Bab 2

1155 Kata
Saat Amira membuka mata, dunia tampak putih redup. Ia terbaring di sofa empuk di sebuah ruang besar yang tak pernah ia lihat sebelumnya. “Syukurlah kamu sadar.” Suara berat dan dewasa terdengar. Seorang pria berumur, wajahnya tegas dan elegan, duduk di kursi di dekatnya. Amira berusaha bangkit, tapi tubuhnya terlalu lemah. “Saya Pandu,” ujarnya pelan. “Saya menemukamu pingsan di jalan. Saya bawa kamu ke rumah.” Pandu adalah pria kaya, jelas terlihat dari interior mewah rumahnya yang lebih besar dari bangunan mana pun yang pernah Amira masuki. Namun tatapannya dingin, bukan hangat. Lebih seperti seseorang yang sedang menilai harga sebuah barang. “Kamu nggak punya keluarga?” tanya Pandu. Amira menggeleng, “Nggak.” Ia menatap gadis itu lama, lalu berkata, “Kalau begitu tinggal saja di sini. Tapi bukan gratis. Kamu bekerja saja, sebagai pembantu rumah tangga.” Tidak ada pilihan lain. Amira hanya bisa menunduk dan mengangguk. *** Hari-hari berikutnya adalah ujian yang lebih berat dari yang ia bayangkan. Istri Pandu, Bella adalah wanita karir yang anggun dengan senyum tajam tidak pernah menyukai keberadaan Amira di rumah itu. “Anak jalanan sepertimu seharusnya tahu tempat,” katanya suatu pagi ketika Amira salah menata piring. Ia sering dimarahi, disindir, bahkan didiamkan seolah keberadaannya kotor. Bella sering memerintah seenaknya, menyuruh Amira membersihkan seluruh rumah hingga malam, kadang tanpa memberi waktu makan yang layak. Tapi Amira tidak punya tempat lain. Jadi meski tubuhnya lelah, meski hatinya hancur, ia bertahan. Setiap malam, ia meringkuk di kamar kecil dekat dapur, memeluk tas lusuhnya. Ia tidak tahu sampai kapan harus menahan semua ini… tapi ia masih bernapas. Itu saja yang bisa ia perjuangkan. Dalam kegelapan itu, Amira berbisik pada dirinya sendiri, “Aku hanya butuh satu alasan untuk tetap hidup… meski dunia terus membuangku.” Namun, rumah itu bukanlah akhir dari segala penderitaannya. Karena kehidupan bagai neraka baru saja dimulai. *** Esok pagi, rumah besar milik Pandu terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah tembok-temboknya ikut menahan napas. Di dapur, Amira berdiri dengan tubuh yang masih bergetar. Ia masih belum bisa melupakan kejadian semalam, dan pagi ini ia harus berjalan pelan-pelan karena lututnya terasa lemah. Meski begitu, ia tetap menyiapkan sarapan, memotong buah, memanggang roti, dan meracik kopi seperti yang diajarkan Bella. Ketika ia membawa secangkir kopi panas ke meja makan, Pandu sudah duduk di sana dengan pakaian rapi, kemeja mahal yang membalut dadanya. Namun bukan itu yang membuat Amira resah, melainkan tatapannya. Tatapan Pandu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Ada sesuatu yang membuat bulu kuduk Amira berdiri. Mata pria itu mengikuti setiap gerakannya, dari tangan Amira yang gemetar memegang cangkir, sampai ke rambut basah yang masih menempel di pelipis karena ia harus bangun lebih pagi untuk membersihkan teras sebelum mandi. Amira menunduk dalam-dalam. “K-kopinya, Pak…” suaranya begitu lirih. Pandu tidak menjawab, namun tangannya segera meraih tangan Amira membuat tubuh Amira tersentak takut. Amira bisa merasakan jantungnya berdegup keras. Setetes keringat dingin merambat di punggungnya. Ia ingin segera pergi, keluar dari ruang makan itu, jauh dari tatapan yang membuat napasnya tersengal. “Semalam, kau benar-benar memuaskan.” Pandu akhirnya berkata. Hanya satu kalimat, tetapi Amira langsung terpaku. Napasnya tercekat, ia benar-benar merasakan jijik. Namun belum sempat ia keluar dari ruang makan, sebuah suara melengking terdengar. “AMIRA!” Bentakan itu memantul di seluruh ruangan. Bella yang baru saja tiba dari luar kota, berdiri di ambang pintu dengan dua koper, kedua matanya menyala seperti api. Amira langsung menunduk, tubuhnya kembali bergetar. “Apa-apaan itu?!” Bella melangkah mendekat, hak tingginya mengetuk lantai dengan marah. “Kau mendekati suamiku pagi-pagi begini? Kau pikir aku buta?!” Amira menggeleng cepat, ketakutan. “E-enggak, Bu… saya hanya—” “DIAM!” bentak Bella, wajahnya semakin merah. “Aku lihat sendiri! Kau sengaja memegang tangan suamiku. Jangan pura-pura polos!” Amira menggigit bibirnya. Ia bahkan tadi terlalu takut untuk menatap Pandu, bagaimana mungkin Bella berpikir ia menggoda? Bella menoleh cepat ke arah meja makan. “Mas, lihat itu! Dia bahkan berani menggigil tepat di depanmu! Sok polos!” Pandu hanya menyeruput kopi tanpa memberi komentar. Tidak membela. Tidak menjelaskan. Tidak peduli, andil diamnya justru membuat Bella semakin yakin kalau sikap Amira barusan membuatnya tersinggung. “Ayo ke sini!” Bella menarik lengan Amira kasar. Dengan tubuh lunglai, Amira mengikuti, bahkan hampir terseret. Bella membawanya ke area belakang rumah, tempat tumpukan barang yang sudah lama tak digunakan. Kain tirai, selimut tebal, bahkan beberapa karpet kecil yang jelas sangat berat. “Kau cuci semuanya. Dengan tangan. Sekarang.” Amira menunduk. “Tapi Bu… ini banyak sekali. Saya harus—” “Tidak ada tapi!” Bella menunjuk tumpukan itu. “Lakukan sampai bersih. Dan kau nggak perlu makan banyak setelah ini. Kau cuma pembantu murahan yang tahu-tahu pingsan di depan rumah orang. Kau harusnya bersyukur aku memberi tempat tinggal." Lalu Bella melemparkan sesuatu ke meja kecil di dekat Amira. Sepotong roti. Kecil. Kering. Sudah keras seperti batu. “Itu sarapanmu.” Amira memandang roti itu lama, dadanya sesak. Ia lapar. Sangat lapar. Tapi rasa malu dan sakit di hatinya lebih besar daripada rasa laparnya. “Cepat bekerja,” kata Bella sebelum meninggalkan ruangan. Pintu ditutup keras. Amira tetap berdiri di sana, menatap tumpukan cucian berat yang harus ia kerjakan dengan tangan gemetarnya. Air mata menetes pelan, bukan karena beban pekerjaannya, tetapi karena betapa kecil dirinya diperlakukan. Padahal ia bahkan tidak melakukan apa-apa. Dengan napas tersengal, ia memungut roti keras itu, menggenggamnya erat. Hanya itu makanannya hari ini. Hanya itu kekuatan yang ia punya. Tiba-tiba langkah kaki seseorang membuat tubuh Amira terpaku di tempatnya. Amira menelan ludah, jantungnya memukul dadanya. Dengan gemetar ia menoleh dan saat itulah napasnya tercekat. Pandu berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tatapan matanya buas, senyum miring yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, senyum yang membuat seluruh tubuh Amira membeku ketakutan. “Aaaa!” jerit Amira dan Pandu segera membungkam mulutnya dengan sekuat tenaga. Bahkan tangan satunya memeluk Amira dengan kuat meski Amira sudah berontak. “Diam,” bisik Pandu, suaranya rendah dan dingin. Nafasnya terasa di telinga Amira. “Kalau kau berteriak, kau akan menyesal.” Amira mencoba menggeleng, tubuhnya bergetar hebat. Air mata menggenang tanpa bisa ia tahan. “Dengar baik-baik,” ucapnya sambil menekan tangan yang menutup mulut Amira semakin kuat, membuat gadis itu sulit bernapas. “Apa pun yang terjadi semalam, kalau satu kata saja keluar dari mulutmu ke siapa pun bahkan ke Bella—” Ia mencondongkan tubuh, menatap Amira seperti predator yang mengurung mangsa. “…jangan harap kau bisa pergi dari rumah ini dengan selamat.” Amira membeku. Seluruh dunia terasa seperti membungkam dirinya. Jantungnya berdetak terlalu cepat, napasnya tercekik di bawah tangan Pandu, sementara ancaman itu menampar nyalinya hingga habis. Setelah Pandu pergi, Amira terduduk lemas. Ingatannya melayang pada kejadian semalam. Pandu tiba-tiba masuk kedalam kamarnya, membekam mulutnya seraya melucuti pakaiannya. Tanpa bisa melawan, tanpa bisa menolak, bahkan suaranya pun tak bisa keluar. Amira kehilangan keperawanannya dengan paksa, oleh seorang yang ia kira adalah penolongnya. Namun, ternyata ia hanyalah serigala berbulu domba.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN