Chapter 5: Tetangga

1389 Kata
Maya POV Benar saja, Devin, ada di sana, masih mengenakan kemeja dan celana yang tadi sore ia kenakan saat mengantar mesin kopi ke kamarnya. Tetangganya yang akhir-akhir ini hobi sarapan di tempatnya, sedang duduk bersama seorang wanita muda berpakaian seksi, bersama tiga pasang lelaki dan wanita lain yang saling sibuk bercengkrama mesra. Wanita yang bersama Devin tampak begitu tertarik dengannya, karena kedua tangannya tidak bisa lepas mengalungi leher Devin, sementara Devin hanya memasang tampang dinginnya yang biasa sembari memegang gelas slokinya. “Eh, ada dong orangnya.” Maya mencolek Gina, yang tentunya langsung heboh. “Yang itu, duduk di sudut sama cewek pakai baju merah.” Si manajer terpekik begitu melihat siapa yang ditunjuk Maya. “Tetangga lo itu, Pak Devin???” “Loh, kok lo tau namanya? Lo kenal ya?” “Ih, siapa yang gak tau dia!” Seru Gina. “Kenapa lo gak cerita coba kalau tetangga yang lo maksud itu dia!” “Yah.. mana gue tau kalo lo kenal juga.” Sahut Maya. Gina lalu menceritakan rinci apa yang ia ketahui soal Devin. Ternyata, Devin adalah direktur Human Resources and General Administration Dubil, kawasan industri terbesar se Batam yang berlokasi di Muka Kuning. Ayahnya adalah presiden direktur Dubil sekaligus pendiri dan pemegang saham terbesarnya, dan Devin digadang-gadang akan menggantikan posisi sang Ayah bila sang ayah pensiun. Ia beserta keluarganya adalah investor terbesar hotel dan apartemen yang Maya tinggali. Devin juga pelanggan tetap restoran La Bella Vita, hampir tiap malam ia kesana untuk makan dan minum-minum. Maya hanya mengangguk-angguk, akhirnya paham kenapa Devin bisa dengan mudah memberinya barang semahal itu, meski mereka tidak kenal dekat. Karena pasti bagi Devin, uang sebesar itu hanyalah receh baginya. “Tapi lo mesti hati-hati tau, sama dia.” Gina merendahkan suaranya. “Dia kan playboy banget. Biarpun dingin gitu, ceweknya tiap malam ganti-ganti. Balik dari sini, dibawa ke suite dia di lantai bawah. Gak pernah pacaran serius, cuma buat one night stand aja. Malah sering dia make jasa high class escort (pekerja malam kelas atas). Anak-anak restoran juga udah pada paham sama kelakuan dia. Nanti lo diajak ngeranjang bareng lagi takutnya.” Maya hanya terkekeh geli mendengar peringatan Gina. “Lo gak salah nih ngomong gitu?” “Salah gimana maksud lo?” “Lo liat dong tipe cewek dia yang biasa. Terus lo bandingin sama gue.” Maya mengerling ke arah Devin, lalu menunjuk dirinya sendiri. Gina melongok memperhatikan si wanita, yang dadanya makin menempel ke lengan Devin. Dengan dandanannya yang heboh dan gaun merah melekat membentuk tubuh yang terbuka jelas di bagian d**a, siapapun mengakui, wanita itu begitu cantik dan seksi. Laki-laki manapun pasti akan tergoda bila didekati wanita seperti itu. Sementara Maya, tetap setia dengan gayanya sehari-hari, dengan wajah polos tanpa make up, kacamata berbingkai kotak dan memakai hoodie lengan panjang serta celana training kebesaran. Maya memang tak suka berdandan atau berpakaian yang tak nyaman kecuali terpaksa untuk acara resmi, dan dia sadar benar gayanya ini membuatnya tak begitu menarik di hadapan lawan jenis. Tapi Maya tak keberatan, karena ia tak berminat menarik perhatian para lelaki berpikiran dangkal yang hanya menilai perempuan dari sisi penampilannya. Toh dia juga sedang fokus dengan pekerjaan dan masalahnya sendiri, tidak sedang mencari pacar apalagi jodoh. Karena itu, Maya sangat percaya diri Devin tidak akan tertarik secara romantis apalagi secara nafsu padanya. Ia jadi tak pernah keberatan bila Devin mengunjunginya. Maya hanya menganggap Devin sebagai tetangga, temannya makan bersama yang irit bicara. “Pfft..” Gina menahan tawanya, tampak sadar kekhawatirannya berlebihan. “Iya sih. Secara dandanan dan gaya berpakaian, lo emang bukan tipenya banget.” Ujar Gina jujur, tapi Maya tidak tersinggung karena ia pun menyetujui perkataan si manajer. “Naah, itu lo pinter.” “Tapi kali aja dia tiba-tiba suka terus deketin lo juga. Buktinya dia ngasi lo mesin kopi mahal. Random banget kan?” Gina masih bersikeras. Sementara Maya geleng-geleng tak percaya. “Ya dia tau mesin kopi gue rusak, dan dia sering makan tempat gue. Terus sesuai cerita lo, doi tajir melintir juga. Bagi dia harga mesin kopi segitu bukan seberapa lah.” Maya melanjutkan makan dengan santai. “Masa gitu doang artinya dia suka sama gue. Lagian kayanya dia bukan tipe yang deketin cewek, deh. Pasti cewek yang deketin dia duluan. Secara doi banyak duit dan tampangnya lumayan.” Maya mengedikkan bahunya. “Lumayan? Orang dia ganteng banget gitu kok ‘lumayan’!! Siwer apa mata lo??” Temannya ini terpekik lagi. Maya hanya terkekeh. “Tapi bener sih, emang rata-rata cewek yang deketin dia duluan.  Cuma baru-baru ini dia pernah kok, deketin cewek. Sampai nyewa satu restoran ini buat nembak waktu itu.” “Oh ya? Niat juga ya dia. Terus?” “Kayanya sih dia ditolak. Abis cewek itu pulang gitu aja, bahkan makanannya gak disentuh. Dan pak Devin gak pernah keliatan bareng sama cewek itu lagi.” Gina melanjutkan ceritanya. “Hebat kan cewek itu? Nolak orang kaya pak Devin. Padahal doi ganteng dan banyak duit. Gue sih kalo jadi dia, mana mungkin nolak.” “Ya kali cewek itu males sama cowok playboy.” Maya berkomentar cuek, kini memakan saladnya. “Iya kali ya. Setelah itu pak Devin memang jarang kelihatan lagi pulang ke suite sama cewek. Dia paling minum-minum doang disini, kalau ada yang deketin, dicuekin. Paling baru-baru ini aja sih, dia gak galak lagi sama cewek yang deketin dia. Cewek yang lagi duduk sama dia juga kayanya gitu.” Gina melongok lagi ke arah Devin, sementara Maya menghabiskan makanannya. “Ya ampun ya ampun ya ampun!!!” Tiba-tiba Gina memekik lagi. “Apaan sih lo?” Maya mengernyit heran. “Lo liat dong sekarang mereka lagi ngapain!” Gina kini mencolek-colek Maya, meminta Maya ikut menoleh ke arah Devin. Maya lagi-lagi hanya geleng-geleng, tapi lalu menoleh ke arah Devin dan pasangannya, yang kini sedang berciuman begitu mesra. “Mereka ciumaan dong ya ampun!!!” Reaksi Gina yang begitu heboh membuat Maya tak bisa menahan tawanya. “Gin! Buset lo norak banget sih kaya gak pernah liat orang cipokan aja disini!!!” Maya berkomentar di sela-sela tawanya, berusaha tidak terlalu menarik perhatian sekitar karena DJ sedang memutar lagu bertempo lambat sekarang. “Haduh haduh..” Gina geleng-geleng, tapi perhatiannya kini teralih pada pelanggan restoran lain yang sedang memesan ke meja bartender.  Sementara Maya masih terkekeh, dan melempar pandangan lagi ke arah Devin, yang kini lehernya sedang diciumi oleh wanita itu. Tangan si wanita tampak sibuk menggerayangi paha Devin, sama seperti Devin yang tangannya mulai menggerayangi dadanya si wanita. Mereka benar-benar tampak tidak canggung bermesraan begitu v****r di tempat seramai ini, dan Maya bisa melihat wanita itu akan pulang ke suite Devin malam ini. Saat yang sama, tanpa sengaja, Devin juga melihat ke arahnya, dan mereka bertemu pandang beberapa saat. Maya hanya tersenyum lebar dan melambaikan tangannya, sementara tatapan Devin sulit dipahami seperti biasa. Meski suasana restoran agak remang-remang, tapi Devin sepertinya mengenalinya. Maya hanya mengangkat bahu melihat reaksi Devin yang dingin padanya dan menoleh kembali ke arah Gina, teringat bahwa dia harus sudah kembali ke kamar apartemennya karena jam istirahatnya akan usai. “Gue balik yak,” Ujar Maya setelah meletakkan dua lembar uang seratus ribu di meja. “Oke deh!” Gina mengangguk, masih sibuk dengan pekerjaannya. “Eh, lo kapan jadi mau gue kenalin sama kakak gue?” Gina bertanya tiba-tiba saat Maya baru akan melangkah. “Biarpun duda, doi juga ganteng dan mapan lho. Masa lo gak penasaran sih? Sampai kapan mau jomblo melulu?” “Duh, dibilangin gue lagi gak cari pacar juga. Mending lo tuh, cari pacar buat lo sendiri dulu. Biar gak jomblo juga.” Maya mendengus malas, sementara Gina hanya terkekeh. “Udah yak, gue buru-buru nih.” Maya memasang tudung hoodienya menutupi kepala dan keluar dari restoran dengan langkah cepat. Ia baru sadar akibat terlalu heboh membicarakan Devin, ia menghabiskan waktu lebih lama di La Bella Vita dari biasanya. Tapi tiba-tiba, seseorang memegang lengannya, tepat sebelum ia naik ke lift. Maya baru akan menarik tangannya saat sebuah suara familiar bertanya. “Maya?”  Author's Note: Halo semua! Terima kasih yang selalu setiap membaca dan meninggalkan komentar. Tidak lupa saya ingatkan bagi yang belum klik love cerita, klik yaa. Dan follow penulis Ashadiya di platform ini karena saya akan UP setiap hari! Saya juga punya akun i********: @ashadiya.dreame, silakan follow juga karena saya akan post soal foto karakter serta lainnya disana. Sampai jumpa besok!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN