Arga membuat janji pertemuan dengan Ken. Terlihat laki-laki itu sedang duduk tanpa ditemani sekretaris pribadinya. Dia tengah menunggu seseorang.
Tak lama, Ken masuk ke dalam kafe dan matanya langsung melihat sosok Arga. Ken melambai, dibalasnya lambaian tangan itu.
"Sorry, telat. Tadi, harus antar adik dulu ke tempat lesnya," ujar Ken. Dia lantas duduk di depan Arga.
Siang itu kafe terlihat sepi. Mungkin karena bukan hari libur atau masih dalam lingkup jam kantor. Arga melambaikan tangan pada pelayan yang sedang berdiri di depan meja kasir. Sang pelayan langsung menghampiri.
"Mau pesen apa?" tanya Arga.
"Ice americanno aja," jawab Ken. Arga mengangguk.
"Ice Americanno satu, Vanilla late satu," kata Arga pada sang pelayan. Pelayan itu mengangguk dan segera pergi. Dia menuju meja kasir lagi dan mengatakan pesanan Arga kepada partner kerjanya.
"Apa Airin sudah mengatakannya?" tanya Arga langsung pada intinya. Ken mengangguk, dia tersenyum.
"Kenapa harus Airin yang ngomong ke aku?" tanya Ken.
Arga tersenyum. "Saya pikir, kamu bakal setuju jika dia yang memintanya," kata Arga. Ken tertawa kecil. Dia mengangguk.
"Benar, aku tak mungkin menolak semua permintaan dia. Tapi, kurasa permintaan dia kemarin harus aku tolak," ucap Ken.
"Kenapa? Padahal saya pengen banget kerja sama. TNT akan maju bersama orang seperti kamu," kata Arga menyanjung.
"Enggak, aku nggak bisa ninggalin Secret. Aku udah bangun dari awal, hingga sampai seperti sekarang," kata Ken. "Aku nggak bisa kerja terikat," kata Ken.
"Freelance? Bagaimana?" tanya Arga. "Kita nggak akan terikat kontrak," ucapnya.
Ken mengerutkan kening. "Lalu? Apa pekerjaanku?" tanyanya bingung.
"Buat satu program yang bisa mendongkrak popularitas TNT." Arga mengatakan maksudnya. "Saya bakal investasi dua saham saya di Secret, dan saya akan bayar kamu tiga kali lipat," kata Arga.
"Wah!" Ken mulai tergoda. Dia mengangguk. "Oke," katanya setuju. Arga tersenyum. Dia berhasil mengajak Ken mencari solusi untuk perusahaannya yang baru mulai bergerak di bidangnya.
"Oke," ucap Arga. Dia menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Ken menyambutnya.
"Kamu bisa datang kapan saja ke kantor. Lebih cepat lebih baik," kata Arga. Ken mengangguk. Mereka menikmati minuman yang sudah dipesan.
"Apakah Airin bisa menyesuaikan diri?" tanya Ken. Arga mengangguk.
"Divisi dia paling bagus, paling cepat tanggap sama berita," jawab Arga. Ken mengangguk mengerti.
"Itu adalah impian dia lagi, bisa masuk ke perusahaan, dan menjadi wartawan yang sebenarnya." Ken bercerita.
Setelah pertemuan itu. Ken lebih memilih pergi. Dia tak mungkin berlama-lama di sana, dan mengobrol hal yang tak penting dengan Arga.
Arga kembali ke kantor. Dia berjalan menuju lobi. Disambut oleh Faisal di sana. Mereka berjalan beriringan, sembari Faisal membacakan jadwal untuk Arga hari itu.
"Jam satu ada acara makan siang dengan Direktur MNT, setelah itu ada rapat pemegang saham," ucap Faisal membacakan semua agenda hari ini. Arga mengangguk.
"Aku udah dapatkan Ken," kata Arga.
Mendengar hal itu Faisal langsung berantusias. "Serius?" tanyanya penasaran. "Wah, selamat," katanya memberikan selamat.
Arga tersenyum. Faisal membukakan pintu elevator untuk Arga. Keduanya sama-sama masuk.
____
Airin sudah sampai di Bandung. Di sana banyak sekali wartawan yang hadir untuk mengikuti seminar. Airin yang datang hanya bersama Danil hanya selalu mengekor dengan Danil yang memang banyak kenalan di sana.
"Wah, Bapak banyak banget kenalannya," kata Airin setelah tadi mereka mengobrol dengan salah seorang teman Danil.
Danil mengangguk setuju. "Saya selalu mengajak mereka ngobrol atau mendekati mereka saat kita sama-sama bekerja di lapangan yang sama. Jadi, ya gini. Kita kenal, bahkan ada yang jadi teman dekat," kata Danil. Airin mengangguk.
"Tujuannya kita dapat banyak informasi, kita jadi banyak relasi, dan kita jadi banyak tahu keluh kesah mereka selama jadi jurnalis," kata Danil. Airin menganggukkan kepala berkali-kali.
Seminar dimulai sejak pukul sembilan. Beristirahat saat jam makan siang, dan dilanjut pukul satu. Airin mendapat banyak pelajaran di sana. Mendapat banyak wawasan ilmu yang belum pernah dia dapat dari manapun. Dia sangat menikmati acara itu. Sampai tak ada kata bosan di sana. Dia pernah menyabet gelar jurnalis terbaik, karena memang dia orang yang super cepat tanggap. Namun, tidak dengan atitude yang baik.
Seminar berakhir pukul empat sore. Setelah selesai, Danil dan Airin bergegas untuk kembali ke Jakarta.
"Kita ke perusahaan lagi, Pak?" tanya Airin saat dia sudah duduk di samping Danil.
"Enggak, kita langsung pulang aja. Istirahat di rumah supaya besok kembali fit," pungkas Danil.
Airin mengangguk. "Wah enak ya, pulang cepet, bisa ke luar kota juga," ujar Airin.
"Pulang cepet gimana? Ini itungannya lembur," kata Danil lalu tertawa kecil. "Memangnya belum pernah ikut acara seperti ini?" tanya Danil.
Airin menggelengkan kepala. "Dulu banget, aku kerja di perusahaan paling bagus di Jakarta. Tapi, mereka selalu menempatkan aku di berita utama. Jadi, nggak pernah dikirim untuk ikut hak kayak gini, selalu standby di kantor." Airin bercerita.
Perjalanan Bandung-Jakarta berlangsung lancar. Jalan tol yang mereka lalui terbilang ramai lancar. Tak ada satupun titik macet di sana.
Airin bercerita banyak dengan Danil. Begitupun sebaliknya, Danil menceritakan keluh kesahnya berada di dunia jurnalistik.
Pukul enam lewat lima belas menit, mereka sampai di gang rumah Airin. Danil memang mengantar Airin sesuai dengan permintaan perempuan itu.
"Makasih, ya, Pak." Airin tersenyum saat sudah keluar mobil. Danil juga tersenyum. Dia lalu melajukan kembali mobilnya.
Baru beberapa langkah, dia melihat Ken tengah berjalan ke arah rumahnya.
"Ken!" panggil Airin lantang. Ken menoleh dan tersenyum. Airin mengejar langkah Ken.
"Nggak pake mobil?" tanya Airin. Ken menggelengkan kepala.
"Lagi di bengkel. Besok pagi baru aku ambil," kata Ken.
"Niat datang ke sini?" tanyanya lagi. Ken mengangguk. Dia mengangkat plastik berisikan makanan.
"Mau numpang makan," kata Ken. Airin kegirangan. Sudah pasti dia juga dapat jatah makanan dari Ken.
"Udah ketemu Arga?" tanya Airin sembari tangannya membuka kunci pintu.
"Udah," jawab Ken singkat.
"Lalu?" Keduanya masuk, dan duduk di ruang tamu.
"Lalu apa?" tanya Ken.
"Ya, kamu terima nggak?" tanya Airin penasaran.
"Kepo!" ledek Ken.
"Ken!" protes Airin manja. Membuat Ken tertawa.
"Aku nggak mau terikat. Aku masih harus mempertahankan Secret. Ide dia cukup pintar. Mendongkrak popularitas TNT." Ken berbicara sambil manggut-manggut. "Karena kamu yang minta jadi aku turutin," ujar Ken setengah meledek.
"Bukan aku yang minta, lho!" Airin tak setuju ucapan Ken.
"Bukan, ya? Jadi, aku harus batalin dong," ucapnya meledek.
"Ken!" protes Airin lagi. Lagi-lagi Ken tertawa.
"Makan, makan," perintah Ken setelah dia membuka semua isi kantong plastik yang dibawanya.
Airin menyantap makanannya. Dia terlalu lapar karena perjalanan jarak jauhnya.
"Oh ya," kata Airin. "Aku pengen piknik," mata dia dengan mulut penuh makanan.
"Piknik ke mana?" tanya Ken, dia mengurungkan niatnya untuk menyuap makanan.
"Piknik ke pantai," kata Airin.
"Pantai? Kenapa harus pantai? Bukankah kamu benci panas-panasan?" tanya Ken lagi. Airin nyengir.
"Tapi, kayaknya kalau ke pantai bakalan plong banget ini," katanya Airin lagi. Ken mengangguk.
"Bagaimana kalau ajak Brian dan Desta?" tanya Ken.
Airin menggelengkan kepala cepat. "Enggak!" tolaknya tegas. Ke mengerutkan kening.
"Kita berdua aja," kata Airin.
"Saya nggak diajak?" Suara Arga mengejutkan keduanya.
Tok... Tok...
Dia mengetuk pintu setelahnya.
"Arga?" kata Airin. "Ngapain?"
Arga mengangkat plastik berisikan makanan juga. "Tapi kayaknya udah telat, ya." Dia tersenyum malu.
"Ah," ucap Airin.
"Enggak kok, silakan masuk," ujar Ken mempersilakan masuk.
Arga masuk. Dia lantas ikut duduk lesehan di bawah. Meletakkan dua kantong plastik yang dia bawa.
"Tadi aku telepon Danil, dan katanya kamu udah pulang. Jadi, pasti laper, ya aku bawa makanan," kata Arga. Airin mengangguk.
"Kebetulan sekali ketemu Ken di sini," ucapnya ramah. Ken tersenyum.
Mereka kembali menikmati makanan yang Arga bawa. Sembari bercerita panjang lebar untuk mendekatkan diri. Terlebih Arga membuang titelnya sebagai CEO perusahaan. Jadi, tak ada kecanggungan atau rasa malu untuk sekedar bercanda.
"Kenapa nggak bahas piknik lagi?" tanya Arga tiba-tiba. Airin tersenyum.
"Boleh dong, aku ikut buat ngilangin stress juga," kata Arga.
"Oke, karena kamu baik. Bawain makanan di saat aku lapar, jadi kamu boleh ikut," kata Airin.
"Ye..." Arga bertepuk tangan kegirangan.
Ken tersenyum. Mereka berdua seperti anak kecil.
Keesokan pagi. Airin seperti biasa, terbangun karena suara alarm yang begitu bising di telinganya. Dia menyeret tombol untuk mematikan alarm itu.
Dia membuka matanya sempurna ketika matanya melihat ada empat panggilan tak terjawab dari Brian. Ada juga pesan masuk.
-Oke, jika itu mau kamu. Kita sama-sama berpikir bagaimana hubungan ini ke depannya.- Tulis Brian.
Airin menghela napas berat.
"Kenapa pacaran seribet ini?" tanya Airin pada dirinya sendiri. "Kenapa nggak seperti pasangan yang lain. Yang gampang banget kasih waktu buat pasangannya," kata Airin lagi. "Aku nggak bisa maksain karena kita memang sama-sama sibuk. Tapi, bisa kan kita komunikasi lancar, bisa kan kita punya waktu buat sekedar ngobrol di telepon sampai kita tertidur," ucap Airin. Tak mau berpikiran panjang. Airin segera bergegas membersihkan diri.
_____
Seperti biasa, Airin melihat pemandangan pagi di perusahaan tempatnya bekerja. Dia berjalan, menyapa orang yang tersenyum kepadanya. Terutama security yang bertugas setiap pagi di gerbang. Walaupun tak saling kenal nama, namun selalu tersenyum saat bertemu.
Airin melenggangkan kaki, hingga satu suara mengusiknya.
"Kak Airin!" panggil Jessi dengan penuh semangat. Airin menoleh. Dia tersenyum. Menunggu langkah Jessi agar sama dengan langkahnya.
"Good morning," sapa Jessi lagi.
"Morning," balas Airin sembari menebar senyum manis.
"Oh ya, gimana kemarin ke Bandung? Lancar?" tanya Jessi.
Airin mengangguk pasti. "Lancar," jawabnya singkat.
"Wah," ucap Jessi. "Seneng banget bisa kerja sambil jalan-jalan," katanya merasa iri.
"Kita full seminar, boro-boro jalan-jalan. Seminar selesai, ga langsung pulang," kata Airin. Jessi mengangguk mengerti.
"Oh ya, hari Minggu kita mau Adain pesta di tempat Henry. Kebetulan dia ulang tahun." Jessi menjelaskan. "Nanti detailnya dia yang bakal jelasin," katanya lagi bersemangat.
"Minggu?" tanya Airin. "Wah, kalau siang nggak bisa, kalau malam aku bisa usahain datang," kata Airin. Jessi tersenyum.
"Malam kayaknya sih," jawabnya.
Mereka menuju ruangan lantai dua. Menyapa satu per satu karyawan yang tersenyum ke arah keduanya.
Pekerjaan satu per satu selesai. Meeting siang ini dipandu oleh Danil. Dia tak canggung berbicara di depan timnya, dan juga dihadiri oleh Arga langsung.
Airin bertugas sebagai notulensi hari itu. Jadi dia fokus pada penjelasan Danil dan mencatat semuanya.
Arga bertepuk tangan, setelah Danil mengakhiri presentasinya. Disambut oleh tim yang lain juga bertepuk tangan.
"Terima kasih," kata Danil mengakhiri nya.
"Oke, jadi cukup sampai di sini ada pertanyaan?" tanya Danil. Tak ada satu anggota pun yang mengangkat tangan. Setelah memastikan tak ada yang bertanya. Danil menutup rapat hari itu.
"Oke, jika tidak ada pertanyaan. Rapat hari ini saya tutup, terima kasih," katanya lantang. Semua anggota yang sudah sedari tadi duduk lebih dari dua jam itu akhirnya bisa bangun dan bernapas lega.
"Rin, ringkasannya bisa langsung kirim ke E-mail saya?" tanya Danil.
Airin mengangguk. "Siap, Pak," jawabnya tegas.
Arga yang sudah berdiri. "Kirim juga ke surel perusahaan," ujarnya. Airin mengangguk.
"Siap, Pak." Jawaban yang sama terlontar dari mulutnya.
Danil dan Arga lebih dulu keluar. Sedangkan Airin masih harus mengirimkan ringakasan tadi sesuai permintaan.
____
Sore ini sangat cerah. Airin pulang lebih awal. Karena tadi Henry, Mila dan Gustav yang bekerja di lapangan.
Airin memutuskan untuk datang ke danau itu. Danau yang biasa dia datangi bersama Brian. Dia pikir di sana pikirannya akan tenang, dan di sana juga dia bisa mencurahkan semua isi hatinya.
Airin menggunakan bus. Walaupun tak sampai langsung tempat itu. Dia memilih untuk berjalan kaki di sisa perjalanannya. Belum terlalu sore. Jika jalanan sepi, dia akan menelpon Ken untuk menjemputnya. Sang super Hero yang selalu siap siaga itu sudah pasti datang dalam sekejap mata.
Airin menghentikan langkahnya ketika hampir sampai di danau. Dia meligat sosok Brian di sana. Mata mereka bertemu saat Brian membuat tubuhnya berniat untuk pulang.
"Kamu," ucap Brian ragu.