Chapter 4: Mesin Kopi

1610 Kata
Devin POV “Sorry, gue ganggu ya?” Tanya Devin, dengan kedua tangan masih memegang kardus yang ia bawa dari mobilnya itu. Ia bisa melihat ekspresi kebingungan Maya, karena ia tak pernah datang jam segini sebelumnya. Apalagi ia baru datang untuk sarapan tadi pagi. “Nggak sih mas, kebetulan saya sudah bangun.” Maya tersenyum kecil. “Ada apa ya mas?” Tanyanya, masih tidak membukakan pintu, dan mereka berdua berdiri dihalangi pintu. “Boleh gue masuk? Ada yang mau gue kasih.” Ucap Devin. Maya masih terlihat ragu. “Sebentar aja. Gue tau kok bentar lagi jam kerja lo mulai.” Pintanya lagi. “Oh, oke.” Maya lalu membukakan pintu, dan Devin masuk setelah melepas sepatunya susah payah karena kedua tangannya masih memegang kardus. Ia lalu meletakkan kardus coklat itu di atas meja ruang tengah Maya. “Ini, buat lo.” Ujar Devin, mendorong kardus itu ke arah Maya. “Hah?” Reaksi Maya yang melongo membuat Devin hampir tidak bisa menahan kegeliannya, tapi ia berusaha menjaga image dan membukakan kardus coklat itu, lalu mengeluarkan isinya, yaitu mesin kopi Nestle Dolce Gusto Krups, salah satu produk Nestle terbaru dan termahal yang dua hari ini ia minta Taufik carikan. Ia tahu mesin kopi Maya rusak karena terakhir ia sarapan disini, Maya menyeduh kopinya dengan air panas dan menggunakan bubuk kopi instan Starbucks. “Ya ampun serius mas? ini bukannya mahal banget?” Maya malah makin melongo. “Sebagai ganti gue sering sarapan disini.” Ucap Devin lagi, acuh. “Kayanya gak sebanding deh, sarapan lauk standar dengan barang semahal ini.” Maya merengut, tapi pandangan matanya yang bersinar kagum tidak bisa lepas dari mesin kopi berwarna hitam itu. “Pokoknya itu buat lo. Kalo gak suka, lo bisa buang, atau jual lagi, atau kasih orang. I don’t care.” Sahut Devin cuek. Ia bersiap menghadapi penolakan Maya lagi, tapi ternyata perempuan itu malah tersenyum lebar. “Ya sudah kalau mas Devin memaksa. Jangan minta balik loh ya!” Maya terkekeh, dan langsung mengangkat mesin kopi itu ke pantry-nya, lalu meletakkannya di area mesin kopinya yang lama. “Makasih ya mas.” lagi-lagi ia tersenyum lebar, membuat Devin susah payah menahan senyumannya dengan berdehem keras. “Gue beliin beberapa box kapsul juga nih yang expired-nya panjang.” Devin mengeluarkan enam box kapsul Nestle berbagai rasa dari kardus coklat itu. “Waaw.. Asyiik!” Kali ini tanpa menolak, Maya langsung membawa keenam box itu dan menyusunnya di dalam lemari pantry-nya. “Mas mau dibuatin apa? Sekalian coba mesin baru nih.” “Intenso Grande.” Jawab Devin, meminta espresso hitam seperti biasa. “Siap, duduk dulu mas!” Seru Maya. Devin lalu duduk di atas sofa sembari memperhatikan Maya bersenandung menyiapkan kopinya. Ia baru sadar Maya tidak mengenakan kacamata seperti biasa, mungkin karena baru bangun. Hoodie yang ia lihat tadi pagi berwarna hijau juga tidak dipakainya, hanya celana training dan kaos berwarna abu. Devin benar-benar tidak habis pikir melihat cueknya Maya, mungkin karena sehari-hari ia banyak di rumah bekerja sendiri jadi tidak pernah mau repot berpakaian wah atau berdandan. “Kopinya, mas.” Maya meletakkan cangkir berisi kopi hitam di meja, lalu duduk di sofa seberang Devin. Devin menggumamkan terima kasih pelan, sembari menyeruput kopinya. Maya pun melakukan hal yang sama, menyeruput flat white favoritnya, pandangannya mengarah ke luar jendela, menikmati pemandangan senja langit Batam. Seperti biasa, Maya tidak mengajaknya mengobrol, dan mereka berdua menikmati kopi dalam diam. Devin mengikuti pandangan Maya keluar jendela, sembari sesekali curi pandang ke arah Maya yang baginya sangat misterius. Meski ia merasa tenang bila berdua dalam diam seperti ini bersama Maya, tapi kian lama hati kecil Devin semakin gundah. Bagaimana mungkin dalam waktu yang berdekatan ia bisa terlibat dengan dua wanita yang tidak tertarik sama sekali olehnya? Dira dulu ia bisa paham, karena wanita itu sudah jatuh hati dengan Adya duluan. Tapi sekarang Maya? Perempuan biasa yang secara tampang bukan levelnya juga sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan lebih padanya. Ini sedikit banyak mulai menyentil ego Devin yang biasanya sangat mudah didekati wanita manapun. Apa Maya punya pacar juga? Tapi kelihatannya tidak mungkin ia membolehkan Devin datang dan berduaan dengannya sesering ini bila ia punya pacar. Should I ask her? Devin menimbang-nimbang. “Tapi ini bukan urusan gue.” Devin menggelengkan kepalanya. “Tapi…” “May..” Devin akhirnya bersuara. “Ya mas?” “Lo…” Ia baru akan bertanya ketika teleponnya berbunyi. Salah seorang teman lamanya, salah satu geng clubbingnya. Devin hanya berdecak kesal dan baru akan mematikan panggilan ketika Maya berkomentar. “Angkat aja mas. kebetulan saya harus siap-siap juga.” Maya tersenyum, dan sontak Devin mengerti apa maksud Maya. Waktunya ia harus pulang. “Okay.” Devin mengangguk, lalu berjalan ke arah pintu. “See you soon?” tanpa sadar, Devin kelepasan. Hampir ia merutuki sikapnya yang mungkin terlihat clingy. “Sure, anytime.” Maya tersenyum santai, lalu menutup pintu. Meninggalkan Devin di depan pintu yang masih terpaku dengan pikirannya sendiri, ditemani dering suara teleponnya. Maya POV Meski siang tadi hanya tidur sebentar karena telepon mendadak dari si kakek plus bahasan soal acara dan jodoh, tapi mood Maya membaik akibat mesin kopi barunya yang dibelikan Devin tadi. Suntikan kafein yang berlimpah membuat semangat kerjanya meningkat dan kantuknya tidak terasa, jadi ketika memasuki jam makan siang di kantornya, alias tengah malam waktu Indonesia Barat, dengan langkah kaki ringan, Maya pergi ke La Bella Vita, restoran langganannya sekaligus bar di lantai 15 hotel Best Western Panbil, yang letaknya masih satu komplek dengan apartemennya. Suasana La Bella Vita malam ini cukup ramai, dengan lampu remang-remang, pemandangan malam kota Batam, musik mengalun keras oleh DJ, dan belasan muda-mudi Batam yang saling menari di lantai dansa. Sementara itu belasan tamu lainnya duduk di berbagai tempat duduk yang tersebar, menikmati makanan dan minuman keras yang disediakan sambil mengobrol seru. Maya hanya mengenakan hoodie dan training berwarna abu, terlihat berbeda dari pakaian mayoritas tamu wanita lain yang berpakaian ketat dan mini. Tapi karena situasi restoran yang remang-remang dan masing-masing tamu saling sibuk sendiri, Maya jadi tidak menarik perhatian. Setelah bertegur sapa dengan waiter dan waitress yang berdiri di depan restoran, ia langsung merapat ke meja bartender di bagian sudut dan duduk di sana. “Eh, May, datang juga lo malam ini!” Gina, temannya sekaligus manajer La Bella Vita menyapanya ramah. Sehari-hari saat bekerja, Gina berdiri di balik meja bartender, karena situasi seluruh restoran bisa terlihat dengan mudah dari sini. “Gin! Rame ya malam ini.” Komentar Maya sembari melempar pandangan. “Iya nih. lo udah pesen belom?” Maya menggeleng. “Yang biasa kan?” Tanya Gina lagi. Maya mengangguk, dan Gina lalu menyebutkan pesanan Maya ke jendela dapur tepat di belakangnya. Maya lalu bersenandung, menggoyangkan kepalanya mengikuti irama musik sembari meminum air putih yang disediakan Gina. “Mesin kopi lo masih rusak kan? Mau pesan flat white juga?” Gina bertanya memastikan. “Nggak usah deh.” Tolak Maya. “Gue udah minum kopi kok tadi di rumah.” “Oke.” Gina menyahut. “Tumben lo datang cepet hari ini?” Tanya Gina, kali ini menghidangkan sepiring kecil kacang almond panggang untuk cemilan Maya dan juga dirinya. Ini selalu dilakukan Gina setiap Maya datang, sembari menunggu pesanan Maya keluar dari kitchen. “Iya. Mood gue lagi enak nih. Gara-gara mesin kopi gue.” Maya mengunyah almond. “Kenapa? Udah bener?” “Nggak.” “Terus? Beli baru?” “Nggak. Dibeliin.” Maya mengeluarkan hapenya dan menunjukkan foto mesin kopi barunya. “Bagus kan? Inceran gue ini. Tapi belum sempet gue beli, udah dikasih.” “Woow!” Gina terbelalak. “Mahal ini. Siapa yang beliin?” “Tetangga gue.” “Baik amat tetangga lo. Yang suka sarapan di tempat lo itu kan?” “Hooh.” Maya terkekeh lebar. Ia memang pernah cerita berapa kali pada Gina soal si tetangga yang salah masuk ke kamarnya saat mabuk dan malah jadi hobi mampir untuk sarapan. “Bener gak minta ganti tuh dia? Jangan-jangan nanti lo disuruh nyicil.” “Beneran! Gue bahkan udah mastiin ke orangnya tadi. Doi bilang terserah mesinnya mau gue apain, yang penting buat gue. Tentu gue terimalah dengan senang hati, gile kali nolak rejeki.” “Emang tajir beneran kali ya, doi. Cuma sarapan doang beberapa kali sampe ngasih itu.” Komentar Gina, kali ini sembari menghidangkan pesanan Maya yang biasa, yaitu Seattle Beef Burger dan BW Cob Salad, serta Strawberry Milkshake. Maya menggumamkan terima kasih dan mulai menyantap makan tengah malam sekaligus makan siangnya. “Mungkin ya. Gue juga gak tau doi kerja apa. Tapi kayanya dia langganan di sini sih. Soalnya berapa kali gue liat dia minum sini.” Celoteh Maya dengan mulut penuh, teringat dulu sebelum kenal Devin, ia pernah beberapa kali melihat Devin di La Bella Vita, minum-minum bersama teman-temannya dan bermesraan dengan wanita yang berbeda-beda. “Masa sih? Gue jadi penasaran orangnya yang mana.” Gina mengunyah kentang wedges Maya. “Malam ini dia ada gak?” “Hmm, gue belum lihat sih tadi.” “Coba lo cari yang bener, kali aja dia ada. Rame nih kan.” “Oke, coba gue perhatin dulu ya…” Maya memakai kacamatanya yang sedari tadi ia simpan di kantong hoodienya dan kembali mengedarkan pandangannya ke seantero La Bella Vita yang ramai. Tiba-tiba ia melihat sosok yang ia kenal duduk di salah satu sudut restoran, tepat di samping jendela.  Author's Note: Halo semua! Terima kasih pada pembaca sekalian yang setia membaca dan meninggalkan komentar! Jangan lupa klik love cerita ini, dan follow penulis Ashadiya di platform ini. Saya juga aktif di i********: @ashadiya.dreame, silakan follow karena saya akan post soal update dan inspirasi foto disana. Sampai jumpa besok!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN