Bab 1
Di sebuah kantor gedung tinggi, Devan duduk di ruangan presdir dengan tumpukkan dokumen di atas mejanya. Ketika pintu terbuka, aroma parfum mahal segera memenuhi udara. Serena, sekretaris pribadinya melangkah masuk dengan penuh percaya diri.
Kemeja putihnya ketat membentuk lekuk tubuhnya, beberapa kancing bagian atas sengaja dibiarkan terbuka. Rok mini hitam yang ia kenakan memperlihatkan kaki jenjangnya, membuat setiap gerakan terasa menggoda. Serena tahu persis bagaimana menampilkan dirinya di hadapan Devan, dan ia menikmatinya.
“Selamat pagi, Pak Devan,” ucap Serena dengan suara penuh godaan.
Ia berjalan mendekati meja kerja Devan sambil membawa tablet berisi jadwal kerja. Tubuhnya sengaja ditegakkan agar memperjelas lekuk tubuhnya dari dekat.
Davin yang tengah menandatangani beberapa dokumen, otomatis menoleh. Matanya terpaku pada belahan d**a sekretarisnya itu.
“Ehem,” Deva berdehem membuat Serena tahu jika Devan mulai terpikat olehnya.
“Hari ini jadwal Anda cukup padat,” kata Serena. Ia mulai menyebutkan jadwal Devan yang memang cukup padat. Namun, Devan tak mendengarkan dengan baik. Matanya tak bisa lepas dari pemandangan seksi dihadapannya itu.
Devan meletakkan kacamata yang dilepasnya, menatap Serena dari bawah ke atas. “Lalu... kapan jadwal untuk kita?” tanyanya dengan mata berkilat nakal.
Serena pura-pura mengangkat alis. “Untuk kita?”
“Kau tahu maksudku, Serena,” ucap Devan dengan memeluk pinggang Serena membawa Serena duduk di atas pangkuannya.
Serena tertawa kecil, lalu ia mendekatkan wajahnya hanya beberapa inci dari Devan. Bisikannya begitu pelan, namun cukup membuat darah Devan berdesir.
“Malam ini,” ucap Serena berbisik dengan nada menggoda.
Devan menelan ludah, tatapannya tak bisa lepas dari bibir merah Serena yang bergerak begitu dekat. Tanpa meminta ijin, Devan sudah menempelkan bibirnya pada bibir Serena. Ia tak memperdulikan di mana mereka berada. Bibirnya terus mencium bibir Serena dengan gairah yang mulai naik.
Bahkan tangannya mulai berani meraba punggung Serena membawanya lebih dekat dalam pangkuannya. Serena pun membalas ciuman itu dengan lebih panas. Suara desahan sesekali terdengar membuat Devan tak bisa menahan getaran pada tubuhnya.
***
Suara desahan terdengar dari sebuah kamar hotel bintang lima. Serena merasakan tubuhnya bergelinjang saat sentuhan Devan tepat pada titik saraf nikmatnya. Ciuman Devan yang brutal membuat Serena kesulitan untuk menyeimbangi. Jemarinya memeluk tubuh Devan dengan erat.
“Kamu cantik sekali malam ini, Serena,” ucap Devan setengah berbisik pada telinga Serena.
Serena hanya bisa tersenyum, mulutnya terbuka mengeluarkan desahan demi desahan saat ciuman Devan turun ke lehernya. Jemarinya mulai melepaskan kancing blouse yang dipakai Serena.
Ia melemparkan kain itu ke lantai dan memandangi tubuh Serena yang seksi. Perlahan Devan melepaskan rok sepan yang dipakai Serena. Hanya menyisakan kain terakhir yang menutupi bagian intim yang paling Devan sukai.
Serena menatap Devan dengan wajah memerah karena malu yang ia rasakan. Tapi pemandangan itu membuat Devan dengan cepat melepaskan pakaian yang melekat pada tubuhnya. Devan tak bisa menahan gejolak dalam hatinya.
Tanpa menunggu lama Devan menarik kain itu hingga tak ada penghalang lagi. Devan tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan sekali hentakan, ia memasuki tubuh Serena yang membuat Serena hampir menjerit merasakan benda keras itu masuk terlalu dalam.
Gerakan Devan pelan, namun perlahan ia semakin menggila. Erangan yang Serena keluarkan dari bibir kecilnya menambah adrenalin Devan hingga mempercepat gerakannya. Ia kembali mencium bibir Serena.
Hingga klimaks terjadi pada keduanya, Devan menekan tubuhnya dengan cukup keras, lolongan kecil lolos dari bibir Serena. Akhirnya keduanya melepaskan diri dan napasnya terengah-engah, berbaring bersebelahan. Mencoba menormalkan kembali napas mereka. Keringat memenuhi tubuh mereka, dinginnya ac tak bisa mengurangi panas dari tubuh keduanya. Hingga perlahan mata mereka mulai terpejam di sisa-sisa kenikmatan.
***
Di luar kamar hotel, seorang wanita berdiri dengan keraguan memenuhi wajahnya. Ia terpaku di depan pintu kamar hotel, tempat Devan menginap malam itu. Rosalina ingin mengelak saat mengetahui jika suaminya berada di dalam kamar itu bersama dengan wanita lain.
Hatinya sudah dipenuhi kecurigaan sejak lama, ketika Devan yang sering pulang malam. Atau mendapati aroma parfum asing, atau sisa noda lipstik yang tertinggal di kemejanya. Awalnya Rosalina berusaha menepis pikiran buruk, berusaha percaya bahwa suaminya hanya sibuk bekerja.
Namun, naluri seorang istri terlalu sulit dibohongi. Tangannya bergetar saat ia mengetuk pintu, lalu memasukkan kartu kamar yang diam-diam ia dapat dari resepsionis.
Begitu pintu terbuka, pandangan Rosalina langsung membeku. Di atas ranjang, Devan tertidur dengan tubuh telanjang. Di sampingnya, seorang wanita muda masih meringkuk dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya. Rosalina terhenyak, napasnya tercekat. Matanya menatap tajam, menyapu ruangan, mencari kekuatan untuk meyakinkan diri bahwa ia tidak sedang bermimpi buruk.
Tapi kenyataan jelas di depan mata wanita itu adalah Serena, sekretaris pribadi Devan.
“Devan!!!” suara Rosalina meledak, memecah keheningan kamar.
Devan terbangun kaget, buru-buru duduk dengan wajah pucat. Serena pun tersentak, mencoba menutupi tubuhnya dengan selimut sambil menatap terkejut.
“Rosalina... Jangan salah pamah, ini—” Davin mencoba berbicara, tapi kata-katanya tercekat.
“Jangan salah paham, Devan?!” bentak Rosalina dengan suara bergetar antara amarah dan air mata.
“Bagaimana aku tidak bisa salah paham, saat Aku datang kemari, tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri! Kau berbaring sekretarismu tanpa pakaianmu!”
Serena mendesah, ia duduk dengan santai. Tatapan matanya terlihat sama sekali tidak merasa bersalah atau pun malu.
“Dengarkan dulu –“
“Diam kau, Serena!” potong Rosalina dengan tatapan membara.
“Kau tahu dia sudah menikah! Kau tahu posisi dan statusmu, tapi tetap saja kau masuk ke ranjangnya? Tak tahu malu!”
Serena tersenyum kecil, lalu turun dari ranjang dengan melepaskan selimut dari tubuhnya. Rosalina memalingkan wajahnya saat melihat tubuh telanjang Serena. Perlahan Serena meraih pakaiannya dan memakainya dengan santai.
“Aku tau kok jika Devan sudah beristri, dan aku sangat tau di mana posisiku berada,” ucap Serena santai seolah dia tak perduli dengan tatapan tajam Rosalina.
Devan bangkit, mengenakan kemeja yang tercecer di lantai. “Cukup, Rosa! Jangan salahkan Serena. Ini salahku.”
Rosalina menatap suaminya dengan mata yang penuh luka. “Salahmu? Kau bahkan tega mengkhianati rumah tangga kita Devan. Aku berkorban, aku mendampingimu dari awal, dari nol. Lalu sekarang kau balas dengan ini?!”
Devan menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya. “Rosa... aku sudah terlalu lelah dengan semua ini. Pernikahan kita... rasanya sudah tidak ada lagi cintanya. Aku tidak bisa terus berpura-pura.”
Air mata Rosalina jatuh tanpa bisa ditahan. “Tidak ada cinta? Jadi selama ini apa? Semua perjuangan, semua waktu yang kita lalui, kau sebut tidak ada cinta?”
Devan menunduk, lalu menatap Serena sekilas seolah memberi keberanian. “Aku sudah bersama Serena sejak beberapa bulan lalu. Dia... membuatku merasa hidup kembali. Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa terus bersamamu.”