Pagi itu, kedai kopi milik Aditya mulai ramai pelanggan. Aroma biji kopi sangrai memenuhi udara, bercampur dengan suara mesin espresso yang berdesis pelan. Biasanya, suasana itu selalu jadi momen favorit Naura. Ia sering duduk di pojok, menikmati waktu luang sambil membantu Aditya menyiapkan pesanan. Tapi pagi ini, semuanya terasa berbeda.
Naura datang dengan senyum, tapi senyum itu hanya di bibir. Tatapan matanya kosong, gerakannya kaku, dan bicaranya sesedikit mungkin. Ia tetap membantu Aditya seperti biasa—menyeka meja, menyusun gelas, melayani pelanggan—tapi setiap kali Aditya mencoba bicara, Naura selalu cepat mengalihkan topik.
“Pesanannya dua cappuccino dan satu americano, ya?” katanya tanpa menatap.
Aditya mengangguk pelan sambil memperhatikan wajahnya. “Iya, tapi kamu yakin nggak apa-apa? Dari tadi kamu diam terus.”
Naura tersenyum sekilas. “Aku cuma kurang tidur. Lembur kemarin agak lama.”
Jawaban itu terdengar masuk akal, tapi ekspresi Naura tidak menunjukkan kelelahan biasa. Ada sesuatu yang ia sembunyikan. Aditya tahu betul setiap gerak tubuh Naura—ia mengenalnya sejak mereka remaja, dan tidak sulit membaca perbedaan kecil pada sikapnya.
Ketika pelanggan mulai berkurang, Aditya menurunkan volume musik di kedai, lalu duduk di kursi seberang Naura. “Kamu kelihatan murung akhir-akhir ini,” ujarnya perlahan. “Aku bukan mau maksa cerita, tapi aku tahu kamu lagi mikirin sesuatu.”
Naura berhenti mengaduk minumannya. Tatapannya turun ke arah meja. “Aku nggak apa-apa, Di. Cuma lagi stres soal kantor aja.”
“Bukan soal ibumu?” Aditya menatap serius. “Aku tahu kamu lagi berat banget. Tapi kita bisa cari jalan bareng-bareng, Nau. Aku juga udah coba urus pinjaman lagi ke bank, tinggal nunggu kabar.”
Naura menelan ludah, merasa bersalah. “Makasih, ya. Kamu udah berusaha banyak banget buat aku.”
Aditya tersenyum lembut. “Kita berdua yang berusaha. Aku nggak mau kamu tanggung semua sendiri.”
Senyum itu membuat d**a Naura terasa sesak. Ia ingin jujur, ingin bilang kalau ada seseorang yang menawarkan solusi instan untuk semua masalah mereka. Tapi begitu bayangan Ethan muncul di kepalanya, kata-kata itu langsung menghilang.
Ia meneguk kopi tanpa rasa. “Kita bahas nanti aja, ya? Aku takut telat masuk kantor.”
Aditya memperhatikan gerak tangannya yang gemetar ringan saat membereskan gelas. “Naura,” panggilnya pelan.
Naura menoleh cepat. “Ya?”
“Kalau ada yang kamu sembunyikan, aku nggak akan marah,” katanya hati-hati. “Aku cuma pengin kamu jujur. Aku bisa bantu apa aja, asal kamu cerita.”
Naura terdiam. Ada jeda panjang di antara mereka, hanya terdengar bunyi hujan yang mulai turun lagi di luar jendela. Setelah beberapa detik, Naura tersenyum samar—senyum yang lebih mirip upaya menyembunyikan sesuatu daripada tanda ketenangan.
“Tidak ada yang aku sembunyikan, Di. Aku janji.”
Aditya menatapnya lama, lalu mengangguk perlahan. “Baik.” Tapi nadanya tidak benar-benar percaya.
---
Sepanjang perjalanan menuju kantor, kata-kata Aditya terus berputar di kepala Naura. Ia tahu Aditya berhak tahu, tapi bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa bos besarnya menawarinya pernikahan kontrak dengan bayaran lima miliar rupiah?
Bahkan mengucapkannya saja terasa tidak masuk akal.
Begitu sampai di kantor, Naura langsung menuju meja kerjanya. Ia sengaja datang lebih pagi agar bisa menghindar dari kemungkinan bertemu Ethan. Tapi rencana itu gagal total ketika suara sepatu berhak kulit terdengar mendekat dari arah lorong.
“Pagi, Naura.”
Suaranya dalam dan tenang, tapi bagi Naura, kedengarannya seperti alarm bahaya. Ia berdiri refleks dan menunduk sopan. “Pagi, Pak Ethan.”
Ethan berhenti di depan mejanya. Matanya menatap Naura sekilas, cukup lama untuk membuat perempuan itu gelisah.
“Saya harap Anda sudah memikirkan tawaran saya,” katanya datar.
Naura menelan ludah. “Saya belum bisa memutuskan, Pak.”
“Masih ada dua hari,” balas Ethan singkat. “Gunakan dengan baik.”
Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum maskulin yang samar. Naura menatap punggungnya yang menjauh dengan d**a berdebar.
Bagaimana mungkin ia bisa bekerja tenang setelah percakapan seperti itu?
---
Sore harinya, ketika pulang, Aditya sudah menunggunya di depan rumah. Wajahnya tampak murung, dan Naura tahu sesuatu sedang tidak beres.
“Kamu nggak angkat teleponku,” katanya tanpa basa-basi.
“Maaf, tadi rapat.”
“Seharian?”
Naura mengangguk pelan. “Iya. Ada revisi laporan yang harus aku kerjakan.”
Aditya menghela napas berat. “Nau, kamu sadar nggak, kamu udah mulai sering bohong?”
Naura tersentak. “Apa maksud kamu?”
“Dulu kamu selalu cerita kalau ada masalah. Sekarang, kamu bahkan nggak mau lihat mataku waktu ngomong. Kamu pikir aku nggak tahu?”
Kata-kata itu membuat tenggorokan Naura kering. Ia berusaha menatap Aditya, tapi matanya langsung berpaling lagi. “Aku cuma capek, Di. Tolong jangan buat ini jadi rumit.”
Aditya mendekat selangkah. “Aku cuma takut kehilangan kamu. Itu aja.”
Suara itu pelan, tapi menyakitkan. Naura menunduk, memegangi tasnya erat-erat. Ia ingin memeluk Aditya dan bilang semuanya akan baik-baik saja, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu.
“Maaf,” bisiknya pelan. “Aku cuma butuh waktu.”
Aditya menatapnya lama. Tidak ada kata lagi setelah itu. Ia hanya mengangguk pelan, lalu mundur beberapa langkah.
“Kalau kamu butuh aku, aku di sini,” katanya lirih sebelum berbalik meninggalkan halaman.
Begitu pintu rumah tertutup, Naura menutup wajahnya dengan kedua tangan. Napasnya bergetar, matanya panas. Ia tahu Aditya tidak salah. Justru karena Aditya terlalu baik, semuanya terasa semakin berat.
Malam itu, Naura kembali duduk di tempat yang sama seperti sebelumnya—di tepi ranjang dengan lampu kamar yang redup. Ponselnya tergeletak di meja. Ia menatap layar kosong itu lama, hingga akhirnya menulis satu pesan yang tak pernah ia kirimkan:
“Pak Ethan, saya butuh bicara.”
Jarinya berhenti di atas tombol kirim. Ia ragu beberapa detik, lalu menutup ponsel tanpa menekan apa pun.
Untuk pertama kalinya, Naura sadar… hidupnya kini terjebak di antara dua dunia yang tak bisa bersatu.