s. a. t. u
Klub malam itu ramai seperti biasanya. Lampu-lampu ungu dan biru berputar perlahan di langit-langit. Di meja bundar dekat jendela kaca yang menghadap ke jalan, tiga perempuan duduk dengan santai. Di tengah-tengah mereka, beberapa gelas setengah penuh, satu piring berisi kentang goreng yang sudah hampir habis, dan ponsel-ponsel yang sesekali diangkat untuk menunjukkan sesuatu.
"Coba lihat ini deh," kata Sinta sambil menyodorkan ponselnya ke tengah meja. Di layar, sebuah unggahan artis terkenal sedang dipamerkan. "Bulan lalu dia masih sama si aktris itu. Sekarang ganti lagi. Cepet banget, kayak ganti baju."
Hana menyandarkan dagunya di telapak tangan, matanya setengah malas menatap layar ponsel. "Ya udah biasa lah. Dunia hiburan gitu, yang penting kita nonton drama-nya aja. Jangan ikut-ikut drama pemainnya."
"Iya sih," Sinta menarik ponselnya kembali. "Tapi heran juga ya, mereka tuh gampang banget ganti pasangan, kayak nggak ada beban."
"Beban mah buat yang suka mikir. Kalau cuma senang-senang enggak usah dijadiin beban," celetuk Reina dari samping. Tangannya meraih satu batang kentang goreng, mencelupkannya ke saus, lalu menggigitnya malas.
Sinta menoleh ke arah Reina. "Lo kok diem aja sih? Biasanya lo paling vokal kalau bahas artis."
"Lagi males aja, gue lagi capek," jawab Reina.
"Capek ngapain? Dari tadi duduk doang," ledek Hana.
Reina hanya mengangkat bahu. Matanya bergerak tanpa tujuan, mengamati sekeliling ruangan. Orang-orang yang berdansa di lantai bawah. Pasangan-pasangan yang duduk berdua di sudut-sudut gelap. Lalu matanya berhenti di bar.
Seorang pria berdiri di balik meja bar, tangannya terampil mengocok minuman dalam botol stainless steel. Kemeja hitam lengan pendek, lengan sedikit digulung. Pria itu tidak banyak bicara, Reina sering memerhatikan. Pria itu hanya bekerja, sesekali mengangguk kecil saat menerima pesanan, kadang tersenyum tipis, dia sering ada di sini.
Reina sadar kalau belakangan ini setiap ke klub matanya sering tertarik ke arah pria itu. Mungkin karena dia berbeda.
"Meja delapan belas, Mbak Reina!" Suara Milo—pria bertubuh kurus dengan kaus oblong hitam yang juga bekerja di sana membuyarkan lamunan Reina. Milo berdiri di dekat bar, melambai ke arah meja mereka sambil menunjukkan satu nampan berisi beberapa gelas.
Pria dengan kemeja hitam ituz Reina tahu namanya Barat, dari nametag yang terlihat mengangguk cepat. Dia mengambil nampan dari tangan Milo, lalu berjalan ke arah meja mereka.
"Ini minuman untuk Mbak Reina," ucap Barat sambil meletakkan satu gelas berwarna oranye di depan Reina. Matanya menatap Reina sekilas, cepat, lalu beralih ke Hana dan Sinta. "Ada yang mau dipesan lagi?"
Hana menggeleng ramah. "Nggak, Mas. Makasih."
Barat mengangguk. Sebelum berbalik, matanya sempat bertemu dengan Reina lagi. Hanya sebentar, cukup untuk membuat Reina sadar kalau pria itu benar-benar melihatnya. Lalu Barat pergi, kembali ke bar.
"Eh, lo liatin tuh barista dari tadi," bisik Sinta, sikunya sedikit menyenggol lengan Reina.
"Enggak," jawab Reina cepat, padahal dia melihat.
"Iya gue lihat. Mata lo dari tadi ke sana mulu." aku
Reina mendengus kesal. "Sok sibuk aja lo ngeliatin mata gue, mata gue kan ke mana-mana."
"Iya, ke mana-mana tapi selalu berhenti di bar," Sinta tertawa kecil.
Reina memilih untuk tidak menjawab. Tangannya meraih gelas berwarna oranye itu, memutarnya pela.
"Itu minuman apa sih?" tanya Hana penasaran.
"Nggak tahu, pesen random aja tadi," jawab Reina.
"Cobain dulu."
Reina mengangkat gelas itu ke bibirnya. Dia menyesap kecil. Rasa manis dan sedikit asam menyentuh lidahnya, diikuti sensasi hangat yang perlahan merambat di tenggorokan.
"Enak," kata Reina singkat.
"Minum aja, jangan cuma diem," ujar Sinta.
"Iya, iya." Reina menyesap lagi. Kali ini lebih banyak. Rasa hangat itu menyebar ke dadanya, membuat otot-ototnya sedikit rileks. Dia menyesap lagi, dan lagi, sampai setengah gelas itu habis dalam beberapa menit.
Dan seperti yang sudah diduga, kepalanya mulai terasa berputar.
"Na." Hana memicingkan mata, menatap wajah Reina yang mulai memerah. "Lo oke kan Na?"
Reina mengerjapkan mata beberapa kali. Dunia di sekelilingnya terasa seperti berayun pelan. "Iya aman, oke banget, cuma pusing dikit."
"Dikit apaan? Muka lo udah kayak tomat," sahut Sinta sambil mendekatkan wajahnya.
"Enggak ah, biasa aja," Reina mencoba tersenyum, tapi tangannya sudah meraih tepi meja untuk menahan keseimbangan.
"Ya ampun, Na. Lo tuh tahu diri, kan? Minum dikit aja langsung mabok," Sinta menggeleng-geleng kepala.
"Gue kira, ini minuman biasa." Reina tertawa kecil.
Hana bangkit dari kursinya. "Udah, gue anterin ke mobil aja. Lo bener-bener nggak bisa minum, Ra."
"Bisa kok– cuma perlu–. dikit adaptasi," bantah Reina.
"Adaptasi apaan? Udah tiga puluh enam tahun masih adaptasi?" Sinta ikut berdiri, tangannya sudah meraih tas Reina di samping kursi.
Sinta melambaikan tangan ke arah bar. "Mas! Mas, tolong bantu bentar!"
Dari balik meja bar, Barat mengangkat kepala. Matanya langsung menemukan meja mereka. Dalam hitungan detik, dia sudah meninggalkan bar dan berjalan mendekat.
"Mbak Reina minum kebanyakan?" tanyanya setelah melihat kondisi Reina yang setengah tersandar di kursi.
"Enggak banyak, cuma dikit sih tapi langsung mabok," jawab Hana sambil terkekeh, meskipun nada suaranya tetap waspada. "Kebiasaan dia asal pesan."
Barat mengangguk pelan. Dengan hati-hati, dia membantu Sinta menuntun Reina berdiri. Tubuh Reina yang lebih berisi terasa berat di lengannya, tapi Barat cukup kuat. Dia menahan dengan sabar, membiarkan Reina bersandar di bahunya sambil berjalan pelan menuju pintu keluar.
"Maaf, ya, Mas," kata Reina antara sadar dan tidak. "Gue– berat."
"Nggak apa-apa," jawab Barat singkat.
Mereka berjalan melewati meja-meja, melewati kerumunan orang yang sedang berdansa. Beberapa orang menoleh sekilas, tapi tak ada yang terlalu memperhatikan. Di klub seperti ini, orang mabuk adalah pemandangan biasa.
Sinta berjalan di depan, membuka pintu kaca besar yang menuju ke area parkir. Udara malam yang sejuk langsung menyambut mereka, membawa aroma aspal basah dari hujan beberapa jam lalu.
Reina menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan kepalanya yang berputar. Udara dingin membantu sedikit, tapi tubuhnya tetap terasa limbung.
"Mobil di mana?" tanya Barat, matanya mengamati area parkir yang cukup luas.
"Di sana," Sinta menunjuk ke arah mobil hitam yang terparkir di sudut.
Barat mengangguk sambil terus menuntun Reina, langkahnya pelan menyesuaikan langkah Reina yang sempoyongan. Begitu sampai di samping mobil, Sinta membuka pintu belakang. Barat membantu Reina duduk di kursi, memastikan kepalanya tidak membentur pintu.
"Makasih, Mas," ujar Sinta sambil mengatur posisi Reina di kursi.
Barat hanya mengangguk. Dia akan mundur, tapi tiba-tiba Reina meraih lengannya.
"Mas, sini sini, " gumam Reina, matanya setengah terbuka. "Mas gue mau tanya."
"Apa, Mbak?" Barat bertahan di posisinya.
Reina menghela napas panjang. Lalu, dengan suara yang cukup jelas untuk ukuran orang mabuk, dia berkata, "kenapa gue jomblo sampai tiga puluh enam tahun? Nasib gue gini banget."
Barat menahan tawa, biibirnya mengerucut, berusaha tidak tersenyum.