"Benarkah kau mencintaiku?" Randi pikir Rasaya akan menamparnya atau mendorong tubuhnya ketika ia mengutarakan perasaan cintanya malam itu. Tapi kalimat yang keluar dari mulut Rasaya membuat Randi sedikit berharap. Tatapan Rasaya sekarang bukan tatapan penolakan yang selalu ia terima. Mata coklat perempuan itu berkaca-kaca, dengan mulut terbuka dan tangannya terasa bergetar kecil di genggamannya. Randi tak tahu apa arti reaksi Rasaya sekarang, tapi Randi tahu ini adalah kesempatannya untuk mengatakan perasaannya dengan jelas. "Benar. Aku ..." "Rasaya!" Suara panggilan yang cukup keras itu membuyarkan tatapan Rasaya. Seperti perempuan itu sadar apa yang ia lakukan dan menarik tangannya dari genggaman Randi. Kepala Rasaya memutar mencari sumber suara dan berdiri ketika melihat Rubi berla

