Sang ketua menyambut kedatangan Brian dan Desta. Dia memberikan tempat untuk mereka duduk. Brian mencoba tenang.
"Ga, itu bukannya Attar?" tanya Freya. Arga mengangguk.
"Wah, lo nggak gatel gitu buat manggil dia?" tanyanya lagi.
"Fre, semuanya sudah berubah. Lihat dia sekarang. Bahkan lebih populer dari gue," kata Arga. Freya mengangguk mengerti.
"Dia benar-benar tampan," katanya memuja. "Eh, Rin." Freya beralih ke Airin. "Tuh, cowok yang sering kamu bela," kata Freya. Airin tersenyum.
"Jadi, Brian ini adalah ..." Diaz sang ketua reuni akan memperkenalkan. Namun, Arga mengisyaratkan untuk berhenti.
"Enggak perlu kenalin." Suaranya sedikit berbisik.
"Ah, oke." Diaz setuju.
"Jelmaan Attar setelah operasi plastik!" celetuk laki-laki yang duduk di bangku paling pojok. Hal itu membuat kaum pria yang lain tertawa. Ada juga perempuan yang ikut tertawa. Hal itu membuat Brian menahan emosi. Desta akan berdiri, dia kesal. Namun, Brian mencegahnya.
"Duduk," ujarnya datar. Suasana jadi gaduh. Mereka membahas masalah kontroversi Brian.
"Sudah puas?" Tiba-tiba Airin berteriak. "Kalian sudah pernah menghancurkan hidup dia! Dan sekarang mau menghancurkannya lagi? Apa kalian sadar, kalian menorehkan luka dan trauma untuk dia!" Semua orang terdiam.
"Sudah pasti dia membela," bisik Freya pada Arga.
Arga terlihat cemburu. Itu adalah sifat alami dari Airin saat melihat Brian dirundung.
"Coba kalian ada di posisi dia! Mana berani kalian datang ke acar reuni ini," bentak Airin.
"Airin, kita cuma bercanda," ujar laki-laki tadi yang mengatakan operasi plastik, dia adalah Ragil. Teman sekelas Attar, dia juga termasuk pengikut Arga dulu.
"Bercanda itu kalo kita sama-sama tertawa, bukan salah satu dari kita tersakit, ngerti!" jawab Airin tegas.
"Rin, udah. Ngapain dia diladenin," ucap Arga lirih. Tapi, Airin bisa jelas mendengarkannya.
Airin menahan emosi. Dia mencoba tak meluapkan amarahnya.
"Gil, lo gimana sih, dia kan pelindungnya Attar," timpal teman sebangku Ragil.
"Ah, iya, iya," jawab Ragil sembari menganggukkan kepala.
"Memang kenapa kalau aku jadi pelindung dia? Nyatanya hidup dia sekarang lebih maju dibandingkan hidup kalian! Paham?" ujar Airin dengan nada tinggi.
"Eh, lo!" Ragil tak terima. Laki-laki yang kini hanya menjadi karyawan biasa sebuah perusahaan itu tampak kesal. Dia sampai berdiri saking kesalnya.
"Rin, hentikan," ujar Arga.
"Aish," gerutu Airin kesal. Dia memilih meninggalkan tempat itu.
Diaz mencegatnya.
"Rin, lo mau ke mana?" tanya Diaz.
"Aku ke luar bentar. Di sini gerah!" ujarnya. Dia meninggalkan ruangan itu.
Airin duduk di sebuah bangku. Dia bisa menghirup udara luar, terlebih posisinya berada di bawah pohon. Dia memejamkan matanya, menghadap ke atas.
Seseorang menempelkan sebuah minuman kaleng dingin di pipinya.
"Pasti panas banget," ujarnya. Airin segera membuka matanya sempurna. Brian berada di jangkauan matanya.
Airin gugup. "Ngapain di sini?" tanyanya gugup. Brian mengambil posisi duduk di samping Airin.
"Kenapa terus belain aku?" tanya Brian tiba-tiba.
"Ah, tadi. Aku hanya nggak suka lihat mereka men-judge orang dari masa lalunya," jawab Airin.
Keduanya terdiam. Airin malau setengah mati di samping Brian. Benar, tadi dia benar-benar menyerang orang yang sudah menghina Brian.
"Tapi aku menyukainya," kata Brian. Membuat Airin bingung. Dia mengerutkan kening dan menoleh ke arah Brian.
"Menyukai apa?" tanyanya.
"Suka kamu seperti tadi," katanya lalu tersenyum.
Airin tak bisa berkata-kata lagi. Dia terdiam.
"Maafkan aku, karena sudah menyia-nyiakan kamu," ujarnya datar. Matanya menatap lurus ke depan. "Aku cemburu setiap kali kamu dekat dengan Arga, apa itu wajar?"
Airin menoleh, dia menatap Brian lekat.
"Aku marah kalau kamu dekat dengan dia, cemburu setengah mati, tapi aku nggak bisa melakukan apapun," katanya penuh dengan penyesalan.
"Aku dan Arga memutuskan untuk berteman. Dia tak ingin memaksakan perasaan aku untuk mencintai dia lagi. Dia orang yang baik, hanya saja dia terlalu berambisi dengan apa yang dia inginkan." Airin menjelaskan.
Mendengar penjelasan Airin, Brian mengangguk. Dia seolah menemukan cahaya di dalam goa.
"Aku kemarin gugup," kata Brian. "Tak tahu jika kamu yang menjadi pewara hari itu," ujarnya.
Brian tak tahu, Airin mungkin lebih gugup dari dia. Airin terdiam, dia tak ingin berkomentar.
"Kasih aku kesempatan kedua," kata Brian. Airin terkejut. Dia menoleh secepat kilat ke arah laki-laki itu.
"Kasih aku kesempatan kedua," ujarnya mengulangi. "Aku akan jadi lebih baik lagi," katanya serius. "Aku nggak bisa kalau harus jauh dari kamu," kata Brian. Kata-kata itu memang terlalu biasa buat pasangan yang sedang putus. Namun, bagi Airin seperti ada makna tersendiri.
Seperti benar-benar akan berubah sikap Brian. Brian tersenyum.
"Aku juga nggak mau maksa kamu, tapi aku minta kesempatan itu," katanya. Brian beranjak.
Dia berdiri dan akan melangkah. Padahal Airin belum kasih jawaban apapun.
"Dan makasih ya, bajunya cantik di pake sama kamu," katanya. Brian melangkah meninggalkan Airin. Perempuan itu terkejut. Dia menoleh memandang baju yang dia pakai.
"Jadi ..." Ucapannya terhenti. Airin malu setengah mati, setelah tahu siapa pengirim baju itu.
"Aish," gumamnya malu. "Kupikir dari Arga, bodoh!" Dia memaki dirinya sendiri.
____
Setelah kejadian dalam acara reuni itu. Desta sangat niat menjadi Mak comblang untuk Brian dan Airin. Dia sering menghubungi Airin. Maksudnya belum tercium oleh perempuan itu. Namun, Desta sangat sering menghubungi dan mengajaknya bertemu. Sayangnya Airin sibuk. Jadi, belum sempat dia menemui Desta.
Airin sesering mungkin mengajak Ken saat dirinya bersama Jessi. Walaupun masih canggung. Mereka tetap asik saat mengobrol.
Brian, mengurangi aktivitasnya karena kesehatannya. Akhir-akhir ini dia sering sekali tumbang karena jadwalnya yang padat. Dava mengurangi jadwal itu, dengan membatalkan beberapa kontrak kerja yang memang tak bisa dilakukan oleh Brian.
Dia harus dilarikan ke rumah sakit, karena tak sadarkan diri saat di lokasi syuting. Dava panik, terlebih Desta. Pemberitaan di mana-mana tentang dirinya.
Saking terkejutnya melihat berita. Airin sampai berlari ke rumah sakit. Dia menghentikan sebuah taksi yang berada di depan perusahaan. Segera menuju rumah sakit. Bukan karena akan meliput berita. Namun, dia mengkhawatirkan Brian.
Tadi, dia langsung meminta izin dengan Danil. Untung saja, pekerjaan dia sedang tidak banyak. Jadi, Danil mengizinkannya.
Airin sampai di depan rumah sakit. Melihat banyaknya wartawan di depan rumah sakit membuta dia bingung. Bagaimana dia bisa melewati mereka. Pasti salah satu di antara mereka ada yang mengenalnya. Terlebih saat papan TNT juga terpasang di sana.
"Ya ampun," katanya. Dia memiliki ide. Dia menghubungi Desta.
"Des, bisa jemput aku di depan? Tapi, jangan melewati para wartawan. Apa ada jalan lain?" Pertanyaan Airin bertubi-tubi.
"Oke, tunggu ya," jawab Desta.
Airin menunggu Desta. Tak lama, laki-laki itu muncul dari arah yang berbeda. Bukan dari pintu utama. Tetapi, melewati pintu UGD yang hanya bisa dilewati oleh pasien gawat darurat, dan juga staff rumah sakit. Desta meminta izin terlebih dahulu. Tentu saja dia memakai alasan yang masuk akal, sehingga disetujui.
"Ayo!" ajak Desta. Dia memberikan sebuah masker dan topi untuk Airin gunakan. Airin pun memakainya.
Dia mengikuti langkah Desta di belakang.
"Bagaimana keadaan Brian? Kenapa sampai dilarikan ke rumah sakit?" tanya Airin panik.
"Dia kelelahan. Tiga hari dia nggak tidur, jadwal syutingnya sangat padat." Desta menjelaskan. "Dokter sudah memberikannya obat supaya dia tidur dan beristirahat."
Airin lega mendengarnya.
Airin melihat kondisi Brian dari pintu kamar inapnya. Dia tengah tertidur pulas.
"Kapan dia akan siuman?" tanya Airin.
"Dokter bilang, setelah obat tidurnya habis, mungkin besok pagi atau nanti paling cepat nanti malam," ujarnya.
"Kak Dava mana?" tanya Airin. Dia tak melihat sosok Dava di sana.
"Dia sedang mengurus administrasi," jawabnya.
"Apa orang tua dia tahu?" tanyanya.
Desta mengangguk. "Kita udah kasih kabar. Tante Febi mau ke sini katanya, dan Om Wiratayudha sedang berjalan pulang dari luar kota."
Airin mengangguk mengerti.
Febi datang. Dia menangis melihat anaknya terkulai lemah di atas brangkar.
"Tante, Brian cuma butuh istirahat. Biarkan dia tertidur," kata Desta sabar. "Pasti dia akan siuman kok, Dokter sengaja menyuntikkan obat tidur agar dia bisa istirahat." Desta menjelaskan.
Febi mengangguk. Dia merasa sangat kasihan dengan Brian. Dia duduk terdiam di depan kamar inap Brian. Airin telah kembali dari toilet. Dia menghampiri Febi dan menyapanya.
"Apa kamu Airin?" tanya Febi. Airin mengangguk.
"Apa kamu mencintai Attar?" tanya Febi lagi.
"Heh." Airin terkejut. Karena baginya sangat asing mengucapkan kata Attar.
"Dia anak baik, dia kurang perhatian. Tante pikir dia tak memiliki masa depan. Nyatanya, dia berusaha bangkit, dan melakukan apapun yang dia suka." Febi menerawang. "Dia sangat mencintai kamu," kata Febi.
Airin terkejut. Padahal hubungan Brian dan Febi tidaklah dekat.
"Aku menginginkan dia dengan wanita lain. Tapi, dia dengan tegas menolak dan hanya ingin kamu." Febi mengenang perdebatannya dengan Brian di dalam mobil. Setelah mereka mengunjungi rumah Airin.
Airin mengangguk mengerti.
"Mungkin, aku nggak bisa menjaga dia, memberi perhatian pada dia, dan menjadi sandaran hidup dia. Jadi, Tante mau kamu yang menggantikan posisi Tante. Kasih dia perhatian," ujarnya.
Airin mengangguk lagi.
Dia memutuskan untuk menginap di rumah sakit menemani Brian. Bersama Desta di sana. Sedangkan Dava harus pulang, dia mengurus semua keperluan Brian.
Ken datang menjenguk Brian malam itu. Walaupun Brian masih tak sadarkan diri. Namun, dia tetap di sana melihat kondisinya. Arga juga turut datang menjenguk. Dia menguatkan Airin untuk tetap menjaga Brian.
Tengah malam. Desta sudah tertidur di sofa. Airin masih setia menatap Brian.
"Kenapa harus sakit?" tanya Airin lirih. "Bangun!" perintah Airin.
Airin sampai tertidur di samping Brian dengan posisi duduk.
Sinar matahari menyeruak ke ruangan itu. Desta yang bangun lebih dulu terkejut saat melihat Brian tengah menatap Airin.
"Lo gila!" pekiknya. Brian mengisyaratkan dia untuk diam.
"Aku lapar," bisik Brian. Desta segera mengangguk. Dengan sigap dia keluar dan mencari makan.
Airin mengubah posisinya hingga dia kaget sendiri. Dia membuka matanya sempurna. Dia sadar, dia sedang berada di rumah sakit.
"Ah," lenguhnya. Dia lebih terkejut saat dia tahu Brian sedang menatapnya.
"Sejak kapan kamu siuman?" tanya Airin. Dia segera menutup wajahnya. "Aish," gerutunya.
Brian tersenyum. Membuat Airin gugup. "Maaf, pasti membuatmu khawatir." Brian tak membahas wajah bangun tidur Airin.
Perlahan Airin membuka tangannya.
Dia mengangguk pelan.
___
Dua minggu berlalu, Brian tengah menyiapkan sebuah kejutan untuk Airin. Walaupun perempuan itu belum menjawab pernyataan cintanya tempo hari. Namun, dia sangat percaya diri.
"Yakin, bakalan diterima lagi?" tanya Desta. Yang awalanya Brian percaya diri, kini jadi ciut.
"Setidaknya gue udah berusaha," kata Brian.
"Iya, sih. Tapi, apa nggak malu kalau nanti ditolak?" tanya Desta.
"Jangan ngomongnya tolak mulu! Kita harus optimis," kata Brian tegas.
"Oke, oke," kata Desta pura-pura setuju. Mereka menyewa atap sebuah gedung dan mendekorasinya. Banyak sekali bunga dan balon.
"Airin suka warna biru," kata Brian. Dia menyiapkan semuanya serba warna biru. Walaupun bunganya di d******i warna merah dan pink.
"Bawa dia sekarang," perintah Brian. Desta mengangguk.
Hampir satu jam menunggu, akhirnya Airin datang. Desta menutup matanya agar kejutan itu lebih terasa.
"Des, kamu lagi nggak ngerjain aku, kan?" tanya Airin.
"Udah diem aja," katanya. Desta menghentikan langkah Airin dan mulai membuka matanya.
Airin terkejut. Dia melihat sebuah banner bertuliskan 'Will you marry me?'
Airin hampir menangis. Dia melihat Brian mendekat ke arahnya.
"Kamu," ucap Airin. Dia tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Sesibuk apapun aku, aku bakal bisa kasih waktu buat kamu, aku bakal jaga kamu, aku bakal selalu ada saat kamu butuh, dan aku bakal jadi Brian yang nomor satu di hati kamu," kata Brian tegas. "Please, kasih aku kesempatan untuk memulainya dari awal," lanjutnya. "Aku janji, nggak akan pernah ngecewain kamu. Aku bakal buat kamu bahagia, selamanya," katanya. Airin menitikkan air mata. Dia mengangguk sembari tersenyum.
Melihat jawaban itu, Brian juga ikut menangis bahagia. Dia menarik Airin dalam pelukannya.
"Terima kasih," katanya.
Desta hanya bertugas membuat sebuah video adegan itu. Dia pun ikut terharu.