Bab 3

978 Kata
Bab 3Diana duduk sendiri di ayunan belakang rumah saat menjelang sore. Sudah satu minggu di sini, dan Diana masih bingung harus bagaimana. Ketika menelepon mama di rumah, Diana hanya akan mendapatkan sebuah nasihat yang pada akhirnya memaksa Diana untuk tetap bertahan di sini. Diana sungguh tahu semua ini kesalahannya karena melanggar peraturan kedua orang tuanya yang melarang untuk berpacaran di bawah umur dua puluh tahun. Namun mengenai kejadian itu, sungguh Diana sudah menolak dan berontak tidak mau. Diana bersandar pada ayunan dengan kepala ia beri sebuah bantal persegi. Kedua matanya ia tutup rapat dan perlahan mulai terbawa arus mimpi. “Kamu mencintaiku, kan?” satu pertanyaan itu sering kali Diana dengar dan terkadang membuatnya seolah tidak dipercaya. Sering kali Reyhan bertanya hal itu yang berujung pada sesuatu yang berbau m***m. Diana tidak suka menjalin kasih yang seperti itu apalagi masih sekolah. Namun, terkadang rayuan dan ancaman membuat Diana tidak bisa berbuat apa-apa hingga suatu Ketika kejadian tak terduga pun menimpa Diana. Diana mempermalukan kedua orang tuanya. Memang hanya pihak keluarga yang tahu, tapi tetap saja Diana menyesali semua itu. Andai waktu bisa diputar kembali, Diana sungguh tidak mau disentuh oleh siapa pun sebelum resmi ada ikatan pernikahan. “Aku memang mencintai kamu, tapi apa harus sampai melakukan itu?” “Ayolah, Diana. itu tidak buruk. Semua orang juga melakukannya.” Diana terdiam mencoba untuk berpikir. Entah setan apa yang merasukinya sampai ia mau saja dibawa Reyhan masuk ke dalam kamarnya. Diana tahu kalau rumahnya sedang kosong, tapi tetap saja hal ini sangat salah. Sentuhan yang Reyhan berikan pada kedua tangan, seperti sengatan yang tidak bisa Diana tolak. Saat wajah tampan itu maju dan mulai mengecup bagian kening, bahkan Diana seperti sudah terhipnotis. Apa ini? Kenapa aku diam saja? Semua berlanjut, sentuhan demi sentuhan dan Diana belum menyadari bajunya sudah tersingkap dan bagaimana posisinya saat ini. Lalu, Ketika Reyhan mulai melakukannya, saat itulah pintu terbuka dengan lebar dan sangat keras menghantam dinding. Dengan cepat Reyhan melepasnya lalu berdiri dan membenarkan celananya. Sementara Diana, dia masih terbengong dan merasakan sakit yang tak terduga. Dia merasakan seperti baru saja mendapat sebuah hantaman dan membuat sesuatu berwarna merah terjatuh di atas seprei. Dengan cepat, Yuni berlari lalu menutup Diana dengan selimut. Tidak sampai telanjang, tapi semua tetap sudah direnggut walau hanya melepas satu kain. “Apa-apaan kamu!” hardik Yuni kemudian. Belum sempat Reyhan menjawab, Ayah Diana muncul dan langsung menghantam wajah Reyhan dengan kepalan tangan. “Ya tuhan!” Diana spontan terjaga. Ia berkedip-kedip dan menoleh ke sekitar sambil meraup wajahnya. Kejadian buruk itu menghampiri mimpi Diana. dengan cepat Diana menepuk-nepuk pipinya beberapa kali supaya bayangan buruk itu segera sirna. Dadanya sudah terasa sesak, dan Diana coba berdiri sambil menarik napas dalam-dalam. “Aku tidak boleh berlarut-larut seperti ini. Aku janji akan memperbaiki semuanya.” Diana meninggalkan ayunan dan melenggak menuju ruang makan. Di sana sudah ada Bibi Inah yang sedang menyiapkan makan malam. Tidak lama setelah itu, penghuni lain juga muncul. “Malam, Ma, Pa?” sapa Diana seramah mungkin. Seperti biasa, Santi selalu bersikap ramah, tapi tidak dengan ayah mertua. Pria paruh baya itu selalu bersikap dingin dan judes. Diana ingat sekali kalau dulu, sebelum Reyhan di pindahkan ke luar negeri, beliau ini selalu menyalahkan Diana walaupun Reyhan sudah mengakui kesalahan yang diperbuat. Tidak masalah, toh semua sudah terjadi dan sekali lagi, Diana harus menerimanya. Ketika mereka sudah duduk, Rendy muncul dan duduk di samping Diana. tidak ada basa-basi apalagi saling menyapa. Rendy masih menjadi pria kulkas tuju pintu. Makan malam pun berlangsung dengan sangat tenang. Semua memilih diam dan tidak bicara sebelum menghabiskan makanannya. Hingga setengah jem berlalu, di saat semua sudah hampir menyelesaikan makan malamnya, tiba-tiba Rendy bicara. Mereka semua terkesiap. “Aku akan pindah ke apartemen malam ini.” Diana menelan ludah sementara Santy tercengang. “Kamu tidak salah? Ini sudah malam, Ren. Dan Diana juga belum siap-siap.” “Aku tidak peduli.” Rendy meneguk sisa minumannya lalu mendorong kursi dengan cepat lalu beranjak pergi menuju pintu ke luar. Diana yang tepat duduk di samping Rendy sampai terjungkat kaget saat kursi itu berbunyi menggesek lantai. Jantung Diana berdegup begitu cepat seperti ia yang baru saja mendapatkan sebuah bentakan. Setelah Rendy tidak terlihat, Santi tersenyum menatap Diana. “Nanti mama bantu kamu berkemas.” Diana hanya bisa mengangguk. Ia kemudian berdiri saat ibu mertuanya mengajak untuk menuju lantai atas di mana kamarnya berada. Sementara Wijaya, dia tidak bicara sepatah kata pun, tapi diam-diam menyusul Rendy yang sudah berada di teras rumah. “Ayolah, Ren, dewasa sedikit kamu.” Rendy yang sedang berkacak pinggang sambil menikmati rokok, spontan menoleh. Ia mengamati ayahnya yang kini tersenyum miring. “Apa maksud papa?” tanyanya. “Kamu tidak bisa meneruskan bisnis papa, jadi tidak perlu suram begitu hanya karena kamu dinikahkan dengan Wanita itu.” Mulut Rendy sedikit terbuka dan satu alisnya terangkat. Ia sungguh tidak mengerti bagaimana ayhnya berpikir saat ini. Inikah yang disebut pemimpin? “Apa menurut ayah hal seperti ini sepele?” tanya Rendy. Wijaya, menaikkan kedua pundaknya lalu memasukkan kedua tangan ke dalam kantong celana lalu berdiri tepat di samping Rendy. “Ayah harus mempertahankan martabat ayah di sini. Dan mengenai Reyhan, dia adalah calon penerus perusahaan ayah, ayah tidak mungkin membiarkan dia menjadi bahan omongan hanya karena tiba-tiba menikah muda.” Kali ini Rendy yang tersenyum miring. Sebuah senyum yang mengandung rasa sakit dan kecewa karena selalu dipilih kasih oleh sang ayah. “Apa ayah tidak sedikit pun memikirkan bagaimana perasaanku?” tanya Rendy. Ia bertanya dengan lembut, tapi jelas sekali otot-otot wajahnya menonjol. “Ayah akan peduli denganmu, andai kamu bisa mengurus bisnis yang sudah papa kembangkan sejak lama.” “Bisnis, bisnis, dan selalu saja tentang bisnis! Aku juga kerja, Pa! aku bahkan punya bisnis sendiri.” “Sebuah restoran kecil? Iya itu yang kamu maksud, Ren? Itu bukan bisnis Namanya, Ren!” Sungguh Rendy benar-benar merasa di rendahkan di sini. Ayah kandungnya sendiri sama sekali tidak melihat bagaimana putranya sedang berjuang dengan bisnis restoran yang ia dirikan. Apa pun akan disanjung jika itu menyangkut dengan sebuah perkantoran. Ya, nyatanya memang seperti itu. “Rendy memang hanya bisa mengurus bisnis kecil-kecilan, tapi bukan berarti papa bebas melempar kesalahan anak kesayangan papa pada Rendy. Kalau bukan karena mama, aku mungkin tidak mau melakukan semua ini!” Rendy terlihat sekali menahan sesuatu di dalam dirinya. Andai tidak bisa mengontrolnya, dua tangan yang mengepal kuat itu mungkin sudah melayang mengenai wajah ayahnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN