15. Resmi jadi pacar pura-pura

1280 Kata
Totalitas Pak Mahesa memang luar biasa hebat. Semalam setelah membersihkan diri lalu menata baju-bajuku ke dalam lemari dalam kamar utama yang aku akan tempati, Pak Mahesa mengirimkan sebuah catatan yang isinya mengenai semua hal tentang dirinya. Mulai dari data pribadi seperti tanggal lahir, riwayat pendidikannya hingga nama seluruh anggota keluarganya. “Baca catatan yang saya kirimkan dengan teliti. Catatan itu berguna saat kamu bertemu dengan kedua orang tua saya dan mulai besok kamu harus ubah panggilan kamu saat kita hanya berdua. Anggap sebagai latihan supaya kamu tidak keceplosan salah panggil saat kita bertemu dengan kedua orang tua saya. Orang tua saya akan curiga kalau kamu terus-terusan salah memanggil saya.” Aku pun membaca catatan yang Pak Mahesa kirimkan dengan seksama dan dari catatan itu aku sadar kalau aku tidak benar-benar mengenal atasanku itu. Seluruh informasi dalam catatan itu benar-benar membuatku sadar kalau atasanku itu sangat tertutup soal urusan pribadinya dan yang hanya aku ketahui hanya tanggal lahirnya karena kami sebagai bawahan yang baik merayakan ulang tahun atasannya dan hanya tau kalau pria itu adalah lulusan dari universitas yang sama denganku lalu melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Itu pun aku baru tau kalau luar negeri yang dimaksud adalah Jerman. Aku berusaha mengingat dengan baik semua informasi yang diberikan oleh Pak Mahesa karena waktu bertemu dengan kedua orang tua Pak Mahesa yang semakin dekat dan sesungguhnya aku takut kalau nanti aku melakukan kesalahan dan akhirnya semua rencana Pak Mahesa berantakan karena kesalahan yang aku lakukan. “Pak, Bagaimana kalau saya melakukan kesalahan?” Aku bertanya sambil menatap lekat Pak Mahesa yang dengan santai menyantap makan malamnya dihadapanku saat ini. Aku tidak pernah membayangkan makan malam bersama dengan Pak Mahesa selama beberapa hari berturut-turut dengan situasi yang berbeda. Bukan karena pekerjaan tapi urusan pribadi kami yang rumit. Pak Mahesa mengalihkan pandangannya dari makanan yang ada dihadapannya menuju kedua bola mataku. Sungguh saat ini aku tidak yakin dengan apa yang akan kami lakukan besok. YA! BESOK! Aku akan bertemu dengan orang tua Pak Mahesa besok dan aku takut. “Semua akan baik-baik saja kalau kamu sudah menghafalkan informasi yang saya berikan. Kamu hanya perlu mendalami peran. Ingat saya ini pacar kamu dan kita sudah dekat selama satu tahun terhitung dari pendekatan sampai dengan kita pacaran saat ini.” “Saya─ Tidak yakin.” Pak Mahesa meletakkan alat makannya dan menatapku lekat. “Tidak ada jalan mundur, Vanala. Kedua orang tua saya sudah tau kamu akan datang ke rumah besok.” Aku menghela nafas panjang sambil menatap makan malamku dengan ekspresi tanpa minat. “Kamu masih mau melanjutkan makan malam kamu?” Aku spontan mengangkat kepala menatap Pak Mahesa dan menggelengkan kepala. Nafsu makanku menguap. Isi kepalaku saat ini mendadak penuh dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi saat aku dan Pak Mahesa menjalankan skenario yang Pak Mahesa buat dan sialnya segala sesuatu yang terpikirkan olehku saat ini adalah semua yang buruk. “Lebih baik kamu istirahat. Saya yang akan bereskan makan malam hari ini. Besok pagi saya akan jemput kamu jam delapan pagi.” Aku memilih menuruti ucapan Pak Mahesa dan mengucapkan terima kasih sebelum pamit meninggalkan atasanku itu untuk menuju kamar. Aku melangkah menjauh namun sebelum masuk ke kamar Pak Mahesa kembali memanggilku. “Tidak perlu berpikir terlalu jauh. Pakai pakaian yang menurut kamu pantas dan kamu nyaman memakainya. Yang paling penting, kamu ingat informasi tentang diri saya yang sudah saya kasih ke kamu. Fokus ke saya dan ingat kalau kamu sekarang pacar saya lalu jadi diri kamu sendiri, Vanala. Biar saya yang memikirkan sisanya.” Keesokan harinya Pak Mahesa benar-benar melakukan apa yang ia ucapkan. Pak Mahesa datang menjemput tepat jam delapan pagi. Pak Mahesa duduk di sofa dalam apartemen membuatku terkejut luar biasa ketika membuka pintu kamar. “Kamu belum mengganti kode akses pintu karena itu saya bisa masuk menggunakan kode akses yang lama.” Aku meruntuki keteledoranku sambil melangkahkan kaki menuju kulkas untuk mengambil sebotol air mineral, “Saya memang belum sempat untuk ganti tapi kalau dipikir-pikir gak diganti juga enggak apa-apa juga. Saya jadi enggak perlu repot-repot buka pintu kalau bapak dateng kayak pagi ini.” Pak Mahesa yang tadinya duduk kini sudah berdiri tidak jauh dariku yang sedang meminum air mineral yang kuambil dari dalam kulkas. Aku melihat Pak Mahesa sedang menilai penampilanku dari atas ke bawah membuatku memasang ekspresi bertanya. “Kamu terlihat berbeda dengan pakaian santai seperti ini.” Pak Mahesa tersenyum ganjil diakhir kalimatnya membuatku mengerutkan alis. Itu barusan pujian atau sindiran? “Apa terlalu santai? Saya perlu ganti?” Aku mulai ragu dengan kaos polo berwarna putih yang aku padukan dengan celana jeans berwarna biru. Pak Mahesa menggelengkan kepal, “Tidak perlu ganti. Sudah pas. Sesuai yang saya bilang kemarin cukup jadi diri kamu sendiri. Bisa kita berangkat sekarang?” Aku meletakkan botol air minum ke atas meja dan menganggukkan kepala dengan cepat. Aku mengambil tasku dan kami pun meninggalkan apartemen menuju rumah kedua orang tua Pak Mahesa. Jangan ditanya bagaimana gugupnya aku saat ini. Aku gelisah sepanjang perjalanan dan tanganku mendadak dingin dan saat mobil yang Pak Mahesa kendarai memasuki sebuah rumah yang luar biasa besarnya, aku mendadak merasakan perutku melilit dan semakin terasa ketika Pak Mahesa mematikan mesin mobil yang sudah terparkir rapih bersebelahan dengan mobil yang aku tau begitu fantastis harganya. “Pak, ini rumah kedua orang tua, Bapak?” Aku bertanya dengan nada panik dan takut yang bercampur menjadi satu sambil mengitarkan pandanganku ke sekeliling lalu menatap Pak Mahesa. Pak Mahesa dengan santainya menganggukkan kepala. “Muka kamu pucat. Apa─” “Pak, saya gak yakin. Saya takut kalau orang tua bapak─” “Mas Esa. Ingat panggil saya Mas Esa hari ini.” “Tapi─” “Saya sudah bilang sama kalau sudah tidak ada jalan untuk mundur semenjak kamu menerima tawaran saya.” Pak Mahesa berucap dengan nada serius. “Saya takut dan perut saya sekarang melilit,” ucapku dengan suara pelan karena takut. Pak Mahesa menghela nafas perlahan, “Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Kedua orang tua saya pasti senang bertemu dengan kamu dan yang perlu kamu lakukan adalah bersikap seperti seorang pacar dan ingat informasi yang sudah saya kasih ke kamu.” “Tapi─” “Kalau kamu bingung jawabnya, kamu lihat ke saya. Saya yang akan menggantikan kamu. Kamu paham?” Pak Mahesa menatapku lekat dan entah bagaimana aku menganggukkan kepala. Entah bagaimana pancaran mata Pak Mahesa membuatku merasa tenang. “Kita keluar saat kamu sudah merasa siap.” Tanpa sadar aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Sikap Pak Mahesa beberapa menit belakangan entah bagaimana bisa memberikan efek aneh pada perutku yang tadinya melilit mendadak lebih baik. Aku pun memutuskan untuk keluar dari dalam mobil dan Pak Mahesa pun langsung keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu mobil untukku layaknya adegan di film-film. Pak Mahesa berdiri disebelahku dan mengenggam erat tanganku membuatku menatap tangan kami yang saling bertaut lalu menatap pria yang berdiri disebelahku saat ini. Pak Mahesa tersenyum padaku lalu berkata, “Ingat yang sudah kita bicarakan dan cukup jadi diri kamu sendiri. Kalau kamu tidak bisa jawab, cukup lihat saya dan saya yang akan ambil alih pertanyaan itu. Kamu paham, Vanala?” Aku mengangguk tegas sebagai tanda mengerti dan kami pun melangkah menuju pintu rumah yang luar biasa besar itu. Jelas Pak Mahesa bukan berasal dari keluarga biasa-biasa saja setelah melihat bagaimana megahnya tempat tinggal kedua orang tuanya saat ini. Rumah tempatku berada saat ini lebih tepat dikatakan sebagai istana dibandingkan sebuah rumah. Pintu besar itu terbuka ketika langkah kami sampai tepat di depannya lalu seorang wanita paruh baya yang jelas kuingat wajahnya itu muncul dari balik pintu membuatku terkejut bukan main hingga aku mengalihkan pandanganku ke arah Pak Mahesa yang ada disisiku saat ini. “Aku akan jelasin sama kamu tapi nanti.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN