bc

Istri Nakal Ustadz Tampan

book_age18+
336
IKUTI
1.0K
BACA
love-triangle
family
HE
love after marriage
age gap
fated
friends to lovers
arranged marriage
submissive
boss
stepfather
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
bold
city
actor
like
intro-logo
Uraian

Laura hidup bebas dan liar, hingga dijodohkan dengan seorang ustadz muda yang sabar dan religius. Pernikahan itu jauh dari kata cinta, tapi justru menjadi awal dari guncangan batin yang tak pernah ia duga. Saat Laura mulai berubah dan belajar mencintai, ujian datang silih berganti. Di tengah perbedaan dunia dan tekanan yang mengusik rumah tangga mereka, mampukah Laura mempertahankan pernikahannya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
Dentuman bass dari DJ yang memutar musik memecah udara. Lampu strobo menari liar, berkilat warna biru, ungu, merah menerpa wajah-wajah yang basah oleh keringat dan alkohol. Bau parfum bercampur asap rokok menyelimuti ruangan penuh sesak itu. Di tengah keramaian, Laura , dengan gaun mini hitam yang membalut tubuhnya, rambut tergerai berantakan namun tetap memesona, berdansa liar di lantai dansa. Gelas koktail berwarna jingga di tangannya hampir tumpah saat tubuhnya bergoyang mengikuti irama. Seorang pria asing merapat ke tubuhnya. Mereka tertawa, berbicara tanpa peduli nama, tanpa peduli masa depan. Bahkan Laura tak mempermasalahkan saat pria asing itu memeluk tubuhnya atau mencium pipinya. Laura menenggak minumannya habis-habisan. Dunia terasa ringan, bebas, liar. Tepat seperti yang ia suka. Tapi tiba-tiba ponselnya terus berdering di dalam saku celana pendek yang ia kenakan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hingga lima kali berturut-turut. "Astaga! Siapa sih yang ganggu?!" gerutunya keras, hampir tak terdengar karena musik yang memekakkan telinga. Dengan kesal, Laura mengeluarkan ponselnya. Nama yang muncul di layar membuatnya mengerutkan kening. Laura mendengus kesal. Ia menekan tombol hijau sambil menutup salah satu telinganya dari kebisingan musik. Laura mengerjap, kaget mendengar nada suara itu. “Apa?! Gila ya, Ma! Ini baru jam sembilan malam!” “Laura! Dengar Mama! Pulang sekarang juga! Kan sudah dibilang akan ada tamu jam tujuh! Kamu malah keluyuran sampai sekarang!” “Ma, aku udah bilang nggak bisa malam ini!” protes Laura sambil menjauh dari kerumunan dan duduk di kursi bar, gelas koktailnya masih setengah penuh. Tiba-tiba suara ayahnya menyahut dari ujung telepon, jauh lebih keras. “Laura!” panggilnya setengah teriak, membuat Laura spontan menjauhkan ponsel dari telinganya. “Jangan bikin malu keluarga! Cepat pulang sekarang, kalau nggak mau dijemput paksa!” Telepon terputus. Laura mendengus kesal, kepalanya pening setengah mabuk. Malam yang seharusnya bebas dan menyenangkan kini berubah kacau karena panggilan itu. ** Setengah jam kemudian, sebuah taksi berhenti di depan rumah keluarga Laura. Ia turun dengan langkah gontai, matanya menyipit karena pusing dan lampu jalan yang menyilaukan. Pintu rumah terbuka. Dari celahnya terlihat seorang pria duduk rapi di ruang tamu, mengenakan baju koko putih dan peci hitam. Wajahnya tampan dengan janggut tipis, sorot matanya teduh namun langsung menunduk ketika tatapan mereka bertemu. “Ma, Pa... siapa dia?” tanya Laura ketus, tanpa salam. Gaun mini yang ia kenakan membuat ibunya, Cyntia, buru-buru menariknya masuk dan menggiringnya ke kamar untuk mengambil jaket panjang. “Pakai ini dulu,” ucap Cyntia, memaksakan jaket itu ke tubuh Laura. “Nggak ah, Ma. Panas! Emang lagi musim dingin apa?” Sebuah pukulan ringan mendarat di punggungnya. “Pakai!” Laura mendecak kesal. Dengan ogah-ogahan ia mengenakan jaket itu lalu kembali ke ruang tamu. “Laura, kenalin,” ujar Robby, ayahnya, tanpa basa-basi. “Ini Ustadz Muhammad Raihan. Dia datang untuk... mempersunting kamu.” Laura terperanjat. “Apa? Maksudnya... apa ini?” Raihan mengangkat sedikit wajahnya, lalu berkata dengan suara tenang. “Assalamualaikum, Laura. Kamu pasti kaget. Maaf kalau kedatangan saya mengganggu. Tapi... kita bisa belajar perlahan. Saya akan bimbing kamu pelan-pelan.” “Belajar apa?!” Laura memandang ibunya. “Ma, Pa! Kita kan bukan Islam! Gimana bisa kalian jodohin aku sama... seorang ustadz?!” Cyntia menatapnya lembut, “Laura... Mama sama Papa alhamdulillah dapat hidayah. Kami mau belajar sungguh-sungguh. Kami juga berharap ini jalan terbaik buat kita semua.” “A-apa? Hi ... apa?” tanya Laura bingung. “Tunggu, maksudnya Ma dan Pa akan masuk Islam?” tanya Laura lagi. Cyntia mengangguk penuh keyakinan dan Robby yang biasanya memakai kalung salib kini sudah tidak bergantung di lehernya. “Benar sayang, karena itu agar kita lebih ... istiqom,” balas Cyntia. “Itiqomah lebih tepatnya,” koreksi Raihan menyela. “Ya, itu. Istiqomah.” “Baik, tapi kenapa aku harus nikah sama dia?” tanya Laura nunjuk ke arah Raihan. Suasana jadi kaku. Laura jelas tak setuju. “Agar kamu juga berubah,” ujar Robby tajam. “Biar hidupmu nggak terus-terusan foya-foya dan bergaul bebas. Mau jadi apa kamu kalau begini terus? Kalau kena penyakit gimana?!” “PA!” Laura meninggikan suara. “Aku masih dua puluh lima tahun! Hidupku masih panjang! Dan jangan munafik, Ma sama Pa dulu juga ketemu di klub malam!” Robby terdiam sejenak, wajahnya memerah. “Itu masa lalu yang buruk. Justru karena itu Papa nggak mau kamu ulangi kesalahan kami! Lihat tato ini,” ia menunjuk lengan sendiri, “hapusnya susah! Sebelum terlambat, Papa nggak mau dengar penolakan. Bulan depan kamu menikah dengan Ustadz Raihan!” “Gak mau! Aku bukan anak kecil yang bisa kalian atur!” teriak Laura, melempar jaketnya ke sofa lalu keluar rumah membanting pintu. Suasana ruang tamu hening. Raihan menarik napas pelan. “Maafkan anak kami, Ustadz,” kata Robby lirih. “Dia masih labil... mohon jangan salah paham.” Raihan tersenyum kecil, sopan. “Saya mengerti, Pak Robby. Saya pun tidak mau memaksa. Pemaksaan dalam pernikahan lebih banyak mudaratnya. Biarlah waktu yang melembutkan hatinya.” Ia berdiri, merapikan pecinya. “Kalau begitu saya pamit. Sudah terlalu malam. Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam,” jawab Robby dan Cyntia serempak, mengantarnya sampai ke pintu rumah. ** Laura terbangun di apartemen temannya. Kepalanya berat, mulutnya kering, dan aroma alkohol masih tercium samar di udara. Ia duduk pelan di sofa sambil mengusap wajahnya. “Astaga… tenggorokan gue kering banget,” keluhnya sambil berdiri dan mencari air minum di meja dan kulkas kecil di pojok ruangan. Kosong. Semua botol air mineral sudah habis. “Na! Bangun, napa sih! Gue mau minum!” panggil Laura ke arah temannya yang masih tergeletak di lantai, hanya bergumam tak jelas lalu kembali meringkuk. Laura mendengus kesal. Rasa hausnya makin menjadi. Tanpa pikir panjang, ia meraih tasnya lalu keluar apartemen menuju minimarket di lantai dasar. Begitu masuk, ia langsung mengambil sebotol air mineral dingin, membuka tutupnya, dan menenggaknya habis setengah botol. “Huah… leganya,” gumamnya puas. Saat berjalan menuju kasir, pandangannya tertumbuk pada seorang anak kecil, perempuan, kira-kira berusia lima tahun, yang berdiri tak jauh darinya. Anak itu cantik, berambut panjang, dan matanya menatap botol air mineral di tangan Laura dengan ekspresi bingung. “Mau?” tanya Laura sambil mengangkat botolnya. Anak itu menggeleng pelan, lalu menunjuk botol minum lain di rak, botol bergambar Pororo. “Oh, mau yang ini?” Laura mengambilkan botol itu. “Bang, mau bayar ini ya,” ucapnya sambil meletakkan botol air mineral setengah habis dan botol Pororo di kasir. Kasir memandang heran. “Jangan diminum sebelum dibayar, Mbak.” “Yaelah, yang penting kan dibayar juga,” sahut Laura santai. “Sekalian Malboro satu, ya.” Kasir menghela napas pendek lalu menghitung belanjaan. Setelah membayar, Laura menyerahkan botol Pororo ke anak kecil itu. “Nih,” ucapnya sambil tersenyum. “Jazakillah,” balas si anak kecil pelan. Laura mengerutkan kening, tak paham apa maksud kata itu, lalu hanya tersenyum kecil sebagai balasan. Keluar dari minimarket, Laura menyadari anak kecil itu masih mengikutinya. “Kamu tinggal di mana? Bokap sama nyokap lo di mana?” tanya Laura. Anak itu hanya menunduk sedih, lalu tiba-tiba menangis keras. “Eh… eh… jangan nangis dong! Nih, kakak bukain pororonya ya,” bujuk Laura panik. Dengan cepat ia memutar tutup botol dan memberikannya. Tangisan anak itu perlahan mereda. “Jihan!” suara seorang pria memanggil. Seorang lelaki dengan pakaian rapi berlari mendekat, lalu langsung memeluk anak kecil itu erat-erat. Laura tersenyum lega melihat si kecil akhirnya bertemu dengan keluarganya. Namun senyumnya hilang saat pria itu menoleh padanya. Tatapan mereka bertemu. Keduanya sama-sama terdiam. Laura terkejut. Pria itu adalah orang yang kemarin malam dipaksa orang tuanya untuk ia temui. Raihan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook