"Airin!" protes Ken kencang. Airin hanya cekikikan, dia merasa lucu betapa gugupnya Ken tadi saat makan siang bersama Jessi. Padahal dia cuma meledeknya. Terlebih Jessi juga ikut menyanyi ucapan Airin.
"Aku nggak mau ajak makan lagi, nih!" ancam Ken. Airin menjulurkan lidah. Keduanya sudah berada dalam perjalanan pulang.
Langit sudah berubah menjadi gelap.
"Ken, udah saatnya kamu punya pacar," kata Airin tegas.
"Terus kamu? Kenapa belum punya pacar?" tanya Ken. Membuat Airin tak bisa menjawab.
Ken tersenyum, lalu berkata. "Kamu pernah bilang, perasaan seseorang nggak bisa dipaksa, kan?" kata Ken.
Airin mengangguk.
"Lalu, menurut kamu Jessi gimana?" tanya Airin lagi. Membuat Ken menggelengkan kepala tak habis pikir. Airin tertawa.
"Oke, oke. Aku nggak maksa kalian jadian, tapi please, kalian bisa dekat." Airin memohon. "Jessi anak baik. Dia manja, dia pintar, tapi beneran baik banget. Emang sih, dia rada aneh. Tapi, serius. Dia kalo udah kenal sama orang baiknya bener-bener tulus," ujar Airin. Ke mengangguk mengerti.
"Belum saatnya, aku belum bisa membuka hati lagi untuk seseorang," ujar Ken serius.
"Ken, please!" Airin tau. Ken pasti masih memiliki perasaan kepadanya.
Dia merasa bersalah karena dia sudah menolak Ken. Membuat Ken menutup pintu hatinya untuk wanita lain.
"Rin, kamu dengar pepatah orang Jawa? Witing tresno jalaran soko kulino," kata Ken.
"Artinya?" tanya Airin penasaran.
"Cinta itu datang karena terbiasa," jawab Ken. "Terbiasa ketemu, terbiasa bareng, terbiasa komunikasi, dan terbiasa saling melempar perhatian," kata Ken jelas.
Airin mengangguk.
"Oke, aku bakal coba. Tapi, jangan pernah paksa aku. Aku nggak mau ngasih harapan buat dia, dan aku nggak main-main." Ken menjelaskan. Mendengar itu Airin langsung tersenyum. Dia terlihat bahagia.
Airin menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamarnya.
"Kenapa aku kepikiran Brian?" tanyanya lirih. "Dia lagi apa? Apa dia baik-baik aja?" ujarnya. Airin menghela napas berat.
____
Brian berkali-kali melakukan take untuk mengulang adegan syuting.
"Brian! Apa kamu baik-baik aja?" tanya sang sutradara khawatir.
Brian menoleh dan tersenyum. Dia mengangguk lemah.
"Please! Fokus! Waktu kita terbuang banyak!" tegurnya tegas.
"Oke, oke, maaf," jawab Brian.
Syuting kembali dilanjutkan.
Tepat pukul sebelas malam. Syuting selesai. Brian mengembuskan napas berat.
Dia duduk sembari memejamkan matanya. "Apa kamu sakit?" tanya Dava. Dia membuka matanya sebentar, lalu memejamkannya lagi. Dia menggelengkan kepala.
"Kenapa? Tadi itu udah bener-bener keterlaluan," ujar Dava tegas.
"Maaf," jawab Brian malas.
Desta sibuk mengemasi barang-barang miliknya. Dava memerintahkan agar segera membawanya pulang.
"Pastikan langsung istirahat," ujar Dava. Desta mengacungkan ibu jari menandakan siap melaksanakan tugas.
Brian mengambil posisi duduk di samping Desta. Biasanya dia memilih duduk di belakang karena sembari beristirahat.
"Apa ada masalah?" tanya Desta. Brian menoleh dan menatap Desta nanar.
"Iya," jawabnya singkat.
"Apa?" tanya Desta lagi.
Brian menghela napas. Matanya menatap jalanan di depan sana.
"Gue tahu, Airin kesepian," ujar Brian datar.
"Kenapa?" Desta tak mengerti.
Brian mengangguk. "Gue seharusnya sempatin waktu untuk dia, harusnya kasih kabar, harusnya ada saat dia butuh," kata Brian.
"Yan, kalian putus udah lama! Please, mungkin dia sekarang sudah lupa sama lo," ujar Desta tegas. "Terakhir kali lo lihat, kan? Dia sama Arga!" Desta berbicara dengan nada sinis.
"Lo fokus sama karir lo, lo kembali sama hidup lo sebelum Airin datang." Desta berceramah.
Brian terdiam. Dia memilih memejamkan matanya.
"Oh ya, ada reuni akhir tahun ini," kata Desta. Kembali tertarik dengan obrolan Desta. Brian membuka mata.
"Kapan?" tanya Brian serius.
"Kenapa? Apa mungkin kamu bakal datang?" tanya Desta. Brian tak pernah datang ke reuni sekolah. Alasan pertama, dia hanya sampai kelas dua SMA lalu akhirnya pindah. Kedua, dia tak mungkin menorehkan luka lama yang sudah dia obati sejak lama. Ketiga, dia tak ingin mendengar komentar teman-temannya tentang dirinya yang sekarang.
"Enggak!" jawab Brian tegas. Desta tersenyum.
"Kabarnya Arga bakal datang, otomatis Airin juga bakal datang," katanya.
Brian kembali lemas. Mengucap nama Arga membuat dia menjadi malas. Dia kembali memejamkan mata lagi.
"Gue siap, kalo lo mau dateng. Gue siap buat lawan mereka," kata Desta.
"Apa?" Brian membuka matanya. Tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Desta. "Lo pikir kita mau tawuran? Kita mau reuni! Dan, merek juga nggak akan nge-bully gue langsung saat itu juga," kata Brian.
Desta mengangguk. "Iya, sih. Tapi banyak di antara mereka adalah penggemarmu. Kaum cewek, tergila-gila sama pesona lo sekarang, Yan."
"Lihat saja nanti. Akhir tahun adalah hari libur panjang gue. Gue mau berlibur, gue mau menenangkan diri, dan gue mau bertapa," kata Brian tegas.
"Alah, paling gue-gue juga yang bakal lo rusuhin lagi," kata Desta. Brian tertawa kecil.
"Kan udah nasib lo," jawab Brian sekenanya.
____
Pagi ini begitu cerah. Ken berjanji akan mengantar Airin bekerja. Sekaligus dia ada pertemuan pagi dengan Arga. Jadi, sekalian jalan.
Berkali-kali Ken membunyikan klakson, agar Airin cepat keluar.
Setelah melihat sosok Airin ke luar, Ken baru lega.
Perempuan berbaju kotak-kotak berwana pink itu terlihat sangat manis hari itu. Apalagi dia memoles sedikit bibirnya dengan lipstik berwarna pink.
"Dandan? Buat narik perhatian siapa?" tanya Ken.
"Hus, aku ada berita pagi. Biar di sana nggak dandan lagi," kata Airin. Ken mengangguk mengerti.
Perusahaan lagi itu sudah ramai. Airin bukan datang terlambat, tetapi memang dia berbarengan waktu karyawan datang.
"Aku langsung ke lantai empat ya," ujar Ken. Dia harus menaiki elevator agar cepat. Karena dia juga harus mempersiapkan materi untuk meeting pagi ini.
"Aku mau ke pantry, bikin kopi," Jawa. Airin. Mereka berpisah di lobi.
Airin berjalan menaiki anak tangga. Sebelum masuk ke ruangan. Dia masuk ke pantry. Ternyata Arga sudah berada di sana.
Saat memastikan tak ada orang. Mereka barulah mengobrol dengan santai.
"Akhir tahun ini ada reuni, mau dateng?" tanya Arga.
"Reuni?" Airin tak percaya.
Arga mengangguk. "Diaz jadi ketua panitianya. Dia bakal undang semua alumni angkatan kita.
"Seriusan?" tanya Airin ragu.
Arga mengangguk. "Datang ya," katanya.
Airin hanya mengedikkan bahu.
Airin segera keluar dari sana. Dia tak ingin dilihat oleh karyawan lainnya.
Airin duduk di meja kerjanya. Menyalakan semua perangkat komputer yang ada di sana. Menikmati kopi pagi sembari menunggu kedatangan yang lain.
"Selamat pagi!" sapa Danil, dia menyebar senyum manis pagi ini.
"Pagi," jawab Airin sopan.
"Bentar lagi langsung ke ruangan ganti saja. Berita live akan dimulai jam tujuh lewat tiga puluh menit.
Airin mengangguk. "Siap Bos," ujarnya.
Tak lama karyawan yang lain datang. Jessi menyapa Airin seperti biasa dengan gayanya, manja dan juga sembari tersenyum.
"Oke, aku duluan," kata Airin.
"Lha, kok aku masuk, malah Kakak keluar?" tanya Jessi.
"Ada berita pagi," kata Airin. Jessi mengangguk mengerti.
Airin bersiap-siap di ruang ganti. Dia membuka kembali tas kecil yang sengaja dia bawa. Perlengkapan make up pribadi miliknya.
"Udah siap?" tanya sang penata rias setelah menutup kembali pintu.
"Ah, sudah." Airin menoleh dan tersenyum.
"Ini bajunya," kata penata rias itu menyodorkan baju kantor yang masih tergantung.
"Oke." Airin meraihnya. Dia lantas berganti baju di kamar pas.
Setelah selesai, Airin kembali ke luar.
"Aku seneng kalo kamu yang on air, nggak ribet," kata wanita id card bernama Winda. Airin tersenyum.
"Yang lain mah, bawel. Kalo di make up, ada aja keluhannya." Dia lantas duduk.
"Ya emang dasarnya kamu udah cantik, sih," puji Winda. Airin lagi-lagi tersenyum.
"Bisa aja," katanya.
"Oh ya. Besok kamu juga, kan? Yang bawain On The Stage. Katanya Gracia cuti." Winda memberi tahu.
"Oh ya? Aku belum tahu," jawab Airin. Winda mengangguk.
"Siapa bintang tamunya?" tanya Airin.
"Kalau itu aku belum lihat lagi." Winda tersenyum.
Airin menghela napas. Dia mengatur napasnya agar tak gugup.
Selama satu jam penuh dia berada di kamera. Membawakan berita hari itu. Tak ada rasa gugup, dan dia sangat percaya diri. Dengan fasih mengucapkan kata demi kata.
Airin keluar dari ruang siaran. Disambut oleh tepuk tangan dari Ken.
"Bukannya meeting?" tanya Airin. Ken tersenyum.
"Lagi break," katanya. "Wah, bagus banget bawain beritanya." Ken memuji.
"Tau dari mana?" tanya Airin.
"Tuh!" Ken menunjuk semua layar yang menyala dengan bergambar Airin menyiarkan berita tadi. Airin malu.
Airin kembali ke ruangannya dengan baju yang semula dia pakai. Tadi dia lebih dulu ke ruang ganti.
"Widih, ini dia presenter baru berita pagi," ujar Jessi menyambut kedatangan Airin. Disambut tepuk tangan dari anggota tim lain.
Airin tersenyum. Dia dyduk di mejanya.
"Cuma sementara aja," kata Airin.
"Besok On The Stage kamu yang bawain juga," kata Danil. "Besok pagi aku kasih script-nya," lanjutnya.
"Laris manis!" celetuk Henri bersemangat.
Airin menjalani hari ini dengan rasa lelah. Setelah menjadi presenter berita pagi, dia kembali dengan segudang laporan untuk bacaan mingguan perusahaan.
Dia menghela napas berat. Berjalan menuju rumahnya. Langit berubah warna menjadi jingga. Menyapa para tetangga yang tengah duduk di teras rumah mereka.
Hidupnya sangat monoton. Kerja, kerja, kerja, dan kesepian di rumah. Tak ada orang yang menemaninya. Hidupnya hanya untuk kerja dan kesibukan.
Airin kembali mengunci pintu. Memeng Ken sering datang hanya untuk menemani dia makan. Tapi, pasti hari ini Ken sibuk dengan pekerjaannya.
Perempuan itu baru saja mandi. Tangan yang sibuk dengan handuk untuk mengeringkan pakaian terus bergerak. Dia duduk sila di depan televisi.
"Hanya TV yang jadi hiburanku sekarang," ujarnya. Belum juga TV menyala. Seseorang membunyikan bel.
"Siapa?" tanya Airin pada dirinya sendiri. Dengan malas dia keluar.
"Paket," kata sang tamu yang datang.
"Paket?" tanya Airin. Dia segera membuka pintu.
Benar, tamunya adalah kurir paket dengan atribut jaket lengkap.
"Mbak Airin?" tanya si kurir sopan.
"Iya," jawab Airin. "Paket apa ya, Pak?" tanya Airin bingung. "Perasaan saya nggak pesan apa-apa." Airin belum berani menerima.
"Kurang tahu saya Mbak. Tapi alamat sama nama nya sama," kata si kurir itu polos. "Coba dicek aja dulu Mbak," katanya.
Airin menerima. Dia melihat alamat, nama, serta nomor hapenya sama dengan apa yang dia miliki. Dia mengerutkan kening. Melihat sang pengirim hanya bertuliskan Olshop. Tanpa nomor hape dan hanya beralamatkan Jakarta.
"Olshop? Aku beli apaan?" Tak ingin membuang waktu si kurir. Airin pun menerimanya dengan rasa kebingungan.
"Oke, makasih ya, Pak." Airin lantas kembali masuk. Dia melihat paket itu dari segala sisi.
"Bom?" tanyanya lagi. Dia mengocok dan tak bersuara.
"Penasaran," ucapnya. Dia menghela napas terlebih dahulu dan mencoba membuka paket itu.
Plastiknya dia robek, setelah selesai. Hanya menampilkan sebuah box kotak.
"Apa lagi ini?" tanya Airin lagi. Dia masih penasaran. Akhirnya membuka kembali. Sebuah baju yang terlipat rapi. Dan ada sepucuk surat di atasnya. Airin mengambilnya dan membaca.
-Untuk hadiah sebagai presenter berita tadi pagi. Pakai di acara reuni nanti, ya.-
Hanya itu tulisan yang ada di kertas. Tak ada jelas nama pengirimnya. Otaknya semakin bertanya-tanya. Dia hanya bisa mengerutkan kening.
"Siapa?" tanya Airin bingung. "Apa mungkin Arga?" tanyanya bingung.