Prolog
"Sumpah, saya... saya tidak tahu sama sekali. Saya tidak tahu bahwa Lani—"
"Bohong!" Mama memotong tajam. Suaranya penuh dendam. "Bagaimana mungkin kamu tidak tahu siapa Lani, siapa aku, siapa suamiku. Kamu pasti sengaja membiarkan anakmu mendekati anakku, padahal kamu tahu—"
"Cukup!" Suami Ibu maju cepat, melindungi istrinya dari tatapan tajam Mama. "Kami tidak tahu apa-apa. Jangan menuduh sembarangan. Kami tidak pernah berniat seperti itu."
Di sudut ruangan, seorang pemuda terdiam membeku. Wajahnya pucat, bibirnya gemetar. Dunia seakan runtuh di atas kepalanya.
Mama kembali menoleh dengan sorot mata tajam. "Bagaimana mungkin aku percaya? Bagaimana mungkin kalian tidak tahu, kalau selama ini—"
"Cukup, Ma!" Suami Mama akhirnya tak bisa menahan lagi. "Hentikan. Tuduhanmu sudah terlalu jauh."
Tapi tampaknya Mama masih belum puas menghina wanita yang sudah sejak dulu dia benci. Baginya, saat itu adalah kesempatannya mengeluarkan semua amarah yang dia pendam sejak lama.
"Kau menjijikan. Kamu membiarkan anakmu sendiri berhubungan dengan—"
"Dengan siapa Ma?" Suara yang serak dan nyaris runtuh itu terdengar di belakang Mama.
Semua kepala menoleh padanya, kecuali Mama.
Mama tidak bergerak. Dia seolah sudah menyadari kehadiran Lani sejak lama. Seakan dia tahu Lani akan mendengar semuanya.
"Katakan padaku dengan siapa?"
"Haruskah aku mengulanginya lagi?" Tanya Mama dingin. "Bahwa kamu bukan—"
"Cukup! Jangan dengarkan Mamamu. Dia tidak benar-benar mengatakan yang—" Papa mencoba menenangkan Lani, memeluk bahunya yang hampir goyah. Tapi Lani dengan cepat menepis.
"Tidak, Pa. Tidak." Lani menggeleng cepat dengan mata berkaca-kaca. Air matanya hampir jatuh. "Papa tidak perlu mengatakan apa-apa untuk menghiburku. Aku sudah mendengar semuanya dengan jelas." Lani menurunkan tangan Papa dari bahunya. Lalu berjalan dengan gontai ke arah Mama yang masih berdiri membelakangi.
"Walau aku tidak pernah mengatakannya, tapi selama ini aku selalu bertanya-tanya, kenapa Mama selalu memperlakukanku berbeda. Aku berusaha untuk selalu mempercayai bahwa Mama... Mama tidak..." Lani menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan sesak didada untuk meneruskan ucapannya, "Jadi itulah... Itulah kenapa aku di perlakukan seperti itu. Ternyata karena aku... Ternyata aku..." Lani tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Air matanya jatuh menetes membasahi pipi. "Karena ternyata aku..." Ia mulai terisak. Bahunya berguncang hebat. "Kenapa harus sekarang? Kenapa harus setelah aku merasa bahagia? Kenapa, Ma? Kenapa? Kenapa harus menunggu setelah aku jatuh lebih dalam? Kenapa?"
Papa tidak dapat berucap apa-apa, dia berjalan mendekat. Menahan bahu Lani agar tidak goyah.
Lani maju lebih dekat, meraih tangan Mama dengan berurai air mata. "Tolong katakan padaku.. katakan bahwa semua itu bohong. Tolong katakan Ma. Katakan bahwa aku—"
"Tidak ada lagi yang perlu aku katakan!" Mama menepis tangan Lani. Tatapan matanya dingin. Tidak ada sedikitpun rasa bersalah apa lagi iba. Seolah kebencian yang selama ini dia tahan sudah menyatu dengan tulang, "Semuanya sudah jelas. Apa yang kamu dengar adalah kenyataan. Tidak perlu bagiku untuk mengatakan apa-apa lagi."
Setelah mengatakan itu, Mama berbalik sepenuhnya. Melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Lani mematung. Tangan yang tadi di hempaskan menggantung dikedua sisinya. Tatapannya kosong. Kepergian Mama barusan seolah menyatakan bahwa dunia tidak menginginkan dirinya.
Papa menyadari itu. Dia memeluk erat Lani dan berusaha membujuknya. Memberinya kata-kata yang menenangkan. "Lani, kamu anak Papa. Kamu tidak salah apa-apa. Kami yang salah. Apapun yang terjadi, kamu harus ingat bahwa kamu anak Papa."
Sejenak, Lani tidak bergeming. Air mata jatuh, tapi suara isak tangis terhenti. Beberapa detiks kemudian, dia melepaskan tangan Papa dengan perlahan. Lani berbalik. Tatapan matanya tertuju pada Ibu yang sejak tadi diam dengan tatapan mata penuh rasa bersalah.
Ketika Lani melangkah mendekat, Ibu mengangkat wajahnya. Tatapan matanya bertemu dengan Lani.
"Kamu pernah bercerita, kamu memiliki bayi perempuan yang belum sempat kamu sentuh, belum sempat kamu peluk, dan belum sempat kamu berinama. Lalu kamu minta aku untuk menggantikan bayi perempuan itu. Kamu memberikan kasih sayang yang kamu punya untuk bayi perempuan itu kepadaku. Aku menerimanya. Karena aku ingin merasakan kasih sayang yang tidak pernah aku dapat dari Mamaku. Tapi bukan ini yang aku mau! Aku tidak menginginkan ini! Bukan ini yang aku inginkan! Bukan, Bu, Bukan!" Lani terisak memukuli dadanya yang sakit. "Kenapa, Bu? Katakan, Bu, katakan! Kenapa harus aku! Kenapa harus kebahagiaanku yang di renggut! Kenapa?" Lani jatuh bersimpuh dengan bahu yang berguncang hebat.
Ibu tidak bergerak, tapi air matanya ikut jatuh.
Pemuda disana juga tidak bergeming. Dia sendiri terluka, tidak tahu bagaimana caranya untuk sembuh.
Papa bersimpuh di dekat Lani, mendekap bahu Lani. "Sudah, Nak. Sudah cukup. Kamu anak Papa. Kamu masih punya Papa."
Lani tidak mempedulikannya. Kepalanya menengadah, menatap mata Ibu yang masih belum mengatakan apa-apa. "Beri aku penjelasan."
Ibu membuang tatapannya kearah lain. Menolak menatap langsung ke mata yang menyiratkan luka itu.
"Itu hanya kebenaran masa lalu. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Tapi, hubungan kamu dan anakku berakhir sampai sini. Untuk kedepannya, semoga kita tidak bertemu lagi." Setelah mengatakan itu, Ibu beranjak pergi. Suami Ibu hanya bisa bergerak mengikuti.
Hati Lani yang sudah hancur, semakin dibuat hancur setelah mengatakan kata-kata itu. Tapi bukan berarti, dia akan membiarkan Ibu pergi begitu saja setelah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan itu.
Dia berdiri, melangkah dengan cepat menghampiri Ibu. Menghalangi jalannya.
"Setelah semua yang aku dengar, aku mulai menyadari, tidak ada yang namanya ibu di dunia ini. Yang ada hanya wanita-wanita egois yang menjadikan anak sebagai barang, sebagai alat, sebagai beban. Aku muak. Aku tidak percaya lagi dengan yang namanya ibu. Kalian adalah makhluk paling jahat yang pernah aku temui." Lalu, Lani beranjak dari sana. Pergi meninggalkan semuanya.
Sang Ibu berdiri mematung. Tatapannya kosong. Sedetik kemudian, tubuhnya ambruk. Ia jatuh terduduk di lantai. Air mata yang sejak tadi dia tahan, akhirnya jatuh tanpa bisa di bendung.
Suaminya segera memegangi bahunya. Tubuh Ibu bergetar hebat.
“Maaf…” bisik Ibu lirih, berulang kali. “Maaf…”
Dan dalam keheningan malam yang beku, hanya suara tangisan ibu yang terdengar.