When the Real Life is Begin
Namaku Aurora Leona, tapi kalian bisa memanggilku dengan nama Leon. Kebanyakan teman-temanku memanggilku dengan sebutan Singa Betina atau Si Anak Singa, walau seringnya ya... nama panggilan itu membuatku kesal tapi tidak untuk hari ini. Hari yang telah lama ku tunggu dan akan kupastikan jadi yang terbaik.
“HEH ANAK SINGA!!” Aku menoleh ke arah sumber suara yang sangat familiar di telingaku, siapalagi kalau bukan Seruni. Sahabatku yang tega meninggalkanku untuk berkuliah di Turki ketika lagi sayang-sayangnya. Menyebalkan memang..
“Serunii.. Ya ampun lo beneran dateng! Aah, so happy.. sini mana hadiahnya?!” kataku tanpa ragu sambil membuka tasnya.
“Gak ada manis-manisnya lo ya udah pakai kebaya gini, yang anggun dikit dong! By the way selamat ya untuk wisuda lo, nih gue kasih selempang kebanggan buat yang akhirnya cumlaude..” Seruni memasangkan sebuah selempang padaku yang bertuliskan..
‘Adek siap dilamar bang....’
“Really??! Punya pacar aja enggak terus gue mau di lamar siapa?!,” Kataku sambil tertawa. Dibanding rasa malu, wajahku lebih mendeskripsikan rasa bahagiaku saat mendapatkan selempang ini.
“Ya gak apa-apa, mana tau abis ini lo ketemu jodoh lo, udah lah lo sudahi masa-masa permainan lo sama kaum laki-laki. Its time to find the right one but, please.. take a selfie first...” Seruni mengangkat tinggi-tinggi tongsisnya dengan kamera depan menghadap kami berdua “kimchiiii..” dan terjadi lah 5 pose dimulai dari yang paling anggun, fierce ala-ala, sampai yang paling jelek.
“bullshit...” What a nice word..
“No!, please believe me. You’re gonna find your man when everything is right.. tapi maaf banget gue ga bisa lama-lama karena harus nemuin teman gue yang lain soalnya besok gue harus balik ke Bali sebelum gue dipecat jadi anak” katanya sambil melipat kembali tongsisnya dan mengeluarkan beberapa slempang lainnya.
“No, please.. Gue menunggu hampi satu tahun untuk pertemuan yang hanya 15 menit??”
“I’m sorry darling, by the way gue belom ngeliat orang tua lo dari tadi. Salam ya buat Om dan Tante. See you again bestie!” setelah cipika-cipiki Seruni perlahan menghilang di antara keramaian.
“Okay, see you darling...” aku baru sadar kalau aku juga belum bertemu kedua orang tuaku sejak awal tadi kami berpisah di awal acara. Aku mengamati ke seluruh sudut dan mencari sosok keduanya di tengah kerumunan. Oke.. ini mulai membuatku cemas. Aku berjalan mengitari halaman aula sekitar 5 menit dan akhirnya berhasil menemukan keduanya sedang duduk di bangku taman aula, masing-masing diam seperti memang tak ada yang perlu dibahas.
“Ma, Pa, Aurora cariin loh dari tadi. Kenapa gak telepon aku?”. Yep, hanya kedua orang tuaku saja yang masih kekeuh memanggil aku Aurora.
“Papa pikir kamu pasti lagi asik dengan teman-temanmu. Selamat ya sayang untuk wisudanya, Papa dan Mama bangga sekali sama kamu..” Papa mencubit gemas pipiku.
“Mama tahu kalau anak Mama pasti selalu jadi yang terbaik” Keduanya mencium pipiku secara bergantian, ini membuatku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku dicium oleh mereka berdua.
“Aku mau foto bertiga sama Mama dan Papa, di ujung sebelah sana ada mini studio” Adakah yang salah dari permintaanku barusan, kenapa keduanya kini hanya diam saling berpandangan sesaat. Ku fikir, foto dengan keluarga adalah hal lumrah.
Hanya ada beberapa studio mini untuk ribuan mahasiswa yang diwisuda hari ini, tapi sepertinya keberuntungan sedang bersamaku setelah menemukan studio mini yang hanya ada 2 antrian. Hingga tiba giliranku, tentu aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membuat pose yang bagus dimana aku bisa menarik kedua tangan orang tuaku untuk bergandengan selama berfoto. Setelah satu tahun perceraian mereka rasanya tidak ada kesempatan untuk bersama-sama seperti ini. Bisakah kita sudahi semua ini, aku sudah lulus dan akan pulang ke rumah bersama Mama dan Papa. Setelah puas dengan tiga pose, aku masih merekatkan kedua tangan mereka dalam pangkuanku sambil menunggu foto tadi selesai dicetak.
“Rora kangen nasi goreng buatan Papa deh..” aku mencoba memecah keheningan diantara kami bertiga.
“Papa bisa masakin itu buat kamu besok!” Papa nampak antusias menyambut keinginanku
“Terus minumnya s**u jahe buatan Mama, hmm pasti enak banget tuh.. “ benar dugaanku, tak ada satupun yang bisa menanggapinya. Keheninganpun kembali terjadi selama 12 menit hingga Mas tukang foto di studio mini tadi menyebutkan nomer antrian milikku. Aku menerima sebuah CD dan 3 lembar foto yang hasilnya lumayan. Tiga lembar tadi masing-masing kubagikan untuk Mama dan Papa. Aku harap mereka akan memajangnya dengan figura terbaik.
”Kamu mau pulang sama siapa?” pertanyaan dari Mama yang sangat merusak suasana.
”Apa maksudnya? Kenapa aku harus milih?”
”Aurora, please..”Kata Papa.
”You kidding me.. aturlah sendiri asal pada seneng..” Aku yang berusaha tidak perduli kemudian berjalan begitu saja meninggalkan mereka berdua. Aku fikir ini akan jadi salah satu hari terbaikku, nyatanya mereka kembali mengacaukannya. Sebenarnya, aku tak perlu bersikap seperti ini kepada pasangan yang memang sudah sah bercerai dan pisah rumah, mengharapkan bisa tinggal dalam satu atap bersama mereka kedua adalah hal yang sebenarnya mustahil. Setelah percakapan yang tidak menarik sama sekali tadi, kami.. yaa kami bergegas pulang dalam satu mobil. Entah aku akan dibawa kemana hari ini, aku yakin tak akan ada bedanya. Berada dalam satu mobil tapi tak ada satupun yang berbicara, begitu asing seperti berada di ruang hampa. Aku tak tahan lagi dengan keheningan ini, untung saja sahabat terbaikku selalu berada di tas. Kukenakan di kedua telingaku, beberapa lagu hip hop favorit dalam volume yang cukup kencang setidaknya akan meredam kesepian ini sementara.
***
Satu bulan kemudian..
Kali ini aku akan setuju dengan takdir yang diberikan oleh Tuhan, setelah sekian lama aku menjadi pengacara (baca: pengangguran banyak acara) akhirnya ada perusahaan yang mau menerima gumpalan daging sepertiku. Ya, kini aku resmi menjadi wartawan sebuah majalah Lifestyle di Jakarta, walau kabarnya berita yang akan kutangani nanti akan banyak bersangkutan dengan kaum-kaum hedonisme kota yang penampilannya pasti sangat fashionable. Sejenak aku melihat penampilanku di kaca, tentu saja jauh dari kata mengagumkan, tapi aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk hari pertamaku..
“Mau sampe kapan ngacanya? Hari pertama jangan kesiangan loh!” suara Mama menyadarkanku dari lamunanku. Oh ya, tentu kalian masih ingat dengan Mamaku kan? Aku memutuskan tinggal dengannya karena hampir seluruh barang-barangku ada di rumah ini. Sejak bercerai, Papa memutuskan untuk membeli rumah yang tak jauh dari sini, jadi sesekali aku bisa mengunjunginya.
“Udah cocok belum sih Ma? Apa perlu Rora ganti baju yang lain?” kataku yang masih melanggak-lenggok di depan kaca, seperti ada yang belum pas.
“Eeh.. Mau sampe jam berapa kamu gonta-ganti baju? Itu udah pas kok, jangan lupa pake sarung tangan, masker dan sneakers biar kamu ga belang loh..” Kata Mama sambil bolak-balik menyiapkan sarapan, dengan suara yang tentunya terdengar sangat jelas ke seisi rumah.
“Iyaa Ma… Aku gausah sarapan deh yaaa langsung berangkat aja. Bye Ma, muach..!” kataku yang sambil secepat kilat cium pipi Mama dan kabur dengan motor yang belum sempat aku panaskan mesinnya. Selalu ada yang pertama dalam hidup, tapi untuk kali ini perasaanku seperti dikali 2 untuk pertama kalinya kerja dan hari pertama menjadi orang dewasa.
Setelah hampir 2 jam nyasar, akhirnya diriku sampai di kantor pertamaqu ~
Sebagai seorang fresh graduate yang belum punya pengalaman kerja, ternyata atasanku cukup tega untuk memberikan tumpukan majalah lama dan buku tentang fashion dan kuliner di hari pertama kerja. Dua hal yang menyenangkan tapi ternyata banyak sekali hal yang aku tidak pahami, setidaknya untuk perbekalan awalku sampai 6 hari kedepan karena aku sudah mendapat jadwal liputan.
“Aurora..” Itu Manager pertamaku, panggil saja dia Mas Lucky. Jangan panggil bapak, katanya.
“Leon aja Mas manggilnya, Leona..”
“Okay, Leona.. Dari backgroud yang saya lihat, kamu pasti bisa untuk belajar menyelami artikel kuliner bulan ini. Tolong kamu pelajari tata bahasa majalah kita, browsing beberapa hal untuk tema bulan ini dan besok kamu hadir ya untuk launching produk di daerah Senayan, sama fotografer kita…” setelah panjang kali lebar berbicara, Mas Lucky memberikan sebuah selembaran acara yang harus aku hadiri besok.
“Oke Mas!” jawabku.
‘Soft Launching Mascarpone Crème by Nicolasz’
Begitulah tulisan yang tertera, aku belum mengerti apa itu Mascarpone tapi sepertinya lezat, terlihat juga dari banyaknya gambar kue yang ada pada selembaran. Puas menerka-nerka rasa dari Mascarpone, mataku menyapu seluruh pemandangan ruang kerja yang tak begitu besar dan cukup sunyi. Oh, seperti ini ya orang kalau lagi kerja.. Rasanya masih asing, dingin, apakah semua teman-temanku merasakan hal yang sama di hari pertama kerja?? Satu hal yang pasti, aku tau kalau hanya aku yang mendapatkan sepotong kue sebagai penentu iya atau tidaknya aku diterima untuk pekerjaan ini.
Lembaran hidup yang baru, pikirku..
Statusku sudah menjadi seseorang yang mempunyai pekerjaan, itu berarti aku harus sudah memulai membayar beberapa keperluan pribadiku dan pola pikir yang lebih dewasa lagi. Apakah aku sudah layak untuk bisa berdiskusi dengan orangtuaku?