bc

Istri 5 Miliar Tuan Ethan

book_age18+
296
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
contract marriage
family
HE
age gap
friends to lovers
dominant
badboy
mafia
drama
sweet
bxg
kicking
office/work place
childhood crush
secrets
affair
assistant
like
intro-logo
Uraian

Naura tak pernah menyangka akan dihadapkan pada pilihan sebesar ini—antara cinta sejatinya yang telah menemaninya sejak nol, atau cinta palsu yang datang bersama uang lima miliar rupiah.Ibunya tengah sakit keras dan membutuhkan operasi segera. Di satu sisi, ada Aditya, kekasihnya sejak SMA yang selalu setia di sampingnya. Di sisi lain, ada Ethan, pria asing yang menawarkan bantuan finansial besar, dengan syarat yang mengguncang hidup Naura.Ketika cinta dan kewajiban saling bertabrakan, pilihan mana yang akan Naura ambil? Aditya—atau Ethan?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
Suasana kantor sore itu terasa lebih senyap dari biasanya. Lampu-lampu sudah mulai diredupkan, sebagian besar karyawan pulang lebih awal karena besok hari libur nasional. Hanya beberapa orang yang masih sibuk di meja masing-masing, termasuk Naura Adeline. Perempuan itu duduk menatap layar komputer, menutup berkas terakhir sambil menarik napas panjang. Kelopak matanya terasa berat, tapi pikirannya jauh lebih berat dari tubuhnya. Tagihan rumah sakit ibunya menumpuk di meja. Nominalnya membuat d**a terasa sesak setiap kali melihat angka-angka itu. Ia baru saja ingin berdiri ketika telepon meja berdering pelan. “Naura Adeline,” ucapnya, berusaha terdengar profesional meski suaranya lelah. Suara dari seberang membuat jantungnya berdegup lebih cepat. “Pak Ethan meminta Anda ke ruangannya sekarang,” ujar sekretaris pribadi Ethan dengan nada datar. Naura sempat terdiam. Sudah hampir pukul tujuh malam. Apa yang bisa membuat CEO perusahaan sebesar Arsenio Group masih menunggunya di jam segini? “Baik, saya ke sana sekarang,” jawabnya singkat. Ia merapikan rambut, menegakkan punggung, dan melangkah menuju lift eksekutif di ujung lorong. Setiap langkah terasa seperti menghitung waktu. Di kepalanya, muncul puluhan kemungkinan: laporan yang salah, data yang belum diperiksa, atau mungkin pengurangan karyawan? Begitu pintu lift terbuka, hawa dingin dari lantai tertinggi langsung menyambut. Ruangan Ethan luas dan rapi, dengan jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota di malam hari. Ethan duduk di balik meja kerjanya, mengenakan kemeja hitam yang digulung di siku. Tatapannya tajam tapi tenang, seperti biasa. “Silakan duduk,” ucapnya tanpa menatap langsung. Suaranya dalam, tegas, dan sulit ditebak. Naura menelan ludah. “Terima kasih, Pak.” Ethan baru mengangkat wajah setelah beberapa detik sunyi. Pandangannya menelusuri wajah Naura sejenak, lalu berhenti di matanya. Tatapan itu membuat Naura sedikit gelisah, seolah ada sesuatu yang diselidiki. “Saya sudah membaca semua laporan dari divisimu. Tidak ada masalah,” katanya. “Tapi saya memanggilmu bukan karena pekerjaan.” Naura mengerutkan kening. “Maaf, Pak? Kalau bukan soal pekerjaan, lalu—” “Saya ingin menawarkan sesuatu,” potong Ethan tenang. “Sesuatu yang mungkin akan terdengar gila bagimu.” Naura terdiam, menunggu penjelasan. Ethan berdiri, berjalan ke arah jendela, lalu menatap keluar sejenak sebelum kembali menatap Naura. “Saya tahu ibumu sedang sakit. Saya tahu juga biaya operasinya tidak sedikit.” Wajah Naura langsung menegang. “Bapak… dari mana tahu soal itu?” “Tidak penting bagaimana saya tahu.” Ethan menatapnya lurus. “Yang penting adalah saya bisa membantu.” “Maaf, Pak, tapi saya tidak pernah meminta bantuan apa pun,” ucap Naura pelan tapi tegas. Ethan mengabaikan bantahan itu. “Saya ingin kamu menikah denganku.” Naura membeku. Butuh beberapa detik sebelum otaknya memproses kata-kata itu. “Menikah?” tanyanya nyaris berbisik. “Saya tidak mengerti, Pak. Ini… semacam lelucon?” Ethan menggeleng. “Tidak. Saya serius. Ini pernikahan kontrak selama satu tahun. Setelah itu, kamu bebas. Sebagai gantinya, saya akan memberikan kamu imbalan.” "Imbalan?" "Lima miliar. Apa itu cukup untuk biaya oprasi ibumu?" Naura tertegun. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia menatap Ethan dengan mata membulat penuh keterkejcuku, seolah baru saja ditampar keras tanpa menyentuh kulit. “Dari mana Bapak tahu tentang ibu saya?” suaranya pelan, nyaris bergetar. Ethan tidak langsung menjawab. Ia menautkan jari-jari tangannya di depan d**a. Tatapannya tetap dingin, tajam, tapi terukur. “Saya punya cara untuk tahu banyak hal tentang orang yang bekerja untuk saya.” “Jadi Bapak menyelidiki saya?” potong Naura cepat, matanya menajam. “Bapak pikir saya ini apa? Proyek pribadi?” Ethan tetap tenang. “Saya hanya memastikan satu hal—bahwa kamu orang yang bisa dipercaya, Naura.” Naura menggeleng pelan, dadanya terasa sesak. “Tidak, ini sudah kelewatan. Saya bekerja di sini untuk profesional, bukan untuk dijadikan bagian dari… permainan seperti ini!” “Ini bukan permainan,” potong Ethan lagi, suaranya dalam dan mantap. “Saya tahu ibumu butuh operasi besar. Rumah sakit sudah menolak jadwal karena kamu belum membayar uang muka. Lima miliar cukup untuk menutup semua biayanya, bukan?” Naura menelan ludah, tangannya mengepal tanpa sadar. Ada campuran antara marah, malu, dan perasaan terpojok yang membuat suaranya serak. “Dan Bapak pikir dengan uang segitu saya akan menikah dengan Bapak?” Ethan menatapnya tanpa berkedip. “Saya pikir kamu akan mempertimbangkannya. Demi ibumu.” “Tidak.” Jawaban Naura tegas, meski suaranya sedikit bergetar. “Saya tidak menjual diri saya, Pak Ethan. Bahkan untuk uang sebanyak itu.” Ethan tidak bereaksi. Hanya menatapnya lama, seolah menimbang kata-katanya. “Ini bukan menjual diri. Ini kesepakatan. Tidak ada cinta, tidak ada kewajiban pribadi. Hanya kontrak. Kamu dapat uang, saya dapat yang saya butuhkan.” Naura mendecak pelan, menatapnya dengan mata basah tapi penuh amarah. “Dan yang Bapak butuhkan itu apa, reputasi bersih di depan media? Simpati dari dewan direksi?” Ethan tak bergeming. “Bukan urusanmu. Yang perlu kamu tahu, tidak ada yang akan dirugikan.” Naura tertawa kaku, getir, lalu menatapnya dalam. “Kecuali harga diri saya, Pak.” Ruangan itu sunyi. Yang terdengar hanya detik jam di dinding dan napas berat Naura yang berusaha ia tahan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Maaf,” katanya akhirnya, suaranya menurun tapi masih tegas. “Saya tidak bisa menerima tawaran Bapak. Bahkan kalau itu satu-satunya cara menyelamatkan Ibu.” Ethan menatapnya lama. Melangkah mendekati meja tempat Naura berdiri di seberangnya. “Benar begitu?” tanyanya pelan. “Kamu yakin akan menolak tawaran yang bisa menyelamatkan nyawa ibumu… hanya karena kamu ingin terlihat kuat di depan saya?” Naura menatapnya tajam, tapi matanya mulai bergetar. “Saya kuat karena saya tidak menjual diri saya, Pak Ethan.” Ethan menatapnya lama, lalu mengangguk kecil, seolah baru mempelajari sesuatu dari jawaban itu. “Baik,” katanya datar. “Tapi kalau kamu berubah pikiran, tawaran ini masih berlaku.” Naura memalingkan wajahnya, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh. Ia mengambil tasnya, membungkuk sedikit. “Dengan segala hormat, saya izin keluar, Pak.” Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah cepat ke arah pintu. Tangannya sedikit gemetar saat memutar kenop. Tapi sebelum keluar, suara Ethan terdengar lagi—tenang, tapi cukup untuk membuat langkahnya berhenti. “Waktu ibumu tidak banyak, Naura. Dokter bilang dua minggu, bukan?” Naura menegang. Tubuhnya kaku di tempat. Matanya menatap lurus ke depan, tapi suaranya tercekat saat akhirnya ia berkata, “Bapak benar-benar tahu segalanya, ya…” Ethan hanya diam. Naura menggigit bibirnya kuat-kuat, lalu melangkah keluar tanpa menoleh lagi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
317.0K
bc

Too Late for Regret

read
342.9K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
147.2K
bc

The Lost Pack

read
455.8K
bc

Revenge, served in a black dress

read
156.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook