"Ingat! Semenjak kau menyerahkan diri padaku, itu artinya, aku berhak mengambil suara atas namamu!" Steve berkata lirih, persis di telinga Lyana. Tangan Steve menahan pinggang ramping Lyana, mendesaknya ke dinding. Pemberontakan Lyana kian melemah. Mata birunya hanya mengerjap pelan, seperti rusa yang lugu. Steve menyurukkan kepala di antara ceruk leher Lyana, menyesap aroma campuran seperti melati dan vanili. Manis. Aroma yang mulai dua bulan lalu ia rindukan hingga rasanya putus asa. Perlahan, bibir Steve mencecap kulit lembut Lyana, memberikan tanda kemerah-merahan. "Steve! Apa yang kau—" "Diam! Kau ingin menarik perhatian semua orang?" Lyana hanya bisa menggigit bibir. Tangannya yang lemah mencoba mendorong Steve, tetapi tak diindahkan. Meskipun saat ini Steve terluka dengan

