Malam menggantung diam di langit kota, menyisakan kilau lampu-lampu gedung pencakar langit yang memantul di jendela kaca penthouse. Elmira berdiri di balkon, diam, menatap ke kejauhan seolah mencari jawaban dari sesuatu yang tak ia pahami. Angin malam menyibak rambut panjangnya, membuatnya memeluk tubuh sendiri. Gaun satin lembut warna champagne yang dipilihkan langsung dari butik pribadi Malik memang indah, tapi dingin. Sama dinginnya dengan dunia yang kini harus ia masuki.
Ia resmi menjadi istri seorang miliarder.
Namun tak ada pelukan. Tak ada pelafalan cinta. Hanya selembar kertas kontrak dan janji-janji tanpa hati.
Pintu geser balkon terdengar terbuka. Langkah kaki tenang mendekat, disusul oleh suara halus dari pria yang kini memegang dua gelas kristal berisi wine merah tua.
“Untuk malam pertama sebagai pasangan suami istri,” ujar Malik datar, menyodorkan satu gelas pada Elmira. “Besok pagi kita akan pergi bulan madu. Jadi, tidur cepat. Habiskan winemu. Aku yakin kau tidak akan bisa tidur tanpa itu.”
Elmira menatap wine itu cukup lama. Lalu tanpa berkata apa pun, ia meneguknya sekaligus hingga tetes terakhir. Malik mengerjap pelan, tak menyangka.
“Wow,” katanya, separuh mengejek. “Kau haus? Atau kau sangat menyukai wine mahal?”
Elmira menatap gelas kosongnya, lalu tersenyum tipis. “Aku tidak pernah minum sebelumnya, selama hidup, aku habiskan waktuku untuk bekerja, siang malam, 24 jam kalau perlu. Semua hanya untuk bisa makan, bayar listrik, dan bertahan hidup.”
Ia mengangkat gelas kosong itu, menatap cahayanya yang tembus dari dasar kaca. “Wine ini… rasanya aneh. Pahit. Tidak seperti yang kupikirkan. Tapi harganya lebih mahal dari gajiku selama setahun, bukan?”
Malik hanya mengangguk kecil, matanya menelaah perubahan wajah Elmira. Pipi gadis itu mulai memerah. Matanya mulai sayup.
“Elmira, apa kau… mabuk?” tanyanya, keningnya berkerut.
Namun Elmira hanya tersenyum, langkahnya perlahan mendekat.
“Ini malam pernikahanku,” ucapnya lembut. “Sesuatu yang kupikir hanya akan jadi mimpi. Dan sekarang semuanya tampak nyata.”
Malik terdiam, mulai merasakan sesuatu yang tidak biasa dari sikap gadis itu.
“Tapi…” Elmira melanjutkan sambil berjalan lebih dekat, langkahnya terhuyung ringan. “Masih kurang satu hal.”
Malik menatap dengan diam mendegarkan.
“Ciuman pengantin,” lanjutnya menatap lurus.
Mata Malik membulat, tubuhnya refleks mundur satu langkah saat Elmira semakin mendekat, seolah sungguh akan menciumnya. Napas gadis itu hangat dan aromanya mengandung jejak wine mahal yang baru saja ia teguk.
Namun sebelum jarak mereka terlalu dekat, Elmira tiba-tiba terhuyung dan jatuh limbung ke depan.
“Elmira!”
Refleks, Malik menangkap tubuh mungil itu sebelum sempat membentur lantai marmer balkon. Elmira sudah tak sadarkan diri, wajahnya merah, napasnya lembut dan teratur.
Dalam pelukannya, Malik menatap wajah istri kontraknya dengan keterkejutan yang belum pernah ia alami. Untuk pertama kalinya, hatinya terasa terganggu. Bukan oleh ambisi. Bukan oleh reputasi.
Tapi oleh seorang gadis bernama Elmira yang bahkan belum tahu betapa besar dampaknya saat Malik mulai membuka hati.
***
Elmira terbangun dengan tarikan napas tajam, tubuhnya mendadak tegak dari ranjang. Sinar matahari menembus tirai tipis jendela penthouse, menyilaukan mata yang masih berat dan perih. Kepalanya berdenyut hebat, seolah ada palu yang menghantam dari dalam.
Ia menoleh ke sekeliling dengan napas memburu.
Gaun yang ia kenakan semalam masih melekat di tubuhnya, kini kusut dan kusam. Rias wajahnya luntur, menyisakan bayangan maskara di bawah mata dan lipstik pudar di sudut bibir. Rambut panjangnya berantakan, sebagian menempel di pipi karena keringat.
Di sekitarnya, ranjang king-size itu terlihat kacau. Selimut tersingkap, bantal terguling, dan aroma wine yang samar masih tercium di udara. Namun satu hal yang membuat jantungnya berdebar lebih keras, Malik tidak ada di sana.
Elmira menoleh cepat ke arah jam di dinding. Hampir pukul tujuh pagi.
Tiba-tiba, suara dering ponselnya memecah keheningan. Ia buru-buru meraihnya dari sisi ranjang, lalu mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelpon..
“Ya… Halo?”
“Turun ke lobi sekarang,” suara Malik terdengar dingin, nyaris tak bernyawa. “Mobil berangkat sepuluh menit lagi. Kalau kau tidak muncul, aku anggap kau memilih untuk tidak ikut.”
Sambungan langsung mati.
Elmira mematung beberapa detik, lalu melompat dari ranjang, terpeleset sedikit karena ujung gaunnya, lalu menahan diri pada sisi meja.
“Ya Tuhan…” desisnya panik.
Ia segera membuka koper yang belum sempat dibongkar, menarik gaun kasual warna krem, lalu masuk ke kamar mandi dengan langkah tergesa. Air dingin mengenai wajahnya, membuatnya sadar betapa kusut dan tidak pantasnya ia tampil di depan siapa pun.
Di sela keramas cepat dan make up darurat, pikirannya berputar. Malam itu... ia meneguk wine hingga habis, berjalan sempoyongan dan… apa dia sempat mencoba mencium Malik?
Elmira menutup wajahnya dengan tangan.
“Bodoh,” gumamnya.
Lima menit kemudian, ia sudah berpakaian rapi, rambut dikuncir setengah, dan wajah bersih dari sisa semalam. Ia menggenggam tas kecil dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu berlari menuju lift.
Jantungnya berdebar tak karuan. Elmira mencoba mengingat apa yang terjadi selanjutnya, tapi kepalanya terlalu sakit hingga tak ada lagi yang ia ingat.
“Elmira, kau tidak bertindak bodoh bukan?” gumamnya bertanya pada diri sendiri meski tak mendapatkan jawaban.
Pintu lift terbuka dengan bunyi ding pelan, dan Elmira langsung melangkah cepat keluar, hampir setengah berlari. Nafasnya memburu, jantungnya berdetak kencang, dan ujung tumit sepatunya nyaris terpeleset karena lantai marmer yang terlalu licin.
Matanya langsung menangkap sosok Malik yang berdiri tegak tak jauh dari sana, di dekat pintu masuk lobi penthouse. Pria itu mengenakan setelan travel serba hitam dan jam tangan mewah yang sejak tadi terus ia lirik.
Saat tatapan mereka bertemu, Malik menatapnya tajam, dingin, tanpa ekspresi. Tapi Elmira malah tersenyum lebar, lega karena ia berhasil tepat waktu.
“Aku tidak terlamb—”
Bruk.
Langkah kakinya yang terlalu cepat membuat tumitnya tersandung ujung gaunnya sendiri. Elmira terhuyung ke depan, dan sebelum ia sempat menahan diri atau berseru, tubuhnya terdorong ke arah Malik.
Refleks Malik tak cukup cepat untuk menghindar atau menangkap tubuh Elmira.
Dan saat tubuh Elmira menabrak dadanya, bibirnya tak sengaja bersentuhan dengan bibir Malik.
Waktu seolah membeku.
Elmira membeku. Malik juga. Ruangan lobi sunyi, hanya suara detik jam dinding yang terus berdetak keras di telinga keduanya.
Tubuh Elmira masih setengah menempel di d**a Malik, napasnya tercekat.
Lalu ia buru-buru mundur, mata membulat, wajah memerah.
“A-Aku tidak sengaja!” serunya panik, menatap Malik yang masih terdiam kaku.
Malik mengerjap pelan. Bibirnya sedikit terbuka. Matanya menatap Elmira seolah sedang mencerna apa yang baru saja terjadi.
“Cepatlah! Kita sudah terlambat,” ucap Malik dingin berbalik meninggalkan Elmira. Seolah apa yang baru saja terjadi tidak penting. Elmira pun hanya bisa menunduk dan mengekori langkah Malik yang sudah menjauh.