Bab 1
“Maafkan aku. Ini semua salahku.”
Suara itu terdengar lirih, sarat penyesalan. Namun keheningan setelahnya justru terasa lebih menekan daripada teriakan.
“Kata maaf saja tidak cukup untuk mengembalikan semua yang telah hilang, Sebastian.”
Napas tertahan. Ada jeda panjang, seolah waktu sengaja memperlambat detaknya.
“Lalu… apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku?”
Jawaban itu datang pelan, nyaris berbisik, tapi dinginnya memotong lebih dalam daripada pisau.
“Maka… kau juga harus mati.”
******
“A-apa?” suara Nenek Sabrina terdengar parau. Matanya menyipit, seolah tak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. Jari-jarinya yang keriput perlahan mencengkeram sandaran kursi roda. “Siapa yang kembali?”
Pelayan di hadapannya menunduk lebih dalam. Bahunya gemetar, napasnya tersengal, seakan kata-kata yang hendak ia ucapkan terlalu berat untuk keluar. Wajahnya pucat pasi, persis seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini.
“Ny–Nyonya Sarah, Nyonya,” ucapnya tergagap, nyaris berbisik.
Ruangan itu seketika terasa menyempit. Udara mendadak berat, menekan d**a.
Sabrina membeku. Nama itu menggema di kepalanya, berulang-ulang, menusuk ingatan yang selama ini ia kubur rapat. “Sa… Sarah?” ulangnya pelan, suaranya hampir tak terdengar. “Kau yakin dengan apa yang kau katakan?”
Pelayan itu mengangguk cepat, matanya berkaca-kaca. “Sungguh, Nyonya. Dia… dia berdiri di depan pintu sekarang.”
Hening.
Detak jam dinding terdengar terlalu keras, memukul kesadaran Sabrina detik demi detik. Nama itu—Sarah—seharusnya sudah menjadi masa lalu. Nama seorang wanita yang telah dimakamkan setahun lalu. Nama yang tidak seharusnya pernah kembali disebut di rumah ini.
Namun kini, nama itu berdiri di depan pintu.
“Antarkan aku ke sana,” titah Sabrina akhirnya.
Suaranya terdengar tegas, dingin, seperti biasa. Tapi jemarinya yang bergetar di sandaran kursi roda mengkhianati kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan.
Pelayan itu ragu sejenak sebelum mendorong kursi roda Sabrina keluar dari ruangan, menyusuri lorong rumah yang mendadak terasa lebih panjang dan lebih sunyi dari biasanya. Setiap meter yang mereka lewati membuat d**a Sabrina semakin sesak, seolah masa lalu sedang mengejarnya dari belakang.
Dan ketika pintu itu terbuka—
Nenek Sabrina membeku.
“Tidak mungkin…”
Bisikannya nyaris tak terdengar, tertelan oleh degup jantungnya sendiri.
Tatapan mereka bertemu.
Wajah Sabrina semakin pucat saat wanita muda itu melangkah ke arahnya dengan langkah tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya telah mati.
“Apa kabar, Nenek?” sapa wanita itu lembut.
“Kau…” bibir Sabrina bergetar. Tak satu pun kata mampu ia lanjutkan.
Wanita itu tersenyum. Senyum yang asing, namun begitu dikenalinya.
“Aku kembali.”
Wajah Nenek Sabrina seketika menegang. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya bersuara, lirih namun sarat keterkejutan.
“Bu-bukankah… bukankah seharusnya kau sudah mati?”
Senyum di wajah Sarah menghilang seketika, seolah kata-kata itu adalah pisau yang memotong tipis-topeng ketenangannya. Tatapannya berubah—tenang, namun tajam.
“Apa maksudmu, Nenek?”
Baru saat itu Sabrina menyadari ucapannya. Dadanya naik turun, napasnya tersendat. Ada terlalu banyak pertanyaan, terlalu banyak ketakutan yang berdesakan di kepalanya. Namun ia memaksa dirinya kembali menguasai keadaan, seperti yang selalu ia lakukan selama ini.
“Kemana saja kau selama ini?” tanyanya kemudian, nadanya dibuat dingin. “Setahun lebih kau menghilang tanpa kabar. Baru sekarang kau muncul di rumah ini?”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan, nyaris berbisik, “Bahkan beredar kabar… kau mengalami kecelakaan dan Jatuh ke jurang lalu mati.”
Sarah terdiam.
Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya, kukunya menekan telapak tangan hingga terasa perih. Ada gelombang emosi yang nyaris meluap—amarah, duka, dan kenangan yang tak ingin ia ingat. Namun ia menahannya. Ia telah belajar terlalu lama untuk tidak memperlihatkan kelemahannya.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia kembali mengangkat wajahnya. Tatapannya lurus menembus mata Nenek Sabrina, suaranya kini terdengar lebih tenang—terlalu tenang.
“Rumor memang cepat menyebar,” ucapnya pelan. “Tapi sepertinya… aku masih berdiri di sini, bukan?”
Sarah berhenti sejenak. Rahangnya mengeras, lalu ia melanjutkan dengan nada yang lebih datar. “Rumor itu tidak sepenuhnya salah. Aku memang mengalami kecelakaan. Mobilku jatuh ke jurang.” Ia menghela napas singkat. “Tapi Tuhan masih memberiku kesempatan hidup. Seorang petani menemukan dan menolongku. Dia merawatku sampai aku benar-benar pulih. Berkat dia… aku bisa kembali ke rumah ini.”
Tatapan Sarah beralih, menyapu sekeliling ruangan, seolah mencari sesuatu yang tidak ia temukan. “Bertemu dengan Nenek… dan juga suamiku—” Ia berhenti tiba-tiba, alisnya berkerut tipis. “Oh.” Pandangannya bergerak lagi. “Di mana suamiku?”
Nenek Sabrina terdiam. Wajahnya mengeras, jelas tidak menyukai arah percakapan itu. “Sebastian sedang sibuk di kantor,” jawabnya dingin. “Mungkin dia akan lembur malam ini.”
“Begitu…” Sarah mengangguk kecil, nada suaranya terdengar acuh tak acuh, seolah jawaban itu tidak berarti apa pun baginya.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah. Namun baru beberapa langkah, tubuhnya tiba-tiba bertabrakan dengan seseorang. Seorang wanita dengan wajah tertutup masker putih berdiri tepat di depannya.
Sarah mengernyit. “Kau siapa?”
Wanita itu—Amanda—menyipitkan mata, mencoba menajamkan penglihatannya. Detik berikutnya, wajahnya seketika memucat. Masker putih itu tak mampu menyembunyikan keterkejutan yang berubah menjadi ketakutan murni.
“Hantuuuu!” jeritnya nyaring.
Tubuh Amanda limbung, lalu ambruk ke lantai tanpa sadar.
Sarah terdiam, menatap wanita itu dengan ekspresi heran. Namun ia tidak mengatakan apa pun, meski dalam hatinya ia sudah memahami sesuatu.
Nenek Sabrina menghela napas panjang, lalu memberi isyarat pada pelayan. “Bawa dia ke kamarnya.”
Setelah Amanda dibawa pergi, Sabrina kembali menatap Sarah. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh penilaian.
“Apa kau tahu siapa dia?” ucapnya perlahan. “Dia adalah istri Sebastian. Mereka menikah beberapa bulan lalu.” Bibirnya melengkung tipis. “Dan tentu saja, wanita itu jauh lebih pantas menyandang status sebagai Nyonya di rumah ini.”
Sarah terdiam.
Untuk sesaat, dunia seolah berhenti bergerak. Suara langkah para pelayan yang panik membawa Amanda menjauh perlahan menghilang, menyisakan keheningan yang terasa menekan. Kata-kata Nenek Sabrina masih menggantung di udara, dingin dan tajam, menghantam tepat ke dadanya.
Istri Sebastian.
Beberapa bulan lalu.
Lebih cocok menyandang gelar Nyonya.
Sarah menunduk perlahan. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah, menyembunyikan ekspresi yang tiba-tiba berubah. Jika Nenek Sabrina berharap melihat kehancuran, tangis, atau kemarahan seperti yang dulu selalu ia dapatkan, maka wanita tua itu keliru besar.
Karena detik berikutnya, Sarah tertawa kecil.
Bukan tawa histeris. Bukan pula tawa sedih. Tawa itu singkat, datar, nyaris tanpa emosi—justru itulah yang membuatnya terasa mengganggu.
“Oh…” gumamnya pelan, seolah baru saja mendengar kabar yang tidak terlalu penting. Ia mengangkat wajahnya kembali, menatap Nenek Sabrina dengan sorot mata yang berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada keterkejutan. Yang ada hanya ketenangan yang terasa asing.
“Jadi begitu,” lanjutnya. “Sebastian menikah lagi.”