Di dalam mobil Hans meringis dan memegang d**a kirinya yang terasa nyeri.
"Kenapa perasaanku tidak enak? Ada apa denganku?" lirih Hans masih dengan memegangi d**a kirinya.
Reyna merasa panik luar biasa, saat ini isak tangis bahkan belum berhenti sejak dari apartemen nenek Michele tadi. Brandon yang duduk di sebelahnya di ruang tunggu masih terus mengusap punggungnya, menenangkan. Reyhan masih ditangani dokter di dalam ruangan. Reyhan tak berhenti menangis sampai di rumah sakit tadi. Memang tak terlihat luka luar tapi itu justru membuatnya lebih khawatir.
Reyna tak memedulikan ponsel yang dari tadi berdering menandakan ada panggilan dan pesan masuk. Nama id caller muncul di layar ponsel. Rayan dan Faira, mereka berdua bergantian menghubunginya.
Brandon yang mengerti suasana hati Reyna sedang kacau mengambil ponsel Reyna setelah meminta izin dan hanya mendapat anggukan kepala sebagai respon.
"Reyhan gimana, Rey? Dia gak papa kan?" berondong Rayan terdengar cemas setelah panggilannya diangkat.
"Reyhan masih diperiksa dokter," Brandon menjawab masih sambil mengelus punggung Reyna yang masih terisak di sampingnya.
"Maaf. Anda siapa? Bukankah ini ponsel Reyna?" tanya Rayan di seberang, heran karena bukan Reyna yang mengangkat panggilannya.
"Saya teman Reyna. Maaf, Reyna sedang tidak memungkinkan mengangkat telepon. Jadi saya berinisiatif mengangkat panggilan anda," balas Brandon.
"Ok, tidak masalah. Bisa Anda jelaskan kondisi Reyhan dan Reyna saat ini?" Rayan kembali bertanya.
"Reyhan masih ditangani dokter sementara Reyna masih syok saat ini," terang Brandon.
"Ok, thanks atas infonya. Saya segera ke sana. Di hospital yang dekat dengan apartemen kan?"
"Iya."
"Tolong temani Reyna sampai saya datang," kata Rayan sebelum memutus sambungan telepon
"Pasti."
Rayan bergegas keluar dari area kampus bersama Faira.
"Gimana keadaan Reyhan, Ray?" Faira bertanya cemas karena Rayan tak mengatakan apapun setelah menutup sambungan teleponnya tadi.
"Belom tahu, masih diperiksa dokter," Rayan menjawab dengan wajah kaku.
Faira terdiam mendengar jawaban Rayan. Tak ada pembicaraan lagi antara mereka sampai mereka tiba di rumah sakit. Di meja resepsionis mereka segera bertanya rungan Reyhan dirawat.
Setelah menemukan ruangan Reyhan atas petunjuk salah satu perawat, Rayan masuk ke ruang perawatan Reyhan tanpa mengetuk pintu. Faira yang mengekor di belakangnya terseok- seok dan napasnya tersengal- sengal seperti habis lari maraton karena mengikuti langkah Rayan yang lebar.
Di ruangan itu terlihat Reyhan yang tertidur lelap dan Reyna yang duduk di tepi ranjang sedang mengelus kepala Reyhan dengan sayang. Seorang pria lain sedang duduk di sofa menatap kedatangan Rayan dan Faira yang Rayan asumsikan sebagai teman Reyna, pria itu yang mengangkat panggilannya tadi.
Faira segera menghambur ke arah ranjang dan memeluk Reyna yang kembali terisak di pelukan Faira.
"Aku gak pecus jadi ibu, Ra. Aku ga..gal," isak Reyna.
"No. It is accident, Rey. Bisa terjadi pada siapapun," hibur Faira dengan mengeratkan pelukannya.
"No. Kalau aku bisa jadi ibu yang baik semua pasti tidak akan terjadi, Ra," Reyna masih saja menyalahkan dirinya.
Reyna memang sempat mengalami baby blues setelah kelahiran Reyhan. Ketakutannya tak bisa menjadi ibu yang baik dan tak bisa memberikan keluarga yang sempurna untuk anaknya menjadi pemicunya. Hal itu yang membuat Rayan ingin terbang ke Indonesia untuk menemukan ayah Reyhan dan menghajarnya. Tapi mengingat tatapan memohon Reyna membuatnya mengurungkan niatnya.
Rayan dan Faira selalu mendampingi dan menyemangati Reyna bahwa ia pasti bisa jadi ibu yang hebat karena bisa berdiri sendiri. Lambat laun sindrom baby blues itu pun sembuh. Dan hari- hari dilaluinya dengan baik sampai hari ini.
Namun melihat keadaan Reyna sekarang, Faira menyadari sindrom itu bisa kambuh sewaktu- waktu saat Reyna berada dalam tekanan atau stress seperti sekarang. Ingatkan dia untuk konsultasi dengan dokter nanti sebelum terlambat.
"Teman Reyna? Saya sahabat Reyna, Rayan," Rayan memperkenalkan diri sekaligus memastikan bahwa benar pria ini adalah teman Reyna yang mengangkat panggilannya tadi.
"Betul. Saya Brandon, teman kantor Reyna," Brandon memperkenalkan diri.
"Terima kasih telah menjaga mereka," ucap Rayan kemudian menoleh pada dua orang yang tengah berpelukan dan seorang balita yang tengah tertidur pulas.
"Tidak masalah," balas Brandon tersenyum. Ia bisa melihat kasih sayang yang besar dari pria di hadapannya ini untuk Reyna dan anaknya.
"Apa kata dokter?" Rayan kembali bertanya karena tak mungkin menanyai Reyna mengenai keadaan Reyhan saat ini padanya.
"Kata dokter tidak apa- apa. Tidak ditemukan luka luar selain benjolan yang membiru di belakang kepalanya. Dalam beberapa hari benjolan itu akan mengempes dengan sendirinya. Masih masa observasi sepanjang malam ini. Kalau ada gejala mual atau muntah dianjurkan untuk CT scan," terang Brandon seperti kata dokter yang memeriksa tadi.
"Syukurlah," Rayan menghela napas lega. Satu beban di d**a yang terasa menghimpit tadi perlahan terangkat.
Rayan berjalan ke arah Reyna dan melepas pelukan Reyna pada Faira.
"Rey, lihat aku," Rayan memegang kedua sisi wajah Reyna yang berurai air mata.
"Reyhan baik- baik aja. Gak ada yang perlu dikhawatirkan," Rayan mencoba memberi pengertian pada Reyna.
"Tapi Ray, dia jatuh karena aku gak pecus jaga dia tadi," Reyna masih kekeh menyalahkan dirinya.
"Rey, look at him," Rayan menatap Reyhan penuh kasih, "He is ok. Dia hanya sedang tidur. Jadi kamu tidak boleh berisik nanti dia terbangun," Rayan kembali membujuk.
Reyna diam kemudian menoleh ke arah Reyhan yang terlelap.
"Dia baik- baik aja? Hanya tidur?" pertanyaan yang ia ajukan mendapat anggukan dari Rayan sebagai jawaban.
"Tapi tadi dia jatuh Ray. Kepalanya terantuk lantai," sorot cemas kembali menghiasi mata Reyna.
"Anak cowok memang selalu bertingkah, Rey. Kami dan kenakalan kecil kami akan jadi kenangan yang indah di masa tua kami nanti. Meskipun ada ibu sepertimu yang setiap detik mengkhawatirkan anaknya tapi kami para pria punya aturan main sendiri," jelas Rayan panjang lebar mencoba memberi pengertian.
"Pria itu kuat, Rey. Kamu tidak bisa setiap waktu mengkhawatirkan Reyhan. Kamu harus belajar mempercayainya," Brandon ikut angkat bicara memberi pengertian pada Reyna.
Reyna terdiam memikirkan perkataan para lelaki di depannya ini. Selama ini ia memang menjaganya seperti barang yang mudah pecah.
"Tapi bukankah ia masih terlalu kecil?" tanyanya lagi masih kekeh dengan pemikirannya.
Brandon tersenyum, "Apa para pria tua akan hilang kenakalannya?" kemudian menaik turunkan alisnya.
"Tentu saja tidak. 'Nakal' itu tidak mengenal umur. Kalau masih kecil ya kayak Reyhan ini, terpeleset kemudian jatuh, berlari terus terantuk dinding. Itu biasa untuk kami para pria, Rey. Dampak negatif yang kami peroleh dari kenakalan yang akan jadi pengajaran untuk tidak melakukan kenakalan yang sama," jelas Rayan.
"Kalau sudah tua 'nakal'nya gimana, Ray?" Brandon tersenyum jail.
"Beuh.. yang udah pada expert masalah nakal menakali saling curcol," celetuk Faira kesal.
Brandon dan Rayan dengan kompak mengangkat bahunya acuh menanggapi celetukan Faira. Menyebalkan. Faira semakin manyun sedangkan Reyna tertawa kecil membuat ketiga orang itu menghela napas lega.
"By the way ini siapa Rey, kok gak dikenalin ke aku?" Faira menggoda Reyna yang suasana hatinya sudah mulai membaik.
"Perkenalkan saya Brandon, teman kantornya Reyna," Brandon mengulurkan tangan mmemperkenalkan dirinya sendiri membuat Faira kesal karena gagal menggoda Reyna.
"Teman? Yakin teman, aku udah beberapa kali loh liat kamu anterin Reyna. Kamu yang gerak lambat atau Reyna yang mendorongmu menjauh," tak ada rotan akar pun jadi, gak bisa godain Reyna godain yang laki pun jadi. Faira tersenyum miring.
"Ya yakin lah. Setakat ini memang masih teman gak tahu kalau besok. Bukan masalah gerak lambat atau cepat, ibarat orang main layang- layang ya harus tarik ulur biar bisa terbang tinggi. Betul gak, Ray?" Brandon benar- benar mengeluarkan sisi jailnya yang gak banyak orang tahu.
Sebenarnya Brandon dulu humoris dan jail sampai satu kejadian mengubahnya menjadi kaku dan dingin. Namun tak banyak orang yang tahu akan hal itu. Yang mereka tahu Brandon orang yang dingin dan kaku, seperti yang ia perlihatkan di kantor. Reyna yang mendengar jawaban Brandon hanya melongo. Bosnya ini sehat, kan?
"Cie.. signal- signal jadian nih. Tapi awas loh, jangan keenakan main layang- layangnya ntar jadi kayak Mas Anis di Layangan Terbang itu lagi," tak hanya menggoda Reyna Faira juga mencibir Brandon. Tanpa disadarinya suaranya mulai meninggi.
"Sstt..," serempak ketiga orang dewasa itu menyerang Faira, membuatnya memanyunkan bibir.
"Jangan berisik, nanti Reyhan bangun, Ra," tegur Reyna.
Faira semakin cemberut dan menghempaskan pantatnya di sofa dengan keras.
Terlihat mata Reyhan mulai terbuka, bibirnya melengkung ke bawah tanda bahwa sebentar lagi ia akan mengeluarkan tangisnya. Tak lama suara tangisnya pun terdengar. Reyna membawanya ke pangkuan.
"Sstt.. anak Mama gak boleh cengeng," dikecupnya puncak kepala Reyhan.
Rayan segera memencet tombol memanggil dokter. Dokter dengan sigap memeriksa keadaan Reyhan.
"Sepertinya sudah tidak apa- apa. Yang dia rasakan mungkin masih pusing tapi hasil pemeriksaan bagus karena tidak ada gejala lain," terang dokter membuat orang- orang yang berada di ruangan itu merasa lega luar biasa.
"Tapi dia rewel, Dok. Saya takut luka dalam," Reyna kembali cemas karena dari tadi Reyhan terus merengek dan menangis.
"Kalau Ibu belum yakin bisa dilakukan CT scan besok," saran dokter. "Tapi kalau menurut saya tidak perlu selama tidak ada gejala lanjutan seperti mual atau muntah," lanjut dokter lagi.
"Baik Dok, terima kasih," ucap Reyna masih sambil menimang anaknya.
"Sama- sama, Bu. Saya permisi dulu," dokter itu pamit
Sepeninggal dokter, Reyhan tak juga tenang. Tadi ia hanya merengek dan menangis namun sekarang ia malah meronta sampai Reyna kewalahan.
"Sini Rey, biar sama aku," Rayan mengambil Reyhan dari gendongan Reyna
"Reyhan anak Daddy yang ganteng gak boleh nakal ya," Rayan menimang dengan mendekap tubuh kecil Reyhan di dadanya.
Reyhan berangsur tenang, tidak meronta lagi meskipun sesekali masih terdengar isak tangis kecil dari bibir mungilnya. Rayan menepuk- nepuk pelan punggungnya supaya ia lekas tertidur kembali.
Hans terbangun di tengah malam karena bermimpi. Di mimpinya anak laki- laki itu hadir dengan wajah muram dan sedih entah apa maksudnya.
'What happen with you, dear?' tanyanya.
Anak itu tetap tak mau menjawab hanya mematapnya dengan wajah muram dan sorot mata kecewa. Hingga lama kelamaan wajah itu semakin memudar dan hilang. Hans pun terbangun.
'Apa arti mimpi itu?' pikirnya.
'Apa karena aku tidak memperbolehkan Joane menginap? Apakah anak dalam mimpiku itu Joane? Kalau benar, apa aku harus membiarkan mereka tinggal di sini?' renungnya dalam kegelapan malam.
Tapi dalam sudut terdalam hatinya mengingkari bahwa Joane adalah anaknya. Sepanjang malam itu dihabiskannya waktu untuk berpikir. Gelapnya malam begitu pekat karena memang langit sedang mendung.
Kalau membiarkan Joane tinggal berarti ibunya pun akan ikut tinggal bersama. Itu yang tidak dia inginkan.
TBC