Bab 2

1267 Kata
“Lo?” ucap Laura kaget melihat pria di depannya. Raihan pun sama terkejutnya. Mereka tidak pernah menyangka akan bertemu di tempat tak terduga seperti ini. “Abi… tante itu yang beliin Jihan Pororo,” ucap Jihan polos, memecah keheningan di antara mereka. “Oh iya. Jihan, lain kali jangan pergi sendirian dari sekolah. Guru kamu tadi teleponin Abi, bilang kamu hilang,” ujar Raihan pelan tapi tegas. Jihan menunduk, bibirnya bergetar, matanya berkaca-kaca seakan mau menangis lagi. Laura yang melihatnya menghela napas, lalu berkomentar dengan nada kesal. “Kalo mau marahin anak jangan di depan umum. Dia juga punya perasaan.” Tanpa menunggu respon, Laura berbalik pergi begitu saja. “Laura,” panggil Raihan. Langkah Laura terhenti, ia menoleh dengan malas. “Maaf karena sudah merepotkan,” lanjut Raihan tenang. “Saya akan ganti harga minuman Pororo ini kalau kamu bersedia.” “Gak perlu!” sahut Laura cepat. Tiba-tiba Jihan turun dari gendongan Raihan dan menarik tangan Laura cukup kuat. “Tante ikut aja yuk, kita makan siang bareng!” ajaknya polos dengan mata berbinar. Laura sempat hendak menolak, tapi suara perutnya yang keroncongan mengacaukan niat itu. Tak lama kemudian, mereka sudah berada di restoran cepat saji. Laura merasa tidak nyaman dengan pakaiannya yang terlalu mini, apalagi tatapan orang-orang yang terus mengarah padanya. Raihan yang baru datang sambil membawa nampan berisi makanan langsung menangkap raut canggung itu. Tanpa banyak bicara, ia melepaskan jaketnya dan menyerahkannya pada Laura. “Pakai ini kalau nggak nyaman,” ucap Raihan pelan. “Gak perlu,” jawab Laura singkat. “Tante… nggak kedinginan?” tanya Jihan polos sambil mengunyah kentang goreng. Laura menatap wajah Jihan, lalu tersenyum kecil. Akhirnya ia menerima jaket itu dan mengenakannya. Mereka pun makan dalam diam. Suasana meja itu terasa canggung. Tak lama, Raihan membuka suara. “Laura, kenapa kamu ada di sini? Apa semalam kamu menginap di sekitar sini?” tanyanya pelan, rasa penasaran jelas terdengar. “Bukan urusan lo!” jawab Laura ketus. Raihan terdiam. Ia tak ingin memancing keributan, terlebih dengan kondisi Laura yang masih terlihat lelah. Namun Jihan yang sedari tadi mendengar percakapan mereka langsung menggeleng keras. “Tante… kalau ada yang nanya, harus jawab dengan baik. Dan jangan bicara kasar sama orang yang lebih dewasa,” tegur Jihan polos, suaranya lancar seolah sudah sering mendengar nasihat serupa. Laura terdiam sejenak. Perkataan bocah itu menamparnya, membuatnya merasa malu. “Bukan urusan Ustaz,” ucap Laura akhirnya, nada suaranya menurun. “Saya cuma nginap di rumah teman. Jadi, jangan kepo ya.” Senyumnya dipaksakan, tapi setidaknya tidak segalak tadi. Raihan tersenyum kecil melihat perubahan nada Laura. Ada sesuatu dalam sikap spontan gadis itu yang menarik perhatiannya. Laura yang menyadari tatapan itu langsung mendelik tajam. “Kenapa liat-liat? Ngeledek ya?” “Enggak,” jawab Raihan tenang. Laura mendesah pelan lalu tiba-tiba bersandar sedikit ke arah Raihan, membuat pria itu terlonjak kaget. “Tapi, kalau Ustaz udah punya anak-” Laura berhenti sejenak, menatap Jihan yang asyik makan ayam gorengnya, “kenapa mau nikah lagi?” bisiknya pelan. Raihan tidak langsung menjawab. Pandangannya mengikuti gerak Jihan yang bersenandung senang. Beberapa saat kemudian, mereka pindah ke taman apartemen. Jihan sibuk bermain bersama anak-anak lain, sementara Laura dan Raihan duduk di bangku taman, menjaga jarak beberapa langkah. Angin sore berhembus pelan, membuat suasana lebih tenang. “Sejujurnya…” Raihan memulai dengan suara rendah, “saya juga cukup kaget waktu Pak Robby ingin menjodohkan saya dengan kamu, Laura. Kebetulan, saya dan ibu Jihan sudah lama bercerai. Saya hanya ingin membesarkan Jihan dengan baik. Tapi jujur saja, banyak hal yang saya nggak ngerti dan kadang kewalahan… apalagi di tengah kesibukan saya berdakwah.” Laura melipat tangannya di Paa. “Terus Ustaz cari istri cuma buat besarin Jihan?” “Yah, itu salah satu alasannya,” jawab Raihan jujur. “Tapi waktu saya dengar kesungguhan Pak Robby dan Bu Cyntia buat masuk Islam… dan waktu mereka cerita tentang kamu… saya merasa tersentuh.” “Hah… itu urusan Ustadz,” balas Laura ketus, matanya menatap jauh. “Tapi bukan kewajiban saya buat nurutin keputusan orang tua saya. Jadi, sorry. Saya belum siap menikah. Apalagi jadi seorang ibu.” Laura berdiri, menyampirkan tas ke bahunya. “Saya harap ini pertemuan kita yang terakhir. Selamat tinggal.” Tanpa menoleh lagi, ia berjalan meninggalkan taman. Raihan hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh. Ada sesuatu dalam gadis itu yang membuatnya tak bisa sepenuhnya mengabaikan. Raihan perlahan sedikit menaruh perhatian karena sikap lembutnya pada Jihan. Apalagi Laura masih sempat berpamitan pada Jihan yang juga tampak menyukai Laura. “Dadah, Tante!” seru Jihan riang. Laura menoleh sebentar melambaikan tangannya, tersenyum kecil, lalu melanjutkan langkahnya. *** Laura baru saja masuk ke rumah. Di ruang tamu, kedua orang tuanya duduk dengan wajah menahan amarah. Laura mendesah panjang, berniat langsung menuju kamarnya. Namun suara Robby menghentikan langkahnya. “Laura, dari mana saja kamu?!” tanyanya tegas. “Nginep di rumah Mina,” jawab Laura datar tanpa menoleh. “Kenapa nggak angkat telepon?” sahut Cyntia, nada suaranya terdengar cemas. “Kayak bukan pertama kali aja aku nginep di rumah teman. Lagian hape aku lowbat!” “Semalaman kamu ke klub, kan? Mabuk-mabukan lagi? Papa sudah bilang berapa kali untuk berhenti bergaul sama orang-orang yang nggak benar!” Laura berbalik, menatap ayahnya dengan tatapan tajam. “Terus menurut Papa, yang benar itu yang kayak apa? Yang pakai kerudung sama koko? Pa, mereka juga sama aja. Banyak kok teman aku yang Islam tapi ikut have fun sama aku.” “Jangan melebar ke mana-mana! Itu urusan mereka. Papa cuma peduli sama kamu. Kalau kita mati nanti, kamu yakin bakal masuk surga?” “Surga?” Laura tertawa pendek, sinis. “Sejak kapan kalian mikirin surga? Kesambet apa sih tiba-tiba mau masuk Islam?” “Perusahaan Papa lagi di ambang kebangkrutan. Kamu tau itu,” sela Cyntia pelan, berusaha menenangkan suasana. “Ya aku tau. Terus hubungannya apa? Oh… kalian mau nikahin aku biar perusahaan Papa nggak jatuh? Terus karena aku foya-foya terus, kalian takut aku ngabisin uang kalian gitu?” “Laura!” bentak Robby, nadanya meninggi. “Bener gitu kan? Kalian cuma peduli sama perusahaan. Selama ini kalian nggak pernah ngatur hidup aku, tapi sekarang tiba-tiba semuanya diatur? Kalau keberatan karena besarin aku, mending aku pergi aja sekalian!” Laura hendak keluar lagi, tapi Cyntia cepat menarik tangannya. “Biar Aku yang bicara sama Laura,” ucapnya lembut, lalu menggiring putrinya masuk ke kamar. Di kamar, Laura duduk di ranjang dengan kesal. Cyntia ikut duduk di sampingnya, lalu perlahan meraih tangan Laura dan menggenggamnya. “Laura,” suara Cyntia melembut, “selama ini Papa sama Mama memang nggak pernah nunjukin jalan yang benar. Tapi waktu Papa dan Mama ketemu jalan buntu… saat itulah Papa ketemu Ustadz Raihan. Tanpa sadar Papa curhat, dan Ustadz Raihan kasih saran yang logis dan menenangkan. Kebaikannya bikin Papa dan Mama kebuka mata. Kita sadar… jadi lebih taat ternyata bikin hati lebih damai.” Laura terdiam, mendengarkan meski matanya masih menatap kosong. “Selama ini kita hidup bergelimang harta, tapi lupa bersedekah. Lupa berbuat baik. Ustadz Raihan yang bimbing Papa Mama buat pelan-pelan balik ke jalan yang benar. Tapi kalau cuma Papa Mama yang berubah, terus kamu tetap hidup kayak gini… Mama takut. Mama nggak mau ninggalin kamu sendirian di jalan yang salah. Hidup cuma sekali, Nak… jangan sia-siakan hidupmu.” “Tapi, dia udah pupnya anak Ma. Mama gak tau?” tanya Laura sedikit mulai luluh. “Tau, karena itu Ustadz Raihan lebih dewasa dan bisa bimbing kamu dengan lebih baik dan lembut. Coba pikirkan lagi, jangan buat papa mama kecewa,” ucap Cyntia. Laura tertunduk bingung dengan semua yang baru saja dia dengar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN