“Oh, jadi lu anak yang dari Jakarta itu?”
Deny mengkerut mendengar kata ‘lu’ yang diucapkan lelaki dengan rambut cepak di depannya. Bukan apa-apa, pasalnya kata itu terdengar janggal diucapkan dengan logat medok khas jawa yang membuat Deny mengernyit geli. Ia ingin berkomentar jahat tapi mengingat bahwa Deny adalah pendatang baru di tempat ini, remaja itu tak ingin membuat masalah.
“Iya. Gue dari Jakarta,” jawab Deny dingin.”Bisa dimatiin nggak motornya? Berisik banget.”
Pria yang barusan bicara dengannya kemudian menatap ketiga orang lain di belakangnya dan memberi sinyal untuk mematikan kendaraan. Sepertinya lelaki di depan Deny ini adalah pemimpin dari komplotan yang saat ini memblokir jalan depan rumahnya. Empat orang tersebut terlihat seumuran dan berasal dari kalangan berada. Hal ini terlihat dari motor gede yang mereka miliki. Motor hitam merek homda yang dimiliki oleh pria tepat di hadapannya sempat Deny incar untuk dibeli untuk besok-besok masuk kuliah. Tapi melihat bagaimana orang dengan rambut cepak tersebut memodifikasi motor ini sedemikian rupa hingga terlihat norak, membuat Deny pikir-pikir ulang untuk membeli jenis tersebut. Lihat saja velg yang diganti kuning keemasan atau jok motor bergambar joker yang sama sekali tak senada.
“Gue Nata,” ujar lelaki itu sombong. Deny diam saja sebagai tanggapan. Nata tidak terlihat ramah sama sekali, ia bahkan tidak menjulurkan tangan untuk berkenalan. Turun dari motor saja tidak. Bahkan teman-teman di Jakarta saja tidak semenyebalkan ini. Teman-temannya di SMA lalu benar-benar merangkul dan meskipun terlihat dingin, mereka tetap bersikap sopan pada siswa lain.
“Gue Deny. Mau apa lo? Nutupin jalan aja sih.”
Deny makin tak suka ketika Nata tertawa nyaring, membuat Deny ingin segera membungkam mulutnya dengan kaos kaki.
“Sori bro. Gue Cuma mau liat anak pindahan doang, sekalian liat anak-anak culun yang kabur ke rumah lu.”
“Hah?”
“Tuh…”
Dengan dagunya, Nata menunjuk Fira yang sudah berdiri di gawang pintu dibarengi Laila dan Bima yang bersembunyi di belakangnya. Deny bisa melihat bahwa Fira menunjukkan raut berang dan tak suka pada kehadiran Nata. Bisa dibilang benci malah.
Dengan congkaknya, ketiga teman Nata tertawa kecil di belakang. Laila dan Bima makin menciut di belakang Fira, sementara gadis itu masih tegak berdiri. Deny bisa menebak situasi seperti apa ini. jelas bahwa keempat pria di depannya ini adalah tukang bu1ly dan target mereka adalah teman-teman barunya.
Baru juga pindah sudah kena masalah.
“Gue nggak ada urusan sama masalah kalian, tapi gue nggak suka lu pada bikin ribut di depan rumah.”
“Kita bakal pergi asal lu bawa si gendut ke sini.”
Deny menatap Bima yang kali ini terlihat menyembunyikan diri ke pojok ruangan agar tak dilihat oleh Nata. Meskipun berkata tak ingin terlibat, nyatanya hati kecil Deny geram juga melihat kelakuan jamet di depannya ini. ia tak suka menekan orang dan tak suka melihat orang lain ditekan. Persetanlah!
“Kalau gue nggak mau gimana?”
“Iya, kalau kami nggak mau gimana?”
Kaget, Deny melihat gadis berambut bob di sampingnya berkacak pinggang menatap Nata dan gerombolannya penuh kebencian. Mata Deny kemudian berganti menatap Nata yang juga sama terlihat tidak suka, namun bukan benci atau mengejek seperti tadi. Lebih pada… gusar? Sepertinya bukan Fira atau Laila yang jadi incaran Nata, tapi Bima.
“Boncel diem deh.” Pria di belakang dengan seragam sekolah yang dibuka dan menampakkan kaos hitamnya menghardik Fira. Gadis itu membalas dengan pelototan namun tak membalas hinaan tersebut. Ya, Fira memang pendek, tapi Deny tidak merasa bahwa Fira betulan boncel. Tubuhnya yang pendek sama sekali tidak berisi, ia kurus dengan pipi chubby yang makin membuat kesan imut. Deny tak suka Fira diejek begitu, apalagi mengingat bahwa gadis itu berukuran seperti ibunya. Berarti ibunya boncel juga dong?
“Kowe minggiro.” (kamu minggir) ujar Nata dingin.
“Moh. Koe sek lungo!” (nggak. Kamu aja yang pergi) balas Fira.
Meskipun bahasa jawanya tak sempurna, Deny bisa mengerti percakapan mereka.
“Koe ki ngopo sih?” (kamu tuh kenapa sih?)
“Koe sek ngopo! Sana pergi! Deny juga nggak suka kamu di sini.” (kamu yang kenapa) Deny tiba-tiba terkejut namanya disebut oleh Fira. “Iya kan Den?”
Fira menatapnya dengan pasti. Secara otomatis Deny menganggukkan kepala menyetujui klaim sepihak Fira yang tidak salah-salah amat.
“Owlah, saiki kowe karo dek’e?” (oh, sekarang kamu sama dia?) tanya pria lain yang ada di belakang. Lelaki itu berambut kemerahan dan agak berisi meskipun tak segendut Bima. Bisa dibilang malah besar berotot meskipun Deny tak tahu benar ada otot di tubuhnya atau tidak.
“Ho’o. Aku karo dek’e. Makane koe lungo kabeh.” (iya. Sekarang aku sama dia. Makanya kalian semua pergi) Deny semakin terkaget ketika Fira menggandeng lengannya dengan kecepatan kilat. Seperti tersihir, yang bisa dilakukan oleh Deny hanyalah terdin di tempatnya dan menerka-nerka skema apa yang terjadi saat ini.
Suara tawa dari ketiga orang di belakang Nata terdengar mengejek. “Sabar yo Nat!” ujar salah satunya di sela derai tawa.
Kali ini Deny menyadari tatapan tajam mengarah padanya. Siapa lagi kalau bukan Nata? Nata memang tak berusaha menyembunyikan kebencian yang muncul tiba-tiba tersebut terhadap Deny. Matanya seperti memiliki laser yang siap mematikan lawan, dan meskipun menggenggam stang, Deny jelas tahu, ada guratan nadi besar pertanda bahwa ia sedang mencengkram handle tersebut.
“Balik.” Perintah Nata membuat tawa bersahutan tersebut langsung berhenti.
Menyalakan motor lagi, keempat pria tersebut menggeberkan motornya sekali lagi. Membuat Deny lagi-lagi mengkerut karena bising knalpot yang seolah bisa memecah gendang telinga. Tatapan Nata sama sekali tak lepas dari Deny meskipun motornya sudah menghadap jalanan. Tak mau kalah, Deny ganti blik menantang dengan tatapan berani.
“Awas koe!” (awas kamu) Nata mendesis. Tentu saja meskipun ditelan bunyi klakson, Deny bisa mendengar hal tersebut. Jari tengah diacungkan oleh gerombolan Nata, membuat Deny rasanya ingin menerjang satu-satu orang-orang tersebut. Bukan hal sulit bagi Deny untuk merobohkan mereka, bahkan yang paling besar sekalipun. Ia sudah terbiasa bertarung jalanan di Jakarta, pun ia memegang sabuk merah karate, badan jangkungnya juga sudah pasti mendukung kemenangan Deny atas komplotan bully tersebut.
Tapi tidak.
Paling tidak, tidak hari ini.
Ini hari pertamanya di Temayang, ia adalah pendatang yang belum tahu betul latar belakang musuhnya.
‘Hah? Musuh?’ Deny tiba-tiba tersadar oleh pemikiran tersebut. ‘Bagus Den, baru hari pertama kamu sudah punya musuh. Kamu bahkan belum masuk sekolah.’
Deny menggelengkan kepala dengan cepat. Ia memang terlalu cepat terbawa emosi. Tapi Deny tak ingin menyesalinya, toh sudah terjadi.
“Den, masuk yuk…”
Tersadar, Deny menatap Fira di sebelah yang masih menggenggam lengannya. Tangan Fira begitu kecil dibandingkan tangannya.
Salah tingkah, Deny melepas genggaman Fira cepat dan menggaruk kepalanya.
“Eh, iya a-ayo.”
Fira tertawa kecil. Langkahnya mendahului Deny menuju dalam rumah. Entah mengapa Deny menganggap teman barunya tersebut begitu menyenangkan. Tiba-tiba saja Deny sudah melupakan kejadian barusan dan seperti kerbau dicucuk hidungnya, pria itu mengikuti langkah gadis mungil di depan.
Tak keduanya sadari, di dalam rumah ada sebuah tatapan sedih yang menghadap ke lantai.
Tatapan yang patah sebelum berkembang.