"Dia benar-benar gila, kenapa dia melakukan hal itu padaku?" tanya Rasaya pada orang di seberang teleponnya. Saat mengingat kejadian tadi malam, Rasaya merasakan da-danya berdebar lebih keras. Namun, ia tak tahu apakah itu karena kebenciannya pada Randi yang semakin besar atau karena ucapan Randi yang mampu membuatnya mematung beberapa saat. Delapan jam yang lalu... "Karena aku mencintaimu, Rasaya." Rasaya mematung melihat mata redup laki-laki di depannya. Entah karena malam yang semakin pekat atau tatapan laki-laki itu yang menggelap. Rasaya tak bisa berpaling pada mata Randi. Sedangkan ucapan laki-laki itu begitu pelan hingga Rasaya tak yakin apa yang ia dengar. Apa Randi baru saja mengatakan bahwa dirinya mencintainya? "Apa?" tanya Rasaya dengan wajah kaku. Laki-laki itu tak langs

