Bab 2Diana terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang terasa pegal. Semalaman Diana, tidur meringkuk di atas sofa ditemani satu bantal dan selimut. Memang hangat, tapi tempatnya yang sempit, membuat Diana tidak leluasa untuk berubah-ubah posisi. Sementara di atas Kasur, tidurlah seorang pria tampan yang tidak lain adalah suami Diana. Dia memang tampan, tapi sayangnya sedingin es dan sekaku kayu.
Apakah aku mengakui kalau dia tampan?
Diana bergidik dengan cepat lalu meraup kasar wajahnya. Meski sudah dilukai dan dikotori oleh kekasihnya sendiri, Diana tidak bisa berbohong kalau Dimas memang tampan. Ketampanan itu yang membuat Diana mau menjadi kekasihnya, dan juga menjadi kebodohannya karena hanya mengandalkan sebuah ketampanan dalam menjalin hubungan. Harusnya saat itu Diana sadar posisi, hingga kejadian buruk itu tidak menimpanya.
Diana berdiri lalu melipat selimutnya dan menumpuknya dengan bantal di sudut sofa. Ini baru pukul enam pagi, kemungkinan penghuni rumah belum terbangun semua. Sebagai penghuni baru di rumah ini, Diana tidak mau membuat malu keluarga dengan bangun siang. Selesai membasuh muka, Diana beranjak ke luar meninggalkan kamar. Mungkin di luar sana ada sesuatu yang bisa Diana kerjakan.
Sampai di depan anak tangga panjang yang menuju lantai bawah, Diana terdiam beberapa saat, lalu ia putar pandangan ke arah belakang di mana ia melihat satu pintu yang tidak asing. Di dalam sana, dengan bodohnya Diana tidak berontak terlalu kuat hingga membuat dirinya menjadi Wanita kotor. Dengan mudahnya Diana percaya dengan kata manis kekasihnya dan berakhir masuk ke dalam ranjang.
Diana membuang muka lalu berjalan menuruni anak tangga. Wajahnya menunduk dan satu jarinya sempat mengusap ujung kelopak mata yang tidak terasa mengeluarkan buliran air mata.
“Non? Sudah bangun?” Bi Inah, pelayan di rumah ini, menyapa.
Diana tersenyum. “Pagi, Bi. Apa aku boleh bantu?”
“Tidak usah, Non. Non Diana tinggal duduk saja sebentar lagi yang lain bangun dan sarapan bersama.”
“Tapi aku sudah biasa ikut mengerjakan tugas rumah. Akan memalukan kalau aku dian saja di sini.”
Bibi Inah tersenyum. “Kalau Nona mau bantu, boleh. Bantu bibi menyiram tanam di belakang rumah.”
Dengan antusias dan dengan hati Diana mengangguk.
Tidak lama setelah Diana pergi ke halaman belakang, Santi ke luar dari kamar.
“Aku mendengar suara Diana? di mana dia?” tanyanya.
“Oh itu, Nyonya, Non Diana sedang menyiram bunga di taman belakang,” jawab Bibi Inah. “Dia mau bantu-bantu katanya,”
“Oh, biarkan saja. Aku mau bicara dengan Rendy soalnya. Kalau dia sudah selesai, bibi bisa mengajaknya bicara.”
“Baik, Nyonya.”
Santi berjalan menuju kamar putranya di lantai atas. Sampai di sana, tanpa mengetuk pintu, Santi membukanya dan menyelonong masuk ke dalam. Santi spontan mendesah saat melihat sang putra masih tidur terlelap di atas ranjang yang empuk. Tirai kamar masih tertutup mungkin karena Diana tidak ada keberanian untuk membukanya.
Saat melangkah maju, Santi mendapati sebuah bantal dan selimut bertumpuk dia atas sofa. Santi tertegun di tempatnya dan beberapa detik tidak berkedip. Ia tahu apa yang terjadi, tapi sebaiknya tidak usah banyak bicara dulu.
“Bangun, Ren!” ucapnya kemudian. Santi melangkah ke arah ranjang dan langsung menyeret selimut yang menutupi tubuh Rendy. “Ini sudah siang. Kamu akan terlambat nanti.”
Rendy melengkuh lalu menarik selimutnya lagi. “Hari ini aku ambil cuti. Aku bisa tidur sepuasnya.”
“Rendy!” suara Santi meninggi dan sekali lagi menarik selimut itu dengan lebih cepat. Bukan hanya menarik, melainkan Santi sampai memindah selimut itu hingga tidak bisa digapai Rendy dalam posisi rebahan.
“Apa sih, Ma!”
Sahutan dari Rendy membuat Santi semakin kesal. Ia kini menarik satu kaki Rendy dengan kuat hingga membuat putranya itu berdecak dan akhirnya terduduk.
“Oke, oke, aku bangun sekarang.” Rendy menyibakkan rambut gondrongnya ke belakang, ia kemudian mengusap kasar wajahnya mencoba membuka kedua matanya yang terasa berat. Di hadapannya, Santi berdiri sambil berkacak pinggang dan menghela napas.
“Ren, ayolah.”
“Apa?” salak Rendy. “Plis, jangan memaksaku, Ma!”
“Bukan begitu, Ren.” Santi duduk. Ia menatap putranya yang masih sayu itu dalam-dalam. “Mama tahu kamu kecewa, tapi sekarang Diana itu istri kamu. Perlakukan dia dengan baik.”
“Kenapa aku? Siapa yang salah di sini? Jelas-jelas mereka yang bercinta.”
“Rendy!” hardik Santi.
“Apa, sih!” Rendy melompat tuntun dari atas ranjang. “Aku tidak tahu apa-apa di sini, dan tiba-tiba harus bertanggung jawab? Gila, kan!”
Santi ikut berdiri, lalu meraih dan menarik tangan putranya itu. “Mama juga tidak mau seperti ini, Ren. Tapi adikmu, Reyhan masih harus meneruskan sekolah. Dia tidak mungkin menikah kan?”
Rendy berdecak frustrasi. “Kalau memang masih mau melanjutkan sekolah, untuk apa melakukan hal bodoh! b******k!”
Santi spontan mengusap d**a saat kalimat u*****n itu mencuat dari mulut Rendy. Santi tahu betul bagaimana perasaan Rendy saat ini. Karena sang ayah terlalu menyayangi Reyhan, Rendy sebagai anak pertamanan tidak terlali mendapat perhatian. Selain karena Rendy memiliki otak standar saat masih sekolah, sementara Reyhan termasuk pria cerdas dan memiliki harapan untuk meneruskan perusahaan ayahnya. Lalu, dengan begitu apa bisa dikatakan adil?
“Ren.” Santi mengusap lengan Rendy. “Mama tahu bagaimana perasaan kamu, tapi mama juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan papa kamu. Bagaimana pun, mama hanya berharap kamu bisa bersikap baik dengan Diana. Dia tidak salah, dia hanya korban.”
“Aku sungguh tidak peduli!” salak Rendy. “Berani berbuat, harusnya berani bertanggung jawab.”
Tiba-tiba Santi kehilangan kendali dan sempoyongan. Ia memegang dadanya dan hampir ambruk kalau Rendy tidak langsung sigap menangkapnya.
“Ma, mama tidak apa-apa?” tanya Rendy. Rendy menuntun mamanya menuju sofa.
Ini yang paling Rendy tidak sukai dari keadaan di rumah ini. Apa-apa harus Rendy yang mengalah pada semuanya. Yang lain mungkin masih oke dan bisa Rendy lakukan, tapi menjadi suami wanita di bawah umur yang bahkan tidak Rendy kenali sangatlah sulit.
Kenapa harus Rendy yang bertanggung jawab? Tentu saja karena Reyhan anak kesayangan papa sekali pun Reyhan berbuat kesalahan dan itu fatal.
“Mama tidak meminta apa pun dari kamu. Tapi untuk sekarang, bersikaplah baik pada Diana. Mama akan sangat berdosa kalau dia tidak betah di sini. Mama dan papa harus bertanggung jawab atas kelakuan Reyhan.”
Apa-apaan ini? Siapa yang bertanggung jawab sebenarnya? Mereka berdua hanya tidak mau kalau Reyhan si otak pintar dan selalu dibanggakan banyak orang memiliki skandal buruk. Dan dengan entengnya mereka melemparnya pada Rendy. Sungguh tidak adil!
“Plis, Ren.”
“Terserah kalian saja! Aku akan turuti demi keluarga ini! Toh semua sudah terlanjur dan aku tidak bisa menghindar ke mana pun!”
***