lain untuk proses penyiaran. Jessi bergegas. "Siapkan mobil di depan!" perintah Danil dalam teleponnya. Sudah dipastikan dia menelepon bagian logistik. Setelah ketiga karyawan itu berangkat. Airin kembali fokus. "Padahal dia masih muda," ucap Danil. "Umur nggak ada yang tahu," katanya. Mila mengangguk setuju. "Dan yang mengejutkan adalah kabar kematian dia, setelah beberapa bulan dia vakum dari dunia hiburan," ucapnya. Airin kini ikut mengangguk. "Karir dan karyanya yang baru dimulai, kini hanya bisa dikenang," timpal Airin. "Bener banget," kata Danil. Ketiganya lantas tak memperpanjang obrolan tentang artis itu. Airin kembali pada pekerjaannya. Namun, bukan fokus pada dokumen-dokumen yang selalu dia kerjakan di depan layar monitor. Satu hal yang menarik perhatiannya adalah dia mendapat pesan dari Brian di siang bolong. Dia membuka aplikasi w******p di laptopnya. -Aku ingin ketemu kamu.- Tulis Brian. -Oke, kapan?- balas Airin. -Nanti malam? Atau besok pagi?- Tulis Brian lagi. -Jam berapa? Besok pagi aku akan berangkat ke Bandung, untuk seminar-. Balas Airin lagi. -Oke, jam sembilan nanti malam, aku akan datang ke rumahmu-. -Oke.- balas Airin singkat. Airin mengembuskan napas. "Kenapa tiba-tiba minta ketemu?" tanyanya dalam hati. ____ Waktunya pulang. Airin bergegas pulang. Dia harus standby di depan ponselnya. Karena menunggu pergantian dengan Jessi. Danil sudah memerintahkannya. Namun, sepertinya Jessi, Gustav, dan Henry akan lembur hari ini. Mengingat pemulasaraan jenazah di rumah sakit akan memakan waktu lama. Setelah Good News menyiarkan berita secara langsung dan cepat. Jurnalis berdatangan ke rumah sakit. Airin menyalakan televisi di depannya. Ia mengikuti perkembangan berita mengenai Geby. Banyak asumsi yang para wartawan buat. Terlebih saat tahu Geby meninggal karena penyakitnya. Saking lelahnya, Airin sampai tertidur di depan televisi. Dia membiarkan TV itu nyala. Hingga malam datang. Bel rumahnya berbunyi terus menerus. Airin terkejut. Padahal sedari tadi bel itu sudah dibunyikan lebih dari sepuluh kali. Dengan malas, Airin bangun dan berjalan menuju pintu. Dia melirik arloji yang masih melilit di tangannya. "Udah jam tujuh aja," katanya dengan suara serak. Airin membuka pintu itu. Terkejut dengan kedatangan Brian yang lebih awal. "Lha, bukannya kamu bilang jam sembilan?" tanya Airin. Dia mempersilakan Brian masuk. "Lagi tidur?" tanya Brian. Airin mengangguk manja. Dia mengambil posisi duduk di samping Brian. Laki-laki itu tersenyum. Merapikan rambut Airin yang berantakan. "Capek?" tanya Brian. Airin mengangguk. "Kamu juga pasti capek?" tanya Airin balik. Brian mengangguk. "Hari ini syuting selesai lebih cepat. Makanya aku langsung ke sini," katanya. Airin mengangguk mengerti. Keduanya terdiam sejenak. Hingga akhirnya Airin membuka suara. "Ah, aku buatkan minum dulu," kata Airin. "Enggak, nggak usah. Aku hanya sebentar. Karena mau langsung ke rumah Geby. Kebetulan udah lagi dibawa pulang," kata Brian. "Ah," jawab Airin. Airin mengurungkan niatnya untuk bangun. Brian terus menatapnya dengan senyuman kecil. "Kenapa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Airin gugup. Brian menggelengkan kepala. "Maaf, akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Jadi, aku nggak ada di samping kamu," katanya lembut. Airin mengangguk. Dia mengerti, namun kisah cintanya benar-benar membosankan. Tak ada perhatian, tak ada komunikasi yang sehat. Dia tahu Brian orang yang sangat sibuk. Begitu pula dirinya. Sejak bekerja kembali di perusahaan, waktunya banyak sekali digunakan untuk hal pekerjaan. "Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Brian. Airin mengangguk sembari tersenyum. Pertanyaan Brian lebih ke pertanyaan yang tak memiliki tujuan untuk dijawab. Pertanyaan yang seenaknya keluar dari mulut dan pikiran Brian. Bukan karena dia khawatir terhadap Airin. Kisah cinta mereka tak ada satupun keromantisannya. Brian terlalu cuek dalam hal komunikasi. Berbeda waktu dulu dia belum mendapatkan Airin. "Sepertinya aku harus pergi," kata Brian. "Secepat itu?" tanya Airin. Brian menganggukkan kepala. "Maaf, mereka menungguku di luar." Brian menjelaskan. "Mereka? Siapa?" tanya Airin. "Desta dan Kak Dava," ucapnya ragu. "Ah," jawab Airin ragu. Dia mengangguk mengerti. Brian mencium kening Airin. "Maaf, ya." Dia terus meminta maaf. "Aku akan menemui kamu lagi jika senggang," ucap Brian lalu mengecup kening Airin lagi. Airin mengangguk. Dia mengikuti Brian hingga sampai pintu. "Yan," panggil Airin. Brian menoleh. Airin seperti sedang menyusun kata-kata untuk diutarakan pada Brian. "Sepertinya hubungan kita harus diperbaiki," kata Airin. Brian mengerutkan kening. Dia yang sudah satu setengah meter di depan Airin. Kini kembali mendekat. "Apa? Apa yang perlu diperbaiki?" tanya Brian. Airin mengisyaratkan untuk dia berhenti melangkah. Jadi jarak mereka tak terlalu dekat. "Kita harus berpikir untuk masa depan kita. Hubungan ini seperti hubungan biasa. Jadi, aku mau introspeksi diri, aku cari semua letak salahnya dimana." Airin menjelaskan. "Aku minta kamu juga sama. Supaya nantinya hubungan ini lebih baik," ucap Airin. "Rin." Brian akan berbicara, namun Airin mencegahnya. "Pergilah! Sebelum Kak Dava berteriak memanggil nama kamu," kata Airin. Brian menghela napas. "Rin," ucap Brian lagi. "Yan!" Suara Dava menggema dari balik pintu mobil. Kaca yang sudah diturunkan terlihat jelas wajah Dava. "Ayo! Kita bisa terlambat," ucap Dava. Brian mengangguk. Dia kembali memandang Airin. Perempuan itu hanya tersenyum tipis. "Pergi," ujarnya lirih. Brian mengalah. Dia pun berbalik dan berjalan menuju mobilnya. Airin kembali menutup pintu. Dia menyesal mengatakan hal tadi kepada Brian. Sudah dipastikan laki-laki itu memikirkannya. Brian di dalam mobil terus terdiam. "Kenapa? Apa pertemuan tadi ada masalah?" tanya Dava. "Aku udah bilang, fokus sama karir kamu dulu. Nantilah bisa cinta-cintaannya." Dava berceramah. Desta yang duduk bersebelahan dengan Dava hanya mengisyaratkan Dava untuk tidak bertanya lebih banyak. Brian memilih memejamkan matanya. Mereka menyambangi rumah duka milik Deby, kebetulan di sana sudah banyak sekali artis yang datang. Banyak karangan bunga berdatangan. Hubungan Brian dan Deby tidaklah dekat. Namun, mereka pernah dalam satu proyek film. Deby mengisi soundtrack film milik Brian. Brian menyapa para artis yang mengenalnya. Semua orang tampak terpukul dan terkejut dengan kematian Deby yang tiba-tiba. Di sana juga banyak sekali wartawan yang tengah bertugas. Mereka meliput, mencari informasi, atau langsung menyiarkannya secara langsung. Brian tengah mengobrol dengan Juan, artis yang dulu pernah satu film dengannya. Mereka mengobrol lumayan lama, setelah hampir satu tahun tak bertemu. "Sebaiknya kita pulang," bisik Dava. Brian mengangguk. "Kayaknya aku harus pulang duluan. Masih ada urusan yang harus diselesaikan," kata Brian beralasan. Juan mengangguk. "Oke, oke. Semoga kita bisa satu proyek film lagi," ujar Juan berharap. Brian mengangguk sembari tersenyum. "Duluan ya." Brian berpamitan lalu akhirnya pergi dari kerumunan. Dia juga harus menyapa artis yang baru datang. Walaupun hanya sekedar tersenyum. Brian segera menuju mobilnya. Namun, tercegat karena ada beberapa wartawan mendekat. "Brian, Brian," panggil mereka. Sudah dipastikan Brian akan diwawancara. "Kaget banget pasti dengar berita kematian Deby," ujar salah seorang wartawan yang sudah menyodorkan mikrophon-nya di depan Brian. "Yang jelas kaget, karena kita udah lama banget nggak ketemu sejak film waktu itu berakhir. Nggak pernah ada proyek bareng lagi, jadi bener-bener kaget," kata Brian menjawabnya. "Tapi maaf banget, aku harus segera pergi. Masih ada urusan," kata Brian lalu tersenyum. Para wartawan itu kecewa. Karena Brian langsung saja masuk ke dalam mobilnya. Brian menghela napas lega. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan lewat sepuluh. "Apa dia sudah tertidur?" tanya Brian. Dia melihat layar ponsel miliknya. Dava dan Desta yang menyaksikan hanya terdiam. Bukannya mereka tak peduli. Namun, mereka tak mau mencampuri urusan pribadi Brian. "Des, aku kayaknya turun di Halte depan aja. Ada urusan di sana," kata Dava. "Urusan? Urusan apa?" tanya Desta. "Ada." Dava menjawab singkat. Desta hanya mengangguk setuju. Sekitar jarak lima ratus meter Desta menepikan mobilnya. Dava turun. Dia enggan membangunkan Brian yang mungkin tak benar-benar tidur. Setelah keluar, Desta kembali melajukan mobilnya. "Apa ada masalah?" tanya Desta. Dia tahu Brian tak tertidur saat itu. "Hmmm," jawab Brian tanpa membuka matanya. "Kenapa? Apa kalian putus?" tanya Desta lagi. "Hmm," jawab Brian lagi. Dia masih menutup matanya. "Benar, pasti akan seperti ini. Kalian sama-sama sibuk. Komunikasi, ketemu, waktu, bakalan jadi permasalahan. Ingat! Cewek nggak bakalan tahan kalau hubungannya menggantung seperti itu," kata Desta. Brian tertarik. Dia segera membuka matanya. Dia tahu jika Dava sudah keluar. Karena tadi dia juga tak tertidur. Dia hanya malas mendengarkan ceramah dari managernya itu. Lagipula mana mungkin Desta berani ngomong panjang lebar tentang hubungan Brian jika masih ada Dava. "Kayaknya lo lebih pengalaman dari gue," kata Brian. Dia mendekatkan tubuhnya ke depan. "Bukan gitu, tapi serius. Semua cewek di dunia ini, kalau hubungannya nggak lancar, kalau hubungannya menggantung, pasti dia bakal milih putus. Mereka menginginkan cowok yang selalu ada di sampingnya, milih cowok yang selalu siaga menjaganya," ucap Brian. Brian mengangguk. "Kata dia mau introspeksi diri, terus gue harus gimana?" tanya Brian. "Gue nggak mungkin putus aja sama dia, gue cinta sama dia," kata Brian. "Kasih dia waktu. Gue yakin dia butuh waktu buat meyakinkan diri." Desta bernasehat. "Des, lo tau, kan? Arga, Ken, dan mungkin ada laki-laki lain yang sedang menunggu cinta dari dia." Brian berucap tegas. Desta tersenyum. "Sebanyak apapun laki-laki yang menunggu cinta dia. Itu semua tergantung Airin. Mereka nggak bisa maksa," kata Desta. "Bener juga," kata Brian. "Lalu gue harus gimana? tanya Brian lagi. "Kasih dia waktu buat berpikir. Lo harus bisa buktiin kalo lo emang pantas buat dia," jawab Desta pasti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN