Chiara bangun dengan kepala terasa berat pagi ini. Ia tidak bergerak, hanya berbaring lurus dengan pandangan menancap ke langit-langit kamar. Seperti biasa setelah beberapa minggu menikah dengan Jovan, mereka selalu tidur bersama, tetapi Jovan selalu bangun lebih dulu. Kadang-kadang Chiara heran dan sedikit curiga bahwa laki-laki itu sebenarnya tidak pernah benar-benar tidur. Pintu kamar terbuka dengan suara pelan dan Jovan masuk, sudah memakai kemeja polos berwarna biru tua dan pantalon berwarna abu-abu. “Chiara, kau sudah bangun?” “Jam berapa ini?” tanya Chiara dengan suara serak. Ia menelan dan merasa tenggorokannya seperti sedang digosok oleh sebuah sikat. “Kenapa suaramu begitu?” tanya Jovan sambil memakai jam tangannya. Ia mendekati sisi tempat tidur di mana Chiara sedang berbari

