bc

Cinta Sang CEO Untuk Gadis Malang

book_age18+
343
IKUTI
1K
BACA
BE
family
HE
love after marriage
friends to lovers
boss
stepfather
heir/heiress
drama
tragedy
bxg
lighthearted
serious
kicking
campus
city
office/work place
assistant
like
intro-logo
Uraian

Amira, gadis 20 tahun yang hidupnya hancur setelah kehilangan orang tua dan diperlakukan buruk oleh keluarga serta majikan, kabur dengan tubuh penuh luka dan trauma. Di ambang putus asa, ia ditemukan oleh Dimas, CEO muda yang menyimpan luka masa kecil. Saat Dimas bertekad melindungi Amira dan membawanya ke rumahnya, benih kepercayaan perlahan tumbuh di hati gadis itu. Namun masa lalu yang gelap terus membayangi. Mampukah Amira memulai hidup baru atau justru kembali tenggelam dalam bayang-bayang traumanya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
“Amira.” Suara itu membuat tubuh Amira menegang. “Jangan dekat-dekat,” katanya cepat. “Kenapa kamu nolong aku, Dimas?” tanya Amira lirih. “Karena kamu butuh dilindungi.” Amira tersenyum getir. “Kata-kata itu gampang.” “Aku tahu.” Ia menarik napas. “Makanya aku nggak minta kamu percaya sekarang.” “Kalau aku pergi?” “Aku nggak akan menahan.” “Dimas… orang sepertimu biasanya akan pergi.” “Aku nggak akan pergi.” Suaranya turun. “Aku mau melindungimu.” Amira membuka mata. “Dengan apa?” “Menikahlah denganku.” “Kamu bahkan belum kenal aku,” bisik Amira. “Benar. Makanya aku nggak memaksa. Aku cuma menawarkan tempat aman.” “Kalau aku menolak?” “Aku tetap di sini.” “Dan kalau aku bilang ya?” “Akan aku pastikan kau membalas seluruh luka yang diberikan orang lain padamu.” ****** Kebakaran itu datang begitu cepat, seperti mimpi buruk yang menelan seluruh hidup Amira dalam sekejap. Api menjilat dinding rumah tua itu, membara tinggi, memuntahkan asap hitam yang memekakkan langit. Jeritan tetangga, suara pecahan kaca, dan letupan dari dalam rumah bercampur menjadi satu kekacauan yang menusuk telinga. Amira berlari tanpa memikirkan apa pun. Napasnya terputus-putus, matanya membesar ngeri melihat rumah orang tuanya terbakar habis. "Mama! Papa!" Suara itu pecah dari tenggorokannya, tidak lagi terdengar seperti panggilan, melainkan ratapan yang koyak dan penuh panik. Ketika lidah api menyambar lebih tinggi, Amira spontan hendak menerobos masuk. Tubuhnya bergerak tanpa kendali, hanya dipandu ketakutan bahwa orang tuanya masih ada di dalam sana. Namun beberapa orang langsung memeluknya, menahannya sekuat tenaga. “Amira! Jangan!” “Api terlalu besar!” “Kamu enggak akan selamat kalau masuk!” Tapi Amira meronta seperti binatang yang sedang terluka parah. Ia menjerit, memukul, menendang, melakukan apa pun agar bisa bebas. Air matanya terus mengalir, wajahnya memerah, dadanya sesak seolah paru-parunya ikut terbakar bersama rumah itu. “Lepaskan! Papa, Mama masih di dalam! Lepaskan aku!” Ia berteriak hingga suaranya pecah, hingga kepalanya pening, hingga kakinya lemas. Api kian membesar, memuntahkan panas yang membuat kulit terasa perih meski dari jauh. Bau kayu terbakar dan asap menyengat menyesak memenuhi udara, namun Amira bahkan tidak merasakannya. Yang ia rasakan hanya ketakutan… dan kehilangan yang mulai merayap. Agus, pamannya yang datang terlambat hanya bisa melihat perempuan itu berteriak dan berusaha merobek pelukan orang-orang yang menahannya. Wajahnya memucat ketika melihat Amira nyaris tidak bisa berdiri. Ia langsung menyambar tubuh Amira, mengalungkannya dalam dekapan kuat. Namun Amira tetap melawan, memukul Agus dengan gemetaran. “Lepaskan, Om! Lepaskan! Mereka—mereka—” Suaranya patah. Agus menahannya lebih keras, namun tetap lembut. “Tidak, Amira. Kamu tidak bisa masuk. Itu akan membunuhmu.” Kata-kata itu seharusnya menenangkan, tapi justru membuat Amira semakin menangis. Tubuhnya limbung dan akhirnya menyerah dalam pelukan pamannya. Sirene mobil pemadam mulai terdengar dari jauh. Orang-orang sibuk membantu, namun Amira hanya bisa menatap rumah itu, yang perlahan runtuh di bawah panas yang mematikan. Air matanya tak henti jatuh, membasahi bahu Agus. Ia meraung lagi, lebih pelan, lebih menyakitkan, suara yang lahir dari d**a paling dalam suara seseorang yang kehilangan sebagian dari dirinya di tengah kobaran api. *** Seminggu telah berlalu sejak kebakaran itu menghancurkan hidup Amira. Luka di dadanya belum juga mereda, setiap malam ia terbangun dengan suara kayu meledak dan bayangan api yang membara. Untuk sementara, Agus menjemputnya dan membawanya tinggal di rumahnya. Meski tidak banyak bicara, pamannya itu tampak benar-benar ingin memastikan keponakannya tidak sendirian dalam masa sulit ini. Namun kedatangan Amira membawa riak halus di rumah tersebut. Linda, istri siri Agus, hanya terdiam ketika melihat Amira pertama kali masuk melewati pintu. Bibirnya tersenyum tipis, senyum yang terlalu kaku untuk disebut tulus. Matanya menilai dari ujung kepala hingga kaki, lalu kembali memandang Agus seolah meminta penjelasan yang tidak ia dapatkan. Agus, tanpa memedulikan perubahan raut Linda, menggenggam bahu Amira lembut. “Tinggallah di sini dulu, Amira. Sampai semuanya lebih tenang.” Di depan Agus, Linda berubah ramah mendadak. “Tentu, Amira boleh tinggal. Kita keluarga, kan? Sini, Tante Linda antar ke kamar. Sudah disiapkan yang bagus.” Suara manis itu begitu berbeda dari tatapan sinis yang sempat melintas ketika Agus tidak melihat. Linda melangkah lebih dulu menaiki tangga, mengajak Amira mengikuti. Sepintas, rumah itu terasa asing bagi Amira, tapi setidaknya lebih tenang dibandingkan bayang-bayang rumahnya yang hangus. Sesampai di lantai dua, Linda membuka pintu kamar dengan senyum lebar. “Ini kamarnya. Tante sudah pilihkan yang paling nyaman.” Memang, kamar itu tampak rapi dan indah, ranjang empuk, jendela besar, lemari bersih, bahkan ada selimut baru beraroma bunga. Namun Amira merasakan dingin aneh di ruangan itu, seolah keramahan Linda hanya topeng. Linda menoleh, tatapannya berubah ketika Agus tidak berada di belakang mereka. “Kamu tinggal di sini jangan bikin masalah,” bisiknya datar, keras namun tidak berteriak. “Aku enggak suka rumah ini berubah gara-gara kamu.” Amira terdiam, menunduk, menerima kata-kata itu dengan perih yang tak asing. Namun saat langkah kaki Agus terdengar mendekat, Linda seketika kembali tersenyum hangat, meraih tangan Amira dan menepuknya seolah ia adalah keponakan kesayangan. “Kalau butuh apa-apa, bilang Tante, ya,” ucapnya, suaranya kini manis sekali. Agus muncul di ambang pintu dan tersenyum puas melihat keduanya tampak akur. Amira hanya mengangguk kecil. *** Waktu berlalu dengan cepat, namun bagi Amira setiap harinya terasa seperti terjebak dalam lingkaran neraka yang tak berujung. Hidup di rumah Agus bukanlah keamanan yang ia bayangkan, itu hanyalah bentuk lain dari luka yang tidak pernah berhenti menghantuinya. Setiap pagi, sebelum matahari muncul, Amira sudah terbangun. Bukan karena ia ingin, melainkan karena Linda mengetuk pintunya keras-keras, suaranya dingin dan tajam. Amira merangkak bangun, tubuhnya masih lelah dari malam sebelumnya. Tugasnya dimulai dari menyapu seluruh rumah, mengepel lantai, membersihkan kamar mandi, mencuci pakaian, hingga memasak sarapan untuk Agus dan Linda. Dan semuanya harus selesai sebelum Agus turun dari kamar. Di depan suaminya, Linda masih berperan sebagai wanita baik hati. Ia tersenyum lembut kepada Amira. “Amira sangat membantu, Mas. Aku senang dia ada di sini.” Amira hanya bisa tersenyum kecil, menahan luka dan air mata yang ingin jatuh. Namun saat Agus pergi bekerja dan pintu rumah tertutup, wajah Linda berubah drastis. Senyum itu lenyap, digantikan tatapan penuh kebencian yang menusuk. “Kamu pikir aku senang kamu tinggal di sini?” katanya sambil menepis piring yang Amira letakkan. “Jangan sok manja. Lakukan semuanya cepat dan bersih. Jangan sampai aku lihat kotor sedikit pun!” Amira mengangguk, tubuhnya menegang. Linda tidak hanya membebani pekerjaan. Ia menyiksa Amira dengan kata-kata tajam, tepukan keras di kepala jika pekerjaan tidak sesuai keinginannya, atau sengaja membiarkan Amira tidak makan dengan dalih “kamu sudah makan banyak sebelumnya.” Saat malam tiba, tubuh Amira sering penuh memar karena perlakuan Linda. Namun ia tetap diam, tak berani mengadu pada Agus. Ia tahu Agus akan mempercayai Linda, karena di depan suaminya, Linda selalu tampil bak malaikat penolong. *** Pada suatu siang ketika Agus tengah bekerja, amarah Linda memuncak. “Aku capek lihat muka kamu di sini! Pergi! Sana!” bentaknya sambil mendorong Amira keluar. Pintu itu dibanting keras tepat di depannya, meninggalkan Amira terpaku di teras sambil memeluk satu-satunya tas lusuh yang berisi tiga helai pakaian. Tidak ada uang. Tidak ada tujuan. Tidak ada siapa pun. Langit yang tadinya mendung akhirnya pecah. Hujan deras mengguyur, menyapu tubuh Amira yang sudah lelah. Jalanan sore itu sepi, seolah dunia sengaja membiarkan gadis itu tersesat sendirian. Perutnya sudah perih sejak pagi, tetapi tidak ada yang bisa dimakan. Bahkan uang seribu pun tidak ada di tangannya. “Bertahanlah…” bisiknya lirih, tapi langkahnya mulai goyah. Hujan makin deras, membuat tubuhnya menggigil keras. Jalanan licin membuatnya tersandung, dan sebelum sempat berpegangan, pandangannya menggelap. Amira jatuh, tubuhnya tak bergerak di tengah trotoar sepi yang mulai tergenang air.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
317.0K
bc

Too Late for Regret

read
342.9K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
147.2K
bc

The Lost Pack

read
455.8K
bc

Revenge, served in a black dress

read
156.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook