"Ayo digotong. Satu, dua, tiga..."
Ramai riuh satu kampung melihat kondisi Chandra yang terkapar tak berdaya di tanah. Pria itu tidak ditemukan di pinggir hutan seperti tubuh-tubuh lainnya. Membuat orang-orang agak bertanya kejadian apa yang menyebabkan orang satu ini ditinggalkan begitu saja di belakang villa putih dekat hutan.
Deny yang ikut menggotong ayahnya meringis dan berusaha menahan tangis. Tubuh ayahnya koyak dibeberapa bagian. Daging kaki terkelupas nembuat tendonnya bisa dilihat mata t*******g. Di dalam kekalutannya, Deny dapat melihat wajah Karina yang diselimuti kesedihan mendalam dan juga ketakutan akan tubuh suaminya yang bersimbah drah.
"Saya ikut ya pak."
"Mas Den di sini aja." Ujar pak lurah. Beliau adalah salah seorang yang kelihatan begitu riwuh dan peduli mengurusi Chandra. Sebagai pemimpin, beliau memerintahkan warga untuk menggotong tubuh ayah Deny tersebut ke dalam rumah Deny, setelahnga beliau juga meminta warga membersihkan luka di tubug Chandra sebisa mungkin. Beliau pula yang sigap membawa mobil keluarga Deny dan menggotong tubuh ayah Deny masuk ke dalamnya.
"Deny jaga rumah. Bunda akan ikut. Bunda titip rumah. Bunda percaya kamu."
Pesan sang ibu sebelum masuk ke dalam mobil. Beliau duduk bersama tubuh Chandra dan membiarkan pahanya sebagai alas bantal sang suami yang tak berdaya. Meskipun tak terima, Deny mengangguk kecil. Remaja itu menatap tubuh Chandra dengan sedih sebelum akhirnya pandangannya putus terhalang pintu mobil yang ditutup.
Segera, mobil avansa melaju. Rumah sakit berada sekitar satu jam perjalanan dari Temayang. Membuat Deny harap-harap cemas apakah ayahnya bisa diselamatkan atau tidak.
Ya.
Chandra belum mati. Mungkin sekarat, tapi belum mati.
Sungguh ajaib.
Hal itu juga yang jadi sumber keheranan warga setelah mengurusi Chandra yang luka parah. Padahal harusnya orang itu sudah mati ketika bertemu a*u njegog. Tapi ya... melihat keadaan Chandra yang begitu menggenaskan, warga tak akan heran kalau pria tersebut meninggal di tengah jalan. Toh sama saja, meninggal sekarang atau tadi. Karena penyebabnya masih a*u njegog tersebut.
Deny menyalami warga satu-persatu yang pamit. Dengan senyum dipaksakan, remaja itu berterima kasih pada warga yang langsung melesat keluar ketika mendengar teriakan minta tolong dirinya dan Karina, pun pada warga yang membantu membersihkan luka, atau apapun itu.
"Mas Deny yang tabah ya... serahkan sama gusti. Semoga ayahnya bisa selamat." Ujar seorang pria tua yang ia kenal sebagai ketua RT. "Tapi mas, kalau memang nggak selamat, diikhlaskan mawon nggih."
Deny mengangguk kecut tanpa mau menatap orang di depannya tersebut. Meskipun perkataan pak RT benar, tapi Deny tak mau berspekulasi negatif. Ayahnya akan selamat, dan akan kembali pulang setelah perawatan di rumah sakit.
Tanpa remaja itu sadari, dua orang lelaki menatap remaja itu dari kejauhan. Mereka menyaru dengan warga yng kembali ke rumh masing-masing.
“Kowe ki piye? Kok isih urip?” (kamu nih gimana? Kok masih hidup?) bisik seorang yng lebih pendek dengan amarah.
“Mau tak cek wes gak ono nafas.” (tadi kucek sudah enggak bernafas) jawab yang lebih tinggi takut-takut.
“Wahes jan! a*u tenan.” (wah! Anjng banget)
***
Pagi ini Deny memutuskan tak akan masuk sekolah. Beberapa teman sudah mengunjunginya tadi di rumah sebelum berangkat belajar, termasuk Bima dan Laila. Tapi tidak dengan Fira. Entah kemana gadis mngil tersebut, Deny tak begitu ambil pusing. Saat ini remaja pria itu sibuk membereskan rumah yang sudah seperti terkena gempa bumi.
“s**l, pecah,” umpatnya menatap piring kebanggaan Karina yang semula dipajang di dinding. Piring itu adalah hadiah pernikahan dari sahabat karib ibunya yang lama meninggal. Sahabat ibunya tersebut bernama Diana, dan beliau membelikan piring putih kaca dengan ukiran detail burung yang rumit tersebut di china. Piring itu merupakan hasil karya seniman terkenal yang Deny sudah lupa namanya. Tapi lebih dari itu, piring ini punya nilai sentimental bagi Karina. Deny tak bisa membayangkan betapa sedihnya Karina kalau tahu benda ini sudah tak bisa diselamatkan.
Deny duduk sebentar menatap kekacauan ruang dapur dan ruang makan. Kedua ruang ini memang tergabung di satu ruang besar dan hanya dipisah menggunakan kitchen counter kayu yang berwarna senada dengan tembok. Deny paling menyukai ruangan ini dari seluruh ruang di rumah dinas Chandra. Ia memang belum lama tinggal di rumah ini, namun Deny mengingat kegiatan sehari-hari mereka. Karina yang memasak dengan celemek pinknya sambil mengomel, Chandra yang duduk membaca buku sambil menyesap kopi, sementara Deny yang buru-buru makan karena hampir terlambat masuk sekolah.
‘Tok-tok-tok’
“Deny!”
Tiba-tiba sebuah kepala nongol dari balik pintu, membuat Deny terlonjak dari duduknya dan mengelus d**a. Siapa lagi kalau bukan Fira?
“Kamu nggak masuk sekolah?” ujar Deny kaget. “Ini udah jam setengah delapan.”
Fira tersenyum khas dan memperlihatkan lesung pipitnya yang sebelah. Gadis itu memang sudah memakai seragam, tapi ia malah melipir ke rumah Deny lewat jalan-jalan kecil supaya tak kelihatan oleh warga atau teman lainnya. Lalu menunggu di bawah pohon talok sampai setengah delapan, baru ia mendatangi rumah Deny.
Fira menatap Deny, matanya beralih ke sekitar dan menggelengkan kepala. “Aku mau bantu kamu beres-beres rumah.”
“Fir… nggak usah. Kamu sekolah deh.” Deny berujar tak suka dan tak enak hati.
“No! Aku mau bantu kamu.” Fira merebut sapu dari tangan Deny. “Kita kan temen!”
Deny mengusap wajahnya kasar ketika ia melihat gadis yang keras kepala tersebut mulai menyapu bagian dapur. Fira memang tak bisa dihentikan.
“Kamu juga gerak dong!”
“Iya nona.”
Keduanya tertawa kecil.
Setidaknya kehadiran Fira bisa memberikan ketenangan bagi hati Deny. Gadis itu dapat mengalihkan kesedihan dan kebingungannya untuk sekarang. Dan tak bisa dipungkiri, gesture Fira saat ini membuat hati Deny berbunga karenanya.
Apa Deny sudah menyukai Fira? Pria itu tidak tahu, tapi yang jelas ketika bersama Fira, ia selalu merasa senang dan bahagia.
***
“Untung aja TVnya nggak pecah Den.”
Fira terlihat duduk di sofa depan TV yang berada di ruang keluarga. Gadis itu mengganti-ganti channel dengan lincah dan memilih kartun sebagai tontonannya siang ini.
Rumah Deny belum sepenuhnya bersih. Bagian kamar Deny dan orang tuanya belum dibereskan. Tapi memang Deny ingin merapihkannya sendiri nanti. Ia tak mau lebih lanjut merepotkan Fira dan membuat gadis itu kelelahan.
“Kamu beneran gapapa bolos?” Deny menghampiri dan membawakan segelas teh di atas nampan. Ia ikut duduk di sebelah Fira dan menatap layar kubus di depannya.
“Iya gapapa. Aku dah biasa bolos.”
“Ngawur banget.” Deny menatap gadis di sebelahnya dengan kaget. Fira terkikik membalas.
“Tapi beneran. Aku dah biasa banget, terutama pas semester pertama kelas dua ini.” ujar Fira agak serius. “Setelah putus dari Nata, aku males banget sekolah. Soalnya Nata tuh…”
“Nata kenapa?” Meskipun tak suka dengan topic obrolan yang menynagkut musuhnya, tapi Deny berusaha tenang mendengarkan Fira.
“Ya gitu deh.”ujar Fira bersender santai tanpa melanjutkan omongan.
“Fir…” kejar Deny.
Fira diam dan membuat remaja lelaki itu kesal dibuatnya. Deny memang tak suka pada kenyataan kalau Fira dan Nata pernah pacaran, tapi di sisi lain, ia ingin tahu seperti apa dinamika pacaran mereka.
“Den, ciuman yuk.”
Seperti disambar petir di siang bolong Deny menatap horror Fira yang sudah lebih dulu menatapnya dengan polos dan datar.
“HAH?”
“Ciuman.”
Deny dengan segera memukul pelan kepala Fira dan menjauh dari sofa seolah ia sedangdekat dengan om-om hidung belang.
“Apa-apaan?”
“Yudah kalo nggak mau.” Fira kembali menatap layar TV seolah permintaannya barusan bukan sesuatu yang mengngagetkan. Keduanya terdiam agak lama dan membiarkan suara reporter gossip memenuhi ruangan. Deny merasa begitu canggung karena sepertinya reaksinya terlalu berlebihan.
“Fir…” Deny duduk di sebelah Fira kembali dan memikirkan topik lainnya agar pembicaraan bisa kembali terbangun tanpa perlu merasa kikuk. Tapi sepertinya Fira berpikiran lain.
“Den, kamu suka aku nggak?”
“Ya?” lagi-lagi kaget. Deny menatap gadis di sebelahnya yang kembali sudah menatap matanya dalam.
“Aku suka kamu.” Ujar Fira lugas. Gadis itu melirik ke samping senghindari tatapan mata Deny yang tak percaya. “Kalau kamu nggak suka aku nggak papa kok.”
“Eh, enggak. Aku suka.” Deny menjawab segera. Membuat lelaki itu merutuk mengenai betapa cepat jawaban keluar dari mulutnya.
"Aku cium kamu boleh nggak?" Kali ini Fira menawarkan hal berbeda tapi serupa. Deny hanya diam seolah terhipnotis oleh mata cokelat muda Fira yang lebar.
Pemuda itu mengangguk pelan. Memberikan jalan dan izin pada gadis di hadapannya untuk mengakses bibir yang hingga kini belum pernah bersentuhan dengan bibir manapun.
Di umurnya yang ke tujuh belas, Deny mendapatkan ciuman pertamanya.