Cukup Papa Dan Mama Yang Berubah, Kamu Jangan. Aku Gak Akan Kuat.

4225 Kata
“Sayaaanng, gimana kerjaan hari ini?” Dua bulan belakangan ini kegiatan telepon sampai tengah malam dengan Miki menjadi hal yang paling ditunggu, membicarakan hal yang paling penting sampai yang paling tidak penting. Bahkan tak jarang sampai kami berdua sama-sama tertidur saling mendengarkan dengusan nafas, bermanja-manja rindu, kadang kala saling terdiam kehabisan topik pembicaraan. “Kamu sibuk banget sih kayaknya minggu ini?” “Iyaa sayangku, aku ga bisa janji nih bisa temani kamu weekend kali ini..” kata Miki dari seberang telepon. “Yaahh, beneran nih ga bisa ketemuan? Aku kangen banget loh ..” Pintaku sambil berselimut di atas kasur. “Aku usahain ya sayang.. Kalau gitu aku bobo duluan ya, kamu jangan bobo larut loh!” “Iyaa sayangku yang bawel. Good night sayang, I love you..” “I love you too Leonaku..” ucap Miki dengan nada manis sebelum telepon ditutup. Hampir setiap weekend kami menghabiskan waktu bersama untuk sekedar makan siang bareng atau pergi ke bioskop. Lagi pula, siapa lagi yang bisa ku ajak pergi saat teman-teman dekatku ada di negara orang dan kedua orang tuaku yang yaa.. sibuk dengan dirinya masing-masing. Tapi akhir-akhir ini memang kesibukan tengah melanda kami berdua, terutama Miki yang pulang selalu hampir tengah malam. Mungkin weekend kali ini waktunya aku menikmati waktu sendirian di rumah, ***** Sewaktu kuliah, weekend bagi Leona adalah jadwalnya mengerjakan tugas atau menentukan harus pulang ke rumah Mama atau Papa. Tapi kini apa yang dilakukan Leona saat weekend tanpa seorang Miki? Aku memilih end up dengan masih memakai piyama dan semangkuk mi instan sambil menyaksikan kartun-kartun pagi yang tayang di TV. Bisa menikmati mi instan yang lengkap dengan komplimennya seperti telur setengah matang, irisan cabai rawit dan sawi hijau, satu sendok kornet daging, dan sedikit perasan jeruk nipis tanpa interupsi adalah hal langka. Mumpung sedang sendiri di rumah, kalau Mama tau pasti udah melarangku atau menarik mangkuk mi istanku dan ikut menikmatinya. Jangan tanya kemana, tak jarang Papa dan Mama justru pergi saat weekend entah itu urusan pekerjaan ataupun sekedar hangout dengan teman-temannya. Tingg.. Tingg.. Siapa sih yang bisa-bisanya bertamu sepagi ini saat weekend? Aku rasa itu bukan Mama ataupun Papa karena aku hafal betul suara mobil mereka, dengan terpaksa aku meninggalkan sebentar mangkuk mi instanku di atas meja lalu beranjak untuk membuka pintu. “Mamanya lagi per...gi..” Aku terdiam beberapa detik untuk menyadari kalau yang datang adalah.. “Miki..” dengan secepat kilat aku bersembunyi di balik pintu. “Surpriseee...” ujarnya dengan nada gembira. “Kamu ngapain ngumpet gitu?” “Aku belum mandi tauu. Kamu ngapain kesini gak bilang-bilang aku ih?!” “Hahaha ya kan kejutan, aku sempatin kesini dulu sebelum ke kantor. Ayo dong keluar sayang..” Perlahan aku keluar sambil ku rapihkan rambutku yang masih sedikit kusut. Ku lihat dia tampil tampan sekali dengan paduan celana chino, sepatu sneakers warna putih dan kaus polos hitam sedang membawa seikat bunga mawar merah yang tak kalah merekahnya dengan senyumnya. Oh.. tak ketinggalan, aroma tubuhnya yang begitu khas seperti wangi kayu gaharu yang gagah, tapi juga terasa segar sepeti hutan yang basah oleh embun, dengan sedikit aroma kelembutan khas bunga geranium. “Nih buat kamu” katanya sambil menyodorkan bunga tadi ke arahku. “Aww, this is sweet. Makasih sayang..” “Anything baby..” Kruuukk.. Suara perut keroncongan yang memecah suasana, datang dari pemiliknya yang kini wajahnya memerah menahan malu. “Loh, kamu belum sarapan emang?” tanyaku. “Iya hehehe tadi aku keliling dulu cari toko bunga” jawab Miki dengan tawa kecil. “Aku buatin mi instan mau? Kebetulan aku lagi makan, sini masuk duduk aja disini” Kataku sambil menarik tangannya dan memintanya menunggu di ruang TV. Sementara dia menyaksikan acara TV, ku buatkan mi instan rasa soto kesukaannya dengan topping komplit minus cabai karena Miki adalah kebalikanku yang suka banget pedas. Setelah hampir 5 menit aku kembali dengan mangkuk mi instan yang aromanya menggugah selera. “Silahkan dimakan sayang..” kataku sambil memberikan mangkuknya kepada Miki. “Wahh thank you sayang, mi instan kamu jadi dingin gara-gara bikini aku makan” “Gak apa-apa kok, aku udah kenyang” Bohong banget, tapi pemandangan Miki lagi makan adalah sesuatu hal yang gak boleh dilewatin sedetikpun. Cowok ini selalu berubah menjadi menggemaskan ketika makan, begitu menikmatinya seperti anak gendut yang lahap bahagia menyantap sereal manis saat sarapan. Sepertinya anak ini benar-benar lapar setelah berkeliling toko bunga, dia hampir tak menyadariku yang sedari tadi memperhatikannya dan makan dengan lahap. Sangking lahapnya sampai-sampai dagunya ikut basah oleh kuah mi instan. “Ehh jangan dilap pake tangan dong, sini aku aja yang lap..” Kataku sambil membersihkan sisa kuah yang ada di dagunya dengan tisu, disaat yang bersamaan dia malah memegang tanganku dan kini mata kami bertemu. Waktu tiba-tiba terasa berhenti, jantungku berdetak semakin kencang saat menatap mata birunya yang indah. Belum pernah aku menatap Miki sedekat ini dan aku baru tau dia punya bibir yang merah berkilau atau mungkin basah karena kuah mi instan. Tanganku mendadak kelu, saat bibir merah itu mengecup telunjukku. Terasa begitu lembab, lembut sekali, kecupan yang membuat nafasku kini terasa semakin sesak. Mata birunya semakin menatapku pekat, seiring dengan tubuhnya yang semakin mendekat membuatku terasa terintimidasi namun tak sanggup bergerak. Seperti berada di ruang hampa udara, tak ada yang bisa ku dengar selain desah nafas kami yang semakin memburu saat kubelai bibirnya. Bibir lembut yang datang perlahan menyapa dengan bibirku, memberi belaian yang begitu hangat menyentuh sampai ke relung hati. Perlahan bibirnya bergerak melumat bibir bawahku dengan lembut namun begitu intens, menghasilkan setruman-setruman aneh di perut yang lebih kuat dari kejadian di bus pada waktu itu. Bibirnya terus memanduku, hingga aku mampu mengimbangi iramanya. Ia menaruh kedua tanganku di bahunya yang bidang dan kini dengan leluasanya ia membelai punggungku, membuatku semakin gemas tak kuasa memeluk tengkuknya. Aku tak sanggup membuka mataku saat bibir kami semakin gemas mencium satu sama lain. Seluruh indraku yang lainnya terasa terpuaskan, belaian lembut dipunggung yang semakin membuatku melayang, suara kecupan yang merdu, bibir yang terasa manis nan lembut, serta aroma segar khas Miki yang semakin membius memenuhi penciumanku. Wanginya, pacarku.. Wait.. Dengan sekejap aku melepaskan tubuhku dari pelukannya dan kini kututup wajahku dengan bantal. “Hey? Are you okay?” tanya Miki yang sepertinya mulai panik. Mataku mengintip dari balik bantal “Aku kan belum mandiiiii...” “....” Miki terdiam menatapku membuatku semakin malu. “Mikiiiiii” “Ahahahhaha aduhhh gemasnya sayangku, sini aku peluk..” Miki memelukku yang masih masih menutup wajah dengan bantal. “Gak apa-apa kok sayang..” Miki melepaskan pelukannya “Oh iya, kok dari tadi aku ga lihat Mama?” “Mama lagi pergi..” “Oh, kalau gitu aku ga bisa lama-lama ya.. Thanks ya sayang untuk sarapannya..” Miki memberiku kecupan kilat di Pipi sebelum akhirnya beranjak dari sofa. “Yaahh cepet banget, jangan nakal yaa nanti di kantor” kataku sambil mengantarnya ke teras rumah. “Take care ya sayang, Byee..” Ucap Miki sebelum menutup helmnya lalu membawa motornya melaju pergi. Selepas bayangan Miki menghilang, aku masih saja memegang bibirku. Membayangkan kejadian beberapa menit lalu yang benar-benar menakjubkan rasanya. Masih bisa ku bayangkan mata birunya yang menatapku terpana serta kecupan-kecupan yang membuat sekujur tubuhku terasa melayang. ***** Meskipun tadi pagi Miki menyempatkan untuk bertemu rasanya hampa sekali melewati satu akhir pekan tanpanya, apalagi setelah ciuman tadi yang membuat rasa rindu ini bertambah berkali-kali lipat. Kegiatanku hari ini tidak jauh dari makan dan menggonta-ganti channel TV, tidak ada satu teman yang bisa ku ajak telepon, begitu juga Miki yang tak ada kabar berjam-jam karena sibuk dengan pekerjaan. Waktu sudah menunjukan hampir jam 10 malam tapi Mama belum juga pulang. Membosankan. Lamunanku berhenti saat mendengar sebuah mobil berhenti di pekarangan rumahku, disusul dengan percakapan yang terdengar tipis tapi sepertinya menarik. Aku mengintip dari balik tirai jendela, Mama pulang tanpa mobilnya dan diantar oleh seseorang yang sedang bersenda gurau dari dalam mobil. Cukup lama mereka berbicara, kulihat sebuah tangan khas laki-laki dengan jam tangan kulit hitam memegang tangan Mama dari baik jendela pengemudi. Sayangnya aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Aku lebih memilih melanjutkan menonton FTV di televisi dari pada menyaksikan pemandangan menjijikan tadi. “Eh ada anak Mama, kok belum tidur?” suara Mama dari balik pintu. “Diantar siapa, Ma?” Tanyaku dengan acuh. “Oh... itu teman Mama..” “Teman macam apa yang pakai elus-elus tangan?” Suasana mendadak canggung, dengan suara nafas panik Mama yang khas. “Hahaha elus-elus apa ah?” Sebuah kecupan kilat mendarat di pipiku. “Mama mandi dulu yah!” Katanya dengan terburu-buru. “Besok luangin waktu ya makan siang sama Leon..” “Tapi Mama jam 3 sore ada janji ke..” “Aku ga menerima penolakan apa-apa kali ini..” Kataku dengan nada ketus. Sementara itu Mama tak menjawab apa-apa selain tersenyum kepadaku. Doting me! From : Miki Sayang Message : Sayangku, aku sudah sampai di rumah .. Dengan secepat kilat jariku menekan tombol telepon pada kontak Miki. “Halo sayang, kok dari tadi sore ga ada kabar?” “Maaf ya sayang, tapi kerjaanku banyak banget tadi ga sempat pegang handphone..” jawab Miki dari seberang telepon. “Hmm, baiklah.. Sayang aku masih kangen nih sama kamu, ngobrol yuk..” “Uhh, aku juga kangen kamu. Tapi aku lagi capek banget hari ini.. Boleh ga aku tidur duluan malam ini?” “Oh gitu yah.. Hmm, baiklah.. Good night Miki Sayang” “Good night my Leona..” Klik, lalu Miki menutup teleponnya. Kini kesepian kembali menyelimutiku. Suasana hening khas malam hari, tanpa seseorang yang bisa diajak berbicara. Tak biasanya Miki absen menyempatkan waktunya untuk menemaniku sekedar ngobrol santai, yah atau mungkin hari ini dia benar-benar kelelahan. Ku nyalakan speaker bluetooth mini kesayanganku dan kuputar playlist lagu-lagu kesukaanku, barang kali bisa mereda rasa kesepian ini. ***** ♫People say that love's a game A game you just can't win If there's a way I'll find it somebody And then this fool will rush in♫ Lipstick warna nude yang dipadukan dengan warna oranye untuk gradasi di bagian dalam bibir sepertinya cocok untuk hari ini, terlihat fresh untuk di hari minggu. Aku memilih padu padan kaus polos putih yang sedikit oversize dengan jumpsuit berbahan jeans biru tua untuk pergi makan siang dengan orang tuaku hari ini. Tak lama setelah aku copot roll rambut yang ada di poni, ku dengar ada suara mobil yang tak asing masuk ke pelataran rumah. “Aurora, Mama pikir kita cuma pergi berdua..” ucap Mama dari pintu kamarku. “Orang tua Aku kan ada dua..” kataku sambil merapihkan alat-alat make up yang berantakan di atas kasur. “You look good Ma by the way..” Lalu aku bergegas ke luar rumah. “Papa...!” aku berlari kecil untuk segera memeluknya. “Senang sekali anak Papa hari ini.. Do you miss me?” Papa mencium keningku. “Iya dong, jarang-jarang ada kesempatan kita lunch bareng gini kan? Yuk! Mama juga udah siap..” “Mama?” “Iya, Papa keberatan?” “Halo Arman..” sapa Mama yang baru saja muncul dari balik pintu utama rumah. “Oh, hai Ruth..” Sejenak Papa terdiam, mungkin ia terpesona dengan tampilan Mama yang memakai dress katun berwarna biru muda dengan motif bunga-bunga kecil, mules shoes warna nude polos dan rambut panjang yang dibiarkan tergerai bebas. “Uhm, kayaknya Pasta will be good for today ya? Aku kangen makan di Kitchen Rette nih!” kataku. “Mama ikut aja..” “Okay, Mama duduk di depan yaa..” aku segera duduk di kursi tengah dan tak memberi ruang lain sedikitpun dengan merenggagkan tas selempangku di sisa ruang kursi. Aku tau, keheningan yang awkard ini pasti akan terjadi. Tapi menurutku tak ada salahnya untuk sesekali melihat mereka duduk berdampingan seperti ini di mobil. Sesekali mereka bertanya hal-hal ringan untuk memecah kehingan. Sementara aku duduk di belakang menyaksikan dan mengulang kembali kenangan-kenangan manis sebelum akhirnya ‘bom atom’ itu meledak. Kemacetan lalu lintas selalu membuatku mati gaya, selama satu jam ini entah sudah berapa banyak aku berganti gaya duduk atau sekedar mengusili orang tuaku. “Kamu sih ngajak makan ke Kelapa Gading, tau sendiri kan daerah sini mau ada pembangunan atau gak selalu macet,” ucap Mama protes setelah melihatku gelisah tak karuan, tapi tak sedikitpun aku hiraukan. Setelah hampir 30 menit berkeliling mall mencari parkiran, akhirnya kami sampai. Perutku yang dari tadi sudah keroncongan meminta haknya untuk segera dimanja, aku gandeng lengan Papa dan Mama menuju restoran seperti seorang anak kecil yang senang diajak jalan-jalan oleh orang tuanya. Perhatianku tertuju pada meja dekat bar yang menghadap pemandangan di luar. Aku menaruh tasku di kursi sebelah yang lagi-lagi menyebabkan mereka mau tidak mau duduk berdampingan. “Aku yang pilih ya! Aku masih ingat kok kesukaan kalian...” “Mas, saya pesan satu Fettucini Prawn Carbonara, Oxtail Balado, Pan Seared Mediteranean Barramundi, dua Lychee Tea tapi less sugar, Lime Mojito Cocktail, dan satu air mineral,” kataku kepada salah satu Waiters. “Siapa yang minum cocktail?” Tanya Papa. “Aku..” “Sejak kapan kamu minum alkohol, Leon?” Tanya Papa lagi dengan nada sedikit khawatir, aku yang menjadi target sasaran hanya tertawa kecil mendengarnya. “Udah lama ya ga merhatiin anak satu-satunya?” Kataku sambil tersenyum. “Sini aku foto kalian berdua..” Aku angkat kamera handphoneku ke arah Mama Papa. “Leon, ga usah dong kan..” ucap Mama “Satu.. Dua.. Tiga..” Mau tidak mau keduanya hanya memasang senyum canggung, cukup lah untuk aku simpan sebagai kenangan di handphone. Lima belas menit berlalu akhirnya makanan yang kami pesan datang juga. Sudah beberapa kali aku berkunjung ke restoran Kitchen Rette dan selalu memesan menu yang sama. Tekstur pasta yang al dente, dengan saus carbonara yang creamy dan seasoning yang pas, ditambah lagi dua king prawn yang disajikan di atas piring bak selebriti yang sedang show di atas panggung. Tidak ada yang lebih baik dari pada udang yang fresh dimasak tanpa terlalu banyak bumbu, cita rasanya yang khas sudah menghasilkan rasa umami yang spesial. Menu ini hampir tidak pernah berubah, yang berubah hanyalah suasananya. Pertama kali aku mencicipi menu ini Mama dan Papa masih saling mencintai. “Leona sayang, gimana kerjaannya? Kamu kalo liputan kemana aja sih? Oh ya, Miki gimana? Kalian baik-baik aja kan?” ucapku, memecah keheningan yang sedari tadi hanya diisi oleh suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Kedua orang yang ada di depan mataku ini sedari tadi hanya memperhatikan piring dan ponsel masing-masing. Entah karena makanan ini yang terlalu enak sampai layak mendapatkan perhatian lebih atau ada sesuatu yang lebih menarik di handphone mereka sampai bisa-bisanya mengabaikan momen ini. “Jadi, gimana kerjaan kamu? Tanya Papa. “Baik,” “Kamu memang sudah coba restoran mana aja selama liputan?” “Banyak,” “Kamu mau apa dari Papa sebenarnya?” Papa menghentikan suapannya. “Uang 100 juta hari ini juga, handphone baru, mobil, lemari es juga boleh” “Leonaa!” Ucap Mama Setelah menghentikan makannya. “Bohong deng, segitu mah kurang mahal, kurang berharga” aku menghentikan makanku. “Bisa ga kalau aku minta waktu dan perhatian Mama dan Papa hari ini? Pacar kalian ga akan ngambek kan kalau kalian luangin waktu untuk anak kalian satu-satunya?” “Leona! Mama dan Papa ga pernah ngajarin kamu jadi anak kurang ajar!” Ucap Mama cukup kencang, beberapa pengunjung kini memandangi kami seperti sebuah drama sinetron. Seru sekali. Dadaku terasa sesak dan panas sekali, namun aku tetap berusaha menahannya dalam pandangan kosong ke kedua orang tuaku. “Leon udah kenyang, mau jalan-jalan dulu..” Aku beranjak dari meja makan. “Kalau Papa Mama tau apa yang Leon suka, kalian pasti tau aku ada dimana..” Aku berjalan meninggalkan Papa dan Mama di restoran, tak perduli meski beberapa orang masih melayangkan pandangannya ke arahku. Tahan Leona, tahan... Langkah kakiku terasa lebih berat dari biasa ketika harus sambil menahan air mata ini agar tidak jatuh membasahi pipi. Sementara kakiku berjalan tanpa arah, mataku memandang kesana kemari menelusuri isi toko untuk sekedar menghibur hati yang sudah dari tadi ingin marah. Sesekali juga aku berhenti di sebuah toko pakaian untuk sekedar melihat-lihat. Langkah kakiku akhirnya berhenti sebuah toko yang sedang ramai karena ada diskon besar, dimana lagi kalau bukan toko make up. Dari pada memikirikan makan siang yang menyebalkan hari ini, lebih baik aku memikirkan kosmetik mana yang sudah butuh direpurchase, atau mungkin aku butuh yang baru. Mataku tertuju pada sebuah merk luar negeri yang memajang banyak warna koleksi lipstick dan beberapa alat makeup lainnya. “Cari apa Kakak?” Tanya seorang pramuniaga. “Oh, enggak mba lagi liat-liat aja dulu..” “Boleh coba Kak koleksi lipstick baru kita ini kolaborasi dengan model Internasional loh Irene Moren, daya tahannya bagus loh walaupun dipake buat Makan banyak juga ga akan pudar” Hmm, apakah diriku nampak seperti seseorang yang makan banyak.. “Tapi warnanya ngejreng semua ya, saya gak biasa pake yang mencolok.” “Dicoba dulu kak, barang kali cocok kebetulan Kakaknya cantik sekali loh kulitnya kayaknya cocok pakai warna apa aja,” Ini adalah gombalan umum setiap Pramuniaga. “Kebetulan kita lagi ada special event, setiap pembelanjaan tiga ratus ribu, Kakaknya dapat kesempatan untuk make over dari MUA kita.” Kalau ini sepertinya event yang tak biasa, baiklah Pramuniaga ini berhasil memebujukku. Dengan bermodal tiga ratus ribu, aku memasrahkan wajahku pada seorang wanita yang menjadi MUA pada hari ini. Dia menjelaskan beberapa makeup yang katanya lebih cocok untuk kulitku dan juga memilihkan lipstick dengan warna merah marun sebagai sentuhan terakhinya. “Tuh kan aku bilang apa, warna ini cocok banget loh buat Kakaknya. Pipinya jadi kelihatan ga terlalu chubby, jadi lebih fresh looknya,” Ucap mba-mba MUA. “Apa ga keliatan jadi galak ya aku pakai warna ini?” Tanyaku sambil memandangi diri di cermin. “Engga dong, ini namanya tampilan ala-ala fierce gitu mba persis dengan karakternya Irene Moren. Sekarang ini look seperti ini lagi tren loh mba, jadi kelihatan seperti strong women, lebih tegas dan mencuri perhatian memang..” bagai seorang penyihir, perkataan MUA tadi seperti menghipnotis aku untuk setuju dengan pilihannya. Lagi pula tidak ada salahnya mencoba penampilan baru.. Satu buah foundation, lipstick merah marun, dan highlighter warna gold yang menyilaukan mata akhirnya menjadi milikku dan itu semua totalnya melebihi tiga ratus ribu. Belanja memang menjadi salah satu stress release yang belum tergantikan. Sambil menenteng tas belanjaanku, ku lihat beberapa pesan dan misscall dari Papa dan Mama sudah membanjiri handphoneku. Sudah ku tebak, mereka tak akan bisa menebak aku ada dimana. “Halo Pa, udah selesai? Leona tunggu di parkiran aja”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN