Assalamualaikum, Calon MakmumkuDiperbarui pada Jan 4, 2026, 22:03
“Assalamualaikum, calon makmumku.”
Ucapan itu meluncur santai dari seorang pria berusia dua puluh tiga tahun, ketua geng motor yang disegani—Zaki Narendra—kepada seorang gadis berhijab yang usianya lebih dewasa darinya, Jihan Amiera.
Sejak awal, Jihan tahu satu hal yang tak bisa diabaikan: Zaki adalah pria yang sangat diidolakan Zahra Almeera, adik bungsunya. Zahra, yang sulit diatur, telah lama terbuai pesona sang pemimpin geng motor itu hingga nyaris menutup mata pada hal lain.
Karena itulah Jihan memilih menjaga jarak. Ia berusaha menghindari Zaki sejauh mungkin. Namun semakin ia menjauh, semakin gencar pria itu mendekatinya—tanpa ragu, tanpa peduli batas.
Hingga akhirnya, Jihan mengambil keputusan besar: menerima lamaran Fahri, putra pimpinan pondok pesantren, pria yang pernah berniat melamarnya di masa lalu. Jihan mengira langkah itu akan menghentikan segalanya.
Nyatanya, ia salah.
Zaki tak menyerah. Dengan kekuasaan dan pengaruh yang dimilikinya, ia nekat menekan perusahaan milik ayah Jihan hingga berada di ambang kehancuran. Perlahan, semuanya runtuh. Tekanan itu berujung pada satu kenyataan pahit: ayah Jihan terserang stroke akibat kebangkrutan yang mengintai.
Di titik itu, Jihan dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.
Meneruskan pernikahannya dengan Fahri, namun harus menerima kenyataan pahit tentang kehancuran perusahaan dan kondisi ayahnya.
Atau menerima Zaki—demi menyelamatkan perusahaan dan memulihkan segalanya—dengan harga yang mahal: mengorbankan perasaan Zahra, adik yang sangat ia cintai.