1. Hari sial yang tidak ada di kalender.
Perkenalkan, namaku Vanala Cantika. Aku seorang wanita yang tahun ini sudah genap berusia dua puluh enam tahun dan sedang merantau dari Bandung ke Jakarta. Abah dan Ambu masih berada di Bandung. Keduanya fokus dengan sawah yang mereka miliki sementara adikku Jojo masih menempuh pendidikan di salah satu universitas di Bandung. Aku adalah harapan dan permata dalam keluargaku yang sedang bekerja keras mencari nafkah ditengah-tengah kerasnya kehidupan ibukota dan ini adalah ceritaku....
“SAMPAH!” Pak Mahesa berucap dengan suara menggelegar sambil membanting printout proposal milik kami, kelima anak buahnya. "Typo bertebaran dimana-mana, konsep gak mateng. Proposal kayak gini yang kalian mau majuin ke klien?"
Aku spontan menahan nafas beberapa detik setelah mendengar kata yang bosku ucapkan barusan. Jelas hari ini aku harus lembur lagi. Aku sudah dua tahun ini bekerja bersama beberapa seniorku di divisi research and development Wiradilaga Restorante. Sebuah perusahaan yang bergerak di industri restoran yang sudah berdiri puluhan tahun dan berhasil mengembangkan berbagai jenis restoran dalam berbagai konsep, mulai dari konsep fine dining, casual dining, fast food, hingga café. Kami memiliki atasan yang merupakan anomali dari manusia normal.
Ya, Pak Mahesa adalah sebuah anomali dan anomali inilah yang memimpin divisi kami dengan otak cemerlangnya. Kenapa aku menyebut bosku sebagai anomali karena bosku, pria itu adalah bukti penyimpangan di dunia nyata. Aku dan keempat seniorku julukinya dengan Yang Mulia Tuan Mahesa karena titahnya yang tidak pernah bisa dibantah. Mendebat Pak Mahesa sama saja dengan bosan hidup. Sialnya Pak Mahesa selalu memiliki argumen yang tepat menjawab setiap argumen yang kami lemparkan kepadanya. Kalau kata Bang Rizal, Pak Mahesa memiliki otak jenius maka dari itu beliau selalu berhasil membalas setiap argumentasi kami dan selalu bisa menemukan apa yang tidak kami temukan. Tapi di luar julukan dari para seniorku, aku memberikan sebuah julukan tambahan yaitu Chaos Magnet karena dimana pun dan kapanpun bosku itu selalu berhasil mengundang kegaduhan yang mampu memporak-porandakan para anak buahnya.
Bosku itu sudah berusia tiga puluh lima tahun dan memiliki banyak penyimpangan. Penyimpangan pertama adalah hobinya ‘tantrum’ apa lagi saat menjelang libur kerja. Penyimpangan selanjutnya adalah Pak Mahesa sangat suka bekerja. Ia akan membahas pekerjaan dimana pun dan kapan pun membuat kami berlima memilih untuk menghindari pria itu diwaktu istirahat karena tidak ingin waktu istirahat kami menjadi ajang meeting dadakan. Penyimpangan lainnya adalah Pak Mahesa itu pembunuh suasana yang ulung. Suasana yang tadinya terasa begitu hangat dan menyenangkan bisa mendadak berubah menjadi terasa dingin karena satu ucapan yang keluar dari mulut Yang Mulia Tuan Mahesa. Suasana mendadak menjadi terasa mengenaskan.
“Gue mau revisi proposal kalian semua selesai besok pagi. Gue mau periksa ulang sebelum gue bawa ke meeting besok sore. Gue enggak mau bawa sampah ke meeting.”
Benar firasatku. Fix! Hari ini aku harus lembur LAGI!
“Well noted, Bos.” Ucap Mas Bimo cepat dan meeting pun berakhir. Kami kembali ke kubikel kami masing-masing dengan ekspresi lelah. Sudah jam pulang kerja tapi kami harus merevisi pekerjaan kami yang akan diperiksa besok pagi.
“Kalian denger sendiri tadi, kan? Mahesa nemuin missed di proposal-proposal kita jadi habis ini kita harus benerin proposal kita karena besok pagi Mahesa mau periksa lagi proposal kita.” Mas Bimo mengakhiri ucapannya dengan menghela nafas panjang.
“Kerja! Kerja, guys! Mari kita buat keajaiban dalam semalam! Semakin cepet kita kerjain semakin cepet kita pulang!” Mas Satria buka suara memecah keheningan.
“Pak Mahesa emang seneng banget sama project Roro Jonggrang. Gue mau pulang sekarang, Mas. Udah seminggu gue lembur. Badan gue udah pada sakit semua,” kataku dengan nada memelas.
“Umur boleh muda tapi badan lo udah macem kaum jompo, Va. Mending sekarang fokus kerjain kerjaan lo abis itu lo bisa pulang. Semakin cepet lo kerjain semakin cepet lo pulang atau kalo elo enggak sanggup pulang ya nginep aja di ruangan si Mahes.”
Aku hanya diam tidak menanggapi karena menginap di ruangan pribadi peristirahatan milik bosku akan selalu menjadi opsi terakhir karena Pak Mahesa tidak tau kalau kami menggunakan ruang istirahat pribadinya secara diam-diam. Mbak Retha yang merupakan staf terlama di divisi ini bercerita bahwa ruangan itu milik pendahulu Pak Mahesa yang akhirnya digunakan oleh Pak Mahesa karena di divisi kami berkejaran dengan divisi project sehingga tidak heran kami harus lembur untuk menyelesaikan setiap deadline yang kami miliki. Aku jelas pernah menginap di ruangan itu dan untungnya tidak pernah sekalipun Pak Mahesa memergokiku. Aku pun selalu menjalankan pesan Mas Bimo setiap menggunakan ruangan itu. Dilarang menggunakan kamar mandi di dalam ruangan itu dan bereskan ruangan itu kembali seperti sebelum aku menggunakannya. Tapi aku tidak pernah tidur tenang dalam ruangan itu. Aku takut sewaktu-waktu aku berpapasan dengan Pak Mahesa dan beliau memergokiku menggunakan ruangannya dan karena ketakutanku itu aku memilih pulang dan hanya akan menggunakan ruangan itu dengan kondisi sangat amat terpaksa saja.
Untuk menghindari menginap di ruangan pribadi milik Pak Mahesa, aku memilih untuk mulai fokus mengerjakan proposal milikku. Aku sangat bersyukur karena perusahaan tempatku bekerja adalah perusahaan besar yang menjadi idaman bagi banyak orang karena gaji yang kami dapatkan setimpal dengan usaha yang kami keluarkan. Aku dan teman-temanku memang sering lembur tapi lembur yang kami lakukan pun dibayar oleh perusahaan. Uang dari lemburan itu yang membuat pundi-pundiku yang tulang punggung keluarga ini semakin banyak dan akhirnya aku bisa memenuhi kebutuhanku dan keluargaku dikampung dengan baik.
Jam hampir menunjukan pukul dua belas malam dan aku baru selesai dengan proposal yang harus kuperbaiki ini. Keempat seniorku yang lain sudah menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing. Pulang lembur di jam sebelas malam, dua belas malam atau lebih adalah hal biasa bagi aku dan keempat temanku.
Biasanya aku akan langsung pulang ke kost namun kali ini aku memilih pulang ke apartemen Fandy yang jaraknya hanya dua puluh menit dari kantorku. Kami sudah hampir tiga tahun ini berpacaran dan saat ini Fandy berusia dua puluh delapan tahun. Kami sama-sama berasal dari Bandung dan dulu Fandy adalah kakak kelasku sewaktu aku SMA. Pacarku itu kini bekerja sebagai seorang fotographer di sebuah perusahaan yang bergerak di industri hiburan. Ia bekerja tanpa lelah hingga mampu memiliki sebuah apartemen.
Membahas Fandy membuat aku merindukan pacarku itu tapi sayangnya karena kesibukanku dalam bekerja akhirnya membuat kami jarang bertemu. Fandy sering mengeluh tentang padatnya pekerjaanku yang membuatnya kadang sulit bertemu denganku namun untungnya Fandy bisa mengerti kalau aku memang harus bekerja keras demi keluargaku. Kadang aku pun membantu Fandy ketika Fandy membutuhkan dana lebih untuk kebutuhan mendesaknya. Aku tidak keberatan. Aku dan Fandy menjalani hubungan serius dan tujuan akhir kami adalah pernikahan yang akan terlaksana kalau waktunya sudah tiba.
Aku sudah sering ke apartemen Fandy. Gaya pacaran aku dan Fandy normal. Berpelukan dan berciuman adalah hal yang normal tapi untuk melakukan kegiatan yang lebih dari itu, aku belum seyakin itu memberikan diriku seutuhnya pada Fandy walau Fandy kadang berusaha meminta lebih tapi hatiku masih tidak yakin dan untungnya Fandy mengerti. Aku datang ke apartemen milik pacarku di saat pria itu pergi tugas ke luar kota atau pulang kampung. Aku akan tinggal di apartemen Fandy untuk memastikan apartemen milik kekasihku itu tetap rapih dan bersih dan tadi pagi Fandy memberi kabar kalau ia pergi tugas ke luar kota dan biasanya aku akan datang keesokan harinya untuk mengecek apartemen milik Fandy.
Karena jaraknya yang jauh lebih dekat dari kantorku jadi alih-alih pulang aku memilih mendatangi tempat tinggal Fandy toh Fandy sedang tugas keluar kota. Dengan menaiki taksi dengan voucher yang aku dapat dari kantor, aku sampai di apartemen milik Fandy. Aku membuka pintu apartemen Fandy dengan kunci yang aku miliki dan tubuh lelahku mendadak menegang mendengar suara lenguhan seorang wanita yang jelas terdengar dengan kedua telingaku ini. Suara apa barusan? Apa ada setan? Tapi emang beneran setan itu ada? Setan yang aku tau ya Pak Mahesa itu. Hehehe... Skip.
Suara itu terdengar lagi dan aku tidak bodoh mengartikan suara itu. Kedua alisku spontan berkerut menangkap ada sebuah sepatu heels wanita berada di dalam apartemen milik Fandy. Apa mungkin ada orang lain yang mendatangi apartemen Fandy? Otakku mendadak sibuk dan aku yakin betul Fandy memberi kabar kalau ia akan pergi keluar kota hari ini meski Fandy belum menyebutkan ke kota mana ia pergi tapi bagaimana bisa orang itu malah menggunakan apartemen orang lain untuk berbuat m***m?