“Pacar saya selingkuh dengan teman dekat saya.” Aku menjeda ucapanku untuk menarik nafas dalam, “Kemarin malam saya memergoki mereka berdua sedang melakukan hubungan badan lalu alih-alih pulang ke kost saya kembali ke kantor and the rest of story, saya yakin bapak masih ingat bagaimana bapak melihat saya keluar dari ruang istirahat pribadi bapak.”
Keheningan tercipta diantara aku dan Pak Mahesa. Aku memilih menundukkan kepala dan berusaha tersenyum agar tidak terlihat menyedihkan. Awalnya aku baik-baik saja tapi sialnya membicarakan perselingkuhan Fandy dan Lena pada orang lain membuat hatiku mendadak tidak nyaman.
“Saya bingung harus bilang apa.”
Aku mengangkat pandanganku menatap Pak Mahesa. Ekspresi pria itu tidak dapat k****a namun dari ucapannya barusan, Pak Mahesa kehilangan kata-katanya.
“Bapak sudah tau alasan saya putus dan saya rasa alasan itu bisa dipakai jika saya ditanya kenapa saya putus dengan pacar saya. Mungkin waktu putusnya saja yang harus diubah.”
Pak Mahesa menatapku lekat. Kami bertukar pandang. Entah apa yang dipikirkan atasanku itu saat ini karena aku tidak memiliki kekuatan membaca pikiran. Mungkin saja dia sedang mengasihani aku dalam pikirannya atau bisa juga sebaliknya tapi apapun yang pria itu pikirkan aku tidak peduli. Hubunganku dan Fandy sudah selesai begitu juga pertemananku dengan Lena. Aku tidak lagi memiliki ikatan apapun dengan kedua pengkhianat itu. Pengkhianat memang cocok dengan pengkhianat dan aku jelas bukan bagian dari mereka sehingga aku harus menjauhi mereka.
“Baiklah. Kita bisa pakai alasan itu. Timeline waktu pacaran kita, enam bulan kamu deketin saya dan enam bulan kita pacaran. Timeline itu cocok dengan waktu kamu bekerja di kantor. Seingat saya kamu sudah bekerja di Wiradilaga selama dua tahun dan kamu harus jomblo mulai satu tahun sebelum deketin saya.”
Otakku mencoba mencerna ucapan Pak Mahesa. Kalau satu tahun ini aku berfokus pada Pak Mahesa lalu satu tahun sebelumnya aku jomblo maka jika dihubungkan dengan kenyataan hubunganku dengan Fandy tidak pernah ada.
“Jangan mencampur adukan skenario yang saya buat dengan kenyataan. Kamu harus fokus pada skenario yang saya buat. Kamu harus mendalami peran, Vanala.”
Aku meringis karena ketahuan. Entah bagaimana Pak Mahesa bisa dengan mudahnya membaca isi kepalaku. “Saya khawatir kalau orang tua─”
“Orang tua saya akan percaya asal kamu tidak melakukan kesalahan maka dari itu kamu perlu mendalami peran yang akan kamu jalani nanti.” Pak Mahesa berucap dengan nada serius.
Aku pun mengerutkan kening mencoba mencerna ucapan atasanku ini, “Bagaimana cara mendalami peran yang bapak maksudkan?” Aku bertanya dengan nada bingung dan sedetik kemudian mataku membulat ketika tanganku yang sedang berada diatas meja tiba-tiba digenggam oleh Pak Mahesa. Aku menatap horor tangan Pak Mahesa yang sedang mengenggam erat tanganku lalu detik berikutnya aku menatap pria yang ada dihadapanku.
“Pak─” Aku menarik tanganku yang digenggam Pak Mahesa namun pria dihadapanku ini menahannya.
“Mulai hari ini kita harus belajar melakukan apa yang biasanya pasangan lakukan. Pegangan tangan atau skinship lainnya. Kita lakukan hal yang umum yang orang pacaran lakukan.” Pak Mahesa melepaskan tanganku membuatku spontan menarik tanganku dan meletakkannya diatas pangkuanku sendiri.
Aku tau Pak Mahesa gila terbukti dengan ide gilanya namun kegilaan Pak Mahesa ternyata lebih dahsyat dari dugaanku.
“Kita harus sama-sama terbiasa, Vanala. Selain itu kita harus saling berbagi informasi mengenai apa yang kita suka dan apa yang tidak kita sukai. Ini bagian dari skenario semakin kita mengenal satu sama lain maka semakin meyakinkan peran yang kita jalani dan kita hanya punya waktu tiga hari karena sabtu saya harus membawa kamu bertemu dengan kedua orang tua saya.”
Aku mendadak takut, “Sabtu ini banget ketemunya, Pak? Enggak bisa diundur aja biar persiapannya lebih mateng gitu? Saya waktu kuliah aja kampus kasih waktu tenang buat belajar itu seminggu loh, Pak.”
Pak Mahesa menggeleng tegas, “Semakin cepat skenario berjalan akan semakin baik karena saya tidak mau menundanya lagi.”
Semua terasa salah dan tidak pernah terpikir aku akan duduk di dalam mobil Range Rover milik Pak Mahesa dengan situasi dan kondisi yang aneh seperti ini. Aku sepakat menjalankan rencana gila Pak Mahesa. Dalam hatiku berperang antara takut karena akan berbohong dan takut kehilangan pekerjaan. Tapi sialnya situasi dan kondisiku membuat diriku harus memilih mengikuti rencana Pak Mahesa demi menjaga semuanya baik-baik saja.
“Mulai besok kamu harus cari kost yang jaraknya lebih dekat ke kantor. Kamu itu kurang kerjaan atau gimana cari kost yang jaraknya jauh begini,” ucap Pak Mahesa dengan nada terdengar kesal di telingaku.
Aku pun menoleh menatap Pak Mahesa yang fokus mengemudi. Aku memberikan alamat kostku dan Pak Mahesa mengantarku pulang dengan alasan sebagai pacar ia harus tau dimana aku tinggal untuk menyempurnakan skenario kami dan aku jelas hanya bisa menurut. Untungnya jalan tol malam ini cukup lengang. Biasanya aku menggunakan transportasi umum atau voucher taksi yang diberikan kantor namun bersama dengan Pak Mahesa, beliau memilih menggunakan akses jalan tol agar lebih cepat sampai.
“Tapi kost saya itu harga dan ukurannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan saya, Pak. Kost dekat kantor itu mahal-mahal. Saya enggak sanggup kalau harus bayar sewanya.”
Pak Mahesa menoleh ke arahku sesaat dengan alis berkerut. “Rizal juga kost deket kantor dan seingat saya Rizal pernah cerita kalau harga kostnya terjangkau. Gaji dan uang lemburan yang kalian dapat selama ini lebih dari cukup untuk membayar uang kost dekat-dekat kantor.”
“Setiap orang punya kebutuhan dan kemampuan yang berbeda-beda, Pak. Kalau Bang Rizal mampu ngekost deket area kantor belum tentu dengan saya, begitu juga sebaliknya. Kadar mampu tiap orang berbeda-beda.”
Aku mendadak bijak karena aku malas menjelaskan kemana saja larinya seluruh pundi-pundi yang ku hasilkan dari kantor tempatku bekerja selama ini. Pak Mahesa adalah orang luar yang tidak perlu tau seluruh detail tentang kehidupanku. Mengetahui alasan aku dan Fandy putus saja sudah sangat berlebihan untuk hubungan kami yang hanya sebatas rekan kerja. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam aku mengalami banyak hal yang membuatku mendadak sakit kepala.
“Besok cari kost yang dekat kantor. Saya enggak mau anter jemput kamu sejauh ini setiap hari. Pekerjaan saya sudah banyak. Jangan bikin saya harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam buat anter jemput kamu.”
Aku merotasi bola mataku dengan gerakan malas. “Yang minta dianter jemput─”
“Totalitas, Vanala. Kamu sudah setuju ikut rencana saya jadi jangan setengah-setengah. Kalau kamu tidak ingin orang tua saya sampai tau skenario yang kita buat maka semua harus dilakukan dengan totalitas. Mulai besok cari kost dekat kantor. Kabari saya sebelum kamu pindah karena saya yang akan antar jemput maka saya yang menentukan dimana kostannya.”
Totalitas ceunah! Cuma nentuin dimananya aja, Pak? Gak mau bayarin sekalian? Jadi laki kok ribet amat!