Kalang Kabut - 38

1810 Kata

Bekti berbaring di kamarnya dengan gelisah. Kecupan lembut yang diberikan Cahyo tadi sore membuatnya tak bisa tidur. Bekti menuentuh bibirnya, lalu memejamkan matanya. Ciuman itu masih terasa. Sangat lembut dan manis. Bekti mendesah lalu kembali membuka matanya. Dia menatap langit-langit di atasnya tanpa berkedip. "Gawat, kayaknya gua emank cinta lagi ama si Caplang. Gimana coba," gumam Bekti. Beberapa menit kemudian, Bekti merasakan sakit di kepalanya. Bekti menyipitkan mata. Sakit kepala yang dia derita sudah terjadi berhari-hari. Terkadang disertai dengan muntah juga. Menurut Lastri itu karena masuk angin. Memang benar, Bekti merasakan punggungnya agak berat. Setiap masuk angin dia selalu merasakan hal seperti itu. "Aih, angin mana lagi coba yang masuk ke gua, betah banget kayaknya."

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN