7. Rencana menyelamatkan dunia ala Mahesa

1200 Kata
"Mohon maaf, maksudnya gimana, Pak?" Berhadapan dengan Pak Mahesa memang tidak pernah mudah. Kalau pekerjaan selesai dengan baik pun pria itu akan memberikan pekerjaan baru dengan segala kerumitan yang ia inginkan. Entah dosa besar apa yang sudah aku lakukan sampai-sampai aku mengalami kesialan yang beruntun seperti ini. Seakan hidup belum puas melihatku berada diposisi yang menyedihkan kini aku harus berpikir keras memecahkan teka-teki yang diucapkan oleh Yang Mulia Tuan Mahesa barusan. Pak Mahesa berdecak sementara otakku masih tidak mengerti maksud ucapan pria dihadapanku ini. “Saya gak paham sama maksud bapak sebaliknya itu gimana? Bapak tidak ingin saya mengatakan yang sebenarnya?” tanyaku dengan nada bingung yang jelas terdengar. Pak Mahesa malah tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya dengan gerakan tegas. Aku langsung mengerutkan alis. “Lalu saya harus diam saja?” Ekspresi Pak Mahesa berubah menjadi datar. “Untuk apa kamu ketemu orang tua saya kalau kamu hanya diam saja, Vanala. Tentu kamu harus bicara dan saya mau kamu mengakui kalau kamu memang pacar saya dan kita akan segera menikah. Itu rencana saya.” Dannnn tidak perlu waktu lama untukku memasang ekspresi kaget dengan membulatkan kedua bola mataku karena mendengar ucapan Pak Mahesa barusan. “Bapak mau saya jadi pacar pura-pura bapak di depan orang tua bapak gitu? Bapak kebanyakan nonton sinetron, baca novel atau gimana, Pak?” Pak Mahesa meletakkan dua cangkir kopi di meja lalu satu jentikan jari Pak Mahesa mendarat di dahiku membuatku spontan meringis. “Aduh! Maaf, Pak.” “Hari sabtu kamu ada janji dengan pacar kamu?” Pertanyaan Pak Mahesa sukses membuat aku mendadak kesal mengingat kelakukan Fandy dan Lena. “Saya jomblo, Pak.” Jawabanku membuat Pak Mahesa mengerutkan alisnya, “Jomblo? Bukannya kamu punya pacar yang sering kamu gosipin ke temen-temen berisik kamu itu?” Rasanya aku ingin sekali mengkoreksi ucapan bosku. Gosip? Cerita kali pak bukan gosip. Cerita sama gosip beda trayek. Tapi jelas aku tidak berani melakukannya. “Baru tadi malam saya resmi jomblo, Pak.” Yang Mulia Tuan Mahesa menaikkan sebelah alisnya mendengar jawabanku membuatku menahan diri untuk tidak mendengus karena reaksinya itu. Aku sadar kadang aku bersikap kurang ajar pada atasan tapi aku melakukan itu pun karena ulah atasanku sendiri yang jelas diluar nalar tapi sebisa mungkin aku menjaga sikap agar tidak kelepasan bersikap kurang ajar. “So, congratulations. You start in relationship with me now, Vanala Cantika.” Dengusan yang sedari tadi aku tahan tanpa sadar lepas juga. Aku mendengus karena ditelingaku ucapan Yang Mulia Tuan Mahesa barusan jelas sebuah ejekan dan pria itu malah terkekeh. Fix, orang ini sakit. “Jangan marah. Saya sungguh tidak bermaksud mengejek kamu. Hari sabtu saya akan jemput kamu dan kita sama-sama bertemu dengan kedua orang tua saya tapi sebelum itu lebih baik kita pikirkan bagaimana alur cerita yang masuk akal sehingga rencana saya menjadikan kamu sebagai pacar saya berjalan dengan lancar.” Pak Mahesa memasang ekspresi serius sambil menyeruput kopi yang ia buat, “Anggap saja ini rencana menyelamatkan dunia. Dunia saya dan dunia kamu karena kalau sampai kejadian tadi pagi tersebar pasti kamu dan saya dalam masalah.” “Bapak hiperbola banget. Enggak akan ada yang tau kejadian tadi pagi kalau─” “Wanita itu adik saya dan adik saya sudah bilang ke kedua orang tua saya kalau saya punya pasangan kamu. Kamu pikir orang tua saya akan diam saja kalau tau yang sebenarnya? Menurut kamu Mama saya akan paham kalau kamu mengatakan alasan kamu yang sebenarnya muncul dari ruang istirahat saya?” Pak Mahesa menatapku dengan ekspresi serius. “Mama saya tidak akan tinggal diam dan jelas kalau sampai ini terdengar karyawan lain bisa jadi skandal, Vanala. Ini yang saya hindari.” Aku menghela nafas berat. “Tapi, Pak. Saya enggak tertarik untuk berbohong. Kalau saya harus bertemu dengan orang tua bapak maka saya akan mengatakan yang sebenarnya. Saya dan bapak tidak ada hubungan apapun.” Pak Mahesa meletakkan cangkir kopinya lalu bersedekap menatap lurus ke kedua bola mataku. “Kejujuran kamu bisa membuat saya dalam masalah besar. Anggap rencana ini sebuah perjanjian kita bersama demi kebaikan kita masing-masing atau kamu mau saya disidang sama orang banyak karena kejadian kamu muncul dari ruang istirahat pribadi saya pagi-pagi? Kamu mau buat saya punya skandal sama karyawan di kantor begitu?” Aku menatap Pak Mahesa dengan ekspresi malas, “Terlalu hiperbola, Pak. Enggak akan jadi skandal kalo dijelasin semuanya baik-baik. Saya minta maaf atas apa yang terjadi tadi pagi dan alasan saya bisa keluar dari ruangan pribadi bapak tadi pagi karena semalam saya menginap dikantor dan menggunakan ruangan pribadi bapak untuk istirahat. Saya memergoki pacar─ maksud saya mantan saya berselingkuh dan saya memilih untuk menginap di kantor karena dari apartemen mantan saya. Lokasinya lebih dekat kalau saya kembali ke kantor dari pada saya pulang ke kost karena saya sudah terlalu lelah.” Ekspresi malasku seakan menular pada wajah Pak Mahesa, “Lalu kamu pikir orang dengan mudah percaya alasan kamu? Kamu bisa jamin kalau rencana kamu bisa berjalan dengan baik sementara ada saksi mata yang melihat kamu keluar dari ruang istirahat pribadi saya, Vanala.” Aku hanya diam memikirkan ucapan Pak Mahesa barusan. Jelas aku tidak bisa menjamin kalau orang lain percaya dengan penjelasanku mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada yang bisa mengatur isi kepala orang lain mengenai apa yang mereka pikirkan terlebih ada saksi mata yang memang melihat aku keluar dari ruang istirahat pribadi Pak Mahesa. Hal ini jadi semakin rumit. “Jalan satu-satunya hanya mengakui apa yang sudah terjadi dari pada mengatakan yang sebenarnya. Kamu sendiri pun mendapat keuntungan dari perjanjian kita ini. Kamu yang baru jomblo auto dapet pasangan yang high quality macem saya. Saya yakin mantan kamu enggak sebanding dengan saya, Vanala.” Jikalau ada kontes pria dengan rasa percaya diri yang tingginya, aku yakin Pak Mahesa akan memenangkan kontes itu karena pria ini memiliki rasa percaya diri yang tingginya itu setinggi gunung Everest. Aku pun memilih berdiri membuat Pak Mahesa menatapku dengan alis berkerut, “Mau kemana kamu?” “Maaf, Pak. Saya tidak bisa. Saya tidak mau berbohong sama orang tua bapak─” “Duduk.” Ekspresi Pak Mahesa kembali datar. “Kalau kamu tidak mau ikut dalam rencana saya maka hanya ada satu jalan. Silahkan keluar dari Wiradilaga. Saya tidak mau memiliki skandal apapun dengan rekan kerja dan jelas disini kamu yang bersalah jadi silahkan ajukan surat resign kamu kalau kamu tidak mau menjalankan apa yang saya ucapkan.” Tubuhku menegang. Aku jelas tidak menduga Pak Mahesa akan mengatakan perkara resign hanya karena kejadian tadi pagi. Aku pikir sebuah kata maaf dan kejujuran bisa menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi tapi nyatanya Pak Mahesa tidak membahas mengenai alasanku sama sekali. Aku dan Pak Mahesa saling menatap satu sama lain. “Pikirkan baik-baik dulu lalu setelah itu kamu beri tau saya jawabannya. Keputusan sepenuhnya ada ditangan kamu, Vanala. Kamu bisa memilih mau mengikuti rencana saya dan kamu bisa tetap bekerja dengan nyaman atau kamu bisa memilih untuk tetap bersikukuh dengan rencana kamu tapi kamu harus resign dari kantor karena saya tidak mau ada skandal apapun di kantor. Saya tidak bisa mengontrol isi kepala orang lain dengan kejujuran kamu. Yang kamu ucapkan memang kenyataan yang terjadi tapi orang lain belum tentu percaya dan apa yang ada di dalam kepala mereka bisa membuat karir saya terancam.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN