mereka telah sampai di mansion disinilah mereka bertiga sekarang berada di kamar putra, adiknya. menatap putra, adiknya berbaring dengan selang infus yang melekat di tubuhnya.
beberapa jam sebelumnya pria paruh baya dan kedua putranya datang sambil membawa dokter di belakang mereka setelahnya Cio di periksa sang dokter mengatakan jika Cio akan segera sadar tubuh Cio hanya mengalami hal yang wajar
wajar dia bilang? apa putra, adiknya 8 menit yang lalu terlihat wajar dengan darah yang terus keluar dari mulutnya dan panas yang menyerangnya? ingin sekali pria paruh baya menghabisinya tapi ia tahan
dirinya tidak ingin suasananya semakin mencengkram apa lagi ke dua putranya seperti memikirkan hal yang sama dengan dirinya mereka mengepalkan tangannya lihat saja jika adiknya semakin memburuk..
~???~
"Jio" gumamnya tapi tak mendapatkan jawaban dari laki laki remaja yang sedang terbaring di kasurnya
"Jio kenapa Jio tidak membuka matanya? apa Jio tidak merindukan Daddy. Jika ia tolong buka matamu sekarang Daddy ingin melihat wajah tersenyum Jio" sekarang ini dikamar hanya ada mereka berdua.
ia menyuruh istrinya untuk istirahat awalnya istrinya menolak tapi setelah melihat wajah suaminya ia menganggukan kepalanya begitupun dengan kedua putranya
mereka tidak peduli dengan wajah daddynya tapi karena ke inginan mommynya mereka terpaksa membiarkan Daddy dan adiknya berduaan dengan tak relanya.
tangannya menggenggam putranya ia menundukan kepalanya
"seharusnya aku bisa menjaga putraku" batinnya "s****n jika saja sejak awal aku tidak terlalu fokus dengan kertas kertas yang menyebalkan jika saja aku tidak melantarkan anak anakku, jika saja aku tau lebih cepat aku pasti sudah membunuh b******n itu" terlalu larut dalam pikirannya hingga ia tidak sadar jika jari jari anaknya telah bergerak
"engh" lenguhnya
setelah terlarut dalam pikirannya pria paruh baya mendengar lenguhan seseorang mendongakan kepalanya ke samping menatap putranya yang mulai tanpa sadar dirinya tersenyum sudah lama dirinya tidak tersenyum
"tempat ini lagi ah ya sudahlah tugas Cio hanya perlu hidup dengan tenang bersama keluarga baru cio sekarang" batinnya
"Jio" gumam seseorang
Cio melirik ke samping bawah disana ada seorang pria paruh baya yang sedang menggenggam tangannya dengan senyuman terpasang di wajahnya
Cio menatap lekat wajahnya ia terpesona dengan wajah pria paruh baya ini bagaimana bisa wajahnya terlihat awet muda padahal umurnya tidak lagi muda, bagaimana bisa ada pria paruh baya yang setampan dihadapannya ayahnya saja tidak setampan ini.
Pria paruh baya yang melihat putranya menatapnya seperti itu terkekeh sebentar
"Terpesona hm" kata kata itu keluar begitu saja dari mulutnya
Tanpa sadar Jio menganggukan kepalanya
Pria paruh baya yang melihat Jio menganggukan kepalanya lagi lagi tertawa pelan bagaimana bisa putra bungsunya ini terlihat imut sekarang
"paman jangan tertawa seperti itu" ucap Jio dirinya terlalu terpesona sampai tidak sadar mengucapkan kata kata tersebut
Pria paruh baya memberhentikan tawanya menatap dingin ke arah putranya bukan bukan karena putranya mengatakan jangan tertawa tapi karena putra bungsunya mengatakan dirinya paman bukan memanggilnya dengan sebutan daddy
Jio yang melihat tatapan paman dihadapannya merasa takut apa ia salah bicara?
Pria paruh baya tersadar dirinya lupa jika putranya sedang mengalami amnesia wajahnya yang sebelumnya dingin sekarang digantikan dengan wajah yang penuh kehangatan tapi sedikit terkesan dingin
"Jangan panggil daddy dengan sebutan paman, panggil daddy karena aku daddymu" ucapnya
~???~
saat ini Jio sedang di suapi oleh mommynya diruangannya sekarang hanya ada dirinya, mommynya dan juga ke dua abangnya daddynya? kedua abangnya mengusir daddynya keluar kamarnya mereka terlihat sangat marah bisa bisanya Daddynya tidak mengatakan jika Jio sudah tersadar malah pak tua itu asik berduaan dengan adiknya mereka tidak terima.
"enak?" tanya mommynya menyuapi anaknya
jio menganggukan kepalanya
awalnya cio menolak memakan bubur karena ia tidak suka tetapi melihat Mommynya memelas dengan tatapan sedihnya Cio tidak tega akhirnya ia mau memakan buburnya
"Mommy biar aku saja yang menyuapinya" Ucap anak keduanya
"tidak biar aku saja" disusul anak ketiganya yang juga ingin menyuapi adiknya
"Tidak, aku saja yang melakukannya" anak keduanya ingin mengambil piring yang berada di genggaman mommynya sebelum mengambilnya ada sepasang tangan yang juga ikut menggenggamnya ia melirik ke sebelah kiri
"Aku abangnya biar aku saja yang melakukannya" ucap anak ketiganya
"aku juga abangnya kau harus mengalah kepada yang lebih tua" ucapannya terdengar dingin
"bukankah kata katamu terbalik" yang juga tak kalah dinginnya
terjadilah aksi tarik menarik antara kedua anaknya, di balik pintu kamar putranya suaminya menggedor gedor pintu
"Jio, tolong biarkan daddy masuk"
Wanita paruh baya yang sialnya terlihat awet muda dan terlihat cantik tidak ada kerutan di wajahnya ia yang melihat dan mendengarnya memegang keningnya setelah Jio tersadar entah kenapa sifat mereka berubah kekanak kanakan dimana sifat dingin yang terkenal itu.
pintunya tidak terkunci kenapa suaminya tidak memilih langsung masuk saja malah suaminya memilih menggedor dan meminta tolong kepada putranya, sebelumnya juga putra ke empatnya yang masih di sekolah meneleponnya dan menanyakan kabar adiknya.
setelah mendengar Jio sudah siuman ia mematikan teleponnya secara sepihak sepertinya putranya itu akan membolos.
Jio yang melihat pertekaran kedua abangnya hanya menampilkan wajah polosnya tapi dalam pikirannya
"kapan Jio makan kalau gini terus" batinnya perutnya terasa lapar ia ingin menghentikan pertingkaian abang abangnya tapi dirinya takut setelah melihat wajah ke dua abangnya yang menampilkan wajah datar dan dingin sambil memperebutkan makannya
"Bukankah kau ada urusan biar aku saja" abang ketiganya menarik wadah yang berisikan bubur
"tidak, seharusnya aku yang bertanya" abang keduanya juga sama
"hiks hiks" Cio tidak tahan lagi mereka sangat berisik kapan ia bisa makan dan tidur dengan tenang
mommynya yang mendengar cio menangis mengusap air matanya
"Ada apa, kenapa menangis hm.." tanyanya
"mommy Cio lapar" wajahnya kini terlihat semakin imut bibirnya ia manyunkan sedikit matanya terlihat penuh dengan air mata yang terus mengalir pipinya yang chubby semakin chubby
Mommynya yang melihatnya tak tahan dengan keimutan yang ada di hadapannya begitupun dengan kedua putranya yang sudah memberhentikan pertengkaran mereka, langsung saja Mommynya menerjang Cio memeluknya mencium seluruh wajahnya kecuali bibirnya begitupun kedua putranya yang juga ikut mencium adiknya
"Daddy juga ingin mencium putra bungsu daddy" pintu di buka dengan kasar ia mendengar Cio menangis langsung saja membuka pintunya setelahnya ia melihat istri dan kedua anak mencium putranya ia juga ingin.
"Tidak" kedua putranya menjawab secara bersamaan mereka memeluk tubuh Cio
"Apa maksud kalian dengan jawaban Tidak, Aku Daddynya dan aku berhak" ia berjalan ke arah Cio yang sedang di peluk oleh ke dua putranya dirinya juga ikut serta memeluk tubuh Cio melakukan hal yang sama pada wajahnya
"Menyingirlah Daddy kau membuatnya sesak"
"Benar, lebih baik Daddy menyingkir saja
"kalian juga sama lepaskan pelukan kalian" ia tak terima dengan perkataan kedua anaknya mereka juga melakukan hal yang sama bukan.
Wanita paruh baya menatap kedua putranya dan suaminya yang sedang memeluk putra bungsunya yang seperti tenggelam di pelukan mereka bertiga pun tersenyum.