13. Pemanasan

1195 Kata
“Barang-barang kamu cuma itu aja?” Aku menatap ke arah kardus dan koper yang ada di depan rumah kost yang aku tempati selama ini sebelum menatap Pak Mahesa yang berdiri menjulang di depan rumah kost. “Kan saya udah bilang barang-barang saya gak banyak.” Barangku hanya dua kardus rokok yang sudah kupadatkan isinya dan satu koper pakaian saja. Mendengar jawabanku, Pak Mahesa pun menganggukkan kepalanya lalu mengangkat satu per satu barang milikku ke bagasi Range Rover miliknya. Berurusan beberapa hari belakangan dengan Pak Mahesa membuatku sadar kalau Pak Mahesa tidak pernah main-main dengan ucapannya. Pria ini tidak bisa dibantah. Titah ucapannya bagai sebuah aturan yang wajib untuk dilaksanakan dan ternyata hal ini terjadi tidak hanya soal pekerjaan tapi juga kehidupan pribadinya. Semalam Pak Mahesa mengirim pesan agar aku tidak lupa membereskan barang-barangku karena besok pagi ia akan menjemputku dan langsung membawa barangku dengan mobilnya. Tentu sudah kutolak dengan mengirim pesan balasan tapi hasilnya Pak Mahesa tetap berpegang teguh pada ucapannya dengan datang ke kostku pagi-pagi buta membuatku kelabakan karena aku baru bangun saat pria itu sudah sampai di kostku. “Kita ke apartemen urus data kamu ke pengelola sekalian taruh barang-barang─” “Tapi, Pak. Ini sebentar lagi kan jam ker─” “Saya kepala divisinya. Kamu tinggal ikutin apa kata saya.” Dan Pak Mahesa melakukan apa yang ingin dia lakukan dengan aku yang diam mengikutinya. Pak Mahesa dan aku hendak masuk ke dalam mobil ketika sebuah motor berhenti tepat di depan mobil Range Rover milik Pak Mahesa. Ekspresiku berubah kesal melihat kehadiran Edric temannya Fandy. “Va, bisa kita mau bicara─” “Kamu kenal pria ini?” Pak Mahesa dengan cepat buka suara. Aku menghela nafas berat. Pak Mahesa memang tidak pernah mengetahui sosok Fandy. “Dia temannya mantan─” “Ah, temannya pria yang selingkuhin kamu itu?” Pak Mahesa dengan cepat memotong ucapanku dengan nada sinis yang jelas terdengar dan anehnya aku tidak kesal dengan kesinisan pria itu saat ini. “Va, Fandy mau ngomong─” “Kalau dia mau ngomong harusnya dia datang sendiri bukannya suruh kamu, Ed. Ayo, berangkat, Pak. Nanti kesiangan─” Aku mengabaikan Edric dan hendak masuk ke dalam mobil Pak Mahesa dengan segera. “Va, Sebentar─” Aku mengabaikan Edric dan Pak Mahesa yang sudah menyalakan mesin mobilnya langsung menjalankan mobil miliknya untuk meninggalkan rumah kost yang selama ini menjadi tempat tinggalku. Sepanjang perjalanan tidak ada satupun diantara aku dan Pak Mahesa yang buka suara. Aku enggan membahas mengenai Edric dan Pak Mahesa untungnya pun tidak berkomentar apapun. Pak Mahesa melajukan kendaraannya menuju apartemen lalu mendatangi pengelola apartemen untuk menyerahkan dataku sebagai penghuni apartemen dan yang menakjubkan saat di kantor Pengelola, Pak Mahesa bahkan memiliki dokumen sewa menyewa yang langsung aku tanda-tangani disana dan diserahkan ke pihak pengelola bersamaan dengan data diriku. Ya, aku resmi berstatus sebagai penyewa di data pengelola apartemen dan setelah urusan dengan pengelola selesai, Pak Mahesa dan aku membawa barang-barang milikku ke apartemen dan kami langsung melanjutkan perjalanan menuju kantor. Sesampainya di kantor Pak Mahesa memarkirkan mobilnya di area parkir yang masih kosong lalu alih-alih mematikan mesin mobil pria itu malah mengambil tanganku yang berada diatas tas lalu mengenggamnya erat membuat mataku membulat sempurna karena kaget. “Pak─” “Anggap ini pemanasan. Saya ingin menguatkan pacar saya yang baru saja keingat mantannya yang selingkuh. Mantan kamu mau bicara sama kamu tapi malah ngirim temannya. Cemen banget. Kalau dia mau ajak kamu balikan harusnya dia datang sendiri bukan suruh temennya dan saya perlu ingatkan kamu kalau kamu sudah menyetujui rencana saya. Kamu adalah pacar saya dan hari sabtu besok kita akan ketemu dengan orang tua saya, Vanala. Jadi jangan berpikir untuk balikan sama mantan kamu itu.” Aku meringis dan menganggukkan kepala sambil berusaha melepas tanganku yang digenggam erat oleh Pak Mahesa tapi sayangnya tidak berhasil lepas karena Pak Mahesa menahan tanganku, “Terima kasih sudah diingatkan tapi saya tidak ada niat buat balikan sama Fandy, Pak. Saya tidak buka tempat daur ulang jadi kalau udah saya buang gak akan saya pungut lagi.” “Good. Saya suka ketegasan kamu barusan dan kalau teman-teman berisik kamu tanya kemana kamu pagi ini bilang saja kalau kamu bertemu dengan saya di lobby tadi pagi dan langsung diajak meeting.” Ucapan Pak Mahesa spontan membuatku menoleh. Aku tidak menyangka kalau Pak Mahesa sepandai ini membuat skenario mulai dari urusan aku ketahuan keluar dari ruang pribadinya sampai aku yang datang terlambat ke kantor semua skenario dibuat oleh Pak Mahesa. “Kenapa kamu liat saya begitu?” “Bapak suka bikin cerita, ya? Cita-cita bapak aslinya jadi penulis skenario apa gimana deh?” Pak Mahesa langsung melepaskan genggaman tangannya dan detik berikutnya pria itu menjentik keningku dengan jarinya. “Sembarangan. Saya hanya menyamakan alasan supaya tidak ada masalah lain. Masalah yang kamu buat sudah cukup bikin saya pusing.” Dan benar saja para seniorku langsung bertanya kenapa aku datang sesiang ini terlebih tidak ada satu pun pesan dari mereka yang aku balas sejak tadi pagi karena kehadiran Edric tadi membuat moodku jelek sehingga tidak terpikir untuk mengecek pesan masuk di ponselku dan setelah itu aku fokus memperhatikan apa yang Pak Mahesa lakukan saat di kantor pengelola. “Lo kaga tidur semalem, Va? Muka lo jelas banget kurang tidur.” “Nonton drakor, Mbak. Kentang banget kalo dijeda,” dustaku pada Mbak Retha. Sebenarnya semalam aku membereskan barang-barangku karena Yang Mulia Tuan Mahesa sudah memberikan ultimatum bahwa hari ini aku harus mulai tinggal di apartemen yang ia miliki. Mas Bimo berdecak sambil menggelengkan kepalanya mendengar jawabanku sementara aku hanya terkekeh. Hari itu kami semua fokus bekerja dan untungnya tidak ada drama apapun yang terjadi lagi selama jam kerja. Pak Mahesa anteng di dalam ruangannya tanpa menganggu kami semua sehingga kami semua bisa fokus bekerja hingga jam pulang pun tiba. Tapi frasa kehidupan tidak selamanya akan baik-baik saja mungkin benar adanya. Aku pikir setelah kedatangan Edric tadi pagi tidak akan ada yang terjadi lagi karena setelah itu hariku cukup berjalan dengan baik tapik kesialanku kembali tiba ketika aku menemukan sosok Fandy yang sudah berada di dekat gedung kantorku. Pria berengsek itu berdiri di tempat biasa orang menunggu ojek atau taksi online dan ketika tatapan kami bertemu, Fandy segera menghampiriku. Yah, elah! Mau apa lagi sih! Aku mendengus kesal. Aku tidak mau berusaha menutup-nutupi rasa kesalku saat ini. Aku memilih menunggu ojek pesananku dan mengabaikan keberadaan pria berengsek itu. Aku sungguh berharap tukang ojek yang akan mengantarkanku pulang segera tiba. “Va─” Fandy mengarahkanku untuk berdiri berhadapan dengannya. “Pergi lo. Gue enggak ada urusan lagi sama elo.” Aku berucap dengan nada kesal yang berusaha kujaga agar tidak meledak. “Ini jalan umum dan gue enggak mau jadi pusat perhatian disini.” “Kalo gitu kita ke pos dulu. Kita perlu bicara, Va.” Fandy menarikku masuk ke pos satpam kantorku. “Va, aku salah. Aku bisa ceritain semua─” “Enggak ada yang perlu diceritain.” Aku berusaha menjaga suaraku agar tidak menarik perhatian. “Elo sama gue udah kelar dan gue enggak mau urusan sama elo atau selingkuhan lo lagi jadi lepasin tangan gue sebelum gue teriak.” “Va, please─” “Mending lepasin tangan kamu dari Vanala.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN