Bab 1
"Aku hamil. Dan kau tau ini anak siapa? Kami sudah lama saling mencintai, tapi karena kau, kami harus terpisahkan. Sekarang, sudah saatnya aku rebut dia kembali."
"Apa?"
"Sekarang kau paham kan, Alena, Siapa wanita yang dia cintai? Itu adalah aku."
Alena mengepalkan tangannya di atas setir. Buku-buku jarinya memutih. Nafasnya tersengal, dan d**a terasa sesak. Kata-kata wanita itu terus bergema di kepalanya seperti pisau yang berputar dan menancap dalam-dalam.
Ia menatap lurus ke depan, tapi matanya buram. Jalanan malam terlihat berkelip dari lampu kendaraan, tapi semua tampak samar di balik genangan air mata yang tak lagi bisa ia tahan.
“Dia mencintai aku… bukan kau.”
Suara itu terus terngiang—membakar hati Alena, mencabik perasaannya yang sudah rapuh.
Tangannya meremas setir makin kuat. Mobil melaju kencang di jalan menurun, angin malam berhembus menusuk kulit, dan suara hujan mulai terdengar mengetuk kaca depan.
“Tidak… tidak mungkin…” bisiknya dengan suara bergetar. Ia menggeleng keras, mencoba menghapus bayangan wajah wanita itu, tapi semakin ia berusaha, semakin jelas senyuman sinis itu muncul di benaknya.
Sekejap pandangannya kabur oleh air mata. Rasa sesak berubah jadi amarah dan kepanikan. Ia menekan pedal gas lebih dalam—tanpa sadar kecepatan mobilnya melonjak tajam.
Cahaya dari arah berlawanan tiba-tiba menyilaukan.
Tiitttttttttt! suara klakson meraung panjang, membuyarkan lamunannya.
Ia tersentak, menoleh terlambat—
Ban mobilnya tergelincir di aspal basah, kemudi terputar liar.
Mobil itu menabrak pembatas jalan dengan hentakan keras. Suara kaca pecah memecah keheningan malam.
Tubuh Alena terhempas ke depan, sabuk pengaman menahan dengan keras, tapi darah sudah mengalir di pelipisnya. Pandangannya mulai mengabur, dunia berputar... semuanya gelap.
*****
Beep… beep… beep…
Suara mesin monitor jantung terdengar pelan di ruangan serba putih itu. Bau obat-obatan menyengat, bercampur dengan suara tetesan infus yang jatuh satu per satu ke tabung bening di sisi ranjang.
Tubuh Alena terbaring diam. Wajahnya pucat, sebagian tertutup perban di pelipis kiri.
Pagi itu, kelopak matanya mulai bergetar. Gerakannya lambat, tapi nyata. Nafasnya sedikit berubah ritmenya. Lalu perlahan, matanya terbuka.
Cahaya dari lampu langit-langit membuat pandangannya silau. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan. Pandangannya masih kabur — hanya warna putih di sekelilingnya, tirai hijau muda di sebelah kanan, dan suara mesin di dekat telinganya.
Kursi di samping ranjang bergeser keras saat pria itu berdiri mendadak. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang baru dilihatnya — kelopak mata Alena bergerak, lalu perlahan terbuka.
“Alena?” suaranya keluar terburu-buru. Ia mendekat, menunduk ke arah wajah perempuan itu.
“Alena, kamu dengar aku?”
Tangannya bergetar saat menggenggam jemari Alena. “Hei… ini aku. Kamu sadar, kan? Lihat aku.”
Tapi tatapan mata itu kosong.
“Alena, kamu bisa dengar aku?” suaranya mulai gemetar. Ia menunduk lebih dekat, memastikan perempuan itu benar-benar sadar.
"Kamu siapa?"
Pria itu terdiam.
Kata-kata itu seperti berhenti di kepalanya beberapa detik sebelum benar-benar bisa dipahami.
“Kamu… bilang apa?” suaranya pelan, hampir tidak terdengar.
Alena menatapnya bingung. Tatapannya menunjukkan ketidakpahaman.
Pria itu mundur setengah langkah. Tangan yang tadi menggenggam jemari Alena perlahan terlepas. Wajahnya berubah—campuran kaget, bingung, dan tidak percaya.
“Alena, ini aku,” katanya lagi, lebih pelan, seolah berharap Alena akan mengingat sesuatu setelah mendengar suaranya. Tapi pandangan itu tetap kosong.
"Kamu nggak ingat aku sama sekali?"
Alena nenggeleng pelan
Pria itu menatap Alena beberapa detik lagi sebelum akhirnya sadar kalau sesuatu tidak beres. Wajahnya mulai panik.
“Dokter!”
*****
Beberapa saat kemudian. Dokter segera tiba dan memeriksa Alena. Lampu kecil diarahkan ke matanya, lalu ia mengecek denyut nadi dan tekanan darah.
"Nona Alena, kamu bisa dengar saya?”
Alena menatap dokter itu dan mengangguk pelan.
“Baik. Sekarang, saya mau tanya beberapa hal, ya?”
Dokter mengambil papan catatan di meja samping. “Kamu tahu ini apa?” Ia menunjuk pena di tangannya.
“Pena,” jawab Alena pelan.
“Yang ini?” Dokter menunjuk buku di atas meja.
“Itu buku.”
“kalau yang itu?”
Alena melirik ke sisi ranjang. “Meja.”
Dokter mengangguk kecil, lalu mencatat sesuatu.
“Bagus. Sekarang, kamu tahu siapa namamu?”
Alena terdiam. Alisnya berkerut, matanya menatap kosong. “Aku… aku tidak ingat."
Pria di samping ranjang menegang. Tangannya terangkat sedikit, tapi tak jadi menyentuh Alena.
Dokter melanjutkan dengan hati-hati, “Kalau begitu, kamu tahu siapa orang ini?” Ia menunjuk ke arah pria yang berdiri di samping ranjang.
Alena melihat ke arah pria itu dan menggeleng.
Dokter menurunkan papan catatannya pelan. Wajahnya berubah serius, tapi suaranya tetap tenang.
“Baik, tidak apa-apa,” katanya lembut. “Kamu baru sadar setelah koma cukup lama, Alena. Kadang otak butuh waktu untuk menyesuaikan.”
Tatapan sang dokter beralih ke arah pria di samping ranjang yang masih berdiri kaku. “Berdasarkan reaksinya, ada kemungkinan dia mengalami amnesia sebagian. Untungnya, fungsi dasar otaknya baik — dia mengenali benda, merespons suara, dan bisa bicara. Hanya ingatan pribadinya yang belum kembali.”
Alena menatap mereka bergantian, kebingungan jelas di wajahnya. “Amnesia?” tanyanya pelan.
Dokter menatapnya dan mengangguk. “Itu artinya kamu lupa beberapa hal, termasuk tentang dirimu sendiri. Tapi kamu jangan khawatir. Kondisi seperti ini bisa membaik perlahan. Kadang ingatan kembali sedikit demi sedikit.”
Pria itu menatap sang dokter. “Berarti… dia tidak ingat siapa pun? Bahkan keluarganya?”
Dokter menggeleng. “Kemungkinan besar begitu. Tapi kita belum tahu sejauh apa kehilangan ingatannya. Untuk saat ini, sebaiknya jangan menekan atau memaksa dia mengingat. Itu bisa membuatnya stres.”
Pria itu mengangguk pelan, matanya kembali tertuju pada Alena yang kini menatap langit-langit dengan ekspresi kosong.
“Kalau begitu, saya minta izin untuk observasi dulu,” kata dokter, memberi isyarat pada perawat. Dua orang perawat mendekat, memeriksa infus dan mengganti perban di pelipis Alena.
Dokter mencatat sesuatu di papan catatannya, lalu menatap pria itu lagi.
“Saya tahu ini sulit, tapi mohon bantuannya. Jangan memaksa dia mengingat siapa pun dulu. Fokus pada pemulihan fisiknya. Kita lihat perkembangannya beberapa hari ke depan.”
Pria itu mengangguk. “Baik, Dok.”
Sebelum pergi, dokter menoleh lagi ke arah Alena. “Kamu sudah berjuang keras sampai bisa sadar, Nona Alena. Sekarang waktunya istirahat dulu, ya.”
Alena hanya diam, matanya mengikuti dokter sampai keluar dari ruangan.
Begitu dokter dan perawat keluar, ruangan itu kembali tenang. Hanya suara alat medis yang pelan terdengar di sudut ruangan.
Pria itu berdiri diam di samping ranjang cukup lama. Pandangannya tak lepas dari wajah Alena. Lalu pelan-pelan duduk di kursi di samping ranjang. Tangannya menggenggam tangan Alena. Kali ini genggamannya hati-hati.
Alena menatapnya, "Jadi… kamu siapa?” tanyanya pelan.
Pria itu menahan diri untuk tidak menunjukkan apa-apa. Ia tersenyum tipis.
"Aku Rendi.. suamimu."
"Su..suami?"