bc

Salak Kematian

book_age12+
37
IKUTI
1K
BACA
arrogant
tragedy
twisted
mystery
small town
stubborn
like
intro-logo
Uraian

“Kalau malam jumat, jangan keluar.”

“Kenapa?”

“Anjing-anjingnya keluar! a*u njegog keliaran. Nanti kamu dibunuh!”

***

Kepindahan Deny dan keluarganya ke Temayang membawa nestapa. Tanpa mereka sadari, desa indah itu menyimpan terror dari hantu anjing yang berkeliaran tiap malam jumat. Sang ayahpun menjadi korban.

Tapi, memang hantu itu benar ada?

Bersama dengan teman-teman barunya, Fira, Bimbim, dan Laila, remaja tanggung itu berusaha mengungkap misteri salak kematian di Temayang.

“Manusia itu lebih menakutkan dibanding hantu!”

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog: Keluargaku Sayang, Keluargaku Malang
“Papa, papa! Lihat itu ada kupu-kupu!” dengan ceria gadis kecil berambut pendek itu melambaikan tangannya keluar, berusaha menyentuh serangga cantik berwarna biru kehitaman yang lewat sekelebat dari jendela mobil yang terbuka setengah. “Mirna, jangan keluar tangannya! Nanti kamu jatuh dari mobil!” teriak sang ibu mengingatkan. Sang ibu duduk di depan berusaha susah payah menghentikan tangan putrinya yang sudah melambai-lambai keluar jendela. Dengan cekatan, sang kakak lelaki yang duduk di samping, menarik rok adiknya supaya terduduk. Gadis itu duduk dengan debaman halus sambil mengerucutkan bibir. Sang ibu tertawa kecil melihat anak-anaknya, Mirna dan Bima. Sepasang kakak-adik tersebut adalah kembar selisih sepuluh menit yang ia lahirkan delapan tahun silam. Awalnya sang ibu sama sekali tak menyadari kalau ia mengandung dua janin sekaligus dalam rahim. Ia dan sang suami, yang saat ini sedang menyupir, jarang sekali pergi memeriksakan kandungan. Ketika mengetahui sedang mengandung, sang ibu sering merasa stress dan tertekan ketika di kota, Ia dan suamipun memutuskan untuk pindah ke desa terpencil di tengah Jawa yang berada di antara pegunungan setelah pemeriksaan pertama. Desa tersebut bernama Temayang. Jauh dari asal rumah mereka di Jakarta, namun tak jauh dari rumah orang tua sang ibu. Pemandangan yang indah, tidak adanya polusi, dan penduduk yang ramah membuat pasangan tersebut betah dan bahkan tinggal setelah melahirkan buah hati mereka. Mereka memutuskan untuk menetap, membangun sebuah villa berwarna putih yang terletak di dekat dengan hutan dan tak lagi mengontrak. Tidak ada aneh, baik itu kejahatan atau hal mistis apapun di rumah mereka, semua terasa nyaman. Bahkan ketika keluarga kecil mereka dikunjungi oleh ular kecil yang nyasar ke dalam kamar mandi, sang ibu masih merasa aman. Paling tidak rasa aman itu bertahan sampai dua tahun silam. Entah bagimana awalnya, rentetan kemalangan menimpa desa itu. Polisi hutan yang tiba-tiba hilang ketika patroli, hantu anjing yang muncul tiap malam jumat, dan warga desa yang meninggal karena digigit hantu anjing tersebut. “a*u njegog,” sebut para warga. Hantu anjing tak berhenti menyalak, menyebabkan takut bagi masyarakat. Entah ratusan atau puluhan, anjing-anjing itu mengelilingi desa dan menghilang sebelum subuh. Desa menjadi tak seaman saat pertama kali ia dan suami datang. Setelah dua tahun berusaha menahan diri di Temayang karena wanita itu betul-betul menyukai tempat tersebut, sang ibu lama-lama tak tahan juga. Hal ini tak bagus untuk perkembangan dua anak kembarnya. Ia harus selalu berhati-hati apabila si kembar tidak sengaja masuk hutan. Pernah suatu hari, Mirna, gadis yang selalu penasaran itu, mengikuti kelinci hingga hampir masuk ke hutan. Beruntung salah satu warga desa memperhatikan Mirna dan mengembalikan Mirna ke rumah. Bayangkan bila hari itu anaknya masuk hutan dan menghilang seperti para polisi hutan. Ya, ‘para’. Sudah tiga penjaga yang hilang dalam kurun waktu dua tahun. Mengenai pindahan ini, sang ibu harus berdiskusi dengan suaminya karena wanita itu tahu suaminya sedang menyelidiki mengenai kemunculan hantu anjing tersebut. Pria itu sudah berjanji kepada para warga untuk mengenyahkan teror a*u njegog dari desa. Entah bagaimana dan dengan cara apa sang suami menyeledikinya, sepertinya pria itu telah menemui titik terang. Pria yang ia nikahi memang suka sekali dengan hal-hal berbau penyelidikan dan misteri. Kumpulan komik-komik detektif jaman dahulu tetata rapi di ruang baca mereka. Sesekali Bima turut membacanya bersama sang ayah. Terkait dengan janjinya pada warga, suaminya berjanji untuk mengenyahkan terror terebut karena ia ditunjuk sebagai calon kepala desa yang baru. Suaminya memang merupakan pribadi yang ramah dan baik pada semua rang, tak heran kalau warga mempercayakan desa di tangan ayah dari anak-anak sang ibu. Tentu saja wanita itu bangga. Namun bagaimana ya? Ia merasa setelah penyelidikan suaminya, rumah menjadi semakin tidak aman. Entah bagaimana, beberapa kali wanita itu menyadari ada barang yang berpindah dikala pagi terbangun. Ingatan sang ibu memang tajam. Tiap pagi, ia merasa seperti seseorang telah masuk diam-diam dan mencari sesuatu di rumah saat malam. Tentu bukan suaminya, pria itu hampir selalu tak bisa terbangun oleh suara berisik apapun dikala tidur, begitu pula anak-anaknya yang masih kecil. Jika tengah malam terbangun, buah hatinya akan langsung menuju kamar sang ibu dan ayah. Pembantu di rumah, Suminah, meskipun memiliki kunci cadangan, tidak pernah datang larut dan tanpa salam ataupun pamit. Jadi siapa? Alasan-alasan itulah yang membuat sang ibu memutuskan untuk mengajak suaminya bermigrasi lagi ke kota. Mereka harus pergi dari desa ini sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Ia punya firasat tak baik. “Mas, masih lama ya?” tanya sang ibu. Ia melihat dari kaca depan, kedua anaknya sudah hampir pulas. Tubuh Mirna yang jauh lebih kecil meringkuk dipangkuan Bima. Meskipun hanya beda sepuluh menit, namun Bima memang terasa jauh elbih dewasa disbanding Mirna. “Kamu tidur aja dulu seperti mereka,” jawab sang ayah lembut. Rupanya pria tersbut juga memperhatikan anak-anak yang sudah terkantuk-kantuk di belakang sejak tadi dan pada akhirnya tertidur. “Nanti kalau sudah dekat tol, aku bangunkan.” Ia menatap istrinya dengan lembut. Jarak kota dan desa lumayan jauh, tapi kini mereka sudah dekat dengan kota. Ia harus masuk dalam tol, kemudian keluar dari tol, agar sampai di rumah mertua pria tersebut. Setidaknya itulah yang sang istri katakan beberapa hari yang lalu. Untuk beberapa saat, sebelum menemukan rumah baru, pria itu dan keluarganya akan tinggal di rumah orang tua istrinya. Villa itu akan dijual, dan mereka akan memulai hidup di tempat baru. Mereka akan tinggal di tempat aman, jauh dari terror dan ketakutan. Ya… itu yang istrinya rencanakan. Bukan dirinya pribadi. Ia memang akan membawa keluarga kecilnya ke rumah mertua, memang Temayang saat ini kurang aman. Tapi sebentar lagi, saat ia bisa mengungkap misteri hutan tua itu, ia dan istri beserta dua anaknya bisa kembali hidup nyaman di sana. Ia tidak bisa meninggalkan orang desa yang akan diterror terus-terusan oleh anjing-anjing tersebut. Ia bukan orang seperti itu. Sekali berjanji, pria harus menepatinya! Maka dari itu, paling tidak, ia harus membantu para warga. Setelah itu, setelah terror berakhir, bila istrinya tetap akan meninggalkan Temayang, maka ia akan ikut. Mobil VW kecilnya melaju perlahan dikeloka-kelokan, beberapa orang yang berpapasan menatap takjub kendara besi tersebut. VW yang ia miliki masih tergolong keluaran baru. Hanya segelintir orang di kota yang memiliki mobil ini. Maklum saja, hanya orang berada saja yang bisa membeli kendaraan roda empat di masa ini. Dan ia salah satunya. Saat ini ia merupakan pewaris salah satu merek toko bangunan yang memiliki berbagai cabang di Indonesia, meski begitu, ia belum mau mengambil alih usaha orang tuanya itu. Beberapa saudara kandungnya yang lain sudah mulai ikut sang ayah menjalankan bisnis tersebut, namun pria itu lebih memilih menjalani hidup sebagai komposer lagu. Memang dirinya belum cukup terkenal, namun beberapa lagu karyanya menjadi hits dan uang royalty yang ia dapatkan cukup besar. Mobil VW ini merupakan hadiah dari ayahnya atas kerja keras dan kemandirian sang suami. Mobil ini merupakan kebanggaan. Merupakan bukti kalau ia mandiri dan bukti pengakuan dari keluarganya. Warga Temayang juga sering memuji mobilnya, beberapa kali pria itu mengajak warga jalan dengan mobil saat akan mengisi bensin di kota. Terutama anak-anak desa yang penasaran seperti apa rasanya naik mobil. Kendara ini cukup sering dipakai, bisa tekor kalau harus menservis di kota. Dengan jarak yang jauh dan bengkel satu-satunya yang tak bisa dikatakan murah, mobil itu sering ia servis sendiri agar penumpang merasa nyaman. Ia mengenal mobilnya seperti mengenal diri sendiri. Tapi entah bagaimana hari ini lain. Mobilnya terasa lain, seperti ada setelan yang diubah. Istrinya beberapa kali mengatakan kalau ada barang yang berpindah tempat akhir-akhir ini. Dia pikir sang istri hanya ketakutan biasa. Tapi hari ini, rasanya ia bisa percaya, dari rumah ia merasakan mobil ini tak beres, tapi pun di jalan si VW sama sekali tak bermasalah sehingga pria itu tak bisa menerka apa yang aneh. ‘Apa orang-orang itu berusaha mencelakainya? Tapi memang mereka tahu?’ pikirnya curiga. Lampu sein dinyalakan, ia berbelok masuk ke dalam tol. Dengan hati-hati, ia menambah kecepatan. Tol itu padat dengan truk-truk besar yang melintas. Mobil kecil seperti miliknya bisa dihitung jari. “Dik, kita sudah masuk tol,” sang suami membangunkan istrinya. Dengan mata yang setengah terbuka, sang istri mengangguk dan melanjutkan tidurnya. Beberapa truk tronton berada di depan melaju dengan lambat, sang suamipun menambah kecepatan untuk menyalip beberapa truk. Beberapa kali menyalip, ia kini sudah merasa tenang lagi. Kecurigaannya tadi menguap bagai air aki yang dipanaskan. Namun ia segera tersadar, setelah salipan yang terakhir, remnya kini tak berfungsi. Kecepatan mobil kini di atas 90KM per jam, bukan kecepatan yang bagus jika remnya tiada. Kakinya menjejak beberapa kali berusaha meyakinkan kalau ia sedang bermimpi. Rasa panik kini menghampiri. Buru-buru ia membangunkan istrinya lagi. “Dik, remnya blong.” “Blong?” masih tak tahu, istrinya membeo ucapan suaminya. “Mobilnya tidak mau berenti!” “Hah?” Kini sang istri sepenuhnya terjaga. Ia memandangi suaminya dengan tatapan bingung dan juga tak pecaya. Kalau mobil tak mau berhenti, apa berarti mereka akan celaka? Bagaimana bisa remnya blong? Pandangan itu kemudian beralih ke anak kembarnya yang masih tertidur pulas, wanita itu jelas cemas. “Mas, ini bagaimana?” kini sang istri ikut panik. “Tenang, kita ikuti jalur pinggir. Di ujung pasti ada tanjakan. Nanti begitu menanjak dan mobilnya melambat, kamu bawa anak-anak keluar.” Jawab sang suami. Kini yang ia butuhkan bukan kepanikan, namun rasa tenang luar biasa. Ia harus menyelamatkan keluarga kecilnya. Sembari mengangguk, sang istri membangunkan anak-anaknya. Ia menginstruksikan anak lelakinya seperti apa yang barusan sang suami katakan. Suasana mobil tegang, hanya Mirna yang masih tak menyadari betapa bahaya situasi ini. Sang suami kini mengira-ngira bagaimana caranya ke pinggir. Di lajur kiri banyak truk yang berarak, akan sulit bila ia tak menambah kecepatan menyalip. Pun  ia takut jika terus pada posisi ini dan truk tronton di depannya mengurangi kecepatan, maka mobilnya akan menabrak nyusruk ke kolong kendara raksasa tersebut. Yang ia gunakan kini adalah rem tangan yang tidak terlalu bisa diandalkan dan jika diturunkan bisa menimbulkan percikan api. Dan kedua, ia bisa memanfaatkan laju mobil yang berkurang kecepatan seiiring waktu jika ia tak menancap gas, tapi itu butuh waktu. Selain dua opsi itu, ia tidak punya kuasa apa-apa lagi. Ia harus segera memutuskan. “Ayah, awas!!!” Terlambat. Kecelakaan tak terhindarkan. Mobil kini masuk ke belakang truk yang berkurang kecepatan secara tiba-tiba. Kaca-kaca berterbangan. Atap mobil remuk di depan, begitu pula kap yang bengkok mencuat ke atas. Darah di mana-mana, begitu pul dengan bagian tubuh entah milik siapa. Sang ayah terpejam sambil menganga, ada pecahan entah apa menancap di kepala, menyisakan sebuah pemandangan mengerikan bagi yang melihat. Sementara Mirna berada di lantai mobil, tengkurap seperti tidur dengan postur tak wajar. Tubuh Bima sudah terlempar ke depan kap, terbaring di jalanan di bawah truk yang berhenti sepenuhnya, melindas jari kecil dengan roda berpuluh kilo. Di sisa nafasnya, sang ibu memanggil suami dan kedua anaknya sambil tersedu. Matanya buram karena air mata dan lelehan air merah yang mengucur dari kepala. Tak ada jawaban. Hanya dengung yang membuatnya kian pusing dan mengantuk. Tangannya berusaha menggapai Mirna yang tak bergerak di belakang, tentu tak sampai karena tenaganya menguap dan sepertinya matanya tak lagi berkompromi. Tidur, ia mau tidur…   ‘Semoga kedua anakku tak ikut tidur bersamaku.’   ***   “Pemirsa, ledakan terdengar dari tengah tol. Bisa dilihat dari sini, api membara melalap truk dan mobil VW tersebut. Kepolisian sepertinya belum sempat menyelamatkan korban dan sepertinya seluruh korban tabrakan meninggal. Saya akan mendekat ke TKP dan menanyakan lebih lanjut. Sekian sekilas berita yang bisa saya laporkan, kembali ke Andini.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dalam Kuasa Kegelapan/Play In Darkness (END)

read
58.8K
bc

Ninja Itu Suamiku!!/Play In Deception: Camouflage (END)

read
54.4K
bc

JANUARI

read
50.8K
bc

Pengacara Itu Mantan Suamiku

read
11.3K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
6.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.0K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
45.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook