Bab 1
Suara tumpul map kulit yang jatuh ke atas meja membuat Elmira tersentak.
Ia menatap benda itu dengan alis berkerut, lalu mengalihkan pandangan ke pria yang duduk di seberang. Lelaki itu hanya menyilangkan tangan, tenang, dan tampak sepenuhnya yakin dengan langkahnya.
“Silakan dibaca,” ucapnya, nada suaranya seperti komando dari atas menara.
Elmira, dengan hati-hati, menarik map itu dan membukanya. Matanya menyapu halaman pertama dan membatu seketika. Tangan yang memegang kertas pun terasa dingin.
‘PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK’
Ia mengangkat wajah dengan ekspresi penuh keterkejutan.
“Apa maksud semua ini?” tanyanya dengan mata yang memancarkan amarah.
Malik menaikkan satu alis, seolah heran balik. “Bukankah kau sudah tahu alasan pertemuan ini?”
Elmira menggeleng, bingung dan kesal sekaligus. “Aku diberitahu ini adalah... wawancara kerja. Pekerjaan biasa.”
“Dan kau tidak berpikir untuk bertanya lebih jauh pada orang yang memberimu informasi itu?” balas Malik dengan senyum tipis, nyaris mencemooh.
Elmira terdiam. Ia memang datang karena teman dari seorang teman mengatakan bahwa Malik Aryasatya sedang mencari perempuan untuk proyek pribadi. Itu terdengar seperti pekerjaan, bukan pernikahan kontrak.
“Tapi itu tidak penting sekarang,” Malik menyambung, menggeser tubuhnya sedikit ke depan, lebih dekat. “Kau di sini karena butuh pekerjaan. Dan yang kuberikan jauh lebih dari sekadar pekerjaan. Aku menawarkan jalan keluar.”
“Jadi kau pikir, karena aku butuh uang, aku bisa kau beli?” tanyanya dengan suara dingin. “Kau pikir aku w************n?”
Malik menatapnya tanpa goyah. “Aku tidak mengatakan itu.”
“Ya, tapi maksudmu seperti itu.”
“Tidak. Maksudku, kau butuh bantuan. Dan aku punya solusinya.”
Elmira mendengus, berdiri dari kursi. “Terima kasih, tapi tidak. Silakan cari wanita lain untuk proyek gilamu ini.”
Ia hampir melangkah pergi saat suara Malik memanggilnya. “4 milyar.”
Langkahnya terhenti, namun ia tak menoleh.
“Aku akan berikan itu sebagai uang muka,” lanjut Malik. “Aku tahu rumah sakit tempat nenekmu dirawat. Aku tahu total tagihan yang sudah menumpuk. Aku tahu kau sudah mencoba pinjam ke banyak orang. Dan aku tahu, kau kehabisan pilihan.”
Elmira berbalik, hatinya berkecamuk saat mendengar angka 4 milyar yang akan diberikan Malik cuma-cuma.
“Apa... kau menyelidik latar belakangku?” tanyanya tajam.
“Tentu saja,” jawab Malik, ringan, tanpa beban. “Aku tak sembarang merekrut orang, apalagi untuk pekerjaan dengan bayaran fantastis. Aku perlu tahu siapa yang akan kubayar untuk masuk ke hidupku, walaupun hanya sementara.”
Elmira membeku. Jari-jarinya mengepal di sisi tubuhnya. Malu, marah, dan sedikit takut. Hatinya dilema antara menerima penawaran itu atau tidak. Di sisi lain, Elmira sangat tergoda dan membutuhkan uang 4 miliar yang ditawarkan. Tapi di sisi lain Elmira masih memegang teguh harga dirinya yang mungkin akan runtuh dalam sekejap.
“Kau tidak tahu apa-apa tentang aku, kau pikir aku akan menerimanya hanya dengan uang yang tidak seberapa itu?” ucapnya getir mencoba mempertahankan harga dirinya.
“Aku tahu cukup banyak untuk tahu bahwa tawaran ini adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkanmu sekarang.”
Malik tersenyum kecil, “Aku hanya butuh istri untuk menutup mulut publik. Aku tidak percaya cinta, dan aku tidak butuh drama,” ucap Malik tenang. “Kau pun tidak sedang dalam posisi menawar, Nona Elmira. Kau datang padaku meminta bantuan. Dan ini balasannya, jangan menolak rezeki yang sudah diberikan.”
Elmira menegakkan punggungnya. “Aku tidak minta jadi istrimu.”
“Kau minta uang,” sahut Malik cepat. “Dan aku menawarkannya dengan cara yang... legal. 4 milyar, langsung masuk ke rekeningmu saat ini juga.”
Elmira menarik napas, menahan gemuruh di dadanya. Hatinya mulai ragu dan goyah.
“Kontrak ini akan berlangsung selama enam bulan,” lanjut Malik. “Kita akan menikah secara hukum, tinggal serumah, dan tampil sebagai pasangan di hadapan publik. Setelah itu, kau bebas pergi, dan aku akan memastikan seluruh utangmu lunas, termasuk biaya rumah sakit nenekmu sampai dia benar-benar sembuh. Dan… dana jaminan hidup untuk sepuluh tahun ke depan.”
Elmira mengangkat wajahnya perlahan. “Tapi ini... pernikahan. Bukan pekerjaan biasa.”
“Justru karena itu, aku menawarkan kompensasi yang luar biasa,” katanya, lalu menyeret map kulit hitam ke arahnya. “Semua klausul sudah dijelaskan. Tidak akan ada hubungan fisik. Tidak ada kewajiban di ranjang. Hanya formalitas.”
Elmira menelan ludah. Ia tidak mengerti dunia ini. Dunia tempat pria-pria seperti Malik bisa membeli citra, dan perempuan seperti dirinya hanya sekadar solusi sementara.
Elmira tak bisa berpikir. Otaknya berusaha menolak. Hatinya memberontak. Tapi wajah neneknya yang pucat di ranjang rumah sakit terus menghantui.
Dan di hadapannya sekarang... ada pintu keluar. Atau jebakan? Ia belum tahu.
“Kau bisa pergi sekarang jika kau tidak tertarik,” ucap Malik, suaranya mulai dingin. “Aku hanya memberi kesempatan ini satu kali.”
Elmira memandangi kontrak di atas meja. Seumur hidupnya, ia membayangkan jika pernikahan adalah tentang cinta. Tentang gaun putih dan bunga lili. Bukan tanda tangan dan aturan kaku.
“Apa kau... yakin ini yang kau mau?” Elmira bertanya, mencoba menemukan celah kemanusiaan di wajah dingin pria itu.
Malik menatapnya, tajam. “Kau tidak perlu menyelamatkanku. Aku tidak butuh cinta. Aku butuh solusi.”
Kalimat itu mengiris pelan. Tapi Elmira tahu, ini bukan soal harga diri lagi.
Ini soal hidup neneknya.
Tangannya meraih pena. Jari-jarinya gemetar. Tapi ia menuliskannya juga. Namanya. Tanda tangannya.
***
Gaun putih satin itu melilit tubuh Elmira bak kabut pagi yang lembut. Ekor gaunnya mengembang ringan, menyapu karpet merah sepanjang lorong menuju altar. Di tangannya, buket bunga mawar putih dan eucalyptus menggigil pelan, seolah mencerminkan hatinya yang tak sepenuhnya siap menerima hari ini.
Suara tepuk tangan menggema lembut di dalam aula yang megah. Lampu kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya keemasan yang jatuh di wajah para tamu undangan. Semua tampak sempurna, penuh kemewahan dan elegan. Tapi Elmira tahu, ini bukan dongeng. Ini bukan kisah cinta.
Matanya bertemu dengan tatapan dingin Malik Aryasatya yang telah menunggunya di ujung altar. Pria itu tampak nyaris tak tersentuh dalam setelan tuksedo hitam, tegap dan tenang. Langkah kakinya melambat. Suara sepatunya yang menyentuh lantai kayu mengiringi denyut jantungnya yang tak karuan. Ia seolah berjalan menuju kehidupan yang bukan miliknya. Dan ketika ia sampai tepat di depan Malik, tangan pria itu terulur.
Elmira menatap tangan itu. Dunia terasa hening sesaat.
Ini bukan cinta. Bukan kebahagiaan.
Tapi ini adalah pilihan.
Dengan satu tarikan napas panjang, Elmira akhirnya menerima uluran tangan itu. Jari-jarinya bertaut pelan dengan tangan Malik.
Keduanya kini berdiri di hadapan pendeta, dikelilingi tamu-tamu yang tak mengenal mereka secara pribadi, hanya datang untuk menyaksikan pernikahan seorang miliarder.
“Apakah Saudara Malik Aryasatya bersedia menikah dengan Saudari Elmira Revalina Putri dalam suka maupun duka?” tanya pendeta.
“Ya, saya bersedia,” jawab Malik cepat tanpa ragu sedikit pun.
Kini pendeta menatap pada Elmira.
“Apakah Saudari Elmira Revalina Putri bersedia menikah dengan Saudara Malik Aryasatya dalam suka maupun duka?” tanya pendeta.
Elmira terdiam sejenak, bayangan sang nenek membuat dadanya sesak. Namun, Elmira mengambil napas dalam dan menatap dengan mantap lalu menjawab, “Ya, saya bersedia.”
Tepuk tangan kembali menggema, lebih meriah dari sebelumnya.
Elmira tersenyum kecil. Bukan karena bahagia, tapi karena ia berhasil bertahan.
Kini, ia bukan lagi Elmira yang bebas.
Kini, ia adalah istri dari Malik Aryasatya dengan hati yang masih menggantung di antara logika dan perasaan yang belum ia pahami sepenuhnya.