Episode 59

1755 Kata
Airin membuka baju itu. Sebuah dress cantik, selutut dengan lengan pendek. Warnanya sangat cantik, warna favorit Airin, yaitu warna Biru muda. "Wah," gumamnya. Dia terlalu menyukai warna biru. "Cantik banget," katanya. Airin kembali melipat dan menyimpan kembali ke dalam bok itu. Keesokan paginya. Airin mencari sosok Arga. Namun, tak menemukannya. "Pak Danil, lihat Pak Arga?" tanya Airin lirih setelah ruangan itu diselimuti rasa sunyi. Semua orang sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Danil mengerutkan kening. "Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Danil juga berbisik. Airin menggelengkan kepala. "Ada apa?" Suara Henry nyaris tak terdengar, mengagetkan keduanya. Airin menoleh secepat kilat. "Kaget!" gumamnya. Henry hanya cengengesan. "Ada apa?" tanya Danil pada Henry. "Ini." Henry menyodorkan sebuah dokumen kepada Danil. "Laporan minggu ini," ucapnya lalu tersenyum. Dia kembali ke mejanya. "Oh ya, Rin. Bukankah nanti jam sepuluh ada on air?" kata Danil. "Ah iya. Script-nya?" tanya Airin. "Sebentar. Saya lihat dulu," katanya. Danil membuka e-mail di komputernya. Tak selang berapa lama, Danil mengambil kertas-kertas yang keluar dari mesin printer yang berada di belakang mejanya. Setelah mengumpulkan jadi satu, dia memberikannya pada Airin. "Ini," kata Danil memberikan lembaran-lembaran kertas itu pada Airin. "Oke, terima kasih," jawab Airin. Dia akan melangkah. Namun, mengurungkan niatnya. Karena Danil kembali membuka suara. "Kayaknya Bos lagi meeting di luar," ujar Danil sedikit berbisik. Airin mengangguk mengerti. Airin terkejut saat dia baru saja membuka lembaran kedua script hasil tadi yang dikasihkan oleh Danil. Dia melihat tamu undangan hari itu. "Brian?" tanya Airin terkejut. "Bagaimana ini?" tanyanya lirih. Jessi merasa terganggu dengan suara Airin. "Apa ada masalah?" tanya Jessi. "Ah, enggak." Airin menjawabnya ragu. "Tapi, Jess, apa kamu mau gantiin aku? Bawain acara On The Stage?" tanya Airin ragu. Jessi menggeleng. "Mana bisa mendadak begitu. Aku belum ahli bawain acara kayak gitu," tolak Jessi halus. "Maaf," ucapnya tak enak hati. "Rin! Lagi ditunggu di ruang make up," kata Danil lantang. Airin mengembuskan napas. "Iya," jawabnya singkat. Dia berjalan malas menuju ruang make up yang ada di lantai satu. Memikirkan bagaimana dia bisa bertemu dengan Brian lagi. "Rin!" panggil seseorang. "Airin!" Suara Desta mengagetkan Airin. Dia menoleh. "Benar, Brian ada di sini sekarang," katanya lemah. Desta berlari kecil ke arahnya. Airin tak menemukan siapapun lagi di sana. "Ada apa? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Airin pura-pura tak tahu. "Aku harus ke toilet, di mana toiletnya?" tanya Desta terburu-buru. "Di sana," kata Airin menunjuk jalan yang paling ujung. "Oke thanks," jawab Desta lalu ngeloyor pergi. Dia mungkin sudah tak bisa lagi menahan hajatnya. "Pasti Brian sudah di ruang tunggu artis," kata Airin. Seketika tubuhnya lemas. Waktu menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Airin bergegas. Ruang make up itu tampak sepi. Mungkin Winda sedang merias Brian. Airin melihat lagi script tadi. Dia membaca pertanyaan-pertanyaan yang harus dia lontarkan dalam acara. "Ya Tuhan, kenapa harus aku?" tanya Airin pasrah. Lima belas menit sebelum on air, Airin harus sudah di studio. Dia berlatih pembukaan. Setelah tadi dia merias wajahnya sendiri tanpa bantuan Winda, dia rasa sudah pas. Airin sudah berada di studio. Duduk sembari membaca naskah yang dia pegang. Penonton yang hadir di studio juga sudah memenuhi kursi. Jelas, mereka tahu Brian yang datang hari ini. Jadi, tanpa tim mencari penonton bayaran pun, mereka rela datang walopun jika tanpa bayaran. Penggemar Brian atau penonton hari itu kebanyakan adalah kaum milenial. Airin gugup, namun, dia yakin. Jika dia bisa membawakan acara dengan baik. "Oke, siap-siap," perintah sang sutradara. Airin mengatur napasnya agar tak gugup. Di ruang tunggu artis. Menampakan wajah Brian dan Desta yang terdiam di depan layar. Pasalnya layar berukuran empat puluh dia inchi itu menampakkan sosok Airin yang akan memulai syutingnya. "Airin?" tanya Desta dan Brian bersamaan. "Dia yang jadi pemandu acara ini?" tanya Brian tak percaya. Desta mengangguk ragu. "Sepertinya iya," jawabnya. Acara dimulai. Airin membuka acara itu dengan penuh semangat. Wajahnya menampakkan senyum manis. "Oke, sekarang kita panggil bintang tamu hari ini," kata Airin. "Coba tebak. Dia adalah sosok laki-laki tampan, dia berprestasi di dunia hiburan, dan dia orang yang baik," kata Airin. Dia melihat script seperti itu. "Sudah siap?" tanya Airin pada penonton. "Oke hari ini kita kupas tuntas tentang kehidupan Aktor yang baru saja comeback dalam waktu dekat ini." Airin menjelaskan. "Sudah siap, ya?" tanyanya lagi. "Siap!" jawaban kompak dari para penonton itu. "Oke, agar kita ngobrol lebih intens, lebih detailnya penasaran, kan? Yukk, panggil bintang tamu kita hari ini. Brian!" ujar Airin. Disambut tepuk tangan yang sangat meriah. Brian masuk ke dalam stage. Dia gugup, begitu juga Airin. Mereka duduk bersampingan walaupun dengan kursi yang berbeda. "Selamat pagi Kak Brian," sapa Airin ramah. Dia masih mengulas senyum tipis di bibirnya. "Selamat pagi Mbak Airin," balasnya. "Pertama, selamat untuk comeback-nya ke hiburan tanah air buat Kak Brian," ujar Airin. Brian tersenyum. "Terima kasih," jawab Brian lagi. "Panggil saja Brian," ucap Brian. "Oh gitu, oke, oke," jawab Airin sembari tersenyum. "Yan, ceritain dong bagaimana kamu bisa sampai di titik sekarang," kata Airin. Brian mulai menyusun kata-kata. "Semuanya berlalu begitu cepat. Yang awalnya hanya seorang YouTubers, sekarang malah jadi artis. Awalnya berat. Dikejar syuting stripping, banyak sekali waktu yang aku gunakan untuk pekerjaanku. Sehingga waktu pribadiku benar-benar langka. Aku jarang menikmati waktuku sendiri." Brian bercerita. "Hingga ada satu hal yang membuatku berpikir, sesibuk apapun aku, aku harus meluangkan waktu untuk aku, untuk orang-orang di sekitar aku, walaupun hanya lima menit," ujarnya. Airin merasa tak enak. Tapi, dia menutupinya dengan baik. Wajahnya tetap tersenyum. Pertanyaan dilempar demi pertanyaan. Brian menjawabnya tanpa keraguan. Dia juga sangat profesional. Walaupun hubungannya dengan Airin sedang tidak baik-baik saja. Namun, dengan apik dia menyembunyikan ekspresi wajahnya. Dia tersenyum, tak canggung lagi, dan juga seperti mengakrabkan diri kembali. "Dua pertanyaan terakhir," ucap Airin. "Ini adalah pertanyaan yang paling penggemar kamu tunggu," katanya lalu tersenyum. "Siapa sih, sosok dibalik kesuksesan kamu. Jelas, salah satunya adalah penggemar. Pasti ada dong, sosok yang benar-benar menjadi inspirasi kamu, dan juga sosok yang selalu mensupport kamu," ucap Airin. "Sosok? Kalau penggemar sudah pasti. Mereka selalu memberiku banyak cinta, mereka mendukung karirku hingga sampai seperti ini, dan mereka yang selalu mensupport aku, terlebih saat aku memiliki skandal kemarin," jawab Brian. "Selain itu," kata Brian mulai berpikir. "Ada, hanya saja hubungan kita sedang tidak bagus," kata Brian. Ekspresi wajah Airin berubah. Namun, dia tetap profesional. "Wah, siapa ini? Orang spesial kah? Teman, pacar, atau orang tua?" tanya Airin lebih detail. "Ex," jawab Brian singkat. "Ex? Mantan pacar?" tanyanya ragu. Brian mengangguk. Seluruh isi studio terkejut dengan pernyataan itu. Mereka dibuat kaget dengan fakta bahwa Brian memiliki seorang kekasih yang sudah kandas hubungannya. Airin menenangkan diri. Dia gugup, namun berusaha menutupinya. "Berarti mantan pacar kamu itu sangat spesial. Mungkin penggemar kamu baru tahu," kata Airin. "Sangat spesial. Aku masih belum bisa move on dari dia." Brian mengangguk. "Untuk penggemarku, maaf. Tak memberitahu kalian sejak lama. Tapi, sosok dia benar-benar membuat hari-hariku hidup," pungkasnya. "Pertanyaan terakhir." Airin lantas kembali mengambil alih. "Kalau kamu dikasih kesempatan untuk memulai hidup baru. Kamu pengen kehidupan seperti apa yang paling kamu inginkan?" tanya Airin. "Menjadi orang biasa," kata Brian. "Aku ingin memberikan banyak waktu untuk orang-orang yang aku sayang. Terutama untuk dia, aku ingin selalu berada di dekat dia. Menemani dia, menjaga dia, dan selalu ada saat dia butuhkan." Brian bercerita. Airin mengangguk. Dia sangat yakin, Brian sedang membahas tentang dirinya. Dia tak ingin emosional. Airin menutupi semua kegundahan hatinya, karena dia sadar tengah berada dalam pengawasan kamera. Bukan hanya satu atau dua orang yang melihat, namun seluruh Indonesia bahkan sampai liar negeri. "Oke, terima kasih atas waktunya. Nggak terasa udah sejam lebih mengupas habis kehidupan seorang artis papan atas," kata Airin. "Kini tiba saatnya kita harus mengakhiri jumpa kita hari ini," ujar Airin. Airin mendadak lemas di ruang make-up. Dia benar-benar terkejut Brian mengatakan hal tadi tanpa rasa ragu. Airin mengatur napasnya. Tadi, dia segera keluar dari studio mendahului Brian. Desta dan Dava pasti melihatnya. Tapi, Airin tak mengindahkannya. Ponsel Airin bergetar. Menandakan satu pesan masuk. Dia segera membukanya. Ternyata pesan undangan untuk menghadiri acara reuni. Dia melihat dan membacanya. Lagi-lagi dia mengembuskan napas kasar. "Kenapa dunia sesempit ini?" tanya Airin. "Kenapa harus dengan dia aku bertemu?" ujarnya. _____ Hari H. Hari untuk datang ke acara reuni telah tiba. Untung saja hari Minggu. Jadi dia masih bersantai. Arga mengatakan akan datang. Namun, tak bisa menjemputnya karena dia masih di luar kota. Mungkin akan datang terlambat. Airin terpaksa datang sendirian nanti. Setelah membersihkan diri, Airin lantas membuka kembali bok yang pernah dikirimkan seseorang. "Udah jelas ini dari Arga. Kalau aku pake, apa itu artinya aku kasih kesempatan untuk dia?" tanyanya. "Tapi, dalam suratnya hanya tertulis seperti itu," kata Airin. "Ah." Dia mulai bimbang. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk memakainya. Airin sengaja menyewa taksi online. Dia memesannya melalui aplikasi. Hari itu sangat cantik dan berbeda. Dia memoles wajahnya dengan blush on, agar terlihat merona. Tempat acara reuni cukup jauh. Memakan waktu empat puluh lima menit untuk sampai di sana. Untung saja perjalanan lancar. Sehingga Airin datang sebelum acara dimulai. "Rin!" panggil seorang wanita yang menggunakan blouse berwarna maroon. "Sini," katanya sembari melambaikan tangan. Sudah banyak sekali yang datang. Reuni ini diperkirakan akan dihadiri oleh seratus dua puluh orang. Tentu saja, jika semua undangan itu sampai dan mereka datang. Setelah banyak yang hadir. Sang ketua acara mulai berbicara. "Ini acara non formal, jadi bebas, santai saja. Kita cerita, kita nostalgia, dan kita menikmati acara ini sampai nanti habis. Nanti juga ada hiburan untuk teman-teman semua ya," katanya jelas. "Oke." Jawaban itu terlontar dengan kompak. Semua orang tampak sibuk bercerita. Ada juga yang tengah menikmati makanan yang dihidangkan, ada juga yang sedang tertawa kegirangan mengingat masa SMA. Airin dan Freya, sibuk bercerita ngalor-ngidul tentang masa sekarang. Hampir sepuluh tahun, mereka tak bertemu. Tiba-tiba, suara Arga mengalihkan perhatian Airin. "Boleh gabung?" tanya Arga. Airin menoleh. "Hei, baru datang?" tanyanya. "Sini," ucapnya. "Sepertinya hubungan kalian sudah membaik?" tanya Freya. Airin tersenyum. "Kamu tahu, dia sekarang menjadi atasanku," ucap Airin. Membuat Freya terkejut. "Ah iya, CEO muda itu kamu?" tanya Freya pada Arga. Laki-laki itu tersenyum. "Kamu cantik," puji Arga benrisik di telinga Airin. Membuat Airin tersipu. "Makasih ya, untuk bajunya," jawab Airin juga berbisik. Arga bingung. "Wah, ini dia artis kita datang," ujar salah seorang teman laki-laki yang sedang berdiri membawa minuman. Semua oerhatian orang teralihkan di pintu masuk. Menampilkan Brian dan Desta datang. Airin terkejut. "Bagaimana bisa Brian datang dengan seberani itu, padahal dia mungkin sangat sakit jika kembali melihat masa lalu," batin Airin. Kaum Hawa terpesona dengan ketampanan Brian. Berbeda dengan kaum Adam. Mereka berkasak-kusuk membicarakan Brian. Netra Brian dan Airin bertemu. Matanya penuh dengan pertanyaan. Brian juga melihat Arga berada di sampingnya. Hal itu membuat dia cemburu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN