Selamat membaca ~ - Ayana mengetuk pintu kamar milik Galen yang masih tertutup dengan rapat. Semua orang sudah siap dan hendak menyantap makanannya, tetapi Galen tidak kunjung turun untuk makan bersama atau bahkan hanya sekadar menyapa. Beberapa kali tak mendapatkan sahutan, Ayana pun dengan paksa membuka tanpa izin. Raut wajah khawatirnya terlihat dengan jelas saat melihat tubuh Galen meringkuk dibawah selimut tebal. Ia pun segera berjalan menuju anaknya yang lemas. Tangan Ayana terulur untuk mengecek suhu badan milik Galen, dan ternyata ia sedang demam. Setelah sekian lama, Galen demam karena bermain hujan. Galen sangat suka berlarian dibawah guyuran air hujan yang mampu menyamarkan kondisi emosionalnya. Tapi kali ini hujan juga membuatnya jatuh sakit setela

