bc

Jangan Salahkan Aku Selingkuh

book_age18+
263
IKUTI
1K
BACA
billionaire
love-triangle
escape while being pregnant
age gap
arrogant
drama
bxg
city
cheating
affair
like
intro-logo
Uraian

Karena belum dikaruniai anak, Aruna terus-menerus dituduh mandul oleh suaminya, Andre, dan seluruh keluarga besarnya. Luka dan tekanan itu membuatnya merasa marah dan terpojok. Hingga suatu hari, pertemuan tak sengaja dengan seorang pemuda bernama Rangga membuka jalan baru bagi Aruna…Jalan apa yang sebenarnya ia pilih? Dan seperti apa hubungan mereka selanjutnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
“Berapa kali aku harus bilang, Aruna? Aku nggak mau bahas soal pemeriksaan itu lagi!” Suara Andre membentak memecah sunyi ruang makan pagi itu. Suara sendok yang tadi bergesekan dengan piring berhenti. Aruna menatap suaminya dengan tatapan lelah tapi tetap lembut, berusaha menahan emosi yang sudah lama ia pendam. “Mas... aku cuma minta kita periksa bareng, biar jelas siapa yang—” “Siapa yang mandul?” potong Andre, suaranya meninggi. “Kamu pikir aku yang mandul, hah? Aku ini laki-laki, Aruna! Dan keluargaku sehat semua. Kamu aja yang aneh, lima belas tahun nikah tapi nggak juga ngasih aku keturunan!” Kata-kata itu menampar Aruna lebih keras dari pukulan apa pun. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang sudah menggenang. “Mas... aku udah periksa, hasilnya aku subur. Dokter bilang kemungkinan masalahnya bukan di aku. Aku cuma minta Mas juga periksa, biar kita tahu harus gimana—” Andre berdiri mendadak, kursinya tergeser keras hingga menabrak kaki meja. “Kamu nggak capek, ya, Aruna? Nyalahin aku terus! Kamu tuh harusnya sadar diri! Dari dulu keluargamu aja nggak jelas, nggak punya siapa-siapa, dan sekarang kamu nyeret-nyeret aku ke dokter buat buktiin kalau aku yang bermasalah?” Aruna menunduk. Nafasnya bergetar. “Aku cuma mau berjuang bareng, Mas…” “Terserah kamu mau ngomong apa. Tapi mulai hari ini, jangan pernah singgung soal periksa lagi. Aku muak.” Andre meraih jasnya di sandaran kursi, lalu berjalan ke arah pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekilas. “Kalau kamu bener sayang sama aku, berhenti bikin aku malu di depan keluargaku. Aku capek dibilang punya istri mandul.” Pintu tertutup keras. Sunyi. Hanya detak jam dinding yang terdengar di antara ruang yang tiba-tiba terasa terlalu luas untuk satu orang. Aruna masih berdiri di sana. Pandangannya kosong. Kata “mandul” terus bergema di kepalanya, menusuk-nusuk seperti duri yang tak bisa dicabut. Lima belas tahun... lima belas tahun ia mencoba jadi istri yang baik, sabar, dan penuh pengertian. Tapi sabarnya seperti sudah habis. Tangannya meremas meja makan. “Kenapa selalu aku yang disalahin…” bisiknya lirih. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan ke kamar. Langit di luar jendela tampak cerah, tapi hatinya terasa sesak. Mungkin udara luar bisa menenangkan pikirannya, pikirnya dalam hati. Tanpa pikir panjang, Aruna mengambil kunci mobil di meja dan mengenakan kacamata hitam. Ia butuh pergi, ke mana pun, asal jauh dari rumah itu. Udara siang menusuk kulit. Aruna memacu mobilnya ke luar kota, menyusuri jalanan yang sepi. Kepalanya penuh dengan kata-kata Andre yang terus terngiang. “Mandul.” Satu kata yang seperti menghapus harga dirinya sebagai perempuan. Tiba-tiba matanya terasa panas. Ia menyeka air mata dengan cepat, tapi pandangannya kabur. Di saat yang sama, dari sisi kanan, seorang pemuda dengan motor menyeberang pelan, menunduk sambil memegang ponsel di telinga. “Tuhan—!” Ciiitttt— Suara rem mobil beradu keras dengan aspal. Aruna berusaha memutar setir, tapi sudah terlambat. Tubuh pemuda itu terpental dan jatuh ke pinggir jalan. “Ya ampun…” Aruna langsung keluar dari mobil, lututnya lemas. “Mas... Mas! Kamu nggak apa-apa?!” Pemuda itu mengerang pelan, menahan sakit di lututnya. Helmnya terlepas, memperlihatkan wajah muda dengan rambut berantakan dan keringat di pelipis. “Aduh... kayaknya motor saya lecet semua, Bu...” “Ya Tuhan, saya nggak sengaja! Saya tadi—” Aruna panik, mencoba membantu memapahnya ke trotoar. “Kamu luka di mana? Harus ke rumah sakit?” Pemuda itu mendongak, dan untuk sesaat, mata mereka bertemu. Tatapan Aruna gemetar — ada campuran rasa bersalah dan gugup yang belum pernah ia rasakan. Sementara pemuda itu, meski kesakitan, sempat tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Bu. Saya cuma kaget aja. Lagi buru-buru kerja soalnya.” Suara itu ringan, tenang, dan entah kenapa membuat d**a Aruna terasa lebih sesak. Ia mengangguk cepat. “Saya antar kamu ke rumah sakit, ya. Saya yang tanggung semua biayanya.” Pemuda itu, Rangga, sempat menatapnya lama sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Oke, Bu... tapi jangan panik gitu, saya nggak separah itu kok.” Aruna berusaha tersenyum, tapi suaranya gemetar. “Tetap aja, saya merasa bersalah.” Mereka tiba di rumah sakit tak lama kemudian. Aruna terus menggenggam tas di dadanya, menunggu dokter memeriksa pemuda itu di ruang IGD. Setiap menit terasa begitu lama, membuat jantungnya tak tenang. “Luka di kaki kanannya cukup dalam,” kata dokter begitu keluar. “Butuh beberapa jahitan dan istirahat total minimal dua minggu. Tapi syukurlah, tidak ada patah tulang.” Aruna mengangguk cepat. “Semua biayanya saya tanggung, Dok. Tolong rawat dia sebaik mungkin.” Rangga menatapnya dari ranjang perawatan, bingung sekaligus sungkan. “Bu... saya beneran nggak apa-apa kok. Luka begini mah biasa, saya bisa rawat sendiri di rumah.” “Jangan keras kepala,” potong Aruna lembut tapi tegas. “Kamu harus istirahat dulu. Lagian... ini salah saya.” Rangga terdiam. Ada sesuatu dalam nada suara Aruna — lembut tapi penuh beban. Ia hanya bisa mengangguk pelan, lalu menatap langit-langit kamar. Aruna menatapnya sesaat, lalu berdiri di depan jendela, membiarkan cahaya sore masuk. Di luar, suara kendaraan samar-samar terdengar. Tapi pikirannya melayang ke rumah — pada Andre, pada amarahnya, pada luka yang tak pernah sembuh. Ia sadar, kepergiannya tadi bukan cuma karena marah. Ia ingin lari. Dari semuanya. Dan anehnya, pertemuan dengan pemuda yang bahkan belum ia kenal ini justru membuat hatinya sedikit tenang. “Nama kamu siapa?” tanyanya akhirnya, pelan. “Rangga, Bu. Rangga Pradipta.” “Rangga...” Aruna mengulang namanya perlahan, seolah mencoba mengingat. “Saya Aruna.” Rangga tersenyum samar. “Makasih ya, Bu Aruna. Udah repot-repot.” Aruna hanya menggeleng. “Nggak usah panggil saya ‘Bu’. Panggil aja Aruna.” Ia tersenyum kecil, tapi di matanya masih ada sisa sedih yang tak bisa disembunyikan. Rangga sempat terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya menuruti. “Baik... Aruna.” Suara itu begitu lembut, sampai membuat jantungnya berdegup pelan tanpa alasan. Sore berganti malam. Aruna baru sadar waktu sudah larut ketika perawat datang membawa obat dan menyarankan ia pulang. Namun Aruna tidak langsung pergi. Ia menatap wajah Rangga yang tertidur — polos, tenang, dan jauh dari semua kesempurnaan hidup yang selama ini ia kejar. Entah kenapa, ia merasa ingin memastikan pemuda itu baik-baik saja. Padahal, mereka baru saja bertemu hari ini. Padahal, ia bahkan tidak tahu siapa Rangga sebenarnya. Aruna menarik napas panjang. “Mungkin... Tuhan sengaja pertemukan aku sama kamu,” bisiknya pelan sebelum melangkah keluar. “Supaya aku tahu, hidup ini masih punya cara lain buat disembuhkan.” Dan malam itu, tanpa ia sadari, langkah kecil yang akan mengubah seluruh hidupnya baru saja dimulai.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
317.3K
bc

Too Late for Regret

read
345.4K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
147.5K
bc

The Lost Pack

read
457.9K
bc

Revenge, served in a black dress

read
156.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook