Bab 4

860 Kata
Hujan baru saja berhenti sore itu. Jalanan di depan gedung kantor masih basah, memantulkan lampu-lampu kendaraan yang melintas. Naura berdiri di depan pintu ruang kerja Ethan dengan tangan yang dingin dan gemetar. Ia sudah menunggu hampir setengah jam untuk mengumpulkan keberanian masuk ke ruangan itu. Satu tarikan napas panjang akhirnya keluar. Ia mengetuk pelan. “Masuk.” Suara itu terdengar tenang, rendah, dan dalam. Seolah tahu siapa yang ada di balik pintu. Naura membuka perlahan, lalu melangkah masuk. Ruangan itu luas dan minimalis, dindingnya dihiasi rak buku dan beberapa lukisan berbingkai hitam. Di tengah ruangan, Ethan duduk di belakang meja kayu besar, menatap layar laptop dengan ekspresi dingin. Ketika matanya beralih ke arah Naura, tatapan itu seperti mengunci seluruh geraknya. “Silakan duduk,” ucapnya singkat. Naura menurut. Ia duduk di kursi seberang meja, meremas jemarinya sendiri di pangkuan. Beberapa detik hening berlalu. Hanya suara detak jam di dinding yang terdengar. Ethan menutup laptopnya pelan. “Saya sudah menunggu jawaban Anda, Naura.” Nada suaranya datar, tapi setiap kata terucap dengan tekanan yang membuat udara di ruangan terasa berat. Naura menatapnya sesaat, lalu menunduk. “Saya… sudah memikirkannya, Pak.” Ethan mengangkat alis sedikit. “Dan?” Butuh waktu bagi Naura untuk menjawab. Tenggorokannya kering, matanya mulai memanas. “Saya setuju… dengan pernikahan kontrak itu.” Kata-kata itu keluar pelan, hampir tak terdengar. Tapi cukup jelas untuk membuat Ethan menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Alasannya?” tanyanya datar. Naura menggigit bibir bawahnya. “Ibu saya harus segera dioperasi. Saya tidak punya waktu lagi. Dan… saya tahu hanya Anda yang bisa membantu.” Ethan menatapnya lama. “Saya tidak memaksa,” katanya akhirnya. “Anda tahu itu, kan?” Naura mengangguk pelan. “Saya tahu. Tapi saya tidak punya pilihan.” “Baik.” Ethan membuka laci meja, mengeluarkan sebuah map hitam, lalu meletakkannya di atas meja. “Ini draft kontraknya. Baca dulu. Tidak ada paksaan untuk tanda tangan hari ini.” Naura meraih map itu dengan tangan gemetar. Ia membuka lembar demi lembar, membaca beberapa pasal yang berisi kesepakatan mengenai durasi, kerahasiaan, dan kompensasi finansial. Semuanya tertulis rapi dan legal. Tapi tetap saja, membaca kata ‘pernikahan kontrak’ membuat perutnya terasa mual. “Kenapa saya?” pertanyaan itu akhirnya keluar tanpa rencana. Ethan berhenti mengetik dan menatap langsung ke matanya. “Karena saya butuh seseorang yang tidak akan menimbulkan masalah setelah ini selesai.” “Banyak perempuan lain yang bisa Anda pilih,” balas Naura cepat, suaranya bergetar. “Perempuan yang jauh lebih cantik, lebih pantas.” Ethan menyipitkan mata, lalu berdiri dari kursinya. Langkahnya perlahan, tapi cukup membuat Naura menahan napas. Ia berjalan mengitari meja dan berhenti tepat di depan Naura. Tatapannya tajam, tapi suaranya tetap tenang. “Saya tidak tertarik pada perempuan lain.” Naura menegakkan punggungnya, berusaha tidak goyah di bawah tatapan itu. “Ini cuma kontrak, kan, Pak? Tidak ada yang lebih dari itu.” Ethan menatapnya lama sebelum menjawab. “Ya. Hanya kontrak,” katanya akhirnya, tapi sorot matanya berkata lain. Ia kembali ke kursinya, mengambil pena, lalu menulis sesuatu di sudut kertas. “Saya akan transfer uang muka tiga miliar begitu Anda menandatangani kontrak ini. Sisanya setelah kita menikah secara resmi di hadapan notaris.” Naura terdiam. Angka itu begitu besar, tapi sama sekali tidak membuatnya lega. Ia menatap dokumen di tangannya lagi, membaca nama Ethan Valero Prasetya yang tercetak tegas di bagian bawah. Nama yang kini terasa seperti jalan keluar sekaligus awal dari bencana. “Saya boleh bawa dokumen ini pulang?” tanya Naura pelan. “Boleh,” jawab Ethan tanpa ragu. “Tapi saya ingin jawaban final sebelum lusa. Waktu operasi ibu Anda sudah dekat, bukan?” Naura mengangguk pelan. “Dua hari lagi.” Ethan menatapnya tanpa ekspresi, lalu mencondongkan tubuh sedikit. “Naura,” ucapnya dengan suara lebih rendah. “Kalau Anda menerima ini, hidup Anda tidak akan sama lagi. Tidak di kantor, tidak di luar. Anda akan jadi istri saya, meski hanya di atas kertas. Semua orang akan percaya itu nyata. Anda siap menanggung risikonya?” Naura terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Saya siap.” “Baik,” Ethan menutup map itu perlahan. “Saya harap Anda tidak menyesal.” Naura berdiri, membungkuk sopan, lalu berbalik menuju pintu. Tapi sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara Ethan terdengar lagi. “Saya akan urus semua dokumen legalnya begitu Anda memberi konfirmasi,” katanya. “Dan satu hal lagi.” Naura menoleh. “Apa, Pak?” “Mulai hari ini, panggil saya Ethan saja. Kalau kita akan berpura-pura jadi suami istri, formalitas seperti itu tidak diperlukan.” Nada suaranya tenang, tapi ada sesuatu di balik kalimat itu—seolah bukan sekadar formalitas yang ia maksud. Naura hanya mengangguk, tidak berani menatap terlalu lama. “Baik, Pak—eh, Ethan,” katanya gugup. Ethan mengangguk ringan. “Sampai jumpa lusa, Naura.” Ia berjalan keluar dengan langkah cepat, tanpa menoleh lagi. Begitu pintu tertutup, Ethan menghela napas panjang. Di balik ketenangan wajahnya, matanya menyimpan sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun—rasa lega bercampur cemas. Akhirnya, perempuan yang selama bertahun-tahun hanya menjadi bayangan di ingatannya kini akan menjadi bagian dari hidupnya, meski hanya lewat sebuah pernikahan yang tidak nyata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN