9. Dealing with Mahesa

1035 Kata
Aku duduk di dalam mobil Range Rover milik Pak Mahesa. Jelas ini bukan pertama kalinya aku menaiki mobil milik Pak Mahesa. Aku dan para seniorku pernah menaiki mobil ini saat kami pergi bersama dengan Pak Mahesa untuk makan bersama karena traktiran Pak Mahesa karena kesuksesan pekerjaan kami yang membuat moodnya melambung tinggi. Namun kali ini untuk pertama kalinya aku menaiki mobil ini hanya berdua dengan Pak Mahesa dan bukan untuk membahas masalah pekerjaan atau traktiran Pak Mahesa karena pekerjaan kami luar biasa sukses. Tidak ada percakapan apapun diantara aku dan Pak Mahesa selama dalam perjalanan. Mobil yang dikendarai Pak Mahesa menuju sebuah restoran yang tidak asing bagi kami. Pak Mahesa sering membawa aku dan seniorku ke sana karena jaraknya yang tidak jauh dari kantor dan pilihan makanan yang cukup beragam. Aku keluar dari mobil mengikuti Pak Mahesa begitu kami sampai. Kami duduk di sebuah meja kosong dan untungnya suasana hari ini tidak begitu ramai sehingga kami bisa berbicara dengan nyaman. “Kita pesan makan dulu. Kita perlu makan supaya bisa menyusun rencana kesepakatan dengan baik.” Jelas aku hanya mengangguk. Hingga saat ini sesungguhnya batinku masih berperang karena aku tau ini salah. Aku takut kalau semua jadi berantakan karena pada dasarnya tidak ada apapun diantara aku dan pria dihadapanku saat ini. “Saya mau pesan steak. Kamu mau steak juga?” Jelas tawaran Pak Mahesa membuat aku dengan cepat menatap pria itu dan menganggukkan kepalaku dengan antusias membuat Pak Mahesa memasang ekspresi datar. Steak adalah makanan kesukaanku. Jojo mengatakan bahwa aku termasuk pada golongan karnivora karena hal ini. Aku mampu makan steak setiap hari tanpa bosan tapi sayangnya harga steak tidak ramah bagi kantongku sehingga aku harus pandai-pandai menahan diri. Namun kali ini, aku yakin Pak Mahesa menjadi donatur untuk makan malam kami kali ini. “Gak usah bikin saya malu, Vanala. Kamu makan steak aja sampe merem melek begitu.” Dasar perusak kesenangan sejati! Aku mendelik sebal menatap Pak Mahesa yang sedang menganggu kesenanganku yang sedang meresapi betapa nikmatnya steak yang sedang berada di dalam mulutku saat ini. Aku berusaha keras mengabaikan Pak Mahesa dan berfokus menikmati steak yang menjadi makan malamku saat ini sebelum membahas rencana menyelamatkan dunia ala Pak Mahesa. “Karena kamu sudah sepakat menyetujui rencana saya. Saya ingin kita sepakat mengenai skenario hubungan kita. Saya sudah memikirkan mengenai skenario awal kebersamaan kita dan akan lebih meyakinkan kalau kita pakai cerita kalau kamu mengejar-ngejar saya sejak kamu masuk ke Wiradilaga lalu akhirnya saya luluh dan menerima kamu asal kamu bersedia merahasiakan hubungan kita karena saya tidak mau sampai orang kantor tau.” Pak Mahesa berhenti berbicara sambil menatap menerawang ke sembarang arah memasang ekspresi serius seakan sedang memikirkan rencananya. Aku jelas melongo mendengar ucapan Pak Mahesa. Aku menangkap gambaran diriku yang tidak tau malu mengejar-ngejar sosok Mahesa sesuai dengan apa yang pria itu jelaskan tadi. Aku bergidik ngeri membayangkan itu semua terjadi karena aku tidak pernah mengejar-ngejar seorang pria. Selama ini pria yang mengejarku bukan sebaliknya. Aku cukup bersyukur karena dikaruniai wajah yang cantik khas wanita sunda. Kulitku bersih terawat karena Ambu selalu menekankan pentingnya merawat diri karena aku adalah seorang wanita. “Mama saya tidak akan percaya dengan skenario kalau saya yang mengejar-ngejar kamu karena mama saya tau dari dulu saya selalu dikejar-kejar wanita bukan sebaliknya sehingga cerita saya mengejar kamu akan benar-benar terdengar palsu karena itu tidak pernah terjadi. Saya bisa bilang akhirnya saya tertarik sama kegigihan kamu dan akhirnya kamu menjadi wanita yang menarik dimata saya dan anggap saja itu adalah kelebihan kamu diantara wanita lainnya.” Pak Mahesa bicara panjang lebar sendirian sementara aku hanya diam. Gambaran aku dalam skenario yang dibuat Pak Mahesa jelas bukan diriku. Mendadak wejangan Abah untuk selalu jujur dalam hal apapun muncul dalam benakku. Aku takut memikirkan apa aku bisa memaikan peran yang diatur Pak Mahesa dengan baik sampai kedua orang tua Pak Mahesa tidak menyadari kebohongan kami? “Vanala...” Suara Pak Mahesa membuyarkan lamunanku. Pak Mahesa sedang menatapku lekat ketika pandangan kami bertemu. Pak Mahesa menatapku dengan ekspresi serius disaat aku masih tidak yakin dengan keputusanku ini tapi sialnya tidak ada jalan lain. “Bagaimana menurut kamu?” Aku menghela nafas pendek mendengar pertanyaan Pak Mahesa. Memangnya aku masih punya pilihan? Jelas tidak ada. “Saya ikut rencana bapak saja karena saya yakin bapak yang lebih tau bagaimana kedua orang tua bapak dan apa yang harus dilakukan agar mereka percaya.” Pak Mahesa menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju, “Kamu benar. Kedua orang tua saya tidak mudah dibohongi maka dari itu kita harus benar-benar mempersiapkannya dengan baik. Kita punya waktu tiga hari untuk saling mengenal satu sama lain. Kamu harus paham semua hal tentang saya karena satu kesalahan kecil bisa membuat kedua orang tua saya tau kalau semua ini hanya pura-pura dan jelas kita akan ada dalam masalah besar.” Pak Mahesa memasang ekspresi serius dan aku mengangguk sebagai tanda paham, “Pertama kita harus mengenal satu sama lain. Saya sudah lama tidak berhubungan dengan wanita─ Jangan salah paham.” Pak Mahesa menjeda ucapannya melihat ekspresi kagetku. “Saya tidak berhubungan dengan wanita bukan artinya saya berhubungan dengan pria. Saya adalah pria normal yang menyukai wanita.” Dan saya gak percaya, Pak. Kalo normal pasti Bapak bakal punya pasangan soalnya cewek cantik mah banyak. “Paham, Pak.” “Bagus. Kalau kamu, kenapa kamu putus sama pacar kamu kemarin? Kita harus buat skenarionya berbeda. Kamu tidak boleh bilang sama orang tua saya kalau kamu baru kemarin putus sama pacar kamu. Saya bisa dimarahin karena dipikir merebut kamu dari pacar kamu padahal tidak. Sebelum itu terjadi lebih baik kamu ceritakan alasan kamu putus dan kita atur bagaimana skenario yang tepat sebelum bertemu dengan kedua orang tua saya.” Aku hanya diam membiarkan Pak Mahesa berbicara panjang lebar. Aku sendiri sibuk dengan isi kepalaku memikirkan setiap ucapan Pak Mahesa yang terasa benar tapi juga salah. Semua ini salah tapi tidak ada jalan lain. “Saya ajak kamu ke sini untuk diskusi, Vanala. Kita harus susun skenario yang sempurna dan untuk mendapatkan skenario yang sempurna jelas kamu harus mau saya ajak kerjasama. Kamu perlu jujur mengenai alasan kamu dan pacar kamu putus supaya saya bisa susun rencana dengan sempurna tanpa celah cacat. Alasan kamu putus itu jelas penting untuk saya ketahui.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN