"Apa yang kamu lakukan?" tanya Airin ragu.
Keduanya memutuskan untuk duduk berdua. Menatap danau yang sangat tenang. Mereka terdiam. Sampai akhirnya Airin membuka suara.
"Benar, itu pasti berat." Airin berujar. "Tapi, aku nggak bisa menjalani hubungan seperti itu," ucapnya datar. "Aku ingin sekali seperti yang lain," katanya. "Yang menikmati hubungan, menikmati waktu bersama, dan menikmati waktu untuk saling balas chat, atau berbicara di telepon," ucapnya. Brian mengangguk.
"Maaf," ujar Brian lirih. Airin menggeleng.
"Kita nggak bisa menyalahkan apapun. Hanya jalan yang terbaik adalah kita putus," ujar Airin.
Hati Brian sangat sakit mendengar itu. Dia hanya terdiam untuk beberapa saat.
"Aku gelisah saat tak mendengar kabar dari kamu," kata Airin. "Aku kesal, walaupun aku juga memiliki kesibukan sendiri. Nyatanya, setiap hari aku menunggu kabar," ucapnya.
"Kita memiliki kesibukan sendiri yang benar-benar tak bisa melanjutkan hubungan ini."
Brian terdiam. Merenungi semua ucapan yang Airin buat.
"Semoga kamu bisa lebih baik lagi," ucap Airin. "Begitu juga aku, akan memperbaiki diri sebagai seorang perempuan," kata Airin. Dia beranjak dari duduknya.
"Maaf, dan terima kasih sudah mengisi hari-hariku," kata Airin lalu pergi. Brian tak bisa berbuat banyak. Dia hanya terdiam. Tak terasa air mata menetes begitu saja.
"Maaf, sudah membuatmu menderita selama ini," ujar Brian lirih.
____
Tibalah di saat yang mereka tunggu. Piknik ke pantai, jadwal yang sudah mereka susun satu Minggu sebelumnya. Airin bersiap-siap. Walaupun tak jauh, dan masih dalam kota Jakarta. Namun, dia sangat bersemangat.
"Bawa apa lagi, ya?" tanya Airin. Tasnya hampir penuh berisi makanan.
Dua bunyi klakson mobil secara bersamaan menggema di teras rumahnya. Airin bergegas untuk pergi. Dia ke luar dan tersenyum melihat Arga dan Ken sudah siap.
"Mau pake dua mobil?" tanya Airin. Ken menggeleng.
"Nggak seru, pake satu aja," jawabnya. Arga mengangguk setuju.
"Pake mobil aku aja," timpal Arga. Keduanya setuju. Arga menjadi supir hari ini. Ken duduk di kursi penumpang yang di depan. Sedangkan Airin berada di belakang.
"Aku bawa makanan banyak," kata Airin bersemangat.
"Wah, benar-benar piknik ini," ucap Arga. Ken mengangguk setuju.
Perjalanan mereka lancar. Hari Minggu adalah hari libur, di mana jarang ada orang beraktivitas pagi hari.
"By the way, kita mau ke mana? Kenapa harus pagi-pagi banget berangkatnya?" tanya Airin polos.
Ken tersenyum. Begitu juga Arga.
"Kita mau nyebrang pulau," kata Arga jelas.
"Nyebrang pulau?" tanya Airin terkejut. "Serius?" Dia kembali bersemangat.
Arga mengangguk. "Kebetulan aku punya cottage di sana. Pemandangannya bagus banget. Kamu bisa bermain air sampai puas." Arga menjelaskan.
"Terus kita nyebrang pake apa?" tanya Airin lagi.
"Banyak nanya kamu," celetuk Ken.
"Ken!" protes Airin. Membuat dua laki-laki itu tertawa.
Pukul delapan lewat empat puluh lima menit mereka sampai di sebuah pulau. Pemandangannya sangat elok. Airin menganga melihatnya. Baru pertama kali dia mendatangi tempat seperti ini.
Air pantai yang berwarna kehijauan dan sangat jernih itu menampakkan ikan-ikan yang hidup bebas di sana.
"Serius! Bagus banget!" ujar Airin tak mau berkedip.
Merasa senang melihat Airin. Ken dan Arga tersenyum. Ternyata mereka memang merencanakan ini setelah Airin memintanya berlibur.
Ken yang sudah siap dengan kamera DSLR yang dikalungkan di lehernya mulai sibuk memotret objek di sekitarnya.
"Lebih baik, kita ke tempat istirahat dulu. Aku udah minta dijemput sama supirku." Arga berucap. "Mungkin dia udah nunggu di luar," katanya lagi.
Pelabuhan yang mereka datangi tak terlalu besar. Namun, di sana banyak sekali orang berjualan aksesoris khas pantai.
"Ayo!" ajak Arga. Airin mengangguk cepat.
"Yah, aku nggak bawa baju ganti." Airin mengingat dalam isi tasnya hanya makanan.
"Tak apa," kata Ken. "Di sini banyak yang jual baju ganti." ujarnya.
Mereka lantas berjalan ke luar. Benar sang supir melambaikan tangan pada Arga.
"Itu supir kamu ga?" tanya Airin. Laki-laki yang terlihat sangat muda mengangkat tangannya sembari bibirnya tersenyum.
"Iya, dia adalah anak dari supir pribadi Ayah," kata Arga.
"Ah," timpal Ken mengerti.
Mereka menuju tempat istirahat dengan menggunakan mobil. Airin sangat berantusias. Mulutnya terus berbicara. Sesekali dia mengagumi pemandangan yang dia lewati.
"Serius, aku baru pertama kali ke sini," katanya penuh semangat.
"Ada view yang lebih bagus Kak dari pada ini," kata sang supir.
"Serius? Aku mau diajak ke sana?" tanyanya.
"Enggak!" jawab Ken tegas.
"Ken!" protes Airin. Langsung saja dia mendaratkan tangannya di d**a Ken yang duduk di sampingnya. Hal itu membuat semua orang tertawa.
"Nanti kita makan dulu, sarapan," kata Arga. "Baru nyebrang pulau lagi," ujarnya.
"Nyebrang pulau lagi? Memangnya kita mau ke mana lagi?" tanya Airin bingung.
"Ada pokoknya," jawab Arga. Hal itu membuat Airin penasaran.
Lima belas menit di perjalanan, mereka sampai.
"Wah! Bagus banget," kata Airin. Tepat penginapan yang memiliki pemandangan pantai langsung terlihat begitu indah. Air berwarna biru langit itu tampak memiliki ombak kecil sebagai pemanis.
"Serius, bagus banget." Airin lagi-lagi kagum.
"Kamu udah ngomong bagus lebih dari seratus kali," kata Ken. "Maklumlah ya, yang dilihat cuma koran, laptop, sama TV aja," katanya. Airin mengangguk cepat.
Ternyata sarapan sudah dipersiapkan. Mereka tinggal menikmatinya.
"Tapi, aku nggak bisa lama-lama di sini," ujar Airin tiba-tiba tak bersemangat.
"Kenapa?" tanya Ken bingung.
"Karena nanti malam ada party ulang tahun Henry," katanya. "Nggak enak kalo nggak datang," ucap Airin lesu.
"Tak apa. Lain kali kita bisa datang ke sini lagi," ucap Arga menenangkan.
Siang itu, Airin melakukan apapun yang dia mau di pantai. Dia menikmati pantai dengan penuh semangat. Tertawa lepas, segala tantangan air dia taklukan.
"Wahh! Aku seneng banget," ucapnya. Tubuhnya sudah basah kuyup oleh air. Wajahnya tanpa sunblock terlihat gosong karena sinar matahari.
"Puas!" teriaknya penuh kegembiraan.
Setelah menyebrangi satu pulau untuk melakukan tantangan air. Mereka kembali lagi ke tempat awal.
"Sepertinya aku harus duluan! Serius, udah nggak tahan kebelet banget!" Ken kocar-kacir.
"Ken! Nggak keren banget sih," ledek Airin. Ken berlari. Untung Ken segera menemukan WC umum. Dia segera berlari.
"Rame banget?" tanya Airin.
"Biasanya kalo rame gini lagi buat syuting," jawab Arga. Airin mengangguk mengerti.
Airin berjalan tanpa melihat ada apa di bawah. Dia tersandung dan terjatuh. Membuat kakinya terkilir.
"Ga! Sakit," erangnya. Airin kesakitan.
"Yah, harus gimana?" Arga celingukan. Berharap ada yang menolong. Namun, sayang, orang tak melihat masalah itu.
"Aku gendong? Mau?" tanya Arga.
"Apa?" Airin terkejut. Arga sudah berjongkok di depannya.
"Mau gimana?" kata Arga lagi. Airin mengembuskan napas.
"Coba bantu aku berdiri," kata Airin manja. Arga mengangguk.
Usahanya berdiri, tetap jatuh. Arga menghela napas.
"Lebih baik aku gendong," ujar Arga. Dia berjongkok di depan Airin. Berancang-ancang untuk menggendong Airin.
"Yakin, nih?" tanya Airin memastikan. Arga mengangguk.
"Oke," kata Airin. Dia mengalungkan tangannya di leher Arga.
"Beratku lebih dari 70 kilogram," ujarnya.
Arga tersenyum. Dia berpura-pura keberatan.
"Wah, iya berat banget. Ini mah lebih dari tujuh puluh," kata Arga mencoba berdiri.
Airin tertawa.
Baru beberapa langkah, langkah Arga berhenti.
"Jadi ini? Yang kamu lakukan setelah kamu bilang akan instrospeksi diri?" Suara Brian sedikit bergetar.
Airin menoleh secepat kilat.
"Brian," ujarnya lirih. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya.
"Aku cukup tahu diri. Bukan karena cinta, tapi kamu hanya kasihan sama aku," ucap Brian tegas.
"Yan! Syuting akan segera dimulai," ucap Desta sembari berlari ke arahnya. Desta menoleh ke arah di mana Brian menatap.
"Airin? Arga?" tanya Desta lirih.
"Yan," bisik Desta.
Airin ingin turun, tapi Arga sengaja menahannya.
"Ga," bisik Airin. Arga tak merespon.
"Ayo!" Desta berusaha mengajak Brian. Namun, laki-laki itu terlihat sangat kecewa.
"Maaf," ucap Airin tiba-tiba.
Brian mengulas senyum tipis.
"Ayo," kata Brian. Dia melewati Airin dan Arga dengan cuek.
"Aish," gumam Airin. Dia sedikit tak enak hati.
"Tak apa." Arga kembali melanjutkan langkahnya.
Airin terdiam.
"Apa kalian udah putus?" tanya Arga. Airin mengangguk. Arga bisa merasakannya. Walaupun tak sampai menoleh.
"Kenapa?" tanya Arga lagi.
"Nggak tahu," jawab Airin singkat. Dia diam sejenak, hingga akhirnya kembali berbicara.
"Kita, sama-sama sibuk. Nggak seperti pasangan lain, entahlah, aku mulai emosional masalah perasaan, aku aja yang baper, mungkin." Airin berkata datar. Arga menggelengkan kepala cepat.
"Wajar, kalau cewek kayak gitu. Mungkin hanya 2 persen cewek di dunia ini yang bisa bertahan jika dihadapkan pada situasi seperti itu," jawab Arga.
"Airin! Kenapa digendong? Capek?" tanya Ken panik.
Airin menoleh, begitu juga Arga.
"Kaki aku terkilir," jawabnya. Ken menghela napas.
"Kok bisa?" Kepanikannya mereda.
Ken mengambil alih tas milik Airin. Dia terlihat khawatir.
_____
Hari terus bergulir. Airin seperti biasa menjalani aktivitasnya dengan pekerjaan yang membuatnya sibuk. Dia seringkali muncul di layar kaca. Membuat dirinya lebih sedikit terkenal.
Airin juga mulai terkenal di perusahaan. Walaupun dia seringkali tugas di luar. Airin sangat menikmati pekerjaannya.
Hubungannya dengan Arga juga lebih dekat. Walaupun dia masih bisa membedakan antara di rumah dan di perusahaan, yang jelas mereka bisa memisahkan hal itu.
Airin berjalan menuju pintu lobi. Dia berniat makan di luar bersama Jessi. Jessi tak terlihat karena dia meninggalkan ponselnya di meja. Maka dari itu dia kembali ke ruangan.
"Rin," panggil Ken. Dia melambaikan tangan. Airin tersenyum saat melihat Ken sudah masuk ke lobi.
"Mau makan?" tanya Ken, setelah jaraknya dengan Airin dekat. Airin mengangguk.
"Sama temen, mau gabung?" tanya Airin. Ken melirik jam tangan di lengannya.
"Boleh, sih." Ken setuju. "Kebetulan aku meeting jam setengah dua," katanya.
"Setengah dua? Dan sekarang udah sampai sini?" tanya Ken bingung.
Ken memang sedang bekerja sama dengan Arga. Dia sering datang ke kantor untuk melakukan meeting.
Ken cengengesan. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sepertinya memang dia sengaja datang lebih awal agar bisa mengajak Airin makan bersama.
"Kak Airin!" Suara Jessi menggema di telinga Airin. Airin menoleh. Jessi mendekat.
"Jess, kenalin, ini Ken, temen aku," kata Airin mengenalkan. Mau tak mau Ken tersenyum dan menyodorkan tangannya.
"Ken," ucapnya. Jessi tersenyum, dia menyambut tangan Ken.
"Jessi," ujarnya centil.
"Ayo!" ajak Ken. Airin dan Jessi mengangguk.
"Sepertinya kalian serasi," ucap Airin. Membuat Ken menoleh secepat kilat.
"Rin, jangan mulai," kata Ken tertahan.
"Kenapa? Sama-sama jomblo," ucap Airin. Langkah ketiganya kini sudah sejajar. Jessi hanya tersenyum malu.
"Jiwa mak comblangku meronta nih," ujar Airin tersenyum jahil. Dia berniat menjadi Mak comblang Ken dan Jessi.