Bagi seorang ibu, tidak ada hal yang paling menyakitkan kecuali mendengar anaknya terluka dan ia tak bisa melakukan apa-apa. Ketidakbberdayaan itu terasa sangat menyesakkan. Seolah ia sengaja dihukum oleh alam melalui rasa sakit yang mustahil terurai. Apa yang dirasakan oleh Lyana kini tak lebih baik dari perandaian tersebut. Sepanjang perjalanan ke Washington D.C. dari Dunster, ia dilanda kekhawatiran. Untuk pertama kalinya ia merasa tak berhasil menjadi ibu. Seseorang yang seharusnya sanggup melindungi, kini justru menjadi orang asing yang berdiri di lingkaran terluar, lingkaran yang paling jauh dari keberadaan putranya. Celline sangat memahami apa yang tengah dirasakan Lyana. Dalam hati, ia diam-diam merasa bersalah karena tidak bisa membantu banyak untuk bisa menyatukan Lyana denga

