Bab 1
"Minggir, sialan! Aku mau bicara dengan si b******k itu!" pekik Liana garang, menepis dengan kasar tangan-tangan kekar yang mencoba menghalanginya. Tak ada keraguan sedikit pun dalam gerakannya.
Tubuhnya memang ramping, namun kekuatannya jauh dari kata lemah. Dengan satu tendangan keras penuh amarah, ia mendobrak pintu besar yang langsung terhempas menabrak dinding, menciptakan dentuman nyaring yang bergema ke seluruh ruangan.
"Di mana kau, Calderon?!" teriaknya lantang, suaranya menggema dengan garang, memecah kesunyian saat langkah cepatnya membawanya masuk. Tatapannya liar, menyisir setiap sudut ruangan dengan sorot mata tajam.
Pandangan itu berhenti pada sosok pria tampan yang duduk santai di tengah ruangan. Di sekelilingnya, berdiri beberapa pria berjas hitam, tubuh mereka tegap dan siap siaga.
Liana melangkah cepat dan penuh keyakinan. Sorot matanya terkunci pada pria itu, Virion Calderon yang tampak sama sekali tak terganggu. Ia tetap duduk santai, menyesap minumannya seolah kehadiran Liana tak lebih dari angin yang lewat.
Para pengawal yang melihat keberanian Liana mulai bereaksi. Mereka bersiap menghadang, tapi Virion mengangkat tangannya dengan tenang, memberi isyarat agar mereka mundur.
Tanpa bertanya, para pengawal menuruti perintah itu dan perlahan meninggalkan ruangan, hingga hanya tersisa mereka berdua.
Begitu ruangan sepi, Liana langsung menerjang maju tanpa basa-basi, menyambar kerah pria itu dengan tangan gemetar penuh amarah, hingga tubuhnya nyaris terangkat dari kursi.
"Kau b******k! Apa yang kau lakukan padaku, hah?! Kenapa semua klub menolakku?! Jangan pikir aku bodoh, aku tahu ini semua ulahmu! Apa kau berniat membunuhku perlahan, Calderon?!" teriaknya, napasnya memburu, amarah membakar seluruh tubuhnya.
Namun Virion hanya menatapnya dengan ketenangan yang menjengkelkan. Tak ada sedikit pun emosi di matanya yang hitam itu, seolah teriakan Liana tak lebih dari bisikan angin.
Ia meletakkan gelas dengan perlahan ke atas meja, kemudian bangkit berdiri. Posturnya yang tinggi menjulang langsung membuat perbedaan mencolok di antara mereka.
"Sudah cukup jelas, bukan, kenapa aku melakukan itu?" ujarnya ringan, seakan-akan yang sedang dibicarakan hanya perubahan cuaca.
"Sialan! Jadi kau menghancurkan karierku hanya karena aku menolak tidur denganmu?!"
Virion meraih tangan Liana secara perlahan, menggenggamnya dengan lembut namun penuh kendali, lalu menurunkannya dari kerah bajunya.
"Seharusnya kau sudah tahu jawabannya."
Liana mendesis penuh kemarahan. Sorot matanya menyempit tajam, dadanya naik turun hebat karena mencoba menahan emosi yang hampir meledak.
"Kenapa? Kau pria kaya, bisa tidur dengan wanita mana pun. Bahkan tanpa usaha sedikit pun, mereka akan datang padamu. Kau bisa memiliki siapa saja. Jadi kenapa harus aku?!"
Virion menundukkan wajahnya, mendekat hingga hanya beberapa inci dari wajah Liana. Hembusan napas mereka bersilangan. Tatapan matanya yang gelap menelusuri wajah Liana, lalu senyum tipis muncul di bibirnya, senyum yang hanya membuat darah Liana mendidih.
"Justru karena mereka terus datang padaku tanpa henti, aku bosan. Aku menginginkan yang berbeda. Seseorang yang tak mudah menyerah. Aku menginginkanmu, Liana. Jadilah milikku."
"Tidak mau! Aku menolak! Aku tidak akan menyerahkan diriku pada pria pengecut sepertimu, yang menggunakan kekuasaan hanya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan!"
"Bukan salahku aku berkuasa. Aku hanya tahu cara memanfaatkannya."
"b******k!"
Liana kembali menyerang, tapi Virion lebih cepat. Ia menangkap kedua tangan Liana, memutarnya, lalu menguncinya ke belakang. Dalam satu gerakan cepat, ia mendorong tubuh Liana hingga jatuh ke sofa. Di sana, ia menekannya kuat-kuat, membuat Liana benar-benar tak bisa bergerak.
"Sialan!" desis Liana, matanya menyala penuh amarah.
"Aku sudah cukup bersabar menunggu kedatanganmu. Biasanya, tak ada seorang pun yang berani membuatku menunggu. Dan kau? Kau sudah menolak untuk yang ketiga kalinya."
"Aku bukan ‘biasanya’. Kau harusnya tahu itu, dasar b******k!"
"Kau benar-benar sedang cari mati, gadis kecil!" geram Virion, sebelum akhirnya membungkam bibir Liana dengan ciuman yang dalam dan penuh tuntutan.
"Hmphh!"
Liana menggeliat, berusaha melepaskan diri dari pagutan sepihak itu.
Namun tangan dan kakinya terhalang kekuatan pria itu. Ia tak bisa bergerak. Satu-satunya cara perlawanan yang tersisa adalah menggigit lidah Virion yang mencoba menerobos masuk.
Sayangnya, pria itu seolah kebal terhadap rasa sakit. Meskipun tergigit, ciumannya tidak berhenti.
Baru setelah napas Liana nyaris habis, Virion menarik wajahnya menjauh.
"Aku sudah pernah memberimu penawaran. Seharusnya kau sadar dari awal bahwa aku tak pernah main-main. Jadi kenapa masih membantahku, hmm?"
Liana tak menjawab. Ia hanya terdiam, rahangnya mengeras karena terlalu marah untuk berkata-kata.
"Jadilah milikku, Liana. Aku akan memberikan apa pun yang kau mau. Rumah, apartemen, vila, apa saja. Bahkan uang sebanyak yang bisa kau impikan."
Napas Liana makin memburu. Tatapan matanya menusuk. "Kau pikir aku bisa dibeli dengan semua benda mati itu?"
Virion menyeringai. "Aku tahu kau berbeda dari wanita kebanyakan. Justru itu aku menginginkanmu lebih dari siapa pun."
"Lepaskan aku!" bentak Liana, berusaha menendang. Tapi cengkeraman Virion tak sedikit pun mengendur.
"Tidak, sampai kau mengatakan ‘ya’. Aku tak keberatan menunggu. Bahkan jika kau meronta sepanjang malam."
"Aku benci kau!" sembur Liana.
Ia terdiam beberapa saat. Tubuhnya masih tegang, tapi perlawanannya perlahan memudar. Ia tahu, percuma saja terus melawan dalam kondisi seperti ini. Kekuatan pria itu tak tertandingi.
Dan Virion melihat perubahan itu.
"Lakukan sesukamu. Kalau memaksaku menyerah adalah tujuanmu, maka kau berhasil," gumam Liana datar. "Tapi jangan pernah mengira kau menang."
Virion menatapnya lama, senyumnya sedikit melebar. "Kau luar biasa keras kepala."
Liana balik menatap, dingin dan menusuk. "Dan kau menyedihkan. Harus menekan seseorang hanya untuk mendapatkan apa yang kau mau."
Virion tertawa kecil, puas. “Mungkin. Tapi kau tetap akan menjadi milikku, Liana. Keras kepala atau tidak.”
Liana memalingkan wajah, menolak memberi tanggapan.
Virion menghela napas pelan, lalu akhirnya melepaskan cengkeramannya. Tubuh Liana pun bebas.
Tapi belum sempat ia bergerak, Virion menyodorkan sebuah map berwarna hitam pekat.
"Apa ini?" tanyanya curiga.
"Kesepakatan," jawab Virion tenang. “Aku ingin kau tetap berada di sisiku. Secara legal. Anggap saja ini kontrak kerja… dengan keuntungan yang tak semua orang bisa dapatkan.”
Liana menatapnya tajam. “Kau ingin aku menandatangani kontrak... untuk menjadi milikmu?”
Virion menyeringai, matanya tak berkedip. “Bukan sekadar milikku. Tapi aku juga akan memastikan keamananmu. Tak seorang pun bisa menyentuhmu tanpa izinku.”
Dalam dokumen itu tertulis:
‘Dengan menandatangani perjanjian ini, Pihak Kedua menyetujui untuk tunduk sepenuhnya pada kehendak Pihak Pertama selama satu tahun penuh, tanpa pengecualian. Sebagai gantinya, Pihak Pertama akan memberikan kehidupan yang layak, aman, dan serba berkecukupan, di mana kemewahan bukanlah hak, melainkan bentuk kendali yang diberikan sesuai kepatuhan.’
Di bagian akhir, nama dan tanda tangan Virion tercetak rapi.
Liana membaca setiap kalimat dengan rahang mengeras. Matanya menyusuri kata-kata seperti “tunduk sepenuhnya”, “tanpa pengecualian”, dan “kendali sesuai kepatuhan”. Rasa muak memenuhi dadanya. Tangannya bergetar, tapi tetap menggenggam lembaran itu erat seolah ingin merobeknya dengan tatapan.
"Jadi ini yang kau maksud dengan ‘kehidupan layak’?" gumamnya sinis.
Virion tersenyum dingin. "Kehidupan layak bukan hadiah, Liana. Itu harga yang harus kau bayar untuk bertahan. Kau bisa menolak sekarang. Tapi pada akhirnya... kau akan sadar bahwa ini satu-satunya jalan agar kau tidak hancur."
Setelah kesepakatan terjadi, Virion berjalan keluar lebih dulu.
Liana berjalan di belakangnya, terpaksa mengikuti langkah pria itu.
Namun saat ia berjalan melewati ambang pintu, raut wajahnya berubah. Sebuah senyum dingin muncul di bibirnya.
"Bagus, Calderon," bisiknya pelan. "Milikilah aku... supaya aku bisa masuk lebih dalam."