"V-Virion... p-pelan..." bisiknya lirih, suara rapuh yang terdengar seperti gema yang terhimpit antara detak jantung dan tarikan napas yang mulai kacau. Matanya terpejam erat, tubuhnya melengkung, mengikuti irama yang bukan miliknya sendiri.
Di atas tubuhnya, pria itu mencengkeram kedua pergelangan tangannya, menyandera setiap geraknya dengan kekuatan yang tenang namun penuh kendali. "Tak ada jeda untuk gadis yang suka memanggil namaku dengan nada semanis itu," gumamnya serak, membiarkan bibirnya melayang dekat ke pelipisnya. "Sekali kau menyebut namaku, kau harus siap menerima konsekuensinya."
"T-Tuan..." desah Liana, seolah terombang-ambing di antara permohonan dan perlawanan yang tak pasti. Napasnya pendek, tak menentu. Ada harap samar di suaranya bahwa pria itu akan melambat. Namun, harapan itu segera tenggelam.
Virion menatap wajahnya dalam-dalam. "Lihat aku," ucapnya rendah, suaranya tajam bagai pisau tipis. Dengan ujung jarinya, ia menyapu helaian rambut yang menutupi wajah Liana, seolah ingin membaca tiap ekspresi di balik sorot matanya. Lalu, ia menggenggam dagu halus itu, memaksa tatapan mereka bertaut dalam gelombang gairah yang memanas.
Matanya bersinar, bukan karena kelembutan, tapi karena kuasa dan obsesi yang menuntut pengakuan. "Jangan sembunyikan wajahmu. Aku ingin melihat rautmu saat pertahananmu runtuh."
Liana menatapnya balik, pasrah namun tetap menyisakan percikan api kecil dalam dirinya. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan suara yang telah menggumpal di tenggorokan.
Namun, justru itulah yang membakar bara dalam diri Virion. Ia tak sekadar ingin menyentuh, ia ingin menaklukkan. Menundukkan gadis yang selama ini bicara tajam, melangkah angkuh, dan selalu menatapnya seolah dia tak lebih dari bayangan tak berarti.
Malam ini, ia ingin membuktikan bahwa sebesar apa pun perlawanan Liana, pada akhirnya ia akan mencair, luruh, dan lebur di bawah kendalinya. Hanya dia, Virion, yang mampu menelanjangi gadis itu, bukan secara fisik saja, tapi juga jiwanya, lapisan demi lapisan, sampai tak tersisa.
"Berhenti berpura-pura kuat," bisiknya, sementara jari-jarinya meluncur lembut namun tegas menyusuri garis rahang Liana. "Tubuhmu lebih jujur daripada mulutmu."
Liana menahan napas, tubuhnya menggeliat saat sensasi kembali menggelegak. Ia ingin melawan, tapi semua yang coba ia pertahankan perlahan hancur, gugur satu per satu.
"Kau... b******n," gumamnya parau, nyaris tertelan oleh getaran tubuhnya sendiri.
Virion terkekeh, rendah dan berat. Ia menunduk ke telinganya, membisikkan kata-kata yang seolah mengukir kutukan manis di udara.
"Kau boleh memanggilku b******n, iblis, atau apa pun. Tapi malam ini, tubuhmu adalah milikku."
Ia kembali menuntut, dalam dan mantap, membuat Liana tercekik oleh gelombang yang terus-menerus menghantam.
"Dan kau akan merindukannya. Seperti candu."
Liana akhirnya tak mampu menahan desahan itu. Suara yang keluar begitu pecah, tak terkendali, melengkung di udara malam yang dingin dan senyap. Tubuhnya tak lagi bisa berbohong. Ia terangkat, menggeliat, lalu jatuh kembali di atas ranjang, terengah dan menyerah.
"Bagus, sayang." Suara Virion rendah, menelusup dengan kepuasan mendalam. "Jangan tahan lagi."
Ranjang berderit, mengikuti irama yang liar, tak mengenal belas kasihan. Gairah mendesak lebih, menuntut lebih, tak kenal kata cukup.
"A-Apa kau berniat membunuhku...?" bisik Liana dengan suara yang nyaris lenyap, terombang-ambing antara sadar dan tidak, antara kelelahan dan ketagihan.
Virion menunduk. Bibirnya menyentuh pelipis lembut gadis itu. "Tidak," jawabnya pelan, namun menyimpan bara. "Aku hanya ingin menikmati tiap detik bersamamu... sampai akhir waktu."
Ia menghantam lagi, seperti badai yang menolak reda. Dan Liana tidak lagi melawan. Ia tenggelam, bukan karena dipaksa, tapi karena hatinya dan jiwanya telah menyerah.
Waktu berlalu dalam tarikan dan hembusan yang tak terbendung. Lima ronde, bahkan lebih. Tapi bagi Virion, malam itu bukan sekadar penaklukan. Itu adalah ibadah. Sebentuk pemujaan atas gadis yang selama ini menjadi pusat hasrat dan obsesinya.
Dan saat akhirnya ia berhenti, menatap tubuh Liana yang terbaring lemah di bawah cahaya pagi yang menyusup lembut, ia tahu… malam ini telah mengubah segalanya.
**
Pagi Setelahnya
Samar-samar, cahaya mentari mulai menari-nari di pelupuk matanya. Begitu kesadarannya mulai kembali, rasa sakit menyergap tanpa ampun ke seluruh tubuhnya. Pinggangnya nyeri luar biasa, seolah akan copot. Perih menyengat di bagian paha dalam, membuatnya meringis tertahan.
Dengan perlahan, Liana membuka mata. Pandangannya masih buram. Ia mengerjap, mencoba menyesuaikan diri dengan sinar matahari yang menyelinap lewat tirai yang terbuka lebar.
"Sialan... sakit sekali," desisnya pelan, hampir tak terdengar.
Tatapannya segera tertumbuk pada jendela. Langit cerah, dan dari sinar yang masuk, ia tahu hari sudah beranjak siang.
"Jam berapa sekarang...?" gumamnya tak pasti.
Ia memindai ruangan. Interior megah dengan nuansa elegan menyambut matanya begitu asing, tapi kini menjadi miliknya. Atau tepatnya, milik Virion, tempat ia ditempatkan setelah menandatangani surat perjanjian itu. Malam saat dirinya resmi menjadi milik Virion Calderon.
Setelah perjanjian diteken, pria itu langsung membawanya ke mansion pribadinya, kediaman megah yang dijaga ketat oleh para pengawal. Liana menyadari, kebebasannya sudah tak utuh lagi. Para staf dan penjaga tersebar hampir di seluruh penjuru rumah. Kecuali di kamar ini satu-satunya ruang yang sedikit memberi rasa privasi.
Matanya lalu menatap jam dinding klasik yang tergantung di atas perapian.
Pukul sembilan pagi.
Dengan pelan, ia mengangkat tubuh dan menyandarkan punggung di kepala ranjang. Rasa nyeri masih terasa jelas, tapi ia tahu ini baru awal.
"Setan itu... apa dia pikir aku boneka? Atau memang dia sengaja membuatku lumpuh?"
Tok Tok Tok.
Liana spontan mengatupkan bibir. Tapi jelas, siapa pun yang berada di balik pintu itu bukan Virion. Pria itu tidak pernah mengetuk. Ini rumahnya, dan sejauh yang Liana tahu, dia tipe yang langsung menerobos, tanpa permisi terutama pada wanita yang telah ia miliki.
"Masuk," ucapnya dingin.
Pintu terbuka perlahan. Seorang gadis muda melangkah masuk. Ia mengenakan seragam pelayan abu-abu. Di tangannya ada nampan perak berisi makanan, dan set pakaian terbungkus plastik. Langkahnya ringan, terukur, dan kepala tertunduk penuh sopan santun.
"Selamat pagi, Nyonya. Saya Dina. Saya ditugaskan langsung oleh Tuan Virion untuk melayani Anda. Saya membawa sarapan dan pakaian ganti." ucapnya lembut, meletakkan nampan di nakas, lalu menyodorkan pakaian dengan hormat.
Liana menerimanya, gerakannya hati-hati.
Sorot matanya menilai cepat. Wajah gadis itu muda, suara lembut tapi matanya tajam. Terlalu tajam. Ada kesan dingin, seolah sedang membaca dan menelanjangi siapa pun yang ia tatap.
"Berapa usiamu?" tanya Liana pelan, datar.
"Dua puluh satu, Nyonya," jawab Dina dengan cepat. Senyum tipis tetap menggantung di bibirnya. "Saya sudah lama bekerja di mansion keluarga Calderon. Hanya saja, baru sekarang saya dipercaya mendampingi langsung Tuan Virion."
"Oh." Liana hanya mengangguk singkat.
"Saya permisi. Jika Anda membutuhkan apa pun, Anda bisa memanggil saya kapan saja." Dina sedikit membungkuk, lalu melangkah keluar dengan tenang.
Liana hanya menatapnya sekilas, lalu menghela napas.
Begitu Dina pergi, ia perlahan bangkit. Aroma makanan membuat perutnya keroncongan. Tapi sebelum menyentuh sarapan, ia memutuskan untuk membersihkan diri lebih dulu.
Namun, baru satu langkah menuju kamar mandi, langkahnya tertahan. Seseorang keluar dari balik pintu kamar mandi.
Seorang pria berpakaian serba hitam.
Liana terpaku. Matanya melebar, napasnya tertahan.
"Kamu?"
Pria itu tersenyum miring. "Pagi, nyonya—eh, maksudku... Liana."