Bab 2

911 Kata
Hujan turun deras malam itu, membasahi jalanan yang sudah mulai sepi. Naura memegang erat payung kecil yang hampir terbalik diterpa angin. Langkahnya cepat, tapi pikirannya berputar jauh lebih cepat daripada gerak kakinya. Suara Ethan terus terngiang di kepala. “Saya ingin Anda menikah dengan saya. Pernikahan kontrak. Lima miliar rupiah.” Setiap kali mengingat kata-kata itu, jantungnya berdebar tak karuan. Rasanya seperti mimpi buruk yang nyata. Ia masih tidak mengerti kenapa bos sebesar Ethan Arsenio bisa menawari hal seabsurd itu, dan yang lebih aneh lagi—kenapa dari sekian banyak orang, yang dipilih justru dirinya. Mobil-mobil melintas membelah genangan air, membuat cipratan kecil di sekitar trotoar. Naura menunduk, menahan udara dingin yang menembus jaket tipisnya. Begitu sampai di depan rumah kontrakannya yang sederhana, ia menghela napas panjang sebelum membuka pintu. Lampu ruang tamu masih menyala. Aditya duduk di sofa dengan hoodie abu-abu dan celana santai, menatap ponselnya sambil menyeruput kopi. Begitu mendengar pintu terbuka, ia langsung menoleh dan tersenyum. “Kamu lembur lagi?” tanyanya ramah. Naura berusaha membalas senyum, tapi bibirnya kaku. “Iya. Banyak laporan akhir bulan.” Aditya bangkit, mengambil handuk kecil di meja, lalu menghampirinya. Ia mengeringkan tetesan air di rambut Naura dengan gerakan lembut yang sudah begitu akrab. “Kamu pasti capek banget. Mau kubuatkan teh hangat?” Naura menggeleng pelan. “Nggak usah. Aku cuma mau mandi, terus tidur.” Aditya menatapnya sekilas, seolah mencoba membaca sesuatu dari wajahnya. “Kamu kelihatan pucat. Ada yang salah di kantor?” Pertanyaan itu membuat Naura menunduk. Tangannya bergetar ringan saat meletakkan tas di kursi. Ia ingin menjawab, tapi tidak ada kata yang bisa keluar. Kalau ia bilang yang sebenarnya, Aditya pasti langsung bertanya siapa Ethan, kenapa bisa tahu kondisi ibunya, dan kenapa menawarkan uang sebanyak itu. Naura tahu Aditya pria yang baik, tapi juga keras kepala. Ia tidak akan bisa menerima kenyataan kalau kekasihnya ditawari pernikahan kontrak oleh orang lain, bahkan dengan alasan terdesak sekalipun. “Nggak, kok,” jawabnya akhirnya, berusaha terdengar tenang. “Cuma… lagi banyak pikiran aja.” Aditya menatap Naura lekat-lekat, nadanya lembut tapi tegas. “Ini tentang Ibu, kan? Naura. Aku janji, aku bakal bantu cari biaya operasinya. Apa pun caranya.” Naura menghela napas pelan, menunduk sejenak sebelum menatap Aditya lagi. “Aku tahu, Di,” katanya lirih. “Kamu selalu ada buat aku, dan aku bersyukur banget. Tapi masalah ini... terlalu besar. Aku nggak mau kamu ikut repot, apalagi sampai ngorbanin hal lain.” Aditya menggeleng cepat, suaranya meninggi sedikit karena emosi. “Naura, kamu itu pacar aku. Gimana aku bisa diem aja kalau kamu lagi kesulitan kayak gini? Aku nggak peduli seberapa besar masalahnya, yang penting kita hadapi bareng.” Naura tersenyum tipis, tapi matanya tampak sayu. “Kamu selalu ngomong kayak gitu, dan aku senang dengarnya. Tapi kadang, nggak semua hal bisa diselesaikan berdua.” Aditya menatapnya lama, berusaha mencari arti di balik kata-katanya. “Kamu nyembunyiin sesuatu dari aku, ya? Gak biasanya kamu ngomong kayak gitu ” tanyanya perlahan. Naura cepat menggeleng. “Nggak. Nggak ada apa-apa, sumpah.” Ia berusaha tersenyum, tapi senyumnya kaku. “Aku cuma capek. Nanti juga baikan.” Aditya masih belum yakin, tapi ia menahan diri untuk tidak mendesak. Ia hanya menarik napas panjang dan menggenggam tangan Naura di atas meja. “Kalau kamu butuh aku, aku selalu di sini. Ingat itu.” Naura mengangguk pelan, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku tahu.” Dalam hati, ia menambahkan kalimat yang tidak berani ia ucapkan: “Tapi mungkin kali ini, kamu nggak akan sanggup dengar apa yang sebenarnya terjadi.” Naura memaksakan senyum kecil, lalu berjalan menuju kamar. Begitu pintu tertutup, senyum itu langsung menghilang. Ia bersandar di pintu, menarik napas panjang, dan menatap kosong ke arah ranjang kecil di sudut ruangan. Di atas meja rias, foto dirinya dan Aditya tersenyum dalam bingkai kayu sederhana—kenangan dari masa SMA, saat hidup terasa ringan dan masa depan tampak mudah. Tapi sekarang semuanya terasa berbeda. Dalam satu sore, dunia yang ia kenal berubah jadi labirin rumit yang dipenuhi pilihan sulit. Naura duduk di tepi ranjang, membuka ponselnya. Pesan terakhir dari rumah sakit muncul di layar: “Mohon konfirmasi biaya DP operasi sebesar 450 juta sebelum hari Senin.” Ia menatap layar itu lama, sampai matanya perih. “Empat ratus lima puluh juta,” bisiknya pelan. Jumlah yang bahkan tak mungkin bisa mereka kumpulkan dalam waktu singkat. Tawaran Ethan kembali terlintas di kepalanya. Lima miliar rupiah. Seketika semua tagihan rumah sakit itu bisa lunas. Ibunya bisa dioperasi besok juga. Tapi konsekuensinya—pernikahan kontrak. Dengan pria yang bahkan tidak ia kenal dekat. Naura menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia benci merasa lemah. Ia benci merasa seolah tidak punya pilihan lain. Tapi ketika menyentuh kalung kecil pemberian ibunya yang selalu ia kenakan, air mata tiba-tiba mengalir tanpa bisa ditahan. Dari luar, terdengar suara Aditya memanggil lembut. “Nau? Kamu mandi, kan? Mau aku angetin airnya?” Naura buru-buru menghapus air matanya. “Iya, bentar lagi.” Suaranya bergetar, tapi cukup untuk menenangkan Aditya yang tidak curiga apa pun. Begitu langkah Aditya menjauh, Naura kembali duduk memeluk lutut. Di dalam kepalanya hanya ada dua wajah: ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, dan Ethan yang menatapnya tenang dengan kalimat yang masih menancap jelas. “Waktu ibumu tidak banyak, Naura. Dokter bilang dua minggu, bukan?” Malam itu, Naura tidak bisa tidur. Setiap kali menutup mata, yang ia lihat hanyalah dua jalan berbeda—satu menuju pengkhianatan, satu menuju kehilangan. Dan entah kenapa, keduanya terasa sama menyakitkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN